
^^^Tidak akan ada yang tahu seperti apa takdir setiap manusia. Jalan hidup seseorang telah ditentukan jauh sebelum Ia lahir ke dunia ini.^^^
Seperti yang terjadi dalam hidup seorang Nico Alexander, pria yang hidupnya dipenuhi dendam dan kebencian karena kematian ke dua orang tuanya. Hingga akhirnya Ia bertemu dengan Ariana Anastasya wanita yang mampu membuatnya jatuh cinta begitu dalam hingga tidak ingin kehilangan wanita tersebut. Nico begitu jatuh cinta kepada Ana hingga Ia tidak bisa hidup tanpa wanita itu di sisinya. Mereka telah melewati banyak kesulitan untuk bisa bersama. Perjuangan dan pengorbanan demi cinta sudah keduanya lalui hingga Tuhan menyatukannya dalam ikatan cinta abadi yaitu pernikahan yang tak akan terpisahkan sampai maut yang menjemput keduanya.
Tangan Nico terus menggenggam tangan pucat istrinya. Sejak tadi kondisi Ana menurun. Dokter yang merawat Ana hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Hati Nico berdenyut merasakan sakit melihat kondisi istrinya. Apakah masih ada harapan untuk bersama dengan sang istri tercinta? atau Tuhan juga akan mengambil-Nya, mengambil orang-orang yang Ia cintai dari sisinya. Membuat hidup Nico kembali kesepian seperti dulu.
"Dokter tolong selamatkan istriku, lakukan sesuatu agar istriku tetap hidup!." Ucap Nico memohon. Ia memohon kepada seseorang. Hal yang tak pernah Ia lakukan sebelumnya.
"Kami akan berusaha menyelamatkan nyawa istri Anda Tuan, Kondisi pasien semakin menurun hanya keajaiban yang bisa menolong istri Anda." Ucap dokter menyentuh punggung Nico lembut memberi ketenangan untuknya.
Dokter berlalu meninggalkan Nico yang sudah lebih tenang. Nico tidak ingin beranjak sedikit pun dari sisi sang istri. Nico terus menggenggam tangan Ana memberinya kekuatan. Ia yakin jika istrinya itu akan segera bangun dan tidak akan pernah meninggalkannya.
"Apa kau ingat sayang?... kau pernah berjanji akan terus berada di sisiku, kau tidak akan meninggalkan ku seperti ke dua orang tuaku, aku mohon bangunlah aku begitu merindukanmu sayang.."
"Kau wanita yang begitu hebat dan kuat, kita sudah melewati begitu banyak penderitaan bersama, kau tetap ingin hidup bersama dengan pria brengsek sepertiku, kau bahkan melewati banyak kesulitan hanya untuk bersamaku. Terima kasih karena memilihku dan tetap berada di sisiku". lirihnya dengan bulir air mata yang menetes di pipi sang Mafia, Nico yang dulunya begitu kejam kini terlihat sangat rapuh. Ia terus mencium punggung tangan istrinya.
*****
Aldo dan Rea baru saja tiba di rumah sakit segera memasuki ruangan tempat Ana dirawat. Setelah mendapat kabar tentang kondisi Ana yang menurun mereka segera menuju rumah sakit.
"Bagaimana kondisi kakak ipar?" ucap Rea. Menatap Ana yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Saat ini hanya keajaiban yang bisa membuatnya bangun." Lirih Nico.
Rea duduk di sisi tempat tidur Ana , Ia juga menggenggam tangan Ana memberinya kekuatan.
"Ana bangunlah semua orang khawatir dan menunggumu, kami ingin berkumpul lagi denganmu, kami sangat menyayangimu juga putramu pasti merindukanmu. Kau harus bangun dan melihat wajah putramu." Rea berbisik di telinga Ana berharap Ana akan membuka matanya. Tetapi tetap saja tidak ada yang terjadi. Rea mengusap lembut pucuk kepala sahabatnya dengan penuh cinta. Bagi Rea, Ana bukan hanya sahabat tetapi seperti saudara. Meski tidak memiliki hubungan darah tetapi ikatan keduanya begitu kuat. Rea yang melihat kondisi Ana hanya bisa menitikkan air matanya.
Ana masih begitu lelap dalam tidur panjangnya. Wajahnya begitu tenang dan damai. Ia masih ingin berada dalam alam mimpinya. Ana membuat semua orang menjadi khawatir. Setiap orang yang mengenalnya pasti akan menyayanginya. Wanita yang begitu baik, lemah lembut, dan begitu kuat. Sifat sabar yang dimiliki Ana membuat semua orang yang dulu membencinya kini menyayanginya. Itulah sebabnya seorang Nico Alexander begitu mencintainya. Ana telah merubah monster dalam diri Nico menjadi malaikat. Nico rela melakukan apapun demi bisa bersama Ana wanita yang begitu istimewa.
Nico yang selalu berada di sisi Ana hanya mampu menggenggam tangan istri tercintanya. Setiap hari Nico selalu mengunjungi Ana dengan harapan agar sang istri bisa segera sadar.
"Aku tidak akan berhenti berharap suatu saat nanti wanita yang kucintai akan bangun dan berkumpul bersamaku juga putraku." Batin Nico. Ia mencium punggung tangan istrinya cukup lama seolah memberinya kekuatan agar bertahan.
******
Aldwin dan juga dokter Zena yang mendengar tentang kondisi Ana semakin menurun memutuskan untuk segera ke rumah sakit.
Aldwin menatap dokter Zena yang sejak tadi menatap keluar jendela mobil. Dokter Zena terlihat begitu gelisah.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu sayang..?" Tanya Aldwin menggenggam tangan istrinya itu.
Sejak tadi Dokter Zena tidak bisa tenang. Ia khawatir setelah mengetahui bahwa kondisi Ana semakin memburuk.
"Aku baik-baik saja sayang.." Dokter Zena menatap manik hitam Aldwin penuh cinta. Mereka saling menatap dan Aldwin membawa Dokter Zena ke dalam pelukannya. Mengusap lembut pucuk kepala sang istri.
__ADS_1
Dokter Zena yang tengah hamil merasa begitu sensitif dan mudah menangis. Mendengar kondisi Ana yang menurun membuatnya semakin sedih dan Ia menitikkan air matanya dalam pelukan Aldwin yang terus mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut.
"Tidak perlu khawatir, Kakak ipar akan baik-baik saja, Aku yakin kakak ipar pasti akan segera sadar." Aldwin mengusap air mata dokter Zena dan tersenyum memberinya kekuatan.
Aldwin seolah tahu akan kekhawatiran istrinya. Jujur Aldwin juga begitu khawatir mengetahui kondisi Ana yang semakin memburuk. Mereka hanya bisa berdoa dan berharap agar Ana bisa segera sadar. Aldwin tahu Ana adalah wanita yang kuat.
Mobil yang mengantar Aldwin dan Dokter Zena tiba di rumah sakit. Keduanya turun dari mobil dengan langkah cepat Mereka segera menuju ruangan tempat Ana dirawat. Seluruh keluarga sudah berkumpul di ruangan tersebut.
"Bagaimana kondisi kakak ipar?" Tanya Dokter Zena. Ia menatap Ana yang belum juga sadar. Terakhir Ia mengunjungi Ana satu bulan yang lalu. Kondisi Ana tetaplah sama. Belum juga sadar dari komanya.
"Kondisinya semakin menurun." Lirih Nico.
Tritt.... triii.... tritt...
Suara AKG yang menandakan pasien masih hidup berhenti. Terlihat garis lurus dari monitor. Menandakan detak jantung pasien telah berhenti berdetak.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu terlihat panik. Kepanikan terlihat jelas di raut wajah Nico.
oeeekkkk..... oeeekkkk.....
Bayi Aidan yang ada di gendongan Bu Aluna menangis dengan cukup kencang. Bayi mungil itu seakan tahu bahwa sang ibu sedang dalam bahaya.
"Lihatlah bayi kita menangis sayang, Apa kau tidak mau bangun dan menenangkannya?" Nico membawa bayi Aidan di samping istrinya.
"Jangan tinggalkan aku dan bayi kita sayang.. Aku membutuhkanmu juga bayi kita." Lirih Nico. Tubuhnya bergetar karena menangis, Sungguh Nico terlihat begitu rapuh, Ini merupakan titik terendah dalam hidupnya. Menyaksikan wanita yang dicintainya sedang berjuang antara hidup dan mati membuat hati Nico sungguh teriris pilu.
Nico merasa frustasi dengan kondisi istrinya. Harapannya untuk hidup seolah sirna. Nico baru saja merasakan kebahagian. Tetapi kebahagian itu tidak bertahan lama dengan kondisi Ana yang koma.
Dokter Zera dan beberapa dokter lainnya segera masuk ke ruangan Ana.
"Sebaiknya kalian menunggu di luar." Ucap Dokter Zera. Dokter Zera adalah dokter yang ikut merawat kondisi Ana selama Ana koma. Nico mempercayakan dokter Zera untuk merawat istrinya.
"Selamatkan istriku." Pinta Nico, Wajahnya terlihat sangat Frustasi. Andai bisa Nico ingin memberikan hidupnya untuk istrinya maka Ia rela memberikan nyawanya asalkan istrinya itu bisa tetap hidup.
"Aku akan berusaha menyelamatkan istrimu, aku juga sangat menyayanginya, sebaiknya kalian berdoa demi keselamatan Ana." Ucap Dokter Zera.
"Tenanglah Nico, Ana wanita yang kuat, Ana pasti akan selamat." Ucap dokter Zera menenangkan Nico yang terlihat begitu khawatir.
Aldo, Rea, Aldwin, dokter Zena dan juga seluruh keluarga terlihat sangat khawatir. mereka menunggu cukup lama. Menit berganti menit. Waktu berlalu begitu lama. Sudah satu jam lamanya dokter belum juga keluar dari ruangan Ana.
Nico sibuk menenangkan bayi Aidan yang sejak tadi menangis.
"Biar ibu yang menggendong bayi Aidan." Ucap Bu Aluna.
"Tenanglah Nak, istrimu pasti akan selamat." Paman Reynad menyakinkan Nico dengan menepuk lembut punggung keponakannya itu.
__ADS_1
Reynad yang selama ini tidak merestui hubungan Nico dan Ana, akhirnya sadar bahwa Nico sangatlah mencintai istrinya.
Dua jam berlalu, dokter Zera keluar dari ruangan Ana dengan menghela nafasnya. Seluruh keluarga harap-harap cemas melihat dokter Zera yang baru saja keluar dari ruangan Ana.
Nico segera menghampiri dokter Zera.
Mata Nico terlihat sembab dan wajahnya begitu lelah. Dokter Zera menatap Nico dan tersenyum.
"Masuklah, Ana sedang menunggumu." Ucap dokter Zera.
"Terima kasih dok." Ucap Nico dengan langkah cepat memasuki ruangan tempat Ana dirawat.
Seluruh keluarga tersenyum setelah mendengar ucapan dokter Zera. Akhirnya kebagian akan segera kembali menghampiri keluarga kecil Nico dan Ana.
Nico duduk di tepi ranjang istrinya. Ia menggenggam tangan Ana.
"Sayang..!" Ucap Nico menitikkan air matanya sambil mencium punggung tangan istrinya.
Dengan perlahan Ana membuka matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam netra indah miliknya. Setelah tiga bulan Ia mengalami koma akhirnya Ana bisa melihat wajah yang sangat dirindukannya yaitu wajah suaminya.
"Sa-sayang..!" lirih Ana menitikkan air matanya. Jemari tangan Ana mengusap wajah Nico yang terlihat sangat lelah.
"Kau sudah sadar sayang, aku sangat merindukanmu, akhirnya Tuhan mengabulkan doaku, aku---..." ucapan Nico terhenti
"Sa-sayang... Aku merindukanmu suamiku.." terima kasih sudah menungguku." Ana mengusap lembut pipi Nico yang terlihat semakin tirus.
Raut wajah Nico memancarkan kebahagiaan. Wanita yang begitu dicintainya telah kembali. Nico mencium kening Ana cukup lama. Hatinya sungguh bahagia.
Ana tersenyum sambil berkata."Ba-yiku".
Nico hanya bisa tersenyum bahagia mendengar ucapan istrinya.
Tak lama kemudian, Bu Aluna masuk dengan menggendong bayi Aidan begitu juga dengan seluruh anggota keluarga.
Aldwin, dokter Zena dan seluruh keluarga yang datang turut bahagia meyaksikan kebahagian yang tengah Nico dan Ana rasakan.
Bayi Aidan berada di dalam pelukan Ana.
"Maafkan ibu Nak!" Ucap Ana sambil mencium pipi tembem bayinya.
Bayi Aidan sedang tersenyum. Wajah bayi mungil itu semakin menggemaskan. Ana mencium seluruh wajah bayinya.
Nico akhirnya tersenyum bahagia melihat intraksi istri dan bayinya begitu juga dengan seluruh keluarga tengah terseyum bahagia.
Bersambunggg.....
__ADS_1
.