
Pagi yang cerah menyambut setiap manusia dengan penuh semangat untuk beraktifitas, ada yang menikmati udara sejuk dengan olahraga pagi dan ada juga yang memilih menghabiskan waktunya di rumah dengan bermalas-malas menikmati akhir pekan. Sama hanyalnya dengan Ana ia lebih memilih menikmati hari ini dengan istirahat untuk memulihkan kembali tubuhnya yang lelah. Dokter juga butuh istirahat bukan.
Bu Ella masuk ke dalam kamar Ana ingin membangunkannya. "Bangun Nak, Nico sudah menunggumu di ruang tamu." Ujar bu Ella berusaha membangunkan Ana. Ia menggonyang-goyanngkan tubuh putrinya yang masih terlelap.
"Huppppp..... Mau apa lagi dia ke sini bu, aku masih mengantuk, Ibu bilang saja aku tidak ada di rumah, aku sedang malas menemuinya." Ujar Ana dengan menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Bangunlah Nak atau kau mau Nico membangunkanmu, aku akan menyuruhnya untuk membangunkanmu kalau kau masih tidur seperti ini." Ana yang mendengar apa yang dikatakan ibunya segera bangun. Ia tidak ingin Nico masuk ke dalam kamarnya dan membangunkannya.
"Baiklah bu, aku akan bersiap, suruh saja dia menungguku, Apa lagi yang akan dia lakukan sih?, aku benar-benar malas menemuinya, dia hanya akan membuatku kesal saja. Hufffffff......" Ana hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia sudah berada di dalam kamar mandi bersiap untuk mandi dan menemui Nico yang sudah menunggunya di luar.
Ana terlihat begitu cantik dengan dress selutut berwarna peach kesukaannya. Dengan riasan yang natural tidak menghilangkan kecantikan alami yang dimiliki oleh Ana.
"Selamat pagi Ana." Ucap Nico ketika Ana menghampirinya.
"Cantik" Batin Nico.
"Ada apa tuan datang sepagi ini? apa tuan tidak punya pekerjaan lain selain menggangguku?" Ujar Ana dengan wajah kesal.
"Pagi-pagi sudah membuatku kesal saja." Batin Nico.
"Sayang jangan berbicara kasar seperti itu Nak, sebentar lagi kalian akan menikah, Jaga sikapmu dengan suami nanti, ibu ingin kau menjadi istri yang baik." Nasehat bu Ella di pagi hari untuk Ana.
"Maafkan saya tuan Nico." Ana hanya bisa minta maaf dan tersenyum secerah mentari pagi melihat Nico.
"Tidak apa-apa bu, Mungkin Ana hanya sedang lelah saja, aku ingin mengajak Ana membeli perlengkapan untuk pernikahan kami." Ucap Nico.
"Kami permisi bu." Ana dan Nico meninggalkan rumah dan bersiap untuk ke pusat perbelanjaan dan juga butik untuk memilih gaun pernikahan mereka. Aldo akan mengantar kemana pun calon pengantin itu akan pergi.
Nico terlihat begitu antusias mempersiapkan pernikahannya. Berbeda halnya dengan Ana yang terlihat begitu cuek dan tidak peduli dengan pernikahannya sendiri.
Mereka sudah sampai di pusat perbelanjaan yang terletak di pusat kota yang cukup padat. Mereka akan membeli beberapa perlengkapan untuk pernikahan mereka. Nico, Ana dan juga Aldo sudah berada di salah satu tokoh perhiasan yang terletak di pusat perbelanjaan setelah tadi mereka sarapan bersama di salah satu restoran yang terletak di mall tempat mereka berada.
"Ada yang bisa kami bantu tuan." Ucap pelayan toko yang sedang menjaga etalase perhiasan yang terlihat begitu berkilau dan tentu saja harganya juga sangat fantastik bukan.
"Aku ingin melihat cincin untuk pernikahan kami, berikan cincin yang paling mahal dan paling bagus yang ada di toko kalian." Ujar Nico.
"Baik tuan."
Akhirnya pelayan tokoh itu mengelurkan cincin dengan permata yang berkilau. Cincin berlian yang paling bagus dan terbaik di toko itu yang harganya tentu saja membuat jiwa miskin Author meronta.
"Ini cincin terbaik yang ada di toko kami, silahkan tuan lihat dan pilih yang tuan sukai." Ucap pelayan toko memberikan beberapa cincin terbaik yang ada di tokonya.
"Apa kau menyukai salah satu cincin di sini? kau bisa memilih yang kau sukai, aku hanya akan menuruti semua keinginanmu Sayang." Nico berbisik pelan di telinga Ana membuat jarak mereka begitu dekat dan jantung Ana berdetak.
"Maaf tuan, aku tidak menyukai cincin di sini, aku akan mencari di tempat lain saja." Ujar Ana.
"Apa kau bisa mengganti panggilanmu itu? sebentar lagi kita akan menikah, kau bisa memanggilku apa saja asal jangan memanggilku dengan panggilan tuan."
"Lalu aku harus memanggilmu apa?"
"Kau bisa membiasakan mulai saat ini memanggilku dengan 'sayang'. Ucap Nico dengan senyuman terukir di bibirnya.
__ADS_1
Ana hanya melengos mendengar ucapan Nico. Panggilan Sayang bagi Ana terasa begitu menggelitik baginya.
Ana hanya berjalan sejak tadi menyusuri etalase tokoh yang berisi perhiasan yang begitu banyak dan berkilau bagi setiap mata yang melihatnya.
Hampir satu jam mereka keluar masuk dari satu toko ke toko yang lainnya. Ana belum juga menemukan cincin yang ia suka. Nico sedikit kesal di buatnya namun Nico tidak ingin menunjukkan wajah kesalnya menutupi dengan senyuman semanis mungkin.
Setelah berkeliling akhirnya Ana mendapat cincin pernikahan yang harganya tidak begitu mahal dan tentu saja kualitasnya juga berbeda dengan cincin yang ia lihat pertama.
"Apa kau yakin mau memakai cincin ini di pernikahanmu nanti?, aku masih bisa membeli cincin yang paling mahal di toko manapun, aku bahkan bisa membeli semua toko perhiasaan di sini." Ucap Nico dengan sedikit kesal dengan pilihan Ana.
Inilah tujuan Ana membuat Nico kesal dengan pilihannya. Tentu saja Nico begitu kesal dengan cincin pernikahan yang Ana pilih. Cincin yang terlihat biasa dan harganya juga tentu murah. Nico yang ingin memberikan yang terbaik untuk Ana tapi sepertinya Ana tidak tertarik sama sekali dengan apa pun yang Nico lakukan.
"Kalau kau tidak menyukainya aku tidak menyuruhmu memakai cincin ini, Kau bisa membeli cincin yang lain." Ujar Ana dengan senyuman di bibirnya.
Kali ini Nico mengalah dan memutuskan untuk mengikuti pilihan Ana.
Selesai memilih cincin pernikahan mereka akan memilih gaun pernikahan. Mereka sudah berada di butik yang paling terkenal langganan keluarga Alexander di kota itu.
"Ada yang bisa kami bantu tuan." Ucap pelayan wanita yang menjaga butik tersebut.
"Aku ingin kalian pilihkan gaun pengantin yang paling mahal dan paling bagus di butik ini untuk calon istriku." Ujar Nico.
"Mari silahkan ikut saya nona." Ana mengikuti pelayan butik untuk memilih gaun pernikahannya.
Ana sudah memakai gaun pengantin bernuansa putih yang terlihat simpel namun tetap glamor. Gaun yang terlihat begitu menawan dengan brokat berhias payet silver. Gaun yang tertutup namun terlihat tidak mengurangi kecantikan Ana. Ana memang tidak menyukai pakaian yang terbuka.
Nico dan juga Aldo sudah menunggu Ana. Saat Ana keluar untuk menunjukkan gaun pilihannya kepada calon suaminya.
"Apa kau menyukainya, aku rasa gaunnya sangat pas dan cocok untukku, aku menyukai gaun ini, bagaimana menurutmu?" Tanya Ana.
Nico menganggguk pelan dengan tatapan yang tertuju kepada Ana tatapan penuh kagum dan cinta kepada wanita yang ada di depannya saat ini.
Nico berjalan menghampiri Ana.
"Kau terlihat begitu cantik dengan gaun ini sayang, aku akan membatumu melepaskan gaun ini hemmmm." Senyum menyeringai Nico.
Nico menarik tangan Ana menuju ruang ganti.
"Ap-paa yang aku lakukan, ak-aku bisa menggaggnti gaun ini sendiri, kau... bisa menunggu di luar." Ana dengan gugup tldan berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Nico.
"Aku akan membantumu sayang."
Nico masuk ke dalam ruang ganti bersama Ana. Nico sudah menutup pintu dan menguncinya.
"Ap-apa yang kau lakukan? keluar atau aku akan berteriak dan membuatmu malu tuan Nico." Ucap Ana dengan perasaan gugup bahkan ia berbicara dengan terbata-bata.
"Mereka tidak akan peduli dengan teriakanmu, kau adalah calon istriku, aku bisa melakuan apa pun, tidak akan ada yang berani denganku."
Nico melangkah maju sementara Ana mundur dan tubuhnya membentur dinding ruangan itu. Jarak wajah Nico begitu dekat dengan wajah Ana. Deru nafas Nico bisa Ana rasakan membuat Ana semakin gugup dan takut. Sesaat Mereka saling menatap. Nico Menatap Ana denagn Tatapan cinta dan Ana menatapnya denfan tatapan penuh kekesalan. Nico sudah memegang tangan Ana dan mengungkung tubuh mungilnya membuat tubuh Ana menyatuh dengan dinding.
Nico segera menyerang bibir merah ranum yang sudah menggodanya sejak tadi. Me**mat dan mengginggit lembut bibir tipis yang terasa begitu manis. Tubuh Ana begitu refleks saat Nico menyerangnya tiba-tiba. Ia ingin melepaskan dan mendorong tubuh kekar Nico tapi tenaganya kalah dengan Nico.
__ADS_1
Ana tidak membalas ciuman yang diberikan oleh Nico. Tapi ia juga tidak bisa menolak tubuhnya seakan menerima apa yang Nico lakukan. Nico melepaskan semua kerinduannya kepada Ana selama ini melalui ciumannya. Ana mulai tersengal dan tidak bisa bernafas saat Nico semakin mel** mat bibir tipisnya. Menyadari hal itu Nico segera melepaskan dan menyusap lembut bibir Ana yang basah dengan jemarinya.
"Apa yang kau lakukan? kau sudah berani menciumku, aku tidak akan memaafkanmu, kau sudah--"
"Hmpppp... Hemmmppp le-lepaskan." Nico semakin memperdalam ciumannya mel** mat bibir Ana yang terlihat begitu menggemaskan saat Ana tidak berhenti mengomel.
"Aku memberimu hadiah untuk pernikahan kita, Apa kau menyukainya?" Tanya Nico ketika ia sudah puas menikmati bibir ranum Ana.
"Hadiah macam apa ini, aku tidak menyukai hadiahmu sama sekali, apa kau bisa keluar aku mau ganti baju."
"Aku akan membantumu sayang." Ucap Nico dengan senyumam di wajahnya.
"Apa kau mau aku membatalkan pernikahan ini?" Ancam Ana.
"Baiklah sayang, aku akan menunggumu di luar." Nico segera keluar dari ruang ganti dengan senyum di wajahnya. Perasaanya begitu bahagia.
Ana sudah mengganti bajunya dan giliran Nico yang akan memakai Jaz pilihannya. Ia memilih Jaz berwarna putih senada dengan warna gaun Ana.
Ana menunggu Nico dengan Aldo yang berdiri di belakangnya menjaga nona mudanya. Setelah memakai jaz pilihannya Nico menunjukkan kepada Ana.
Ana yang melihat Nico tentu saja ia juga terpesona dengan ketampanan Nico. Tubuh yang kekar dan rahang yang tegas dengan jaz yang pas ditubuhnya menambah ketampanannya.
"Kenapa Ia terlihat begitu tampan sih..., apa yang aku pikirkan, jangan tertarik dengannya Ana, kau tidak boleh jatuh cinta dengannya." Ana bermonolog dengan dirinya sendiri sambil menggelang-gelengkan kepalanya.
"Bagaimana menurutmu? apa kau menyukainya?" Tanya Nico.
"Lumayan." Ucap Ana begitu cuek. Ia membolak-balikan majalah yang ada di tangannya.
"Dia bilang lumayan, apa dia tidak melihatku, aku sudah tampan seperti ini dan dia masih bilang lumayan." Batin Nico dengan Wajah kesal.
Membuat orang kesal mungkin menjadi salah satu keahlian Ana. Sejak tadi Ia sudah berhasil membuat Nico kesal.
Setelah memilih gaun pengantin mereka mutuskan untuk jalan-jalan. Mereka makan siang bersama di restoran. Menjelang sore hari Nico dan Ana sudah berada di taman. Ana begitu suka berada di taman menikmati udara yang begitu sejuk.
"Kau bisa menggunakan ini untuk membeli apapun yang kau inginkan, kau bisa menggunakannya untuk membeli kebutuhanmu dan juga ibu." Nico memberikan Black Card kartu tanpa limit kepada Ana.
"Aku tidak membutuhkannya."
"Ini hadiah pernikahan yang sesungguhnya." Ucap Nico.
Ana mengambil Black Card yang diberikan oleh Nico dengan sedikit ragu.
"Apa aku bisa membeli rumah dan kabur darimu." Ucap Ana tanpa sengaja membuat Nico menatapnya tajam.
"Kau bisa mencobanya kalau kau berani, Larilah Ana semakin kau mencoba kabur maka aku akan mencarimu sekalipun kau bersembunyi di lubang semut atau kau pergi ke ujung dunia. aku akan tetap menemukannmu dan mengikatmu dengan rantai cintaku." Ucap Nico.
Gleeeeekkkkkk.
Ana menelan ludahnya susah payah mencerna kata-kata Nico.
Bersambung...
__ADS_1