Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 81 : Malam Pertama Yang Tertunda


__ADS_3

Acara pernikahan Aldo dan Rea telah usai. Para tamu sudah kembali ke mansion mereka masing-masing. Begitu juga dengan Nico dan Ana, Keduanya memutuskan untuk kembali ke mansion. Nico tidak ingin membuat istrinya terlalu lelah. Rea dan Aldo akan tinggal di kamar hotel VVIP yang sudah disiapkan untuk pasangan yang baru saja menikah itu. Ke dua orang tua Aldo dan Rea juga memutuskan untuk kembali ke mansion mereka.


Aldo dan Rea masuk ke dalam kamar mereka untuk istirahat. Rea benar-benar lelah dan ingin istirahat saja. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang sudah ditaburi bunga mawar merah berbentuk love. Suasana kamar pengantin itu terlihat sangat romantis.


"Sayang, sebaiknya kau mandi dulu setelah itu kau istirahatlah." Ucap Aldo yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggangnya. Rambutnya yang basah membuatnya terlihat sangat tampan.


Gleeekkkk....


Rea menelan salivanya susah payah. Saat melihat pemandangan indah di depannya. Suaminya terlihat sangat tampan dengan perut kotak-kotak. Tubuhnya begitu kekar membuat Rea tidak bisa berkedip mengagumi makhluk tampan yang berdiri di depan matanya itu.


"Sayang, kenapa melamun?" Tanya Aldo membuyarkan lamunan Rea.


"Hemmmm, ti-tidak ada apa-apa, aku akan mandi." Ucap Rea gugup, Ia segera berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Aldo hanya tersenyum tipis melihat tingkah lucu istrinya yang terlihat gugup. Pasti Ia tidak biasa melihat pria bertelanjang dada seperti ini. Istriku sungguh sangat polos. pikirnya.


"Kenapa dia terlihat sangat tampan sih, ahhhh.... aku benar-benar gugup." Guman Rea menatap wajahnya di pantulan cermin.


Cekklleeeekkk....


"Sayang apa kau bisa membantuku?" Tanya Rea.


"Tentu saja sayang, apa yang bisa aku bantu?." Aldo berjalan mendekati istrinya. Ia sudah memakai kimono handuk. Rambutnya masih terlihat basah. Rea bisa menghirup aroma maskulin dari tubuh suaminya itu.


"Tolong bantu aku membuka resleting gaun ini, aku benar-benar merasa gerah." Pinta Rea.


"Baiklah sayang."


Aldo menurunkan reslating gaun pengantin Rea dan tampaklah bahu putih mulus istrinya.


Gelleeeekkkk.


Susah payah Ia menelan salivanya. Ia memecamkan matanya untuk menutupi hasratnya yang sudah memuncak. Tanpa pikir panjang lagi Aldo segera saja mencium bahu putih yang sungguh menggodanya.


"Ap-pa yang kau lakukan Al? Aku ingin mandi badanku benar-benar terasa sangat lengket, tunggulah sebentar hemm." Ucap Rea menghentikan tangan suaminya yang sudah menelusuri bahu mulusnya.


"Baiklah, lakukan dengan cepat sayang." Bisik Aldo di telinga Rea.


Bagaimana memberitahunya kalau aku malam ini sedang... Akhh... sudahlah aku akan mengatakannya nanti. Batin Rea. Ia segera masuk kembali ke dalam kamar mandi.


Beberapa menit selesai membersihkan dirinya. Rea membuka pintu kamar mandi. Ia hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Sungguh Ia masih begitu malu dengan Aldo yang terus menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Sayang, kau sudah selesai, ayo cepatlah ke sini." Aldo menepuk sisi tempat tidur yang masih kosong di sampingnya.


"Aku pakai baju dulu, tunggulah sebentar." Rea mengambil baju dari paper beg dan memakainya di dalam kamar mandi.


"Apa dia masih malu denganku, aku kan suaminya untuk apa merasa malu." Guman Aldo.


Sepertinya Aldo sudah tidak sabar lagi untuk melakukan unboxing. Hasratnya sudah berada di puncak saat Ia melihat Istrinya hanya memakai handuk saja.


"Sayang, kemarilah!" Pintanya.


Rea berjalan mendekat ke arah Aldo dan Ia duduk di samping suaminya. Mereka sudah berada di atas tempat tidur.


"Sayang apa kau sudah siap?" Tanya Aldo.

__ADS_1


"Ak-aku... Hemmpppp...."


Tiba-tiba saja Aldo mencuim bibir mungil Istrinya membuat Rea gelagapan karena serangan Aldo yang tiba-tiba.


Ciuman itu samakin lama semakin dalam membuat Aldo melepaskan kimono handuknya. satu tangannya membuka kancing piyama istrinya. Ciuman itu turun keleher jenjang Rea dan satu tangannya sudah menjelajahi dua bukit kembar milik istrinya. Aldo seera saja membaringkan tubuh istrinya dan menindihnya.


"Ma-maafkan a-aku sayang, a-aku sedang datang bulan." Ucap Rea terbata-bata kerena Aldo terus saja menciumnya.


Duaaaarrrrrrr.....


Jedarrrrr....


Mendengar ucapan istrinya Aldo segera bangkit dengan wajah pias. Ia benar-benar sedang kesal. Malam ini Ia ingin menikamti indahnya surga dunia tapi sepertinya itu tidak akan terjadi. Ia juga tidak ingin meyalahkan Rea ini bukanlah kesalahnnya. Aldo hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh hasratnya sudah berada di atas awan bahkan benda pusakanya sudah tegak sejak tadi.


"Maafakn Aku sayang." Lirih Rea. Ia tahu suaminya ingin melakukannya tapi apalah dayannya Ini juga bukan keinginannya.


Ia sedang kedatangan tamu bulanan dan tentu saja Ia tidak bisa melalukannya sekarang.


"Tidurlah, kau pasti lelah." Ucap Aldo menyelimuti tubuh istrinya.


"Kau marah Al, Aku benar-benar minta maaf, jangan marah yah." Rea hanya bisa tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya. Matanya berkedip-kedip menatap manik suaminya. Sungguh Ia terlihat sangat imut..


"Hemmmmm."


Aku benar-benar ingin melahapnya, Dia sangat imut, Argggg.... kenapa ini harus terjadi? Batin Aldo menjerit prustasi.


"Apa kau baik-baik saja sayang? apa perutmu tidak sakit, aku dengar wanita yang sedang datang bulan akan mengalami sakit pada perutnya." Ucap Aldo khawatir dengan istrinya, Ia mengusap lembut perut istrinya dan sesekali menciumnya.


"Aku baik-baik saja sayang, Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku." Rea menangkup wajah Aldo dan..


Ia mencium bibir suaminya sekilas.


"Kau harus membayarnya lain kali sayang, Kita akan melakukannya saat bulan madu nanti, malam ini aku akan melepaskanmu." Bisik Aldo di telinga Rea.


"Tentu sayang, aku akan membayarnya berkali-kali lipat." Ucap Rea memeluk Aldo dan mebenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


Rea begitu bahagia mempunyai suami yang begitu baik dan perhatian seperti Aldo. Akhirnya Aldo dan Rea memilih tidur saja. Mereka tidur saling berpelukan dan terlelap menuju alam mimpi.


********


Di tempat lain, Aldwin dan dokter Zena sedang berada di taman. Mereka sedang menikmati suasana malam yang indah. Bintang-bintang bertebaran di langit malam. Malam ini Aldwin sudah menyiapkan kejutan untuk Zena. Ia ingin mebyatakan perasaanya malam ini juga. Ia tidak ingin menunda lagi. Nico juga sudah memberinya restu.


"Apa kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Aldwin menatap wajah cantik dokter muda itu. Ia tahu Zena pasti sangat terluka dan merasa sedih. Walau Ia menutupi dengan selalu tersenyum dan terlihat bahagia. Tapi hatinya sungguh rapuh. Aldwin sudah tahu bahwa Zena meyukai Aldo dan Aldo adalah cinta pertamanya.


"A-aku ba-baik saja kak, Terima kasih sudah peduli denganku." Lirihnya dengan suara parau menahan tangisnya.


"Menangislah jika kau ingin menangis, jangan memendamnya lagi, aku ada di sini untukmu."


"Hikkkssssss..... Hikkssssss....., Apa aku tidak pantas bahagia dengan laki-laki yang aku cintai, ak-aku masih sangat mencintainya kak, Aku tidak punya kesempatan untuk mendekatjnya lagi, dia sudah menikah kak, aku..." Dokter Zena menangis sesenggukan dengan badannya yang bergetar hebat. Aldwin memeluknya dan menenengaknnya. Hatinya sakit melihat wanita yang Ia cintai menangis dan merasa terluka.


"Tidak semua yang kita inginkan bisa kita milik, kakak yakin kau pasti akan menemukan laki-aki yang mencintaimu, Kau harus bisa melupakannya, biarkan Aldo bahagia dengan Rea, Mereka saling mencintai." Aldwin mengusap pucuk kepala dokter Zena dengan lembut.


Aku akan membuatmu bahagia dan melupakan kesedihan di hatimu, aku juga pernah merasakan di posisimu dan aku tahu rasanya terluka dan tidak bisa hidup berasama dengan orang yang aku cintai, rasanya sangat menyakitkan, aku harap kau akan melupakan dan merelakannya. Batin Aldwin.


Puas menangisi nasibnya. Dokter Zena akhirnya bisa tenang. Ia tidak lagi menangis sesenggukan. Hatinya sudah jauh lebih baik.

__ADS_1


"Ikutlah denganku! aku ingin menunjukkan sesuatu!" Aldwin menarik tangan Zena dan menyuruhnya untuk mengikutinya.


"Kakak akan membawaku kemana?" Tanyanya dengan tetap mengikuti kemana Aldwin akan membawanya.


"Kau akan tahu nanti, sekarang kau harus menutup matamu dulu!" Aldwin memakaikan penutup mata kepada Zena.


Aldwin menuntun Zena berajalan ke tempat Ia akan memberikan kejutan malam ini. Ia membuka penutup mata Zena.


"Kau bisa membuka matamu."


"Ini benar-benar indah kak." Ucap Zena merasa senang.


Dokter Zena menatap taman yang sudah diberi dekorasi indah. Aldwin juga sudah menyiapkan buket bunga mawar putih berukuran besar dan juga cincin berlian. Ia ingin menyatakan perasaanya malam ini juga.


Aldiwn berjalan dengan membawa buket bunga mawar dan berlutut di depan Dokter Zena.


"Aku tahu aku bukanlah laki-laki yang kau cintai tapi aku adalah laki-laki yang mencintaimu dengan tulus, aku sangat mencintaimu dokter Anggita Azena sejak pertama kali melihatmu, apa kau mau menerimaku?" Tanya Aldwin penuh harap. Ia berharap Dokter Zena juga mencintainya.


Degggggg.....


Jantung Zena berdetak tak beraturan. Ia sungguh tidak percaya dengan ucapan Aldwin yang menyatakan perasaanya dengan begitu cepat.


"Kakak, apa yang kakak lakukan?" Tanyanya dengan raut wajah bingung.


"Aku tidak akan memaksamu, aku tahu ini begitu cepat." Ucap Aldwin dengan wajah pias.


"Bukan begitu maksudku kak, aku hanya tidak menyangka secepat ini kakak menyukaiku dan menyatakan kakak mencintaiku."


"Aku sudah menyukaimu sejak pertama melihatmu, Kau mungkin tidak percaya dengan apa yang aku katakan, Tapi percayalah jika aku sangat mencintaimu, kau berhak memutuskannya, Aku akan menerima apa pun keputusanmu. " Ucapnya lagi.


"Aku--- ."


Dokter Zena masih ragu dengan perasaanya sendiri. Hatinya bahagia berada di dekat Aldwin dan Ia juga merasa sangat nyaman berada di dekatnya.


Apa aku memang mencintainya? aku tidak ingin merasakan kehilangan lagi. Batinnya.


Dokter Zena mengulurkan tangannya untuk mengambil buket bunga mawar yang Aldwin berikan. Ia sudah membuka hatinya untuk menerima laki-laki lain yang mencintainya. Ia juga ingin merasakan kebahagiaan.


"Aku juga mencintai kakak." Ucap Dokter Zena sedikit berbisik.


Aldwin segera memeluk erat dokter Zena.


"Terima kasih sudah menerimaku, aku akan membuatmu bahagia, mengganti air matamu dengan kebahagian, mulai saat ini kau sudah resmi menjadi kekasihku dokter Anggita."


"Aku sangat bahagai kak." Ucap dokter Zena. Aldwin memeluknya sambil berputar-putar. Sungguh malam ini Ia sangat bahagia.


Aldwin memasangkan cincin di jari manis Zena dan mencium punggung tangannya. Dokter Zena menatapnya dengan penuh cinta. Sungguh Aldwin adalah laki-Laki yang baik dan sangat penuh perhatian. Ia juga tipe laki-laki yang setia.


"I love you sayang." Ucap Aldwin mesra.


"I love you too kak."


Mereka kembali berpelukan ditemani dengan bintang-bintang dilangit. Malam yang sangat indah untuk dua manusia yang baru saja resmi menjadi sepasang kekasih. Aldwin kembali merasakan indahnya jatuh cinta untuk kedua kalinya.


Bersaambungggg.....

__ADS_1


__ADS_2