Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 88 : Menjadi Seorang Ibu


__ADS_3

Akhirnya mobil tiba di rumah sakit milik Nico. Aldo segera mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya di atas Brankar menuju ruang perawatan. Aldo menunggu di luar ruangan sementara Rea berada di ruang perawatan sadang diperiksa oleh dokter.


Aldo mengambil ponselnya dan segera menghubungi ayahnya mengabarkan tentang kondisi istrinya.


****


Beberapa menit berlalu, Kedua orang tua Aldo dan juga Rea tiba di rumah sakit dengan wajah khawatir. Nico tiba lebih dulu bersama dengan Rolad. Nico segera menemui Aldo dan menenangkannya.


"Tenanglah, tidak akan terjadi hal buruk." Ucap Nico menenangkan Aldo yang sedari tadi mondar-mandir di depan ruang permerikasaan istrinya.


"Huffff.." Aldo menghembuskan nafasnya dan duduk di samping Nico.


"Terima kasih sudah datang tuan." Ucap Aldo


"Hemmm." Nico menepuk pundak Aldo lembut.


"Tidak akan terjadi hal buruk dengan menantuku." Ucap Maharani.


Bu Aluna dan Jonathan hanya bisa berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan putrinya. Kedua orang tua Aldo dan juga Rea hanya bisa menunggu dokter selesai memeriksa keadaan Rea dengan tenang.


Ana yang mengetahui tentang kondisi Rea memutuskan untuk menjenguknya ke rumah sakit sekaligus melakukan pemeriksaan. Ia memang mempunyai janji dengan Rea untuk datang ke rumah sakit bersama memeriksakan kandungannya hari ini.


Ana tiba di rumah sakit diantar oleh supir yang diperintahkan oleh suaminya untuk menjemputnya.


"Sayang... Bagaimana keadaan Rea?" Ucap Ana menghampiri Nico dan memeluknya.


"Sayang... Kau baik-baik saja?" Nico malah balik bertanya dan menatap penuh khawatir kepada istrinya dengan perut yang semakin membuncit. Nico memeluk Ana dan mengusap rambutnya lembut.


"Hmmmm." Ana mengangguk pelan.


Kandungan Ana sudah memasuki 9 bulan dan menurut perkiraan dokter kandungan yang menangani Ana, Perkiraan waktu melahirkan 2 minggu lagi.


"Dokter masih memeriksa keadaan Rea Nak." Ucap bu Aluna.


"Semoga tidak terjadi hal buruk kepada Rea, bu." Ucap Ana lembut. Ia memeluk bu Aluna yang masih terlihat begitu cemas sejak tadi.


Tak berapa lama dokter keluar dari ruangan pemeriksaan. Dokter yang menangani Rea kebetulan adalah sahabat Rea sewaktu bekerja di rumah sakit tersebut.


Aldo segera menghampiri dokter dan menanyakan mengenai kondisi istrinya.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Aldo penuh kekhawatiran.


"Selamat tuan... Istri anda sedang hamil anak kembar. Janinnya sudah berusia 40 hari, Kondisi istri anda baik-baik saja, Istri Anda hanya kelelahan dan butuh istirahat."


Ucap Dokter wanita itu dengan tersenyum bahagia.


"Benarkah dok? istriku sedang hamil, itu berarti sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah." Wajah khawatir Aldo berubah bahagia.


"Aku benar-benar bahagia Ayah, aku akan menjadi orangtua." Ia memeluk Ayahnya dengan wajah dan senyum yang tak pernah surut.


Ana dan Nico yang mendengar kabar bahagia itu ikut senang.


"Selamat... Akhirnya kau akan menjadi seorang ayah." Ucap Nico.


"Hemmmmm... Terima kasih tuan."


"Apa saya bisa bertemu dengan istriku Dok?"


"Tentu saja tuan, Nona Rea sudah sadar, saya permisi..." Dokter wanita itu pun berlalu meninggalkan Aldo.


Tanpa menunggu lagi, Aldo segera masuk ke dalam ruangan istrinya. Kebetulan Rea juga sudah sadar. Ia sedang bersandar di sisi ranjang. Aldo mendekati istrinya dan memeluknya dengan erat.


Cupppp...


"Terima kasih sayang... Kau akan membuatku menjadi seorang ayah, aku sungguh bahagia."


Cup.. Cupp... Aldo menghujami ciuman di wajah istrinya yang terlihat sedikit pucat.


"Aku juga begitu bahagia Al, Aku akan menjaga janin dalam kandunganku dengan baik, maafkan aku membuatmu khawatir." Rea sedikit menunduk dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Tessss.....


Air matanya tiba-tiba saja terjatuh dari pelupuk matanya membuat Aldo khawatir


"Sayang... kenapa menangis? apa ada yang sakit?" Tanya Aldo.


Rea hanya menggeleng dan memeluk Aldo dengan erat. Ia begitu suka dengan aroma tubuh suaminya yang bisa membuatnya tenang.


"Sayang... Ayah tidak sabar menunggumu lahir ke dunia ini." Ucap Aldo mengusap lembut perut istrinya yang masih rata.


Semua orang sudah berada di ruangan Rea. Mereka ingin memberi selamat kepada Rea dan juga Aldo.


"Selamat Nak, ibu sangat senang, kau akan memberi kami cucu." Bu Aluna dan Maharani memeluk Rea bergantian dan mereka terlihat begitu bahagia.


"Sebentar lagi kita akan menjadi seorang kakek." Ucap Rolad dan Jonathan secara bersamaan dan keduanya berpelukan.


"Kita harus merayakan kabar bahagia ini."


"Tentu saja."


"Kau memang hebat Nak, Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah." Rolad memeluk putranya.


"Terimah kasih ayah."


"Selamat Rea... sebentar lagi kau juga akan menjadi seorang ibu... Kau harus menjaga bayi dalam kandunganmu.. Aku sungguh bahagia untuk kalian berdua." Ana memeluk Rea.


"Hmmmm.. Terima kasih... aku benar-benar bahagia." Rea juga memeluk Ana.


"Selamat untuk calon bayi kembar kalian, kalian memang sangat hebat." Puji Nico dengan sedikit kesal. Lagi-lagi Aldo lebih unggul darinya. Namun Ia tetap bahagia melihat semua orang yang ada di sisinya bahagia.


"Sayang... Aku akan mengantarmu memeriksa kondisi anakku hmmmm." Ucap Nico penuh cinta kepada istrinya yang sejak tadi terlihat bahagia dan tak hentinya tersenyum.


"Selamat kak Al. Aku turut bahagia untuk kalian."


"Terima kasih nona."


Setelah berpamitan dengan semua orang yang ada di ruangan itu. Nico segera merangkul pundak istrinya membantunya berjalan ke ruangan dokter kandungan. Tapi saat Nico akan membuka pintu ruangan tiba-tiba saja Ana merasakan perutnya sakit dan mulas.


"Sayanggg... apa kau baik-baik saja?"


Semua orang yang ada di ruangan itu menjadi segera menoleh ke arah Ana dan Nico dengan panik dan segera menghampiri Ana yang terlihat kesakitan memegangi perutnya.


"Sepetinya istrimu akan segera melahirkan." Ucap Maharani membuat Nico khawatir.


"Awwwww.... perutku sakit sekali." Jerit Ana.


Melihat istrinya yang menahan sakit membuat Nico panik dan segera membantunya untuk duduk di sofa ruangan itu.


Aldo segera menyuruh dokter untuk menyiapkan ruangan bersalin.


Suster tiba dengan membawa brankar dan membawa Ana masuk ke ruangan bersalin. Nico tak hentinya menggenggam tangan istrinya. Wajah Ana terlihat pucat.


Rea dan Aldo memutuskan untuk menunggu Ana melahirkan. Rea berada di depan ruang bersalin Ana dengan menggunakan kursi roda. Semua orang yang ada di ruangan itu harap-harap cemas menunggu Ana melahirkan dan berharap bayi dan ibunya selamat dan tidak terjadi hal buruk.


Ana memang melahirkan lebih awal dari perkiraan tanggal melahirkannya. Membuat semua orang cemas dan khawatir.


Nico dan Ana sudah berada di ruang persalinan. Sementara semua orang menunggu di luar ruangan dan berharap semua akan baik-baik saja.


"Kau dan anak kita akan baik-baik saja, bertahanlah sayang." Nico dengan wajah yang begitu khawatir melihat istrinya terus merintih menahan sakit.


"Ma-maafkan aku sayang... Berjanjilah kau akan menjaga anak kita, Ak-aku mencintaimu suamiku."


"Te-terima kasih sudah mencintaiku." Wajah Ana terlihat pucat. Ia terus merintih menahan sakit akibat kontraksi. Jalan lahir belum juga terbuka.


Ana ingin melahirkan secara normal. Dokter kandungan masih terus berusaha membantu Ana untuk melahirkan dan menangkannya. Melahirkan menjadi pengalaman pertama Ana. Sejujurnya Ia juga begitu takut. Namun Ana yakin semua tidak akan terjadi hal buruk. Ia harus menguatkan dirinya.


Ana terus mengenggan tangan suaminya begitu erat seolah tidak ingin berpisah. Ia ingin Nico tetap berada disisinya selama proses persalinannya.


Nico mengusap rambut istrinya dengan lembut dan mencium kening istrinya.

__ADS_1


Peluh dan keringat membanjiri kening Ana. Nico yang melihat istrinya kesakitan begitu khawatir.


"Apa kalian tidak bisa membantu istriku Hah?" Tanya Nico membentak dokter dan juga suster yang ada di ruangan itu. Matanya menatap tajam semua yang ada di ruangan itu.


"Bersabarlah tuan, tidak akan tejadi hal buruk dengan istri Anda, Belum waktunya istri anda melahirkan, kita harus menunggu tuan." Ucap dokter begitu lembut dan berusaha menenangkan. Walau Ia sedikit takut dengan Nico yang terlihat menyeramkan.


"Kau bilang menunggu, apa kalian tidak lihat istriku kesakitan hah." Nico kembali membentak dokter.


"Sa-sayangggg.... Tenanglah.." Ana meraih tangan suaminya yang terlihat sangat marah dan cemas di saat yang bersamaan. Ia tersenyum lembut menatap wajah suaminya. Diusapnya pipi suaminya dengan lembut dan ditatapnya suaminya itu dengan penuh cinta.


Nico terlihat sedikit tenang. Ia hanya berharap tidak akan tejadi sesuatu kepada istrinya. Ia sungguh mencintai Ana. Wanita yang begitu baik dan lembut. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu yang buruk kepada istrinya itu.


"Hufffff... Hufff..." Ana berusaha menarik nafas dan menghembuskannya pelan.


"Nona sepertinya sudah waktunya anda akan melahirkan, Tarik nafas dan hembuskan dengan pelan." Dokter yang memeriksa jalan lahir bayi segera menyuruh Ana untuk manarik nafas agar tetap tenang dan tidak panik.


"Huffff... Hufff.."


Ana melakukan perintah dokter.


"Eeeeegggg..... Eeeggggg...."


"Mengejan lebih kuat lagi nona. Tarik nafas dan hembuskan." Ucap dokter yang begitu hati-hati membantu persalinan Ana.


"Eggggghhhh." Ana menarik rambut suaminya. Jantungnya berpacu kencang. Dadanya naik turun seirama dengan tarikan nafasnya.


Nico merasa kulit kepalanya akan terlepas. Ana benar-benar menarik rambut Nico sekuat tenaga.


"Lakukan lagi nona, lebih kuat."


Ana berusaha mengejan dengan sekuat tenaga.


"Eeeeeggggg."


"Kau pasti bisa sayang.." Nico terus memberikan semangat untuk istrinya yang sedang berjuang hidup dan mati melahirkan buah cinta mereka. Ia mengusap keringat di kening istrinya dengan lembut.


"Dok... A-Aku sudah tidak kuat lagi." Ana terlihat begitu lemah dan pucat.


"Berjuanglah... Aku mencintaimu istriku." Nico terus memberi semangat.


Ana kembali mengejan dengan sekuat tenaganya yang tersisa.


"Eeeeggggggggggg......."


"Oeeekkk.. Oeeeekkkk.." Suara bayi terdengar memenuhi ruangan itu. Nico yang melihat bayi mungil yang masih merah berada di gendongan dokter menitikkan air matanya. Nico merasa begitu bahagia. Akhirnya Ia bisa melihat bayinya secara langsung.


"Selamat tuan, bayi anda lahir laki-laki dan lahir dengan sehat." Ucap dokter dengan senyum di wajahnya.


Nico menatap bayi mungil yang masih merah itu dengan penuh kebahagiaan. Ia menitikkan air matanya.


Dokter segera menyerahkan bayi mungil itu kepada suster untuk dibersihkan.


"Sayang... lihatlah anak kita sudah lahir." Ucap Nico menatap wajah istrinya yang memecamkan mata. Ana tak sadarkan diri setelah melahirkan bayinya.


"Sayang.. bangunlah!" Nico berusaha membangunkan istrinya. Ia menggenggam tangan istrinya yang terasa begitu dingin.


Suasana di Ruang persalinan begitu menegangkan. Nico yang melihat istrinya tak sadarkan diri semakin panik. Ia mengusap rambut istrinya.


"Apa yang terjadi dengan istriku dok?" Tanya Nico dengan Raut wajah cemas. Nico hanya bisa menitikkan air mata. Ketakutan terlihat jelas di wajahnya. Ia sungguh mencintai Ana dan tidak ingin kehilangan lagi.


"Ma-Maafkan Sa-saya tuan, Istri anda mengalami pendarahan dan kondisinya kritis." Dokter begitu gugup dan takut menyampaikan mengenai kondisi Ana.


Duaarrrr...


Nico hanya bisa terduduk lemas di lantai dingin ruangan persalinan itu. Hatinya hancur, sakit dan bahagia di saat yang bersamaan. Ia bahagia karena bayi yang dinantikannya selama ini akhirnya lahir kedunia. Tapi Ia juga begitu hancur dan terluka saat mengetahui kondisi istrinya yang tengah kritis.


Selama kehamilan Ana. Ia menghadapi begitu banyak masalah yang terjadi. Ia sudah begitu kuat. Dan Nico yakin istrinya adalah wanita yang kuat.


"Apa kau tidak ingin melihat bayi kita? Dia sangat tampan. Wajahnya begitu mirip denganmu, Terima kasih sudah berjuang melahirkan anak kita, Aku mencintaimu, Bertahanlah demi aku dan juga bayi kita." Batin Nico menatap wajah pucat istrinya yang terbaring menutup matanya. Tak terasa Air matanya meneres begitu saja.

__ADS_1


Bersambungggg....


__ADS_2