Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 42 : Aku Tetap Mencintaimu


__ADS_3

Jakarta, 07 Juli 2007 at 07: 00 A.M


Setelah menempuh perjalan kurang lebih 16 jam lamanya London-Jakarta. Ana dan bu Ella tiba di bandara Soekarno-Hatta. Saat ini Ana dan ibunya sudah berada di Jakarta. Ana telah meninggalkan Negara London yang penuh kenangan manis dan juga kenangan buruk. Ana berharap ia akan memulai kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya di tanah airnya tercinta ini.


Mereka memutuskan untuk tinggal di rumah lama mereka. Rumah yang penuh dengan kenangan dan kehangatan keluarga kecil itu. Dengan naik taksi mereka berdua sudah tiba di rumahnya yang dulu.


Ana dan bu Ella masuk dan menatap setiap sudut rumah yang sudah begitu lama ia tinggali. Tidak banyak yang berubah dari rumah itu. Kenangan tentang ayahnya terlintas di benak mereka masing-masing.


"Akhirnya kita bisa kembali ke rumah ini bu. rumah yang penuh dengan kenangan tentang ayah, aku merindukan ayah bu." Ucap Ana lirih menatap setiap sudut rumahnya.


"Ibu juga merindukan ayahmu Nak, kita harus kuat dan memulia hidup yang lebih baik, ibu yakin ayahmu sudah tenang di sana."


Ana dan bu Ella masuk ke dalam kamar mereka masing-masing untuk mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah setelah menempuh perjalan yang cukup panjang.


Sore hari tiba Ana sudah terlihat lebih segar dan ia sedang duduk di ruang keluarga yang juga ada bu Ella di sana. Mereka mengobrol bersama.


"Apa rencana mu selanjutnya Nak?" Tanya bu Ella


"Aku akan mencari pekerjaan bu, doakan aku agar mendapat pekerjaan, besok Aku akan mulai melamar pekerjaan." Jawab Ana.


"Ibu selalu mendokan yang terbaik untukmu Nak."


Setelah ayah Ana meninggal ia harus menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Ana tidak ingin ibunya bekerja di usianya yang sudah tua. Ana akan menghidupi dirinya dan ibunya.


...*******...


Pagi hari tiba dengan sinar matahari menyinari langit dan cahayanya yang menelusup masuk melalui celah gorden kamar Ana.


Ana mengerjap dan membuka matanya. Ia segera bangun dan masuk ke dalam kamar mandi melalukan ritualnya membersihkan diri dan bersiap-siap untuk mencari pekerjaan.


Setelah siap Ana segera sarapan bersama ibunya dan berpamitan dengan ibunya untuk mulai mencari pekerjaan.


Dengan naik taksi Ana menuju beberapa rumah sakit yang cukup terkenal di kota Jakarta untuk melamar pekerjaan sebagai dokter. Ia berharap akan ada salah satu rumah sakit yang akan menghubunginya. Ia tidak punya siapapun yang bisa membantunya untuk bekerja di rumah sakit. Ana hanya berharap tuhan membantunya agar secepatnya ia bisa bekerja kembali.


Beberapa minggu kemudian....


Ana mendapat panggilan telefon dari salah satu rumah sakit tempatnya melamar sebagai dokter. Kebetulan rumah sakit itu memang sedang membutuhkan dokter spesialis jantung.


Ana begitu bersyukur dan merasa bahagia. Ia akan kembali menjadi seorang dokter yang sudah menjadi impiannya sejak dulu.


Hari ini adalah hari pertama Ana mulai bekerja sebagai dokter di rumah sakit terkenal di Jakarta. Dengan menggunakan seragam dokter ia segera berangkat menuju rumah sakit tempatnya bekerja.


Dengan naik taksi Ana sampai dirumah sakit tersebut ia segera turun dan masuk ke dalam rumah sakit. Saat ini ia sedang berjalan di koridor rumah sakit menuju ruangannya setelah tadi ia menemui kepala rumah sakit tempatnya bekerja. Ana di antar oleh seorang suster menuju ruangannya.


"Terima kasih suster." Ucap Ana saat ia sudah berada di dalam ruangannya.


"Sama-sama dokter, semoga dokter betah bekerja di sini. Selamat bergabung di rumah sakit ini dokter Ana." Ucap suster tersebut dan ia meninggalkan Ana di ruangannya.

__ADS_1


Ana mulai memeriksa beberapa pasien yang sudah mengantri sejak tadi. Mereka menunggu dokter spesialis jantung untuk memeriksa kondisi mereka.


Jam Istirahat tiba...


Saatnya para suster dan dokter istirahat untuk makan siang. Begitu juga dengan Ana ia sudah berada di kantin rumah sakit memesan beberapa makanan untuk mengisi perutnya yang sudah lapar.


Setelah selesai makan siang Ana berjalan kembali ke ruangannya. Saat akan menuju ke ruangannya tiba-tiba saja langkah kakinya berhenti dan ia menatap tajam seseorang yang sedang duduk di kursi roda. Ke dua matanya membulat sempurna saat ia melihat sosok laki-laki yang tengah duduk di kursi roda itu.


Degggggg....


Jantung Ana berpacu dengan kencang. Ia semakin mendekati sosok laki-laki itu yang sedang duduk di kursi roda. Memastikan bahwa ia tidak salah dan begitu mengenal laki-laki yang ada di depannya saat ini.


Ia berjalan ke arah pria yang sedang duduk di kursi roda itu dan..


"Aldwinnnn......" Ucap Ana


Laki-laki itu menatap Ana yang sedang berdiri di depannya saat ini. Pandangan mereka bertemu dan saling menatap satu sama lain.


Deggggg....


Jantung Aldwin berdebar kencang saat ia melihat wajah wanita yang berdiri di depannya saat ini. Wanita yang begitu ia rindukan. Namun saat ini ia harus menjauhi Ana. Aldwin berharap agar ia tidak bertemu dengan Ana di saat kondisinya sedang cacat seperti saat ini. Namun takdir tuhan berkata lain. Ia harus kembali bertemu dengan Ana.


Aldwin tidak menyangka akan bertemu dengan Ana secepat ini dan dalam situasi yang tidak tepat. Aldwin sengaja meninggalkan Negara London saat mengetahui bahwa Ana baik-baik saja. Aldwin pikir Ana akan menetap dalam waktu yang lama di negara itu. Dia tidak mengetahui kalau ternyata Ana sudah kembali ke Indonesia.


Saat ini Aldwin sedang menjalani terapi untuk pemulihan ke dua kakinya. Aldwin memang cacat saat ini namun masih ada kemungkinan ia akan kembali pulih dan bisa berjalan normal kembali dengan terapi dan perawatan yang tepat.


Ana mendekati Aldwin yang sedang duduk di kursi roda.


"Al-Aldwin, Ka-kau ada di sini, apa yang sudah terjadi? kenapa kau bisa seperti ini Win?" Tanya Ana dengan suara terbata-bata.


Ana berjalan mendekati Aldwin. Ana bahkan tidak bisa menahan tangisnya kali ini. Ia mendekat dan duduk di depan Aldwin. menatapnya seolah meminta penjelasan dari Aldwin tentang apa yang sudah terjadi.


Kali ini Ana tidak salah ia benar-benar mengenal bahwa pria yang ada di depannya saat ini adalah Aldwin. Ana ingin memeluk Aldwin laki-laki yang begitu dirindukannya.


"Maaf sepertinya dokter salah orang, saya tidak mengenal dokter." Ucap Aldwin.


Degggg...


Ana begitu terkejut mendengar ucapan Aldwin. bagaimana mungkin Aldwin tidak mengenalnya pikir Ana. Hati Ana sakit mendengar ucapan Aldwin yang sudah tidak mengenalnya.


"Al-Aldwin apa maksudmu? Apa kau lupa aku adalah Ariana wanita yang dulu kau cintai. Aku tahu aku salah sudah meninggalkanmu tapi aku mohon jangan seperti ini Aldwin. Jangan lupakan aku dan mengatakan kau tidak mengenalku. Maafkan Aku Aldwin seharusnya aku tidak meninggalkanmu dan tetap bersamamu. aku menyesal Win. aku begitu mencintaimu." Ucap Ana dengan suara parau menahan tangisnya.


Katakan apa yang sudah terjadi, kenapa sekarang kau cacat seperti ini, siapa yang sudah membuatmu seperti ini, katakan.?" Tanya Ana bertubi-tubi.


Aldwin hanya diam dan tidak ingin menjawab pertanyaan Ana. Sulit baginya untuk menjelasakan semua yang terjadi kepada Ana. Saat ini Aldwin tidak ingin Ana mendekati dirinya yang sudah cacat. Ia bahkan berpura-pura tidak mengenal Ana. Walau hati Aldwin juga begitu sakit namun ia tetap harus melakukan sandiwara ini. Saat melihat Ana ia begitu merindukan wanita itu dan ingin memeluknya. Namun ia tidak ingin Ana menderita harus hidup bersamanya yang sudah cacat. Satu-satunya cara yang bisa Aldwin lakukan adalah berpura-pura tidak mengenal Ana agar wanita itu menjauhinya. Ia ingin agar Ana bahagia meski tidak bersama dirinya.


"Suster... saya ingin ke ruangan sekarang, tolong antar kan saya ke ruangan. saya ingin istirahat."

__ADS_1


"Baik tuan."


"Aldwin... kau mau kemana!!! aku akan mengantarmu, biarkan aku membantumu, jangan seperti ini Aldwin biarkan aku membantumu dan merawatmu. maafkan aku.." Ana ingin mendorong kursi roda Aldwin. Namun Aldwin menghentikan Ana saat akan mendorong kursi rodanya.


"Aku tidak membutuhkan bantuanmu, aku tidak mengenalmu dokter. Suster...!!! cepat antarkan saya keruangan sekarang juga." Perintah Aldwin.


Suster akhirnya mendorong kursi roda Aldwin menuju ruangannya. Ana hanya diam dan menatap Aldwin yang semakin menjauh darinya. Ia masih berdiri mematung memandang Aldwin. Ia tidak menyangka akan bertemu Aldwin dengan cara seperti ini. Aldwin bahkan tidak mengenalnya dan kondisi Aldwin saat ini sedang cacat.


Ana merasa begitu bahagia bisa melihat wajah laki-laki yang sangat dicintainya. Namun di sisi lain hatinya juga sakit karena Aldwin tidak mengenalnya dan bahkan menjauhi dirinya.


"Aku tidak akan menyerah Aldwin, aku akan membuatmu kembali mengingatku, aku akan menunggumu sampai kau kembali dan aku akan tetap mencintaimu sampai kapan pun. Aku tidak peduli kau cacat atau tidak aku akan tetap mencintaimu dan akan menerima kekuranganmu." Batin Ana.


Ana mengikuti Aldwin ke ruangannya dan menunggu suster yang mengantar Aldwin keluar dari ruangan. Ia hanya melihat Aldwin dari balik pintu ruangan itu.


"Maaf suster, Apa yang terjadi dengan Aldwin?" Tanya Ana kepada suster yang bertugas merawat Aldwin.


"Tuan Aldwin saat ini sedang mengalami kelumpuhan dan ia sedang menjalani terapi untuk pemulihan dok." Jawab suster tersebut.


"Apa Aldwin juga mengalami Amnesia?" Tanya Ana lagi.


"Maaf dokter saya tidak tahu persis tentang kondisi pasien, dokter bisa menanyakan langsung kondisi tuan Aldwin kepada dokter David dokter pribadi tuan Aldwin. Saya permisi dokter."


"Terima kasih suster." Ucap Ana dan suster itu meninggalkan Ana yang masih berdiri di depan ruangan Aldwin.


Ana ingin masuk ke dalam ruangan Aldwin. Namun ia takut jika Aldwin akan mengusirnya. Ana hanya berdiri dan menatap melalui kaca di balik pintu ruangan Aldwin.


"Aku akan tetap mencintaimu dan menerima setiap kekurangannmu, aku tidak peduli kau lumpuh, aku akan tetap berada di sampingmu dan mencintaimu selamanya. Aku mohon jangan lupakan aku Win." Gumam Ana dan tanpa terasa bulir bening kembali lolos dari ke dua boal mata indah Ana.


Ia menatap Aldwin yang sedang melamum menatap keluar jendela rumah sakit. Entah apa yang Aldwin pikirkan saat ini. Ana berharap agar Aldwin bisa kembali pulih dan mengingat dirinya.


Sekali lagi Tuhan mempertemukan mereka dengan cara yang tidak pernah mereka duga. Saat ini Tuhan sedang menguji kekuatan cinta mereka berdua.


Cinta sejati akan menerima kekurangan dari pasangan mereka. Pasangan yang mencintaimu dengan tulus akan selalu menemanimu baik disaat sehat maupun disaat kamu sakit.


Apakah Ana akan tetap mencintai Aldwin di saat Aldwin sedang cacat atau kah Ana akan menyerah? Apakah Aldwin akan pulih dan bisa berjalan normal seperti dulu lagi?


Nantikan di Episode berikutnya perjuangan cinta Ana dan kisah Aldwin yang bisa selamat dari kejaran Anak buah Nico yang ingin membunuhnya.


Bersambunggggg.....


Terima kasih yang sudah baca Novel recehku ini.


Maafkan Author yang jarang UP.


Like, Vote dan Komentar.


šŸ™šŸ™

__ADS_1


__ADS_2