
Doooorrrr…
Suara tembakan terdengar menggema di ruangan itu.
Disaat yang bersamaan Nico dan Aldwin membuka matanya. Ia tidak merasakan sakit di bagian tubuhnya.
Buuukkkkk……
Seseorang terbaring tak sadarkan diri dengan tubuh bersimbah darah. Dua peluru mendarat dibagian lengan kiri dan lengan kananya. Hampir saja peluru itu mengenai jantungnya. Beruntung hanya lengannya saja yang terluka.
Dia adalah Ariana. Ia mengorbankan dirinya demi Aldwin. Ia tidak ingin melihat Aldwin mati ditangan Nico. Ia begitu mencintainya dan ingin melindungi Aldwin laki-laki yang begitu baik dengannya selama ini.
“Tidakkkkkk, Ana apa yang kau lakukan?” Aldwin ingin mengahampiri Ana dan menolong wanita yang dicintainya itu. Namun, Nico segera memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Aldwin.
Aldwin begitu panik saat melihat Ariana tak sadarkan diri. Namun, ia juga harus menyelamatkan nyawanya sendiri. Ia berhasil kabur dari anak buah Nico yang ingin menangkapnya. Aldwin hanya bisa menatap Ariana yang tak sadarkan diri dengan penuh penyesalan. Ia begitu menyesal tidak bisa menolong Ariana dan membawanya pergi bersamanya.
Ia tidak bisa menolong Ariana dan bu Anna ibunya. Ia sendiri harus berusaha agar bisa kabur dan menyelamatkan nyawanya.
“Tangkap dia, jangan sampai dia kabur.” Perintah Nico kepada anak buahnya.
Saat ini Aldwin dan Rey asistennya itu berhasil kabur dan keluar dari mansion Nico dengan melemparkan gas beracun. Aldwin dan Rey masuk ke dalam mobil mewah milik Aldwin.
Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Terlihat lima mobil van hitam mengejar mobil Aldwin sambil menembaki mobil itu dari arah belakang. Aldo dan Diego mengejar Aldwin untuk menangkapnya dan membunuhnya.
Di markas Nico suasana masih menegangkan. Terlihat Nico begitu panik melihat Ariana tak sadarkan diri. Ia segera menggendong tubuh lemah Ariana yang sudah bersimbah darah. Ia memerintahkan seluruh anak buahnya untuk keluar dari markasnya.
Anak buah Nico membawa bu Anna dan jasad Andrew masuk ke dalam mobil van hitam dan membawanya entah ke mana.
Nico, Reynad dan anak buahnya masuk ke dalam mobil mewah milik Nico. Mereka akan membawa Ariana ke rumah sakit. Nico terus menekan lengan Ariana yang terkena peluru untuk menghentikan pendarahan yang terjadi.
“Apa kau tidak bisa membawa mobilnya lebih cepat HAH.” Bentak Nico kepada anak buahnya yang mengemudikan mobil yang akan membawa Ariana ke rumah sakit.
Reynad melirik Nico dari kaca dashboard mobil. Terlihat raut wajah takut dan sedih dari Nico. Ini ke dua kalinya ia melihat keponakannya itu begitu panik kepada seorang wanita yang begitu dibencinya selama ini.
Reynad terlihat begitu bingung dengan perubahan sikap Nico. Ini ke dua kalinya ia melihat Nico begitu takut dan panik. Biasanya Nico terlihat tidak peduli dan begitu dingin dan kejam kepada musuh-musuhnya. Tidak peduli ia pria atau wanita.
Nico mengusap pipi Ariana dengan lembut. Ia begitu takut terjadi hal buruk kepada Ariana.
Beberapa menit kemudian mobil Nico sampai di rumah sakit tempat Ariana bekerja. Jarak rumah sakit dan markas Nico tidak begitu jauh. Dan dengan cepat ia membawa Ana masuk ke dalam rumah sakit
Ariana segera di bawah masuk ke dalam ruangan UGD rumah sakit tempatnya bekerja. Dokter Bryan segera masuk ke dalam ruangan itu untuk melakukan operasi kepada pasiennya.
Dokter Bryan adalah dokter umum dan sekaligus kepala rumah sakit tersebut. Dokter Bryan adalah dokter yang sangat terkenal dalam kemampuannya menyelamatkan nyawa orang.
Saat dokter Bryan masuk ia begitu terkejut dengan pasiennya yang merupakan dokter Velin.
“Apa yang terjadi kepada Dokter Velin.” Tanya Bryan kepada salah satu suster yang ada di ruangan tersebut.
“Pasien terkena tembakan di lengan kanan dan kiri dok, kita harus segera melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawa pasien, kondisinya sangat kristis Dok.” Jawab suster tersebut.
“Baik segera lakukan operasi.”
Bryan dan para suster langsung melakukan operasi kepada Ariana.
Di luar ruangan UGD rumah sakit tersebut. Terlihat Nico dan Reynad masih berdiri menunggu dokter selesai melakukan operasi kepada Ariana.
__ADS_1
Hampir 5 jam lamanya dokter belum keluar dari ruangan operasi. Di dalam ruangan itu suasana begitu menegangkan. Dokter Bryan terlihat panik.
“Dokter detak jantung pasien berhenti, tensi darahnya turun.” Ucap suster yang membantu operasi Ariana.
Bip…. Bip…….. Bipppppppppp………
Terlihat garis lurus pada alat patient monitor. Ini menandakan bahwa pasien tersebut berhenti bernapas. Dengan cepat dokter Bryan menekan dada Ariana membantu jantung pasien untuk berdetak.
Suster mengambil alat Defibrilator yaitu alat setrum jantung. Dengan cepat dokter Bryan meletakkan alat tersebut ke dada Ariana.
Degggg………
Jantung Bryan berdetak kencang.
Ia begitu takut Ariana tidak bisa tertolong lagi.
“Tuhan, jangan biarkan dia pergi, aku akan berusaha untuk menyelamatkan nyawamu dokter Velin.” Batin Bryan.
Bryan terus meletakkan alat kejut jantung untuk memompa jantung Ariana agar kembali berdetak. Keringat bercucuran di dahi Dokter Bryan. Ia berjuang menyelamatkan nyawa Ana.
Beberapa kali ia mencoba dengan alat dan juga dengan cara manual menggunakan kedua tangannya untuk memompa jantung pasien. Dan akhirnya jantung Ariana kembali berdetak terlihat dari layar monitor.
“Jantung pasein kembali berdetak dok.” Ucap suster tersebut.
“Hufffff.” Dokter Bryan bernafas dengan lega.
Ia tidak lagi terlihat panik. Ia berhasil menyelamatkan nyawa Ariana walau kondisi Ariana saat ini sangat kritis. Terlihat alat-alat medis terpasang di beberapa bagian tubuhnya. Ia kehilangan banyak darah dan hampir saja meninggal jika terlambat sedikit saja ia dibawah ke rumah sakit.
“Bagaimana keadaan pasien dokter?” Tanya Nico kepada Dokter Bryan yang sudah keluar dari ruangan operasi.
“Saya adalah keluarga dari pasien dok, katakan bagaimana keadaan pasien dokter?” Tanya Nico dengan wajah yang mulai kesal.
“Kondisi pasien sangat kritis, hamper saja ia meninggal dunia beruntung tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup, walau dengan kondisinya yang sangat kritis, pasien koma dan kami tidak tahu kapan ia akan sadar.” Jawab dokter Bryan dengan wajah sedihnya.
“Katakan apa yang sudah terjadi kepada dokter Velin? kenapa ia bisa terkena luka tembak?” Tanya Bryan.
Kali ini ia begitu ingin tahu apa yang sudah terjadi kepada dokter Velin.
“Maaf saya tidak bisa menceritakan apa yang terjadi kepada dokter, saya rasa itu bukan urusan anda dokter, saya rasa pekerjaan dokter sudah selesai, sebaiknya dokter kembali ke ruangan anda.” Ucap Nico dengan dinginnya.
“Tentu saja ini urusan saya. pasien itu adalah dokter yang bekerja di rumah sakit ini, saya berhak untuk mengetahui tentang kondisinya.” Ucap Bryan dengan sedikit emosi. Ia kesal dengan Nico yang tidak mau menceritakan apa yang terjadi kepada Ariana.
“Permisi dok, saya ingin melihat kondisi pasien.” Ucap Nico dan ia pergi begitu saja masuk ke dalam ruangan operasi. Ia ingin melihat kondisi Ariana.
Andai saja ini bukan rumah sakit pasti Nico sudah menghajar dokter Bryan yang selalu bertanya kepadanya. Ia begitu ingin membungkam mulut dokter yang sejak tadi terus berbicara.
Reynad terlihat hanya duduk diam dan tidak ingin terlibat dalam pembicaraan antara Nico dan dokter mudah tersebut.
Bryan akhirnya pergi meninggalkan Reynad yang masih duduk di luar ruangan perawatan Ariana dengan wajah kesalnya. Ia masuk ke dalam ruangannya dan mengambil ponsrlnya berniat menghubungi Aldwin untuk memberitahu kondisi Ariana.
Beberapa kali ia mencoba menghubungi ponsel Aldwin. Namun, ponselnya tidak bisa terhubung dan berada di luar jangkauan. Bryan merasa curiga pasti ada hal buruk yang terjadi pikirnya.
Saat ini Nico sudah berada di dalam ruangan Ariana. Ia melihat wajah pucat Ariana dengan berbagai alat medis yang terpasang ditubuhnya untuk membuatnya tetap hidup. Jika alat tersebut tercabut maka Ariana dipastikan akan meninggal dunia.
Ada raut penyesalan di wajah Nico. Entah mengapa hatinya sakit melihat Ariana terluka. Ia teringat dengan ucapan Andrew tentang apa yang sebenarnya terjadi. Nico mengepalkan tangannya. Ia akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi 20 tahun lalu.
__ADS_1
Nico keluar dari ruangan Ariana dengan wajah sedihnya.
Ia duduk di dekat pamanya. Reynad mengusap bahu Nico berusaha menenangkannya.
“Wanita itu akan baik-baik saja, paman yakin dia adalah wanita yang kuat.” Ucap Reynad berusaha meyakinkan Nico.
“Kenapa kau begitu menghawatirkan wanita itu? apa kau mencintainya atau hanya merasa bersalah karena kau hampir saja membunuhnya, paman tidak ingin kau jatuh cinta kepada wanita itu.” Batin Reynad.
Sementara itu di tempat lain, Aldwin masih melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh berusaha kabur dari kejaran anak buah Nico. Aldwin berada di tengah hutan dan dekat dengan tebing yang curam.
Dooorrrrrrr……..
Aldo menembak ban mobil Aldwin membuat mobil Aldwin kehilangan arah dan oleng. Dan akhirnya mobil tersebut masuk ke dalam jurang yang begitu dalam.
Braaakkkk…. Braaakkkkk….
Mobil Aldwin terguling masuk ke dalam jurang dan mobil itu terbakar di dasar jurang.
“Tuan mobil Aldwin terbakar di dalam jurang, Aldwin sudah meninggal tuan, dia tidak mungkin selamat.” Ucap Aldo menyampaikan informasi kepada Nico melalui sambungan telefon.
“Bagus, pastikan laki-laki itu benar sudah mati.” Perintah Nico dari sambungan telefon. Nico terlihat tersenyum. Ia begitu puas musuhnya sudah lenyap.
Bersambunggg…….
Bagaimana nasib Ariana selanjutnya yah? Apakah Ariana akan selamat?
Dan bagaimana pula dengan Aldwin? Apakah Aldwin benar-benar meninggal dalam peristiwa itu.?
Penasaran.
Yuk tetap baca novelku.
Banyak banget keseruan di setiap episodenya.
Novel ini adegan romantis dan bucinnya masih lama banget.
Jadi yang mau nunggu bucinnya para tokoh dalam novel ini. Sabar dulu yah para Readers soalnya masih lama banget.
Mohon dukungannya yah.
Like, Vote dan Komen.
Terima Kasih
🙏🙏😊
__ADS_1