
Memaafkan orang yang pernah menyakitimu tidak lah mudah. Rasa sakit itu akan selalu membekas di hati. Meski beribu ucapan maaf telah terucap tak akan pernah mampu menghilangkan sakit hati karena ia akan selalu membekas dan tidak mudah hilang.
Gelas yang pecah bisa saja kamu satukan namun akan tetap ada bekas dan tak akan kembali seperti dulu lagi. Luka di hati akan sulit untuk sembuh berbeda dengan luka fisik yang bisa saja terobati.
Begitu pula yang dirasakan oleh Ariana meski Nico menunjukkan sikap penyesalan dan meminta maaf tulus kepada Ana. Namun Ariana hanya lah manusia biasa ia tidak bisa melupakan begitu saja perbuatan Nico yang sangat menyakitinya.
Walau Ana selalu mengusir Nico dan tak ingin melihat wajahnya. Namun, bukan Nico namanya jika ia menyerah begitu saja dengan mudah. Nico selalu datang menemui Ana dengan membawa buket bunga mawar juga makanan dan buah-buahan untuk Ana. Ia tidak ingin Ana kekurangan sedikitpun. Saat Ana sedang tidur Nico masuk diam-diam menemui Ana dan melihat wajah Ana. Entah mengapa setiap Nico melihat wajah Ana yang sedang tertidur pulas ada perasaan damai dan tenang yang Nico rasakan.
Pagi ini Nico kembali menemui Ana di rumah sakit. Namun, Nico kembali harus merasakan kekecewaan saat Ana menyusirnya dan tak ingin melihat wajahnya.
"Apa yang harus aku lakukan, bahkan Ana tidak ingin melihatku, dia begitu membenciku, aku hanya ingin menjemputnya dan membawanya kembali ke Indonesia.” Nico baru saja keluar dari ruangan saat Ana dan dokter Bryan menyuruhnya untuk pergi.
Hari ini Ana sudah diperbolehkan untuk pulang setelah beberapa hari kondisinya sudah membaik dan pulih.
“Apa kau akan kembali ke Indonesia atau menetap di Negara ini?” Tanya dokter Bryan.
“Aku akan tinggal beberapa hari di negara ini sebelum kembali ke Indonesia.” Jawab Ana.
Ia sudah bersiap-siap untuk ke luar dari rumah sakit. Hari ini Rea datang menemui Ana dan membantunya kembali ke apartemen Ana yang dulu.
“Sebaiknya kau tinggal di Apartemenku saja untuk beberapa hari?” tawar Rea.
“Terima kasih Rea, tidak apa-apa aku bisa tinggal di apartemenku sendiri, kondisiku sudah lebih baik.”
Akhirnya Ana dan Rea berangkat menuju apartemen Ana. Setelah sampai Rea dan Ana masuk ke dalam apartemen.
“Terima kasih Rea, kau sudah begitu banyak membantuku.” Ucap Ana dengan senyum di wajahnya. Ia bersyukur memiliki sahabat yang begitu baik seperti Rea.
“Sama-sama Ana, Kalau kau butuh sesuatu kau bisa menghubungiku dan jangan sungkan kepadaku, anggap aku adalah keluargamu.”
“Baik, sekali lagi terima kasih Rea.”
Rea hanya mengangguk kemudian Ana memeluk Rea dengan erat.
Rea memutuskan untuk kembali ke rumah sakit setelah mengantar Ana kembali ke apartemennya.
Ana memilih istirahat. Karena waktu makan siang dan perutnya juga sudah lapar ia memutuskan untuk memesan makanan lewat aplikasi penyedia jasa antar makanan. ia mengambil ponselnya dan memesan makanan Fish and Chips salah satu makan siang enak yang disajikan di setiap restoran yang ada di kota London.
Ana belum sempat untuk membeli bahan makanan dan tidak ingin merepotkan sahabatnya yang sudah begitu banyak membantunya.
Tinggg..... Tongggg....
“Cepat sekali mereka mengantar makanan.” Gumam Ana.
Ana membuka pintu apartemennya dan matanya membulat sempurna saat melihat begitu banyak box yang berisi bahan makanan di depan pintu apartemennya.
“Maaf sepertinya kalian salah alamat, saya tidak memesan bahan makanan sebanyak ini.” Ucap Ana.
“Kami tidak salah alamat, ini adalah kiriman dari tuan Nico untuk nona Ana.” Ucap salah satu anak buah Nico yang mengantarkan paket berisi bahan makanan.
Tak berapa lama muncul Aldo dan berjalan menuju anak buahnya yang masih sibuk mengangkat box berisi bahan makanan di depan pintu apartemen Ana.
__ADS_1
“Tuan Nico memberikan semua ini untuk Nona. Tuan Nico juga sudah mengirim beberapa pelayan dan suster untuk mengurus nona. Jika nona membutuhkan sesuatu nona bisa menghubungi saya.” Aldo memberikan kartu namanya kepada Ana.
Namun, Ana tidak mengambil kartu nama yang diberikan oleh Aldo dan ia kembali memasukkan kartu nama itu di saku jaznya.
“Bilang sama tuanmu itu, aku tidak butuh bantuannya. Bawa pulang semua ini aku tidak ingin menerimanya. Dan jangan coba untuk datang lagi ke apartemenku. Sebaiknya kalian pergi dari sini, aku tidak ingin melihat kalian dan sampaikan kepada tuanmu itu jangan pernah mengurusi hidupku, aku tidak akan pernah meminta bantuannya meski aku kesulitan sekalipun.” Ucap Ana dengan amarah menggebu.
“Apa yang terjadi? seharusnya kalian membawa masuk semua ini ke dalam.” Perintah Nico kepada Anak buahnya saat melihat box itu masih berada di luar.
Nico baru saja tiba di depan pintu apartemen Ana. Ia sengaja menyuruh Aldo untuk menemui Ana terlebih dahulu karena Nico sedang menerima telefon dari kliennya di lobby Apartemen.
Tiba-tiba saja Nico datang dan ia berjalan ke arah Ariana dengan membawa buket mawar merah di tangannya.
“Maaf tuan, sepertinya nona Ana tidak ingin menerima pemberian tuan.” Aldo ikut berbicara.
“Hufffff”. Nico menarik nafas panjang.
“Maafkan aku Ana, aku hanya ingin membantumu.” Ucap Nico dan memberikan buket mawar merah kepada Ana. Kali ini ia ingin meminta maaf dengan tulus kepada wanita yang ada di depannya saat ini.
“Terima kasih karena Anda mau membantuku, tapi saat ini saya tidak membutuhkan bantuan Anda, jadi anda tidak perlu repot-repot untuk membantu saya, sebaiknya Anda bawa semua ini pergi karena saya tidak membutuhkannya. Oh ya tuan jangan pernah menginjakkan kaki di apartemenku lagi, kehadiran Anda hanya akan membuat kondisi kesehatan saya menurun, saya benar-benar tidak ingin melihat wajah Anda.” Ana berusaha berbicara dengan lembut walau ia begitu kesal dan marah dengan Nico.
“Aku benar-benar membenci laki-laki ini.” Batin Ana.
“Ana ak-ak.._.”
“Pergi..... atau aku berteriak...” Bentak Ana.
Brakkkkk...
“Ahhhhhh, siaalllll, dia benar-benar sudah berani sekarang.” Wajah Nico merah padam melihat tingkah Ana.
Namun, Nico hanya bisa sabar ia tahu ini adalah perjuangan yang harus ia hadapi demi mendapat maaf dari Ana. Ini tidaklah sebanding dengan apa yang sudah Ia lakukan kepada Ana. Ia sudah menorehkan luka di hati Ana yang sulit ia sembuhkan. Bahkan saat ini Ana sudah begitu membencinya sekarang.
“Apa yang akan tuan lakukan agar nona Ana mau memaafkan Tuan?” tanya Aldo yang saat ini sudah berada di mobil mewah Nico.
“Apa kau tidak bisa membantuku untuk mendapat maaf dari Ana? Lakukan apa pun agar wanita itu mau memaafkanku, kau paham.” Perintah Nico.
“Baik tuan.”
“Itu tidak akan mudah tuan, nona Ana tidak akan mudah memaafkan Tuan yang selama ini sudah begitu membuatnya menderita.” Batin Aldo.
“Wanita itu benar-benar sudah berani sekarang, dia bahkan sudah tidak takut denganku lagi. Ahhh Siaallll.” Gumam Nico.
Ia mengacak rambutnya dan terlihat begitu prustasi. Baru kali ini ia berjuang untuk mendapatkan maaf dari seorang wanita.
“Kenapa tuan begitu ingin agar nona Ana memaafkan tuan? Apa maaf dari nona Ana begitu penting untuk tuan?” Tanya Aldo. Pertanyaan yang sejak dulu ingin ia tanyakan kepada tuannya.
“Kau sudah tahu jawabannya, aku rasa aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu yang tidak penting itu.” Jawab Nico.
“Maaf tuan.”
Aldo dan Nico memutuskan untuk meninggalkan apartemen Ana. Ia akan kembali ke Mansionya dan memikirkan cara yang akan ia lakukan agar mendapat maaf dari Ana.
__ADS_1
Sementara itu, Ana tengah menikmati makan siang yang sudah ia pesan. Setelah makan ia meminum obat yang diberikan oleh dokter Bryan dan langsung istirahat.
Menjelang sore hari....
Ana ingin menikmati udara sore hari di London. Menghabiskan waktu seharian di apartemen membuatnya sedikit bosan. Setelah tertidur beberapa jam kondisi tubuhnya sudah sehat dan segar.
Ia akan keluar dan menikmati pemandangan kota London sebelum ia kembali ke Indonesia. Ana memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai dokter dan ingin kembali ke Indonesia saja.
Hari ini ia akan menghabiskan waktu untuk menikmati keindahan kota London seorang diri. Ia ingin jalan-jalan, belanja dan menikmati makanan yang ada di negara ini.
Bagi Ana London adalah negara yang penuh kenangan indah dan kenangan buruk untuknya.
Ana sudah bersiap dengan memakai dress selutut berwarna biru Navi. Ia ingin menghabiskan malam ini dengan mengunjungi wisata yang terkenal di London.
London, terkenal dengan objek wisatanya yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah London Eye. Ini adalah kincir raksasa tertinggi di dunia yang telah menjadi ikon Kota London. Kincir raksasa setinggi 135 meter yang berdiri megah di pinggir Sungai Thames ini memang menjadi tujuan favorit para pelancong di Kota London.
Ana sudah berada di dalam kapsul dan menatap setiap bangunan kota London yang terlihat begitu indah. Tanpa terasa bulir bening jatuh di pelupuk matanya. Kenangan indah terlintas di benaknya ia mengingat saat Aldwin mengajaknya naik bianglala dan melamarnya hari itu. Namun semua itu tinggallah kenangan. Ia bahkan tidak mengetahui keberadaan Aldwin. Laki-laki yang begitu dicintainya.
“Aldwin aku begitu merindukanmu hikssss...” Ana hanya bisa mengusap air matanya yang jatuh.
Rasa rindu begitu besar ia rasakan kepada Aldwin yang sampai saat ini tidak pernah lagi ia lihat. Senyuman dan juga perhatian Aldwin begitu Ana rindukan. Ia adalah sosok laki-laki yang selalu mengisi relung hati Ana.
“Kenapa aku tidak bisa bersamamu Aldwin? Apa aku tidak ditakdirkan hidup bersamamu? Semoga kau baik-baik saja Aldwin.” Batin Ana.
Sementara itu, sepasang mata terus mengawasi Ana. Dengan memakai pakaian serba hitam dan topi di kepalanya serta kacamata hitam yang bertengger dihidung mancungnya. Ia mengawasi setiap gerak-gerik Ana. Menjaga dan melindunginya dari kejauhan.
Setelah puas menaiki bianglala Anna ingin menikmati makam malam di kota London. Saat ini ia sedang duduk di restoran yang pemandangannya menghadap langsung dengan sungai Thames. Terlihat kerlap kerlip lampu kota London yang indah. Sungguh suasana romantis bagi orang yang sedang jatuh cinta. Namun, berbeda dengan Ana saat ini ia hanya ingin mengenang kenangan indah bersama Aldwin. Restoran ini adalah restoran tempat Ana dan Aldwin dulu dinner romantis.
Ana menikmati makanan seorang diri.
“Maafkan Aku Ana, aku tidak bisa membuatmu bahagia, aku akan selalu menjagamu, suatu saat nanti kita akan bersama lagi.” Ucap seseorang yang sedari tadi terus mengawasi Ana.
Bersambungggg.........
Like, Vote dan Komentar.
Author ucapin terima kasih banyak buat para Readers yang udah hadir di Novelku dan masih setia membaca novelku recehku ini.
semoga kalian selalu sehat dan bahagia.
🙏🙏
__ADS_1