
...Mencintai dan dicintai memberikan perasaan bahagia bagi yang merasakannya. Namun, Cinta tak terbalaskan akan memberikan luka yang menyayat hati....
Seperti Nico yang baru saja mengungkapkan parasaannya kepada Ana wanita yang ia cintai. Nico laki-laki yang selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan, berkuasa dan tidak pernah kalah dalam hal apapun terutama dalam hal bisnis, pria yang terkenal dingin, kejam dan tak pernah di dekati oleh wanita sembarangan. Banyak wanita yang rela merangkak dan berjalan ke arahnya demi bisa tidur dan sekedar menyentuh tubuh kekarnya. Tapi, Nico tidak membiarkan wanita-wanita itu berani mendekatinya hanya dengan tatapan tajam yang begitu mengintimidasi membuat siapa saja yang melihat nyalinya akan menciut seketika.
Berbeda saat Nico berhadapan dengan istrinya. Ketika melihat wajah istrinya yang begitu menggemaskan membuatnya selalu saja tidak bisa berkutik. Ana wanita yang begitu lembut, sabar dan selalu bisa membuat Nico tenang dan merasa nyaman ketika berdekatan dengan istrinya itu. Karena itu ia menjadi seorang dokter yang memang sangat cocok dengan karakternya. Ia selalu bisa membuat pasiennya tenang. Ia memliki sisi yang lembut dan juga sisi yang tegas dan sedikit keras kepala. Ia wanita yang sulit di dekati oleh laki-laki termasuk Nico. Ana pernah mencintai satu pria dan pria itu jugalah yang menorehkan luka yang teramat dalam di hatinya.
"Maafkan Aku, Aku tidak tahu apa aku bisa mencintaimu atau tidak, Tapi saat kau memelukku aku merasa begitu nyaman." Batin Ana.
Ana belum bisa mengungkapkan isi hatinya dan juga perasaanya kepada Nico laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu. Ia sendiri masih belum memahami perasaan apa yang ada di hatinya untuk suaminya. Hatinya belum siap jika suatu saat nanti ia sudah larut dalam perasaan cinta dan pada akhirnya Nico meninggalkannya. Ia belum sepenuhnya bisa mempercayai Nico mencintainya. Ada keraguan di hati Ana dengan pernikahannya saat ini. Apa benar Nico mencintainya dengan tulus dan tidak akan meninggalkannya.
Ketakutan itu yang membuat Ana membentuk benteng kokoh agar hatinya tidak kembali hancur saat harus ditinggalkan lagi oleh orang yang dicintainya.
"Aku tidak akan memaksamu dan menunggu sampai kau bisa mencintaiku." bisik Nico begitu lembut di telinga Ana. Ia mengusap rambut Ana dan memeluknya dengan erat juga mencium pucuk kepala istrinya. Sikapnya begitu manis membuat jantung Ana berdetak tak karuan dan ada perasaan aneh yang menggelitiki relung hatinya yang terdalam. Selama ini Ana masih membangun benteng pertahanan agar Nico tidak bisa masuk dengan mudah dan membuatnya kembali terluka dan trauma dengan yang namanya cinta.
Bagi Ana ia belum siap jika suatu saat nanti ia akan kembali terluka dengan laki-laki yang berjanji akan menjaganya tapi malah akan melukainya lagi.
Ia masih ingat ketika ada seorang pria yang juga berjanji akan mencintai dan menjaganya. Tapi, pada akhirnya pria itulah yang menghancurkan kepercayaan, Cinta, impian dan harapan Ana.
"Maafkan aku." Lirih Ana.
Dengan tatapan mata yang menatap lembut wajah laki-laki yang juga menatapnya dengan penuh cinta. Tatapan keduanya kembali menatap dengan begitu dalam. Ana bisa merasakan perasaan Nico yang begitu mencintainya. Ia tidak ingin membohongi hatinya bahwa ia juga merasa bahagia saat Nico bersikap lembut dan memperlakukannya dengan penuh cinta. Benteng pertahan di hatinya seakan goyah oleh perhatian dan kasih sayang Nico.
Malam semakin larut membuat keduanya kembali ke kamar hotel untuk istirahat. Mereka berdua memutuskan untuk menginap malam ini di hotel. Ana dan Nico masuk ke dalam kamar hotel yang sudah di pesan sebelumnya. Di dalam kamar itu sudah diberi dekorasi bunga dan lilin. Di atas kasur sudah bertabur bunga mawar merah berbentuk hati menambah suasana romantis bagi pasangan yang baru menikah dan ingin menikmati bulan madu mereka. Tapi, berbeda bagi Ana ada perasaan canggung di hatinya. Ia bukanlah sepasang pengantin yang bisa menikmati bulan madu seperti pengantin pada umumnya.
Pandangan mata Ana menatap sekeliling kamar yang terlihat begitu indah. Nico tiba-tiba memeluk Ana dari arah belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu Ana. Ana terkejut dengan tangan Nico yang sudah melingkar di perut rampingnya.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Nico.
"Iy-Iya." Jawab Ana terbata dan gugup.
__ADS_1
Detak jantung keduanya berpacu dengan kencang seperti habis lari maraton. Ana merasa takut malam ini Nico akan memintanya melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri dan Ana belum siap jika harus melakukannya malam ini. Walau Ia tahu mereka sudah pernah melakukan sebelumnya dan baginya ini bukan pertama kalinya tapi kali ini berbeda. Jika dulu mereka melakukannya tanpa cinta dan kali ini Ana ingin melakukannya dengan laki-laki yang ia cintai tanpa ada paksaan. Saat ini Ana merasa takut dan tidak siap jika malam ini ia harus melayani suaminya itu.
Terlihat begitu jelas di wajah Nico api gairah yang membara. Ia menginginkan Ana malam ini.
Nico membalikkan tubuh Ana dan menatapnya begitu dalam dan penuh gairah. Ia mencium bibir Ana dan memberi sedikit lu*tan. Ciuman itu semakin menuntut dan turun ke leher jenjang milik istrinya.
Nico menggendong tubuh istrinya dan membaringkannya di atas kasur yang dipenuhi taburan bunga. Nico berada di atas tubuh Ana dan menindihnya. Ana tahu saat ini suaminya sangat menginginkan dirinya Tapi ia belum siap dan Ana hanya bisa meneteskan air matanya dan pasrah dengan apa pun yang akan Nico lakukan. Terlihat jelas raut wajah takut Ana dan hal itu membuat Nico tidak ingin meminta lebih.
Nico melihat Ana memejamkan matanya dan terlihat bulir bening menetes di mata indahnya. Nico seakan tahu bahwa istrinya belum siap melakukannnya dan tidak ingin membuat kecewa dirinya.
"Aku tidak akan memintannya jika kau tidak mengizinkanku, aku akan menunggu sampai kau siap melakukannya." Ucap Nico lembut mencium kening istrinya begitu lama.
"Maafkan Aku, aku belum siap." Lirih Ana.
Nico turun dari atas tubuh Ana. Ia menatap istrinya lembut dan juga ada kekecewaan di dalam hatinya. Ia begitu sulit membuat Ana bisa mencintainnya. Ia ingin Ana dengan sendirinya menyerahkan dirinya tanpa merasa terpaksa.
"Aku ingin kau mengandung Anakku agar kau tidak bisa lagi lari dariku." Batin Nico.
Nico masuk ke dalam kamar mandi. Ia ingin mandi untuk meredahkan hasratnya yang sudah memuncak. Ini sungguh begitu berat bagi Nico bagaimana pun Ia adalah laki-laki normal yang membutuhkan hal itu.
Ana sudah terlelap karena tubuhnya yang begitu lelah. Ia sudah berada di alam mimpi. Nico yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat istrinya tengah tertidur hanya bisa pasrah dan mendekatinya. Ia memberi ciuman di keningnya.
"Tidurlah, kau pasti lelah." Ucap Nico memberi tepukan lembut di kepala istrinya dan sesekali mengusap rambutnya.
Ia akhirnya ikut berbaring di samping Ana dan memeluknya begitu erat. Sesaat kemudian ia juga ikut terlelap dan berada di alam mimpi.
...******...
Sementara di belahan negara lain. Seseorang terlihat begitu kacau, tangannya mengepal dan menahan amarahnya. Ia menjatuhkan barang yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
Prank.... Prankkk....
Ruangan di kamar itu menjadi begitu berantakan, Ia memandangi foto seorang wanita yang sedang berpelukan dengan pria yang terlihat begitu mesra melalui ponselnya. Ia baru saja mendapat pesan dari salah satu anak buahnya. Ia membanting benda pipih itu membuatnya hancur seketika.
"Siallll, Kenapa harus laki-laki itu?" Gumamnya dengan penuh kemarahan.
Prankk..... Prankkkk.....
Lagi-lagi ia membuat semua benda di sekitarnya berjatuhan dan hancur. Pecahan beling berserakan di mana-mana. Ruangan itu terlihat seperti kapal pecah dengan barang-barang yang sudah tergeletak di lantai tak berbentuk lagi.
"Aku akan merebutmu kembali dan tidak akan membiarkan laki-laki itu hidup bahagia denganmu, semua ini karna pernuatannya, dia akan membayar mahal terhadap perbuatannya kepadaku, Aku akan membunuhmu." Seringai tipis di bibirnya.
Dia adalah Aldwin orang yang pernah mengisi hati Ana. Saat ini kondisinya belum pulih dan Ia masih menggunakan kursi roda. Aldwin yang dulu begitu baik berubah menjadi sosok yang begitu dingin terhadap semua orang dan Ia menjadi orang yang mudah tersulut emosinya. Semua ini terjadi karena peristiwa itu. Hidupnya yang dulu bahagia bersama wanita yang Ia cintai seketika semuanya berubah dan hidupnya hancur. Ia harus kehilangan ayah dan juga Ana wanita yang begitu dicintainya. Ibunya juga harus mengalami depresi semenjak kematian suaminya yang begitu mengerikan di depan matanya sendiri. Aldwin tidak bisa menerima semua ini. Ia harus membalaskan dendamnya.
"Aku harus sembuh dan membalaskan dendamku." Batin Aldwin.
"Apa yang terjadi Tuan?" Ucap salah satu perawat yang masuk ke dalam kamar Aldwin saat mendengar suara benda terjatuh. Perawat itu terkejut saat melihat kamar Aldwin yang sudah di penuhi pecahan beling dan begitu berantakan.
"Bawa aku keruangan lain, aku ingin istirahat." Jawab Aldwin begitu dingin.
"Baik tuan." Perawat kemudian mendorong kursi roda Aldwin dan membawanya ke salah satu kamar yang ada di mansion itu.
Aldwin menghubungi seseorang melalui sambungan telefon.
"Lakukan rencana kalian, aku ingin melihat hidup laki-laki itu hancur secepatnya." Ucap Aldwin memberi perintah melalui sambungan telefon dengan seseorang.
Aldwin menutup sambungan telefon tersebut dan mengepalkan tangannya. Andai bisa Ia ingin turun tangan sendiri untuk memberi pelajaran kepada musuhnya. Namun kondisinya belum pulih dan Ia hanya bisa berusaha dan bertekad untuk bisa segera sembuh dan bertemu dengan musuhnya untuk membalaskan dendamnya secara langsung. Ia sudah mengibarkan bendera perang kepada Nico. Rencananya untuk menghancurkan Nico akan segera di mulai.
"Bersiaplah tuan Nico, kau boleh bahagia saat ini dan sebentar lagi kau akan menderita seumur hidupmu, aku akan melakukan hal yang sama kepadamu, kau harus merasakan semua penderitaanku." Tangannya kembali mengepal mengingat peristiwa yang sudah terjadi.
__ADS_1
Bersambung..
Like, Vote dan Komentar