Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 15 : Membuatmu Menderita


__ADS_3

Nico, Aldo dan Reynad tiba di Indonesia dengan menggunakan jet pribadi miliknya. Ia segera ke markasnya yang berada di tengah hutan. Setelah tiba di markasnya mereka segera masuk ke dalam markas tersebut.


Ariana sudah berada di markas Nico selama tiga hari. Ia ditahan dipenjara bawah tanah markas tersebut. Kondisinya benar-benar menyedihkan, ia terlihat sangat lemah dan tidak mempunyai semangat. Selama berada di penjara bawah tanah Ariana tidak mau makan sama sekali. Ia lebih memilih kelaparan dari pada harus makan makanan yang diberikan oleh laki-laki kejam itu.


 Nico segera menuju ruang bawah tanah bersama Aldo dan Reynad pamannya. Ia ingin menemui wanita itu. Ia ingin mengajak pamannya untuk bertemu anak penghianat yang sudah menghianati keluarganya.


“Apa wanita itu masih hidup setelah tiga hari berada di penjara bawah tanah.” Tanya Nico kepada anak buahnya.


“Wanita itu masih hidup Tuan, tapi sepertinya wanita itu sakit, ia tidak mau makan makanan yang kami berikan.” Jawab anak buah Nico.


“Bawa wanita itu ke ruanganku.” Perintah Nico.


“Baik Tuan.” Anak buah Nico segera membuka pintu yang terbuat dari besi tempat Ariana dipenjara. Ia menarik tubuh Ariana dengan paksa untuk membawanya bertemu dengan Nico.


Anak buah Nico membawa Ariana ke ruangan khusus Nico yang berada di markas tersebut.


“Saya sudah membawa wanita ini tuan.” Ucap anak buah Nico.


Nico menggerakkan tangannya menyuruh anak buahnya untuk keluar dari ruangan itu meninggalkan Ariana.


Ariana yang begitu lemah karena ia tidak makan dan mandi selama berhari-hari, wajahnya terlihat sangat pucat. Ariana tetap mencoba untuk tetap kuat di hadapan laki-laki kejam itu. Ia tidak ingin terlihat lemah walau ia sendiri sudah tidak kuat untuk sekedar berdiri. Kedua kakinya sudah begitu lemah untuk sekedar menopang tubuhnya sendiri.


“Wanita ini adalah anak seorang penghianat, dia adalah putri Bagaskara Wijaya, laki-laki yang sudah menghianati dan melenyapkan ayahku, sayang sekali ayahnya sudah meninggal dan kita tidak bisa membalaskan dendam kepada laki-laki penghianat itu. ” Nico menarik tubuh Ariana dengan sekuat tenaga lalu ia mendorong tubuh wanita itu membuatnya jatuh tersungkur di depan kaki Reynad paman Nico.


“Kita masih bisa menyiksa anak penghianat itu, wanita ini akan menanggung kesalahan yang sudah ayahnya lakukan.” Ucap Nico lagi.


Ariana hanya bisa pasrah jika ia harus mati di tangan laki-laki kejam yang sudah membuatnya menderita. Ia tidak bisa melawan atau sekedar berbicara. Kepalanya benar-benar pusing ia melihat seluruh ruangan di sekelilingnya menjadi gelap dan ia jatuh tidak sadarkan diri di depan ketiga laki-laki kejam itu.


“Apa yang harus kita lakukan kepada anak penghianat ini?” Tanya Nico kepada pamannya.


“Biarkan wanita ini tetap hidup, walau ayahnya sudah meninggal kita masih bisa membuat anak penghianat itu menderita.” Ucap Reynad.


Nico segera menyuruh asistennya untuk membawa Ariana yang tidak sadarkan diri ke kamar Nico yang berada di markasnya.


“Bawa wanita ini ke dalam kamarku, panggilkan dokter Zera untuk memeriksa kondisinya, wanita ini tidak boleh mati dengan mudah karena aku sendiri yang akan melenyapkannya.” Perintah Nico kepada Aldo.


 “Baik Tuan.” Aldo segera memerintahkan anak buahnya untuk mengangkat tubuh Ariana dan membawanya ke dalam kamar yang ada di markas tersebut. Aldo segera mengambil ponselnya yang ada di saku jasnya dan menelefon dokter Zera dokter pribadi Nico Alexander.


Tak berapa lama dokter Zera tiba di markas Nico ia segera masuk menuju kamar Nico untuk memeriksa Ariana. Dokter tersebut mulai memeriksa Ariana yang terlihat begitu pucat. Dokter memasang selang infus di tangan kiri Ariana. Nico hanya duduk di sofa samping tempat tidur dan terus menatap dokter Zera yang memeriksa Ariana. Ia melihat Ariana dengan tatapan sendu disisi lain Nico merasa begitu kasihan dengan Ariana namun, di sisi lain hatinya dipenuhi dendam kematian orang tuanya. Rasa benci di hatinya terhadap Ariana begitu besar. Nico segera menghampiri Dokter Zera yang selesai memeriksa keadaan Ariana.


“Bagaimana keadaan wanita itu dokter.” Tanya Nico kepada dokter Zera.


“Apa kau tidak memberinya makan selama berhari-hari sampai wanita itu sakit, kau sangat kejam Nico, wanita itu akan sadar dalam beberapa hari, dia sakit karena tidak makan selama beberapa hari, aku sudah memberinya vitamin untuk memulihkan kesehatannya.” Jawab dokter Zera. Dokter yang sudah begitu akrab dengan Nico dan mereka sudah dekat saat masih kecil. Dokter Zera adalah dokter yang berusia 30 tahun usianya sama dengan Nico. Dokter Zera sudah menikah dan mempunya 2 orang anak.


“Aku tidak sekejam itu dokter, aku sudah memberinya makan tapi wanita itu tidak mau makan makanan yang aku berikan, wanita itu lebih memilih kelaparan.” Ucap Nico.


“Siapa sebenarnya wanita itu, tidak biasanya kau peduli dengan wanita lain, apa sekarang kau sudah menemukan pengganti dari Cycylia.” Tanya dokter Zera.


“Aku hanya ingin membalaskan dendam keluargaku kepada wanita itu, sebaiknya dokter segera pulang, keluarga dokter sudah menunggu, dokter sudah sangat lama di sini” Usir Nico dengan tatapan jengah kepada dokter Zera. Ia begitu malas menanggapi berbagai pertanyaan dari dokter pribadinya itu.


“Kau mengusirku, baiklah aku akan pulang, kau jangan terlalu kejam dengan wanita itu, jangan sampai kau menyesal.” Dokter Zera segera meninggalkan markas Nico yang diantar oleh Aldo dan Nico.


Setelah dokter Zera meninggalkan markas tersebut. Nico segera masuk ke dalam kamar untuk melihat Ariana.


“Kau harus menderita di tanganku, hanya aku yang boleh melenyapkanmu, aku akan mengambil harta yang paling berharga darimu dan membuatmu tidak bisa lepas dariku.” Ucap Nico dengan tatapan tajam menatap wajah pucat Ariana yang terbaring di kasur dengan mata yang terpejam.


.........


Sementara itu, seorang wanita paruh baya terlihat mondar mandir di dalam kontrakannya dengan memegang ponsel miliknya. Ia mencoba menghubungi seseorang Namun, nomor yang ditujunya tidak bisa dihubungi. Wanita itu adalah bu Ella ibu Ariana, perasaannya saat ini benar-benar gelisah dan khawatir sebab putrinya sudah tiga hari tidak pulang dan bahkan ponselnya tidak bisa dihubungi. Ia sudah mencari putrinya selama berhari-hari namun, ia tidak bisa menemukan keberadaan Ariana. Ia juga tidak tahu siapa laki-laki yang ditemui putrinya. Bu Ella hanya tahu nama laki-laki itu adalah Nico. Ia juga sudah melaporkan kasus kehilangan putrinya kepada polisi. Namun, belum ada hasil apa pun. Ia hanya bisa berdoa  dan bergumam dalam hatinya.


“Apa yang terjadi denganmu Nak?, ibu benar-benar khawatir,  Tuhan tolong lindungi putriku di mana pun ia berada, ibu sangat merindukanmu Nak, hiksss..hikksss.” Tanpa terasa bulir air mata jatuh di pipi Bu Ella. Ia benar-banar merindukan putrinya saat ini.


........


Nico yang saat ini tengah berada di perusahaannya langsung menemui orang kepercayaannya untuk mengetahui masalah yang terjadi di perusahaannya itu.


“Katakan apa yang terjadi di perusahaanku?, siapa orang yang sudah menghianati dan berani mencari maslah denganku.” Tanya Nico kepada orang kepercayaannya itu.


“Perusahaan kita mengalami masalah Tuan, ada orang yang berani mencuri data-data perusahaan dan proyek pembangunan hotel yang berada di Kota X mengalami masalah seseorang menggelapkan dana pembangunan proyek tersebut.” Jawab orang tersebut.


Braakkkk (Nico memukul meja dan membuat orang yang ada di ruangan tersebut begitu takut dan suasana ruangan menjadi mencekam).


“Siapa orang yang mengurus  pembangunan hotel di kota X.” Tanya Nico kepada Aldo asistennya itu.


“Orang yang mengurus proyek pembangunan hotel di kota X adalah orang yang diutus oleh perusahaan Mars Company Tuan, mereka menawarkan kerja sama beberapa bulan yang lalu.”  Jawab Aldo.


Lagi-lagi tangan Nico mengepal dan memukul meja membuat Aldo semakin bergidik ngeri.


“Ternyata kau mau main-main denganku, aku akan mencarimu dan membunuhmu seperti apa yang sudah kau lakukan kepada orang tuaku.”


Nico sudah tahu bahwa pemilik perusahaan Mars Company adalah Andrew Zexander. Orang yang di cari-carinya selama ini.


“Apa kau sudah menemukan keberadaan Andrew dan putranya yang bernama Aldwin.” Tanya Nico lagi kepada Aldo.


“Kami tidak bisa melacak keberadaan Andrew dan putranya, semua informasi tentangnya tidak bisa kami temukan, sepertinya dia bersembunyi di suatu tempat Tuan.”


“Kau benar-benar tidak berguna.” Nico terlihat begitu kesal dengan asistennya itu.

__ADS_1


Dreet...... Drettt... ponsel Nico berdering ia lalu mengangkat panggilan tersebut.


“Tuan apa yang harus kami lakukan kepada wanita tua Itu?” Ucap suara di seberang telefon.


“Bawa wanita itu ke markasku, biarkan dia bertemu dengan putrinya, aku akan membuat perhitungan kepada mereka.”


“Baik Tuan.”


Nico menutup sambungan telefon itu begitu saja. Ia kemudian meninggalkan ruangan kerjanya bersama asistennya.


Anak buah Nico segera masuk ke dalam rumah kontrakan bu Ella dan menemukan wanita itu tak sadarkan diri. Ia segera membawa wanita itu ke rumah sakit dan menghubungi Tuannya untuk memberitahu tentang kondisi bu Ella kepada Nico.


“Wanita tua itu berada di rumah sakit Tuan, kami menemukan wanita itu tidak sadarkan diri.” Ucap Anak buah Nico.


“Awasi terus wanita itu, aku akan segera ke sana.” Nico menutup sambungan telefon tersebut.


Nico segera berangkat ke rumah sakit bersama Aldo asistennya. Setelah sampai ia segera masuk ke dalam kamar bu Ella yang tengah terbaring di kamar rumah sakit dengan bantuan alat medis di beberapa bagian tubuhnya. Wajahnya terlihat begitu pucat. Ia sakit karena merindukan putrinya.


“Bagaimana kondisi wanita itu dokter.” Tanya Nico kepada dokter yang baru saja selesai memeriksa kondisi bu Ella.


“Pasien mengalami stres sehingga mempengaruhi kondisi kesehatannya, pasien tidak boleh terlalu banyak berpikir, pasien baik-baik saja hanya perlu istirahat intuk memulihkan kondisinya.” Ucap Dokter paruh baya tersebut.


“Terima kasih Dok.”


Dokter itu segera keluar dari ruangan bu Ella.


Nico mendesah kesal.


“Awasi wanita ini, setelah dia sadar kalian hubungi aku, kau paham.” Perintah Nico kepada anak buahnya yang berjaga di luar ruangan itu.


“Baik Tuan.” Jawab kedua anak buah tersebut.


 


“Kita akan  kembali ke markas, aku ingin memberikan kejutan untuk Wanita itu.” Ucap Nico.


“Baik Tuan.”


Nico dan Aldo kembali ke markas dengan mengendarai  mobil mewah miliknya dan meninggalkan rumah sakit tersebut menuju markasnya. Setelah tiba ia langsung masuk ke markasnya dan menemui wanita itu.


Sementara itu, Ariana belum sadarkan diri. Ia masih betah berada di alam mimpinya.


“Ayah aku merindukanmu, bawa aku bersamamu, aku tidak kuat menghadapi semua ini, ini begitu berat untukku, kenapa Ayah begitu cepat meninggalkan aku dan ibu?” Ariana masih berada dalam mimpinya, ia bertemu dengan ayahnya di alam mimpinya. Ia memeluk ayahnya dengan erat seolah tidak ingin berpisah dari laki-laki yang begitu disayanginya. Ia ingin ikut dengan ayahnya yang sangat dirindukannya.


“Kamu harus kembali Nak, ayah yakin kamu kuat menghadapi semua ini, ayah yakin kamu anak yang kuat, kamu harus lebih sabar percayalah kebahagiaan akan datang menghampirimu.” Ucap Bagaskara ayah Ariana yang berada dalam mimpinya.


Tiba-tiba bayangan ayahnya menghilang seiring dengan cahaya putih yang membawa bayangan ayahnya.


“Apa dia sedang bermimpi, Hei wanita sialan ayo bangun kau sudah tidur begitu lama, kau membuat tempat tidurku menjadi kotor Huh.” Keluh Nico.


Tak berapa lama mata Ariana mulai terbuka dan ia menatap di sekeliling ruangan itu. Ia begitu lemah dengan kondisinya saat ini. Ia hanya bisa terbaring di kasur yang begitu nyaman baginya.


“Bagus akhirnya kau sudah bangun, sekarang makan bubur ini, jangan berani menolak atau membantahku, kau paham.” Perintah Nico yang  menghampiri Ariana dengan membawa semangkuk bubur dan meletakkan bubur tersebut di atas meja yang berada di samping tempat tidur.


Ariana menatap wajah Nico dengan tatapan sendu, ia memohon kepada laki-laki kejam itu.


“Tolong lepaskan aku Tuan, biarkan aku bertemu dengan ibuku Tuan, dia pasti mencariku.” Lirih Ariana dengan suara yang begitu lemah.


“Berhenti memohon atau aku akan membuatmu semakin menderita, kau mau aku melakukan itu HAH.” Bentak Nico kepada Ariana.


Ariana hanya bisa pasrah dengan keadaan yang terjadi kepadanya ia bergumam dalam hatinya.


“Ibu aku merindukanmu,  Tuhan bantu aku pergi dari sini, aku ingin bertemu dengan ibu, ibu maafkan aku sudah membuat ibu khawatir, aku merindukan ibu, Tuhan lindungi ibuku jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi kepadanya.”


Ariana mengambil mangkuk yang berada di samping tempat tidur itu. Ia makan sesuap demi sesuap sampai bubur itu habis tak bersisa perutnya begitu lapar dan juga sakit akibat tidak makan berhari-hari. Setelah makan ia minum obat yang berada di atas meja kecil lalu kembali tertidur.


Nico keluar dari kamarnya ia sudah memastikan bahwa wanita itu tetap hidup dan makan bubur yang diberikannya.


...........


Pagi hari yang cerah Ariana menggeliat dari bawah selimut. Ia mengucek kedua matanya dan menatap sekeliling ruangan yang tampak terkena sinar matahari dari balik celah gorden. Ia bangun dari tempat tidur dan berjalan keluar dari markas tersebut. Ia ingin berjalan-jalan mengelilingi markas itu. Ia menatap pemandangan yang begitu indah di luar markas tersebut.


“Benar-benar indah.” Gumam Ariana dan  ia menghirup udara segar dari hutan yang berada di sekeliling markas itu.


Nico membuka pintu kamarnya dan tidak mendapati Ariana di tempat tidurnya.  Ia keluar dan memanggil anak buahnya untuk mencari keberadaan Wanita itu.


“Apa yang kalian lakukan HAH, cari wanita itu beraninya dia kabur dari markasku.” Perintah Nico dengan suara yang membentak.


“Baik Tuan” Anak buah Nico segera keluar dan mencari di sekeliling markas dan ia melihat Ariana duduk di tengah tanaman bunga yang sangat indah.


“Apa yang Nona lakukan di sini?, sebaiknya nona segera ke dalam markas dan menemui Tuan Nico, dia sudah mencari nona sejak tadi.” Ucap Anak buah Nico yang bertubuh kekar.


Ariana segera bangkit dan berjalan masuk ke dalam markas untuk bertemu dengan Nico. Ia membuka pintu kamar Nico dan masuk menemui Nico yang tengah duduk di sofa dalam kamar. Nico segera berdiri dan menghampiri Ariana.


“Kau mau kabur dari markas ini HAH.” Bentak Nico dengan menarik rambut Ariana dengan sangat kasar membuat Ariana menahan sakit di kepalanya.


“Ti-ti-tidak Tuan, saya tidak berani kabur dari Tuan, tolong lepaskan Tuan ini sakit, maafkan saya Tuan.” Lirih Ariana dengan suara terbata-bata.

__ADS_1


“Bagus jangan pernah berpikir untuk coba-coba kabur dariku, karena aku akan mencarimu sekalipun kau pergi ke ujung dunia, kau paham HAH.” Bentaknya lagi


“Baik Tuan.” Nico melepas tangan yang memegang rambut Ariana dan membelai lembut rambut tersebut membuat Ariana semakin bergidik ngeri dengan laki-laki yang ada di hadapannya itu.


Nico keluar dari markasnya dan menyuruh Aldo untuk  membawa Ariana ke Mansionya hari ini. Sementara pamannya Reynad sudah berada di Mansionya beberapa hari yang lalu. Ia ingin membawa Ariana untuk membuatnya semakin menderita dengan menjadikannya budak.


“Bawa wanita itu ke mansionku hari ini juga dan pastikan malam ini wanita itu sudah siap karena malam ini aku akan mengambil harta paling berharga yang dimilikinya.” Ucap Nico.


“Baik Tuan.”


Nico meninggalkan markasnya menuju Klub untuk bersenang-senang. Ia ingin  menikmati malam ini dengan minum Alkohol yang sudah lama tidak dirasakannya.


..............


Aldo segera menemui Ariana dan mengajaknya untuk ikut dengannya.


“Sebaiknya Nona ikut dengan saya, ini adalah perintah dari Tuan Nico.” Ucap Aldo dan membawa Ariana masuk ke dalam mobil hitam kemudian mobil tersebut melaju meninggalkan markas yang berada di tengah hutan. Sepanjang perjalanan Ariana hanya diam dan tidak berani bertanya kepada Aldo. Suasana dalam mobil begitu sunyi tidak ada percakapan antara kedua orang tersebut.


“Ke mana laki-laki ini akan membawaku?, apa mereka akan membunuhku dan membuang jasadku di jurang, Tuhan tolong jangan biarkan itu terjadi, ayah ibu tolong aku, aku tidak mau mati di tangan laki-laki kejam itu.” Batin Ariana dengan kepala yang terus menggeleng berharap apa yang dipikirnya tidak terjadi.


Tak terasa mobil tersebut sampai di mansion Nico.


Aldo turun dan membukakan pintu mobil untuk Ariana. Ariana segera keluar dari mobil dan  menatap Mansion itu dengan perasaan takjub.


“Ini benar-benar istana yang sangat mewah, beruntung sekali orang yang bisa tinggal di tempat ini, apa aku akan tinggal di sini?.” Batin Ariana.


Ia tidak pernah tahu istana yang akan dimasukinya adalah neraka yang berkedok istana baginya. Ia tidak pernah tahu penderitaan apa yang akan di dapatnya dari istana megah di hadapannya itu.


Ariana mengikuti Aldo dari belakang dan masuk ke dalam istana megah itu. Aldo disambut beberapa pelayan yang sudah menunggu kedatangan mereka.


“Kalian harus melayani wanita itu malam ini dengan baik,  pastikan dia kuat malam ini, berikan makanan yang banyak untuknya karena malam ini dia akan  bertempur  di suatu tempat, berikan pakaian yang sangat cantik untuknya dan wanita ini harus benar-benar terlihat cantik malam ini.” Perintah Aldo kepada kepala pelayan.


“Baik Tuan.” Kepala pelayan mengangguk dan menundukkan kepala kepada Aldo.  


Ariana yang sejak tadi mendengar pembicaraan antar Aldo dan kepala pelayan itu hanya bisa membulatkah matanya. Ia bingung mendengar apa yang orang itu bicarakan.


“Mari nona silakan ikut dengan saya, nona harus segera bersiap.” Kepala pelayan itu membawa Ariana masuk ke dalam kamar Nico. Ariana hanya bisa pasrah apa pun yang dilakukan oleh para pelayan kepadanya.  


Para pelayan itu mulai melakukan tugasnya. Ada yang khusus membantu Ariana membersihkan diri di dalam bathup kamar mandi menggosok tubuhnya. Ariana lagi-lagi hanya bisa pasrah. Setelah selesai membersihkan diri Ariana keluar dari kamar mandi dan ingin memakai pakiannya.


“Terima kasih sudah membantu saya bu, saya bisa memakai pakaian ini sendiri, kalian bisa istirahat.” Ucap Ariana kepada pelayan wanita yang berusia paruh baya itu.


“Baik Nona, kami permisi dulu.” Para pelayan itu menundukkan kepala dan keluar dari kamar tersebut.


Tak beberapa lama kemudian para pelayan kembali masuk untuk memastikan Ariana sudah memakai pakaian yang  di berikan oleh Nico. Ia membawa beberapa makanan untuk makan malam Ariana.


Ariana yang memang sangat lapar sejak tadi mulai menghabiskan makanan yang ada di atas meja. Ia makan makanan itu sampai habis tak bersisa.


Para pelayan wanita yang bertugas merias Ariana masuk ke dalam kamar dan ia menatap Ariana dari ujung kepala sampai ujung kaki dan mereka begitu kagum menatap kecantikan wanita yang ada di hadapannya itu.


“Nona benar-benar cantik, kami bahkan belum merias wajah Nona tapi  nona sudah terlihat sangat cantik.” Puji para pelayan yang bertugas merias Ariana.


“Jangan begitu memujiku bi, aku tidak secantik itu, Terima kasih atas kebaikan bibi yang sudah membantuku.” Ucap Ariana lembut.


“Nona tidak perlu berterima kasih kepada kami, tugas kami memang melayani Nona, saya akan merias Nona untuk membuat Nona semakin cantik.” Pelayan itu mulai merias Ariana dengan sedikit polesan di wajah Ariana membuatnya semakin cantik.


Setelah selesai pelayan itu meninggalkan Ariana yang berada di dalam kamar Nico. Ariana merasa begitu lelah dan mengantuk karena jam menunjukkan pukul 11. 00 malam ia memejamkan matanya dan terlelap menuju alam mimpi.


Nico dan Aldo masih berada di klub malam menikmati minuman Wine. Nico meneguk minuman itu sampai habis dan sudah menghabiskan dua botol Wine. Setelah merasa mabuk Nico meninggalkan klub malam tersebut di bantu oleh Aldo. Mobil mewah milik Nico membela jalanan ibukota menuju Mansionya. Setelah sampai Aldo segera membantu Nico masuk ke dalam kamarnya.


Nico membuka pintu kamarnya dan.....    


Bersambung....


Tinggalkan jejak yah😀


 


LIKE, VOTE DAN KOMENTAR


 


BIAR AUTHORNYA SEMANGAT YAH.


 


TERIMA KASIH.


🙏🙏🙏


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2