Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 24 : Peristiwa Saat Pernikahan


__ADS_3

Menikah adalah impian bagi setiap wanita. Kebahagiaan akan terasa bila bersama dengan lelaki yang dicintai. Namun, bagaimana bila menikah dengan pria yang tidak pernah kita cintai? Akankah ada kebahagiaan. Sanggupkan bertahan menjalani kehidupan rumah tangga bersama pria yang sangat membencimu. Itulah yang dialami oleh Ariana. Hari yang seharusnya bersejarah baginya. Hari yang paling dinantikan oleh Ariana menikah bersama pria yang dicintainya di pelaminan. Namun semua itu hanya mimpi baginya.


Hari ini adalah hari pernikahan Ariana sesuai dengan kontrak yang sudah ditandatangani olehnya. Terlihat raut wajah sedih Ariana Ia duduk di samping ibunya menggenggam tangan bu Ella erat. Ia hanya bisa berharap agar ibunya segera sadar dan bisa ikut menyaksikan hari pernikahannya.


“Bangun bu, maafkan Ana. Hari ini aku akan menikah dengan pria kejam itu. Apa yang harus aku lakukan bu?” Ariana tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Tak ada jawaban dari bu Ella. Wanita paruh baya itu masih menutup matanya seolah ingin terus berada dalam dunia mimpinya. Mata Ariana terus menatap wajah pucat bu Ella dan tanpa terasa  Air matanya luruh. Ia merasa begitu sedih hari ini ia akan menikah tapi dengan lelaki yang sudah membuat hidupnya menderita. Terlebih lagi ibunya yang belum sadar semakin menambah kesedihan di wajahnya.


“Tuhan, aku berharap ibu bangun dan menyaksikan pernikahanku.” Batin Ariana.


Tak ada kebahagiaan di wajah Ariana. Ia tidak pernah membayangkan akan menikah dengan cara seperti ini. Ia tidak ingin menikah kontrak. Baginya pernikahan adalah hal yang sakral dan hanya sekali seumur hidup dan menikah dengan pria yang dicintainya adalah impian Ariana. Ia tidak menginginkan pernikahan megah yang terpenting adalah siapa yang bersamanya di pelaminan.


Ariana akan menikah dengan Nico dengan pesta pernikahan yang sederhana dan tertutup. Pernikahan ke duanya hanya akan dilaksanakan di mansion Nico. Bagi Nico pernikahan ini tidak penting baginya. Ia hanya ingin membalaskan dendamnya dan ia tidak ingin mengeluarkan banyak uang untuk sekedar merayakan pernikahan kontrak yang hanya akan bertahan selama satu tahun. Ia juga tidak mengundang banyak tamu hanya beberapa keluarga dekat dan para sahabatnya.


“Sebaiknya nona segera kembali ke mansion Tuan Nico. Nona harus segera bersiap-siap sebentar lagi nona akan menikah.” Ucap Aldo yang sudah berada di ruangan bu Ella.


 Ariana memang sengaja tidak ingin tinggal di mansion Nico. Ia lebih memilih menginap di rumah sakit menemani ibunya. Ia tidak ingin melihat wajah pria yang sangat dibencinya.


“Maafkan Ana bu. Tolong restui pernikahan Ana bu.” Ucap Ariana dengan suara yang terdengar lirih. Ia lagi-lagi menggenggam tangan bu Ella erat seolah tidak ingin meninggalkan wanita yang sedang terbaring lemah dan tak sadarkan diri itu.


Ariana berjalan dengan gontai keluar dari ruang perawatan bu Ella. Aldo membuka pintu untuk Ariana dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Mobil itu melaju meninggalkan rumah sakit menuju mansion Nico. Hari ini Ariana akan menikah dengan pria kejam dan paling dibencinya tepat pukul 10.00 WIB.


Sepanjang perjalanan menuju mansion Nico ia hanya duduk diam dan memandang keluar jendela menatap langit.


“Aku percaya ini adalah takdir yang sudah Engkau gariskan untukku. Aku hanya berharap agar pernikahan ini akan membawa kebahagiaan untukku walau itu mustahil. Aku tidak pernah ingin menikah kontrak apalagi dengan pria yang paling aku benci dan paling membenciku. Aku benar-benar lelah dengan semua ini.” Batin Ariana tanpa terasa bulir bening jatuh  dari pelupuk matanya. Ia menyandarkan kepalanya di jendela kaca dan mencoba memejamkan matanya.


“Ayah maafkan aku sudah mengecewakan ayah. Aku ingin ikut dengan ayah. Aku lelah dengan semua penderitaan yang tiada akhirnya. Bawa aku bersama ayah.” Batinnya lagi.


Beberapa menit mengendarai mobil mewah milik Nico akhirnya ia sampai di mansion tersebut. Ariana turun dari mobil saat Aldo membuka pintu mobil.


“Mari nona silakan ikut dengan saya. Tuan Nico sudah menunggu nona sejak tadi.” Ucap Aldo sambil berjalan masuk mansion Nico diikuti Ariana dari belakang.


Degggg


Jantung Ariana berdetak kencang. Saat ia masuk ke dalam mansion Nico yang sudah terlihat dekorasi yang begitu cantik baginya. Walau sebenarnya dekorasi itu hanya sederhana saja bagi Nico. Konsep pernikahan mereka hanya sederhana dan mini malis. Nico tidak merasa bahagia dengan pernikahannya dengan Ariana. Ia tidak mencintai wanita yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai istri tuan Nico Alexander.


Dekorasi yang bernuansa putih dengan hiasan bunga menambah kesan romantis bagi ke dua pasangan yang akan menikah. Namun, tidak bagi keduanya tidak ada perasaan bahagia menatap dekorasi mewah pesta pernikahan mereka.



Ini adalah dekorasi tempat ke  Ariana dan Nico akan mengucapkan janji suci pernikahan.


Mansion Nico terlihat begitu indah dengan berbagai hiasan. Terlihat para pelayan sibuk mempersiapkan keperluan pesta pernikahan.


Bi Rum terlihat sibuk menyuruh pelayan ini dan itu. Sesekali ia menghela nafas dengan berat. Para pelayan terlihat mondar mandir menyiapkan keperluan untuk pesta hari ini.


Ariana berjalan masuk dan menemui Nico yang sudah terlihat rapi dengan setelan jas berwarna hitam menambah ketampanannya. Aldo mengetuk pintu kamar Nico.


Tookk... tokkkk


Ceklek.


Suara pintu dibuka dan masuklah Aldo diikuti oleh Ariana yang terlihat lesu dan tidak bersemangat.


“Permisi tuan, saya sudah membawa nona Ariana.” Ucap Aldo.


“Bagus, suruh dia segera bersiap karena pernikahannya sebentar lagi.” Ucap Nico.


“Bagaimana mungkin saya menikah sementara ibu saya belum sembuh tuan? Saya hanya ingin ibu saya hadir dan menemaniku di hari pernikahanku Tuan.” Ucap Ariana yang terdengar lirih.


“Aku tidak peduli dengan wanita tua itu.” Ucap Nico kemudian berjalan keluar dari kamar meninggalkan Ariana yang masih terlihat sedih.


Tak berapa lama muncul 2 orang wanita yang bertugas merias Ariana dan membantunya untuk bersiap-siap. Terlihat gaun berwarna putih dengan sedikit hiasan berwarna gold menambah keindahan gaun tersebut.

__ADS_1


Ariana menatap gaun itu dengan wajah sedih. Gaun pengantin yang diletakkan di atas tempat tidur. Ia berjalan dan mengambil gaun pengantin itu.


“Sebaiknya nona segera bersiap-siap. Saya akan membantu nona untuk bersiap.” Ucap pelayan yang bertugas merias wajah Ariana.


Ariana segera memakai gaun penganti yang sudah disiapkan oleh Nico. Ia sudah memakai gaun tersebut dan bersiap untuk segera dirias oleh para perias profesional yang sudah disiapkan oleh Nico.


Beberapa menit Ariana sudah siap dengan riasan natural yang terlihat semakin menambah kecantikannya. Ia menatap wajahnya yang begitu cantik dari balik pantulan cermin. Tanpa terasa bulir bening kembali jatuh ke pelupuk matanya.


“Nona jangan menangis nanti riasannya luntur nona. Kami sudah sejak tadi merias nona tapi nona terus saja menangis.” Ucap salah satu perias yang sedari tadi menatap Ariana yang sesenggukan dengan air mata yang tak hentinya mengalir.


Di dalam mansion terlihat sudah hadir beberapa kerabat dan sahabat dekat Nico. Reynad juga sudah bersiap dengan setelan jas berwarna hitam. Reynad hanya bisa mengikuti keinginan Nico walau sebenarnya ia tidak setuju dengan rencana Nico menikahi Ariana.


Terlihat Aldo, dokter Zera dan beberapa karyawan kantornya hadir untuk menyaksikan pernikahan dari seorang Nico Alexander.


“Apa kau sudah mengundang wanita itu.” Tanya Nico kepada asistennya.


“Saya sudah memberikan undangan untuknya sejak kemarin tuan.” Ucap Aldo.


Di luar mansion Nico terlihat para anak buah Nico berjaga dan memeriksa para tamu yang hadir di acara pernikahan tuannya.


“Maaf nona sebaiknya nona menunjukkan undangan.” Ucap anak buah Nico kepada seorang wanita yang terlihat angkuh.


“Kau tahu aku adalah tamu spesial dari tuanmu, aku tidak perlu menunjukkan undangan apa pun.” Ucap wanita itu dengan angkuhnya.


“Ini adalah perintah dari tuan Nico. Anda tidak boleh masuk sebelum menunjukkan undangan.” Ke dua anak buah Nico menahan wanita itu.


“Lepaskan! Kurang ajar sekali kalian.” Wanita itu berjalan dengan angkuhnya masuk ke dalam mansion Nico. Terlihat anak buah Nico berusaha mengejarnya. Namun, dicegah oleh Aldo.


“Biarkan wanita itu masuk.” Perintah Aldo kepada anak buah Nico.


“Baik tuan.” Anak buah Nico kembali melaksanakan tugasnya.


Wanita itu masuk dan menemui Nico yang sedang berbicara dengan beberapa rekan dan sahabatnya. Ia segera menghampiri Nico dan menggandeng lengan Nico.


“Apa yang kau lakukan? lepaskan!” Ucap Nico.


Nico menarik tangan wanita itu dan membawanya ke ruang kerjanya. ia tidak ingin orang-orang membicarakannya.


“Bagaimana kabarmu sayang? kau tega sekali menikah dengan wanita lain.” Ucap wanita itu dengan lembut.


“Itu bukan urusanmu, aku tidak ada hubungan apa pun denganmu, jangan mengacaukan pesta pernikahanku, kau tahu sebentar lagi aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai.” Ucap Nico dengan raut wajah yang terlihat sedang menutupi sesuatu.


“Aku tidak peduli kau mencintainya atau tidak. Kau tahu aku masih sangat mencintaimu, aku minta maaf sudah meninggalkanmu, aku melakukannya untuk mengejar impianku, aku tidak pernah menghianatimu dan masih sangat mencintaimu. Aku berharap kita bisa bersama seperti dulu.”  Wanita itu menggenggam tangan Nico.


“Aku tidak peduli itu adalah pilihanmu, dan kau tahu aku sudah tidak lagi mencintaimu dan jangan berharap aku akan kembali bersamamu. Aku sudah melupakanmu.” Ucap Nico dengan seringai tipis di bibirnya. Ia terlihat begitu puas bisa membalas wanita yang sudah menyakitinya.


Nico melepaskan genggaman tangan wanita itu. Ia kemudian meninggalkan wanita itu yang masih terlihat sedih di ruangan kerjanya. Ia keluar bergabung dengan beberapa rekan dan sahabatnya. Ia tidak peduli dengan wanita cantik yang ada di ruangan kerjanya.


Tepat pukul 10.00 WIB adalah waktu untuk Nico mengucapkan janji suci pernikahan dengan Ariana.


“Apa wanita itu sudah siap?.” Tanya Nico kepada Aldo.


“Saya akan memeriksanya Tuan.”


Aldo berjalan menuju kamar Nico untuk memeriksa apakah Ariana sudah siap atau tidak. Ia mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar Nico.


“Sebaiknya nona segera keluar sebentar lagi acara akan segera dimulai nona.”


“Baik.” Ucap Ariana dengan wajah yang terlihat begitu sedih.


Aldo meninggalkan Ariana dan kembali ke tempat acara pernikahan akan dilaksanakan. Ariana juga berjalan keluar dari kamar Nico menuju tempat acara pernikahannya.

__ADS_1


Ia menuruni anak tangga satu persatu dengan tatapan orang-orang yang melihatnya dengan takjub. Terlihat beberapa tamu pria menatap terpesona dengan kecantikan Ariana. Nico juga terlihat tidak bergeming menatap Ariana yang berjalan menuruni anak tangga. Entah apa yang ada di pikiran Nico saat itu. Sementara itu, seorang wanita terlihat tersenyum sinis dengan menatap tajam Ariana yang berjalan menuruni anak tangga.


Ariana turun dan duduk di depan bapak penghulu bersama Nico untuk mengucapkan janji suci pernikahan.


Di luar mansion Nico, sudah ada beberapa mobil Van berwarna hitam berhenti tepat di depan mansion Nico. Beberapa orang yang memakai pakaian serba hitam dan penutup wajah keluar dari dalam mobil dengan membawa senjata api.


Ia menyerang anak buah Nico yang sedang berjaga di luar mansion. Beberapa menit anak buah Nico berhasil dilumpuhkan.


Para pria bertubuh kekar itu masuk ke dalam mansion Nico bersamaan dengan Nico yang sedang mengucapkan ikrar pernikahan.


Namun, belum sempat ia menyelesaikan ucapan ijab qabul beberapa pria yang memakai setelan berwarna serba hitam dengan tubuh kekar melemparkan gas beracun yang membuat semua orang panik dan berlari keluar dari mansion Nico.


Seseorang menarik tangan Ariana dan membawanya keluar dari mansion Nico.


Nico yang menyadari bahwa seseorang sudah menyerang mansionnya dan membawa Ariana. Wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Segera ia dan Aldo keluar dari mansion dan masuk ke dalam mobil mewahnya untuk mengejar orang yang sudah menyerang dan membawa Ariana.


"Kurang ajar, siapa orang yang berani menyerangku dan mengacaukan pesta pernikahanku, aku akan membunuh orang yang berani melawanku." Tangan Nico mengepal memegang setir mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh mengejar mobil Van berwarna hitam yang membawa Ariana.


Sementara itu, mobil van hitam yang membawa Ariana sudah berada sangat jauh dari mansion Nico.


Siapa yah yang menolong Ariana dan membawanya pergi dari mansion Nico?


 


Bersambung....


Tinggalkan jejak yah.


LIKE, VOTE DAN KOMENTAR.


TERIMA KASIH


BUAT PARA READERS YANG SUDAH MEMBACA NOVEL INI.


🙏🙏


MOHON MAAF KALAU KURANG MENARIK YAH.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2