
Setelah puas menikmati pemandangan kota London Ana memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Dengan naik taksi Ana menuju apartemen miliknya. Namun, saat berada di jalanan yang cukup sepi taksi yang ditumpangi oleh Ana dicegat oleh mobil hitam dan turunlah seseorang yang sangat dikenal oleh Ana. Siapa lagi kalau bukan Nico.
Nico berjalan mendekati taksi Ana.
"Maaf pak, saya ingin membawa gadis ini, dia adalah istriku." Ucap Nico kepada supir taksi tersebut.
"Silakan Tuan."
"Segera jalan pak, aku tidak mengenal laki-laki ini, sepertinya dia orang jahat pak." Ucap Ana.
"Sayang maafkan aku, ikutlah denganku." Ucap Nico.
Nico membuka pintu mobil yang ditumpangi Ana. Mau tidak mau Ana terpaksa turun dan mengikuti Nico. Aldo memberikan beberapa lembar uang kepada supir taksi tersebut.
"Apa yang kau lakukan." Tanya Ana.
"Ikutlah denganku!" Nico membuka pintu untuk Ana dan menyuruhnya masuk.
"Tidak, aku tidak akan mengikutimu."
"Percayalah Ana, Aku tidak akan menyakitimu, aku berjanji." Tatapan mata Nico menatap Ana dengan lembut.
Akhirnya Ana masuk ke dalam mobil Nico. Ia duduk di samping Nico. Suasana di dalam mobil cukup mencekam. Nico hanya diam saja dan tidak ingin memberitahu kemana ia akan membawa Ana. Aldo menyetir mobil dan melirik sekilas orang yang berada di belakangnya.
"Kau mau mebawaku kemana? jangan macam-macam atau aku akan berteriak." Ancam Ana.
Nico hanya menatap Ana dengan tatapan dingin.
"Aku ingin memberimu kejutan, kau akan menyukainya, Ana aku mohon beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku, maafkan aku Ana." Nico ingin memegang tangan Ana. Namun, Ana segera menepis tangan Nico.
"Jangan berani menyentuhku, hentikan mobil ini. aku ingin turun disini." Ucap Ana.
"Tenanglah Ana! aku tidak akan menyentuhmu, maafkan aku." Nico kembali meminta maaf kepada Ana.
"Apa kau akan melalukan hal buruk lagi denganku? apa lagi rencana kalian kali ini? Katakan apa yang kau rencanakan?" Pertanyaan bertubi-tubi Ana lontarkan.
"Kau akan mengetahuinya nanti." Ucap Nico dengan seringai tipis di bibirnya.
Gleeekkk
Ana menelan salivanya susah payah. Nyalinya menciut. Pikiran buruk kembali kebenak Ana.
Tiba-tiba mobil Nico berhenti di sebuah Villa mewah yang terlihat begitu sepi dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di luar Villa itu.
Nico turun dari mobil dan membuka pintu untuk Ana. Dengan keberanian Ana turun dan mengikuti langkah kaki Nico dan sampailah Ana di depan pintu Villa mewah itu.
"Dimana aku, katakan! apa yang ingin kau tunjukkan, jangan coba menipuku." Ana menatap tajam Nico.
"Ayo masuklah dulu!" Ucap Nico.
"Tidak... aku tidak akan masuk, biarkan aku pergi, apa lagi rencana kalian? apa kau belum puas menyakitiku dan membuat hidupku menderita? Kau sudah membuatku berpisah dari ibu dan laki-laki yang aku cintai, kau laki-laki kejam, dasar pembunuh, Aku membencimu dengan segenap jiwa dan ragaku, jangan mengangguku lagi, aku tidak ingin melihat wajahmu. Hikkssss......." Ucap Ana mengeluarkan semua unek-uneknya selama ini.
"Ana dengarkan aku! aku tidak akan meyakitimu, aku benar-benar ingin minta maaf dan menebus semua kesalahanku." Nico mendekat dan ingin memeluk Ana yang sudah menangis sesenggukan.
"Jangan menyentuhku, kau pembunuh. Aku tidak akan pernah memaafkanmu, aku benar-benar membencimu tuan Nico Alexander, aku ingin membunuhmu agar aku tidak perlu melihat wajah ber*sek mu itu." Ucap Ana dengan nafas yang tersengal-sengal.
__ADS_1
Ana mencoba kuat di depan Nico saat memakinya. Namun, ia tidak mampu membendung air matanya dan air matanya luruh begitu saja. Ia bahkan sulit untuk bernafas dan memukul dadanya sendiri.
"Hiksssss.....Hikssssss...."
Lutut Ana seketika lemas dan terduduk di depan Villa megah itu.
Banyangan penyiksaan yang Nico lakukan kepadanya kembali terlintas di benaknya.
Nico yang melihat Ana terduduk lemas dengan wajah pucat mencoba membantu Ana.
Nico memegang tangan Ana dan membawanya ke dalam pelukannya.
Plaaaakkkkkk..... Plaaaakkk.....
Tangan Ana mendarat di kedua pipi Nico. Ana bahkan mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menampar laki-laki di depannya saat ini.
Terlihat jelas bekas telapak tangan Ana di kedua pipi putih mulus Nico.
Pipi Nico sudah memerah dan terasa panas.
Nico hanya bisa bersabar menerima kebencian Ana.
Ia tidak berdaya dan tidak bisa membalas setiap perbuatan Ana kepadanya. Ia memang pantas mendapatkannya. Jika dulu Nico bisa saja melenyapkan Ana yang berani membantahnya dan tidak segan menyiksanya. Tapi saat ini Nico tidak bisa menyakiti Ana lagi. Rasa bersalah di hati Nico begitu besar dan ia sudah bertekad untuk menebus kesalahannya kepada Ana.
Nico kembali memeluk Ana dan tidak akan membiarkan Ana pergi.
"Aku mencintaimu Ana, aku akan melakukan apa pun agar kau mau memaafkanku." Batin Nico.
Entah sejak kapan Nico mulai mencintai Ana. Setiap melihat wajah Ana ada perasaan lain dihatinya. Ia selalu ingin melihat Ana bahagia dan tersenyum seperti dulu.
"Lepaskannnnn! Lepaskan aku, kau berani memelukku, kau pikir aku mau dipeluk oleh laki-laki pembunuh sepertimu."
"Dasar Laki-laki kejam, apa kau tidak punya harga diri lagi tuan Nico? aku sudah mengatakannya berulang kali aku tidak ingin melihatmu lagi dan jangan pernah mengusik hidupku lagi. Aku menyesal sudah bertemu denganmu, Aku mohon tolong pergi dari hidupku. sampai kapan pun aku tidak akan pernah memafkanmu." Ucap Ana dengan amarah yang menggebu.
"Aku tidak akan pernah berhenti meminta maaf sampai kau mau memafkanku Ana." Ucap Nico lembut.
"Arggggggggg......"
Ana menendang aset berharga milik Nico dan membuat Nico tidak berdaya dan ia meringis kesakitan. Nico kemudian melepaskan pelukannya.
"Aku membencimu tuan Nico. Jangan coba mendekatiku lagi, jangan pernah muncul di hadapanku lagi." Ucap Ana dengan keberaniannya.
Ia tidak peduli jika Nico meleyapkannya malam ini yang penting Ana puas melampiaskan semua kebenciannya kepada Nico.
Ana yang ingin meninggalkan Villa itu dicegah oleh Aldo asisten Nico.
"Jangan coba-coba untuk pergi nona." Ucap Aldo.
"Apa kau pikir aku takut denganmu? Jangan mencegahku." Ucap Ana.
Aldo yang melihat pertengkaran antara Tuannya dan Ana hanya bisa menyaksikan. Nico menyuruhnya untuk tidak ikut campur kali ini. Aldo terlihat kesal dengan Ana yang sudah begitu berani berbuat kasar dan menjatuhkan harga diri tuannya itu.
Ana yang ingin melangkahkan kaki meninggalkan Villa itu berhenti saat Nico mendekat dan membuat Ana beringsut mundur. Nico semakin mendekat dan meraih tangan Ana.
"Kau boleh membenciku Ana, aku tahu kesalahanku tidak akan pernah bisa kau maafkan, aku tidak akan memaksamu untuk memaafkan aku."
__ADS_1
Nico menarik lengan Ana dengan paksa. Ana memukul tangan Nico dengan sekuat tenaga. Nico bahkan tidak bergeming.
Aldo membuka pintu Villa itu dan masuklah Ana dan Nico.
Saat Ana masuk ke dalam Villa itu.
Deggggg...
Jantungnya berdetak kencang dan kedua bola matanya membulat sempurna saat melihat orang yang ada di depannya.
"Ibuuuuuuu.." Ana berlari memeluk bu Ella.
"Sayaangggg, ibu begitu merindukanmu Nak." Ucap Bu Ella.
Keduanya saling berpelukan dan melepaskan kerinduan di hati masing-masing. Bu Ella mencium putrinya dan mengusap lembut air mata Ana yang mengalir sejak tadi.
"Maafkan Ana bu, aku begitu merindukan ibu. hiksssss..."
"Ibu juga merindukanmu Nak. Ibu begitu bahagia melihatmu lagi Nak, apa kau baik-baik saja." Tanya bu Ella.
Ana mengangguk dan kembali memeluk bu Ella.
"Terima kasih tuan, sudah mempertemukanku dengan putriku." Ucap bu Ella lembut kepada Nico.
"Ibu aku sudah berjanji akan membuat kalian bahagia dan melindungi kalian berdua."
"Aku mencintai putri ibu, aku akan melindunginya dan memberinya kasih sayang. aku akan mengganti penderitaanya dengan kebahagian." Batin Nico.
Ana kembali tersenyum saat melihat ibunya sudah berada di depannya. Ini seperti mimpi baginya.
Nico melihat Ana tersenyum merasa begitu bahagia. Ia akan membuat Ana kembali tersenyum bahagia.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu Ana, Namamu sudah terukir di hatiku, aku mencintaimu selamanya." Batin Nico.
"Ibu dan Ana boleh tinggal di Villa ini sampai kapan pun yang kalian mau."
"Terima kasih tuan." Ucap bu Ella.
" Apa ini termasuk rencananya lagi agar aku mau memafkannya, tidak semudah itu tuan Nico. Aku akan membalas semua perbuatanmu kepadaku dan ibu." Batin Ana.
"Ibu saya harus pergi, jika kalian membutuhkan sesuatu kau boleh menyuruh pelayan dan menghubungi asistenku."
"Baik tuan."
Nico dan Aldo meninggalkan Ana dan bu Ella di Villa itu.
"Apa tuan baik-baik saja?" Tanya Aldo
"Hemmmmm"
Nico terlihat diam.
Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
bersambung....
__ADS_1
Like, Vote dan Komentar.
šš