
Di sebuah bangunan tua yang terletak di tengah hutan, tampak dari luar bangunan itu tak berpenghuni. Namun, saat berada di dalam bangunan tua itu terlihat banyak orang dengan tubuh kekar berlalu lalang, mereka melakukan tugasnya masing-masing. Di dalam bangunan itu, Tepatnya di sebuah kamar dengan ukuran yang tidak begitu luas. Dua orang sedang terbaring tak sadarkan diri.
Seorang pria terbaring di kasur dengan bantuan alat-alat medis di tubuhnya. Sementara itu, Seorang wanita sedang terbaring di lantai dengan kedua tangannya yang terikat.
Pelan-pelan Ia berusaha membuka ke duanya matanya. Tatapannya melihat langit-langit ruangan yang berwarna gelap. Wanita itu adalah Rea. Perlahan kesadarannya mulai kembali dan Ia menatap sekeliling mencari keberadaan kekasihnya. "Aldo, Dimana Dia." Gumamnya sambil berusaha melepaskan tali ditangannya.
"Dimana aku." Ucapnya dengan menetap sekeliling ruangan yang tampak asing baginya.
Rea berusaha untuk bangun walau kepalanya terasa sangat pusing. Ia melihat seluruh ruangan berputar. Matanya menangkap sosok tubuh terbaring di ranjang. Rea berjalan mendekati sosok yang terbaring tak sadarkan diri di tempat tidur berukuran kecil itu. "Al"
Rea mengenggam tangan Aldo dan berkata dengan lirih. "Al, bangunlah! kita harus pergi dari tempat ini." Rea mengenggam tangan Aldo yang masih belum sadar juga. Ia berusaha untuk membangunkan Aldo yang masih betah berada di alam mimpinya.
Cekklleeekkkk
Pintu ruangan itu terbuka dan masuklah seseorang dengan tubuh kekar membawa makanan untuknya. "Ka-kau siapa? lepaskan aku!" Ucap Rea.
"Makanlah dan jangan banyak bicara." Bentak Laki-laki itu. Ia meletakkan nanpan yang berisi makanan di lantai
"Kenapa kalian menculik kami." Tanya Rea dengan raut wajah begitu marah.
"DIAMLAH." bentaknya.
Nyali Rea menciut saat laki-laki itu semakin mendekat ke arahnya. Rea berjalan mundur kebelakang dan tubuhnya menempel di dinding ruangan itu.
"Jangan berani menyentuhku atau aku akan membunuhmu." Hardik marah Rea.
Laki-laki itu mendekat dan melepaskan tali yang mengikat tangan Rea. "Jangan berusaha untuk kabur atau aku akan membuatmu menyesal." Ancamnya.
"Cepat makan dan habiskan makananmu!" Perintahnya.
Laki-laki bertubuh kekar itu meninggalkan Rea setelah melepaskan tali yang mengikat tangannya.
Sementara itu, Di sebuah markas yang terletak jauh dari keramaian kota London. Nico, Rolad dan Juga Jonathan sedang bermain-main dengan seseorang.
"Katakan siapa bosmu Hah." Bentak Nico.
Wajah penjahat itu terlihat babak belur karena anak buah Nico yang terus menghajarnya.
"Hahhahaha, Cihhhhh, ka-kau akan menyesal berurusan dengannya." Ancamnya dengan tertawa yang terdengar merendahkan dan menghina Nico.
Buggg....
Pukulan keras kembali mengenai wajah penjahat itu membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.
"Jangan kotori tanganmu dengan darah penjahat ini, Biar paman yang membuatnya bicara." Rolad mencegah Nico untuk menghajar laki-laki itu.
"Cepat katakan atau aku akan mematahkan tanganmu Hah."
"Hahahahhaha.." Tawa penjahat itu nenggelegar membuat Rolad dan Jonathan semakin kesal.
Kreekkkk.. Terdengar suara tulang yang patah.
"Arrggggghhh." Jerit penjahat itu.
"Cepat katakan, dimana putriku, atau aku akan membuatmu mati ditanganku." Kali Ini Jonathan terlihat sangat geram dan siap melepaskan bogeman mentah di wajah penjahat itu.
Namun, penjahat itu tetap tidak ingin bicara dan akhirnya.
Doooorrrrr....
Rolad melepaskan tembakan tepat di kepala penjahat itu membuatnya mati seketika.
"Sampai kapan pun dia tidak akan bicara, dia pantas untuk mati." Ucapnya.
__ADS_1
Penjahat itu tidak akan pernah mengatakan dimana mereka membawa Rea dan Aldo. Karena itu sama saja dengan melenyapkan dirinya sendiri. Dalam dunia mafia jika seseorang tertangkap oleh musuh mereka. Maka siapa pun tidak boleh mengatakan tentang apapun yang ingin diketahui oleh musuh yang menangkapnya. Selain itu mereka yang bekerja di dunia gelap telah melakukan sumpah untuk mengorbankan diri demi menjaga rahasia mereka.
"Kami sudah mendapat informasi mengenai siapa pemilik kalung dengan lambang singa itu tuan." Ucap Anak buah Nico menyampaikan informasi.
"Katakan siapa mereka?"
Anak buah Nico menyodorkan beberapa dokumen mengenai orang-orang yang Nico cari.
Nico membaca setiap detai demi detail dari dokumen yang diberikan oleh anak buahnya. Ia mengusap wajahnya kasar dan menghela nafasnya. Alisnya mengernyit saat melihat beberapa foto para penjahat itu.
"Kali ini kita menghadapi musuh yang sangat berbahanya." Ucap Nico.
Musuh yang sedang mereka hadapi adalah kelompok mafia yang terkenal berbahaya dan memiliki beberapa kelompok dalam dunia kejahatan seperti perdagangan Narkoba, senjata Api, dan juga penjualan organ tubuh manusia. Mereka adalah sindikat kejahatan yang cukup ditakuti oleh beberapa mafia. Namun tidak bagi Nico, Ia tidak akan takut dengan kelompok mafia tersebut.
Mereka adalah kelompok mafia "La Cosa Nostra" yang dianggap sebagai salah satu kelompok mafia termuda. Tidak butuh waktu lama bagi kelompok ini untuk menjadi besar dan berpengaruh. La Cosa Nostra dengan basis kekeluargaan dan hierarki, Di dalam kelompok ini mereka memiliki Upacara penerimaan anggota baru yang dikenal rumit dan hanya terbuka bagi orang tertentu saja. Selain itu, mereka juga memiliki banyak kode etik yang harus ditaati, salah satunya adalah "omertà", di mana anggotanya wajib menjaga rahasia. Gagal melakukannya berarti sama dengan eksekusi mati.
"Apa ini ada kaitannya dengan Aldwin? Kenapa mereka mencari masalah denganku?, Aku yakin ada seseorang yang sengaja membuat kelompok mafia ini berani melawanku." Batin Nico.
Selama ini kelompok mafia itu tidak pernah mencari masalah dengan Nico, mereka tidak pernah saling mengusik atau mencari masalah jika tidak ada yang memprovokasinya.
"Siapkan seluruh anak buah kita untuk mencari keberadaan mereka, aku yakin ada seseorang yang sengaja bekerja sama dengan kelompok penjahat ini untuk melawanku." Perintah Nico.
"Baik tuan."
"Apa anak buah kita sudah membawa Aldwin?" Tanya Nico.
"Aldwin akan tiba Besok tuan." Jawab anak buah Nico.
"Kalian bawa dia kemarkas ini dan pastikan kalian menjaganya dengan baik jangan biarkan dia lolos, aku yakin Aldwin ada kaitannya dengan mereka."
"Baik tuan."
"Paman akan membantumu, aku yakin penjahat yang menculik Aldo dan Rea pasti menyimpan dendam dengan keluarga kita." Ucap Rolad menepuk bahu Nico.
Maharani juga merasakan hal yang sama. Sungguh Ia merasa sangat terluka dengan semua peristiwa yang menimpa keluarga mereka terutama yang terjadi dengan putranya dan juga Calon menantunya itu. Padahal Besok adalah hari pernikahan mereka, Namun pesta pernikahan megah itu hanya akan jadi angan dan impian semata karena pernikahan itu tidak akan pernah terjadi.
"Kenapa semua jadi begini? Seharusnya kita semua merasakan kebahagian dengan pernikahan anak-anak kita, Besok mereka akan menikah tapi--." Ucapan Maharani terhenti.
Entah mengapa Ia memiliki firasat buruk, Namun Ia mencoba berpikir semua akan baik-baik saja.
"Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan mereka. Hiksssss....." Tangis Maharani.
"Maafkan kami Nak, Seharusnya kau tidak terbebani dengan masalah ini, Seharusnya ibu hamil tidak boleh terlalu banyak berpikir dan merasa sedih, sekali lagi ibu benar-benar meminta maaf Nak." Ucap Maharani dengan lembut.
"Tidak apa bu, aku adalah bagian dari keluarga ini, dan apapun yang terjadi aku akan membantu kalian, Rea dan Aldo sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri bu, aku sangat menyayangi kalian." Maharani memeluk Ana begitu juga dengan bu Aluna. ketiganya saling berpelukan dengan air mata yang terus menetes.
Ana begitu bahagia berada diantara keluarga yang menyanyanginya dan memperlakukannya dengan baik selama ini. Apapun masalah yang terjadi dalam keluarga ini juga menjadi masalahnya dan tentu saja Ia akan selalu ada untuk menguatkan mereka.
*****
Di rumah sakit, Aldwin baru saja selesai melakukan terapi untuk memulihkan ototnya kakinya. Aldwin sudah bisa berjalan dengan normal dan dokter juga sudah mengizinkannya untuk keluar dari rumah sakit.
"Kondisimu sudah pulih dan kau bisa keluar dari rumah sakit hari ini." Ucap Dokter Zena.
"Benarkah, aku rasa masih harus berada di rumah sakit."
"Apa masih ada yang sakit?" Tanya dokter Zena.
Entahlah dok, hanya merasa beberapa hari ini jantungku sedang tidak sehat saja. Batin Aldwin.
Ia hanya terdiam menatap dokter Zena.
"Kenapa diam?" Tanya dokter Zena berhasil mmebuyarkan lamunan Aldwin.
__ADS_1
Sejak pertama kali melihat Dokter Zena, Aldwin menyimpan kekaguman dengan sosok dokter yang sangat sabar merawatnya selama ini. Selain cantik, Dokter Zena juga sangat baik dan begitu perhatian dengannya. Dokter Zena selalu saja berhasil membuat jantung Aldwin selalu berdetak lebih kencang.
"Aku hanya merasa jantungku sedikit bermasalah." Ucap Aldwin tampa sadar.
"Baiklah aku akan memeriksa kondisimu, Sekarang berbaringlah!" Perintah Dokter Zena.
Dokter muda itu meletakkan Stateskop tepat di dada Aldwin untuk memeriksa apakah ada penyakit yang serius.
Degggg.... Deggggg.....
Tangan mungil dokter Zena menyentuh dada Aldwin membuat jantung Aldwin semakin ingin melompat keluar. Ke dua mata Aldwin terus saja menatap wajah dokter Zena yang terlihat sangat serius.
"Cantikkk." Gumam Aldwin masih bisa didengarkan oleh Dokter Zena.
"Apa yang kau katakan?" Tanya dokter Zena.
"Ti-tidak Ada, ak-aku rasa jantungku sudah baik-baik saja." Ucap Aldwin merasa gugup saat Dokter Zena menatapnya.
"Aku rasa jantungmu baik-baik saja, tidak ada penyakit yang serius, hari ini kau bisa keluar dari rumah sakit."
"Baiklah." Ucap Aldwin malas.
Aku masih ingin berlama-lama berada di rumah sakit ini.
Aldwin sudah bersiap-siap untuk keluar dari rumah sakit tempatnya dirawat. Dokter Zena masuk ke dalam ruangannya.
"Dok, Terima kasih sudah menjagaku selama ini." Ucap Aldwin begitu tulus.
"Sama-sama, itu sudah menjadi tugasku." Balas dokter Zena.
Cekkkllleeeeeekkkk.
Pintu ruangan Aldwin dibuka dan masuklah beberapa orang dengan memakai Jaz serba hitam, Mereka adalah anak buah Nico. Mereka menundukkan kepala di depan dokter Zena dan juga Aldwin.
"Anda harus ikut dengan kami, untuk bertemu dengan tuan Nico."
"Apa dia yang menyuruhmu untuk membawaku?"aku memang harus bertemu dengannya untuk mengucapkan sesuatu."
Aldwin ingin bertemu dengan Nico dan juga Ana bukan untuk mencari masalah dengannya apalagi untuk membalas dendam. Aldwin hanya ingin mengucapkan terima kasihnya. Hatinya sudah mengikhlaskan semua yang terjadi di masa lalu dan tidak ada lagi dendam di hatinya.
Anak buah Nico menundukkan kepala di depan dokter Zena sambil berkata.
"Nona juga harus ikut dengan kami, tuan Nico ingin anda menemuinya."
"Kakak ingin bertemu denganku."
"Iya Nona."
"Apa terjadi sesuatu dengan kakak?" Tanya dokter Zena.
"Tidak ada nona, Tuan Nico hanya menyuruh kami membawa nona bersama dengan tuan Aldwin." Jawab salah satu anak buah Nico yang menjadi tangan kanannya itu.
"Baiklah, aku akan bertemu dengan kak Nico, sudah lama aku tidak melihatnya, aku juga sangat merindukan kakak." Ucap Dokter Zena.
Sudah lama mereka memang tidak pernah bertemu membuat dokter Zena merindukan sosok Nico yang sudah Ia anggap seperti kakak kandungnya. Dan saat Nico menyuruh anak buahnya untuk membawanya bertemu dengan Nico membuat dokter Zena sangat bahagia dan begitu antusias untuk bertemu dengan kakaknya itu.
Dia sangat menyukai Nico, apa aku bisa mendekatinya? Batin Aldwin.
"Sekarang kalian ikutlah dengan kami."
Dokter Zena, Aldwin dan Anak buah Nico bersiap untuk berangkat ke London dengan Jet pribadi.
Bersambungg....
__ADS_1