
Setelah Nico menyiksa Ariana. Ia pergi ke markasnya untuk menyelesaikan dendamnya kepada ke dua orang tua Aldwin.
“Apa kau sudah mengirim foto gadis itu kepada Aldwin.” Ucap Nico kepada Aldo asistennya.
“Saya sudah mengirim foto gadis itu tuan.” Jawab Aldo.
Tinggg.....
Pesan masuk ke dalam ponsel Aldwin. Saat ia membuka pesan itu. Matanya membulat sempurna saat melihat gambar yang tertera di layar ponselnya.
Terlihat Ariana yang tengah tertidur dengan beberapa tanda merah di bagian leher jenjangnya.
“Kurang ajar, beraninya Nico menculik Ana, apa yang sudah kau lakukan kepada wanita yang aku cintai.” Aldwin melempar ponselnya dan ponsel tersebut hancur begitu saja.
Aldwin terlihat begitu marah saat menerima pesan yang dikirim oleh anak buah Nico.
“Apa kau sudah mengetahui di mana Nico membawa Orang tuaku dan juga Ana? kau sudah melacaknya?” Tanya Aldwin
“Saya sudah melacak ponsel nona Ana, sepertinya mereka disekap di markas Nico.” Jawab Rey.
“Malam ini kita habisi Nico dan pastikan rencana kita berhasil, aku tidak ingin Nico hidup, malam ini akan menjadi akhir dari hidupnya.” Ucap Aldwin dengan seringai tipis di bibirnya.
“Baik Tuan.”
Rey berlalu meninggalkan Aldwin yang masih duduk di kursi kebesarannya yang ada di markasnya itu.
“Apa yang sudah terjadi kepadamu Ana? Aku akan menolongmu dan melenyapkan Nico.” Batin Aldwin.
Terlihat kedua tangannya mengepal. Raut wajahnya begitu marah dan tatapan tajamnya siap membunuh para musuhnya.
Sementara itu sebuah mobil Van berwarna hitam berhenti di depan markas Nico dan terlihat seorang gadis turun dengan kondisi tangan terikat dan wajah yang tertutup. Dia adalah Ariana.
Setelah Ariana sadar Nico memerintahkan Anak buahnya untuk membawa Ariana ke markasnya. Ia akan mengurungnya di ruang bawah tanah bersama dengan kedua orang tua Aldwin.
Dan di sinilah saat ini Ana berada. Ia sudah duduk di sebuah kursi dengan tangan dan kakinya yang terikat. Dengan penutup wajah membuat Ana tidak bisa melihat di sekelilingnya.
“Lepaskan Aku, apa yang kau lakukan?” Lirih Ana berusaha untuk melepaskan ikatannya.
Tap... tap... tap....
Terdengar suara langkah kaki memasuki ruang bawah tanah yang begitu gelap. Hanya ada sedikit cahaya yang berasal dari lampu penerang.
Di ruang bawah tanah itu. Ada tiga orang yang terikat tangan dan kakinya. Ia adalah Ariana dan kedua orang tua Aldwin.
“Buka penutup wajah mereka.” Perintah Aldwin kepada anak buahnya yang bertugas mengawasi mereka.
“Baik Tuan.” Anak buah tersebut melepaskan penutup wajah ketiga orang yang ada di ruang bawah tanah.
“Apa yang kau lakukan, lepaskan aku atau kau akan menyesal.” Ancam Andrew.
“Hahahaah., kau pikir siapa dirimu berani mengancamku.”
Plakkk... plaakkk...
Nico menampar pipi pak Andrew membuatnya jatuh tersungkur dengan kondisi tangan dan kakinya yang masih terikat.
Ariana dan bu Anna istri Andrew keduanya terlihat sangat terkejut dengan apa yang Nico lakukan.
“Jangan berani-berani mengancamku, atau aku akan melenyapkanmu HAH.” Bentak Nico.
“Tuan maafkan suami saya, tolong jangan sakiti suaminya saya tuan, dia tidak bersalah.” Lirih Bu Anna membela Suaminya.
“DIAM.” Bentak Nico lagi. Membuat ketiga orang itu menciut dan tidak berani untuk berbicara.
Nico membawa Andrew ke ruangan khusus. Ia akan membuat Andrew menderita sebelum melenyapkannya. Ia akan membunuhnya seperti apa yang Andrew lakukan kepada orang tua Nico dulu.
“Tuan, jangan bawa suamiku, aku mohon hikssss... hikssss...” Bu Anna hanya bisa menangis saat pak Andrew diseret oleh Nico.
“Tenanglah bu, tidak akan terjadi apa pun.” Ariana berusaha menenangkan bu Anna agar tidak ketakutan. Walau ia sendiri begitu takut.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya sendiri. Saat ini Nico terlihat begitu marah dan api kebencian dalam dirinya sudah berkobar. Ia takut Nico akan membunuh orang tua Aldwin.
__ADS_1
Walau bagaimanapun Ana tidak tega jika orang tua Aldwin dibunuh dengan tragis oleh Nico.
Saat ini Nico dan Andrew sudah berada di sebuah ruangan khusus yang ada di markas tersebut. Ruangan khusus bagi Nico ketika ingin melenyapkan para musuhnya. Terlihat tiang besar dengan beberapa noda darah yang sudah mengering. Andrew sudah diikat di tiang besar tersebut. Ia tidak bisa melawan dan hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi.
“Malam ini aku akan membunuhmu dengan cara tragis. Aku akan menembak tepat di jantungmu seperti apa yang kau lakukan kepada orang tuaku 20 tahun lalu, apa kau ingat?” Nico mengitari tiang tersebut dengan senjata apa di tangannya.
“CIHHHH.” Andrew meludahi wajah Nico.
“Beraninya kau.”
Bukkkkkk
Tangan Nico memukul perut pak Andrew membuatnya meringis kesakitan.
“Seharusnya aku membunuhmu 20 tahun lalu, kau seharusnya mati ditanganku seperti yang aku lakukan kepada orang tuamu, kau tahu karena anjing peliharaanku itu aku tidak bisa membunuhmu dia sudah menolongmu.” Ucap Andrew.
Degggg....
Jantung Aldwin berdetak kencang.
“Apa maksudmu?” Tanya Nico.
Tangannya sudah menggenggam kerah kemeja Andrew dengan satu tangannya mengepal ingin menghajar orang yang ada di depannya.
“Hahahh, dasar bodoh, 20 tahun lalu orang tuamu berlutut di depanku memohon agar aku tidak membunuhnya. Seharusnya aku melenyapkan semua keluarga Alexander sejak dulu, Nico... Nico harusnya kau mati ditanganku seperti orang tuamu yang menyedihkan itu, tapi sayang Bagaskara Wijaya penghianat itu sudah menolongmu dan dia berani menghianatiku hanya demi menolong laki-laki kejam yang sudah menyiksa putrinya, Bagaskara memang bodoh menolong anak sepertimu, harusnya kau mati malam itu menyusul ke dua orang tuamu di neraka.” Ucap Andrew.
Ia terlihat tidak takut dengan Nico. Ia masih bisa tersenyum.
Buukkkkk...
Tangan Nico mengenai wajah Andrew membuat darah mengalir di sudut bibirnya.
Terlihat Reynad paman Nico hanya diam melihat Nico melampiaskan rasa benci dan dendamnya kepada orang yang sudah membunuh ke dua orang tuanya.
“Kurang ajar, kau akan mati malam ini.”
Nico bersiap untuk menarik pelatuk senjatanya yang sudah ia arahkan tepat di jantung Andrew yang terlihat sudah memejamkan matanya bersiap untuk pergi dari dunia ini. dan...
Dorrrr.....
Beruntung Aldwin datang tepat waktu. Di luar markas Nico, kedua geng mafia itu saling bertarung membunuh satu sama lain.
Aldwin menembak Nico dengan senjatanya. Tapi tidak mengenai tubuh Nico. Terjadi baku tembak antara dua kubu. Kubu Aldwin dan Rey melawan kubu Nico, Reynad, Diego dan Aldo.
Dooooorrrr....
Rey terkena tembakan di bagian lengan sebelah kirinya. Dan tinggallah Aldwin dengan anak buahnya yang masih menembak kubu Nico.
Doorrrr.....
Renynad terkena luka tembak di bagian kakinya dan Diego segera membawa Reynad ke ruangan khusus.
“Bawa kedua wanita itu kesini.” Perintah Nico kepada Aldo.
Aldo dan beberapa anak buahnya segera menuju ruangan bawah tanah dan menyeret Ariana dan Bu Anna.
“Letakkan senjata kalian atau aku akan membunuh Wanita ini.” Nico memegang bu Anna. Menodongkan senjata tepat di kepala wanita paruh baya itu.
Aldwin memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan senjata dan menghentikan tembakannya.
Di Saat yang bersamaan Andrew melepaskan tali yang mengikat tubuhnya dan ia berlari ingin menyelamatkan istrinya dan...
Dorrrr....
Peluru mengenai jantung Andrew....
Buukkkk..
Tubuhnya lemah dan ia terjatuh di atas lantai dengan bersimbah darah. Pandangannya terlihat gelap dan ia memejamkan matanya meninggalkan dunia ini.
“Tidakkkkkkkkk..”
__ADS_1
Teriak bu Anna saat melihat suaminya tertembak dan darah mengalir dan Andrew yang memejamkan matanya. Ia meninggal dengan tragis seperti yang terjadi kepada William dan Olivia Alexander orang tua Nico
“Tidakkkkkk...” Teriak Aldwin yang saat ini tidak berdaya. Ia tidak bisa melawan anak buah Nico yang jumlahnya lebih bayak dari anak buahnya.
Ariana yang melihat pak Andrew tertembak ia terlihat sangat takut dan menutup ke dua telinganya. Ia ketakutan mendengar suara senjata.
Aldwin tidak bisa melawan Nico. Ia bukannya takut dengan Nico. Aldwin hanya tidak ingin kedua wanita yang ia cintai mati di tangan Nico.
“Dasar pengecut, kau hanya bisa mengancam, kalau kau berani ayo bertarung satu lawan satu, jangan hanya bisa mengancamku, kalau berani lawan aku dengan tangan kosong.” Ucap Aldwin dengan berani.
Sejak dulu ia ingin menghajar Nico. Laki-laki yang sangat dibencinya begitu pun sebaliknya dengan Nico. Keduanya mempunyai dendam masing-masing.
“Kurang ajar, kau pikir aku takut denganmu, ayo lawan aku pengecut.” Ucap Aldwin dengan wajah yang sangat marah. Ia ingin membunuh Nico seperti yang Nico lakukan.
Akhirnya Aldwin dan Nico bertarung dengan tangan kosong.
Keduanya mempunya kemampuan bela yang tidak bisa diragukan.
Bukkkkk....
Aldwin memukul perut Nico membuatnya meringis kesakitan.
Buukkkk....
Tendangan mendarat di perut Aldwin. Membuatnya meringis kesakitan memegang perutnya.
Ariana, bu Anna dan beberapa pengawal juga asistennya masing-masing hanya bisa melihat kedua orang itu bertarung.
Hampir satu jam lamanya mereka saling memukul satu sama lain dengan sisa tenaga yang ada.
Aldwin melihat senjata yang tergelatak di lantai. Senjata milik Rey asistennya. Ia segera mengambil senjata itu.
Hal yang sama juga terjadi. Nico melihat senjata yang tergelatak di dekat tangannya. Ia mengambil senjata itu.
Dan di saat yang bersamaan ke duanya berdiri dan saling menodongkan senjata.
“Bersiaplah kau akan mata menyusul Ayahmu di neraka.” Ucap Nico dengan tatapan tajamnya.
“Malam ini kau juga akan mati menyusul orang tua yang sudah mati lebih dulu, aku tidak akan membiarkanmu hidup Nico, kau sudah membunuh ayahku dan membuat wanita yang aku cintai menderita.” Aldwin menatap Ariana dengan tatapan sendu.
Ariana tak hentinya menangis. Ia terlihat begitu trauma dengan peristiwa yang terjadi di depan matanya.
Sementara itu, bu Anna sudah tak sadarkan diri. Ia begitu shok dengan kematian suaminya.
“Bersiaplah.”
Di saat yang bersamaan Aldwin dan Nico menarik senjata mereka. Aldwin menutup matanya ia sudah pasrah jika harus mati malam ini. Dan.....
Dooooorrrr....... Doooorrrrrrr.....
Saat Nico dan Aldwin membuka matanya ia tidak merasakan sakit di bagian tubuhnya. Kedua tidak terkena peluru. Lalu siapa yang terkena peluru Aldwin dan Nico...
Bersambunggg.......
Like, Vote dan Komentar.
Terima Kasih
🙏🙏
__ADS_1