
Kebahagian begitu terasa bagi Ana. pertemuan dengan bu Ella dapat menghilangkan perasaan sedih di hatinya. Ibu dan Anak itu masih saling memeluk memberi kekuatan dan melepaskan rindu.
"Aku ingin mengajak ibu tinggal di apartemenku, aku tidak ingin laki-laki itu membuat ibu menderita, apa Nico sudah memaksa ibu untuk menemuiku di Negara ini." Tanya Ana.
Ia curiga bahwa Nico sengaja membawa bu Ella menemuinya agar Ana mau memaafkan Nico.
"Tuan Nico tidak memaksa ibu, dia hanya ingin agar ibu bertemu denganmu, ibu begitu merindukanmu Nak."Jawab bu Ella.
"Aku tidak ingin tinggal di Villa ini bu, sebaiknya kita pergi dari tempat ini, kita bisa tinggal di apartemen Ana."
Bu Ella mengangguk menyetujui keinginan Ana. Bagi Ana saat ini yang terpenting adalah melindungi dirinya dan ibunya dari Nico yang bisa saja berbuat kejam kembali kepadanya.
"Maaf, kami tidak mengizinkan nona keluar dari Villa ini, tuan Nico memerintahkan kami untuk mengawasi nona." Ucap salah satu pengawal yang berdiri di depan pintu Villa megah itu.
"Aku tidak peduli, minggir kalian jangan menghalangiku." Ana dan bu Ella berjalan meninggalkan Villa itu tapi langkahnya dicegat oleh anak buah Nico.
"Kami tidak akan mengizinkan nona keluar dari Villa ini."
"Hufffff."
Ana menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Tuan.. nona Ana dan ibunya memaksa untuk meninggalkan Villa, apa yang harus kami lakukan." Ucap salah satu anak buah yang bertugas mengawasi Ana dan ibunya di Villa melalui sambungan telefon dengan Nico.
"Biarkan mereka pergi, jangan mencegahnya." Jawab Nico.
"Baik tuan."
Nico menutup sambungan telefon begitu saja.
Kali ini ia tidak bisa memaksa dan mengatur hidup Ana. Ia tidak ingin Ana semakin membencinya.
"Nona bisa pergi, tuan Nico sudah membebaskan Nona, kami akan mengantar Nona."
"Tidak perlu, saya bisa naik taksi." Ucap Ana dan berlalu meninggalkan Villa bersama ibunya.
Dengan Naik taksi Ana dan bu Ella sampai di apartemennya.
"Mewah sekali apartemenmu Nak, apa apartemen ini milikmu." Tanya bu Ella saat berada di dalam apartemen putrinya.
Ana terlihat diam belum menjawab pertanyaan bu Ella.
"Apartemen ini milik Aldwin bu, selama ini dia yang sudah menolong dan membantu Ana selama berada di negara ini, tapi sekarang Aldwin....." Ana menghentikan ucapannya. Matanya berkaca-kaca dan sesaat kemudian air matanya luruh.
Bu Ella yang melihat putrinya menangis memeluk dan mengusap punggungnya.
"Katakan apa yang sudah terjadi Nak, Ibu akan selalu ada dan membantumu, Tenanglah dan bicara pelan-pelan." Bu Ella mencoba menenangkan Ana agar ia mau menceritakan apa yang terjadi selama ini.
Ana menceritakan semua yang terjadi kepada ibunya. Hatinya sakit mengingat semua peristiwa menyakitkan yang terjadi hingga ia harus berpisah jauh dari Aldwin.
Bu Ella hanya bisa diam dan mendengar cerita Ana. Air matanya juga tak bisa ia bendung dan berhasil lolos begitu saja.
"Kau sudah begitu banyak menderita Nak. Sudah saatnya kau bahagia. Maafkan ibu tidak bisa melindungimu dan menjagamu Nak." Ucap bu Ella lembut memeluk dan mengusap rambut putrinya.
"Aku ingin kembali ke Indonesia bu, aku ingin melupakan semua kenangan buruk di negara ini. aku ingin memulai hidup yang lebih baik di sana bu." Ucap Ana dengan air mata yang masih mengalir di pelupuk matanya.
"Ibu selalu mendukungmu Nak apa pun keputusanmu." Bu Ella menggenggam tangan Ana dan merangkulnya agar Ana tidak bersedih lagi.
*****
Pagi hari menjelang sinar surya menampakkan cahayanya di langit kota London. Ana yang baru bangun dari tidur yang tidak nyenyak karena beban pikirannya. Ia sedang menikmati coklat panas kesukaannya di balkom apartemen menatap langit cerah dan bangunan yang menjulang tinggi.
Terlihat beberapa koper berjajar rapi di dinding kamarnya. Ana sudah mengemasi semua barangnya dan bersiap untuk kembali ke negara tercintanya.
"Aldwin aku harap suatu saat nanti kita akan kembali bertemu, aku merindukanmu dan semua kenanganmu di negara Ini. Jika kau ditakdirkan untukku maka Tuhan akan mempertemukan kita kembali dengan cara yang lebih indah. Aku mencintaimu Aldwin selamanya." Ana menatap langit berharap tuhan mengabulkan setiap keinginannya. Banyangan wajah Aldwin terlintas di benaknya.
"Apa kau yakin akan meninggalkan Negara ini." Tanya bu Ella saat melihat wajah putrinya yang terlihat ragu.
"Aku yakin, ini adalah pilihan yang terbaik untuk Ana bu." Ucapnya dengan yakin.
Waktu menunjukkan pukul 09:00 di Negara London. Ana sudah memesan tiket untuk keberangkatan pagi ini. Ana dan bu Ella sudah bersiap menuju bandara London Southend.
Dengan naik taksi Ana dan bu Ella akhirnya sampai di bandara tersebut. Setengah jam lagi Ana dan bu Ella akan berangkat menuju Jakarta.
"Tuan sepertinya nona Ana dan ibunya akan meninggalkan negara London. Saat ini nona Ana sedang berada di bandara, apa yang harus kami lakukan tuan?" Ucap suara dari seberang telefon menyampaikan informasi kepada tuannya.
"Jangan biarkan mereka pergi, lakukan apa pun untuk mencegah mereka meninggalkan Negara ini." Perintah Nico.
__ADS_1
"Baik tuan."
Tuttttt...
Nico memutuskan sambungan telefon begitu saja.
Anak buah Nico mengikuti Ana ke bandara. sementara itu Ana dan bu Ella baru saja tiba di bandara dan bersiap untuk masuk menuju pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas.
"Nona harus ikut dengan kami, ini perintah dari tuan Nico."
"Apa yang kalian lakukan, biarkan kami pergi, jangan menghalangiku." Ucap Ana.
Anak buah Nico memaksa Ana dan bu Ella masuk ke dalam mobil mereka. Sementara yang lainnya membawa barang Ana dan bu Ella.
"Lepaskan....., aku bilang lepaskan aku."
"Sebaiknya nona diam dan jangan banyak bicara."
"Hufffff." Ana kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Menghadapi Nico tidak lah muda. Ia benar-benar lelah dengan sikap Nico yang selalu mengurusi hidupnya. Ana ingin pergi jauh agar Nico tidak bisa menemuinya. Kalau saja Ana bisa ia ingin menghilang dan pergi ke ujung dunia agar Nico tidak bisa menemukannya.
Mobil yang membawa Ana dan bu Ella tiba di mansion megah milik Nico yang berada di pusat kota London.
"Mari nona silahkan ikut dengan kami, tuan Nico sudah menunggu nona." Anak buak Nico membuka pintu mobil untuk Ana. Mau tidak mau Ana dan bu Ella mengikuti anak buah Nico.
"Tuan saya sudah membawa nona Ana." Lapor anak buah Nico.
"Kau boleh pergi."
"Baik tuan."
Anak buah Nico meninggalkan Ana dan ibunya di ruangan kerja Nico. Terlihat Nico sedang duduk di kursi kebesarannya tengah menatap leptop miliknya. Seperti ia sedang bekerja. Aldo hanya diam dan menatap tajam ke arah Ana dan ibunya.
"Apa lagi yang kau inginkan tuan Nico?" Tanya Ana.
Nico berdiri dan menghampiri Ana. Menatap lekat wajah Ana. Bu Ella hanya diam melihat putrinya dan Nico saling menatap dengan tatapan tajam.
Ana semakin kesal dengan sikap Nico yang seenaknya saja mengatur hidupnya.
"Apa kau mau kabur lagi Ariana, aku tidak akan membiarkanmu kabur lagi dariku. Katakan kalian akan pergi ke mana." Tanya Nico.
"Aku tidak akan membiarkan kalian meninggalkan negara ini tanpa izin dariku, aku akan membawa kalian pergi dari negara ini bersamaku."
"Kau pikir aku dan ibu akan ikut bersamamu, kau sudah membuatku dan ibu menderita selama ini. Jangan harap aku akan memafkanmu dan mempercayai kata-katamu tuan Nico."
"Aku minta maaf dengan perbuatanku selama ini kepada kalian. Percayalah aku benar-benar menyesal dan ingin memperbaiki kesalahanku." Ucap Nico dengan lembut.
"Aku akan memaafkanmu tuan, tapi dengan satu syarat."
"Katakan apa yang kau inginkan, aku akan memenuhi semua keinginanmu."
"Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat menghilanglah dari kehidupanku tuan Nico Alexander. Jangan pernah menemuiku lagi. Anggap saja ini pertemuan kita yang terakhir. Aku mohon jangan mengusik hidupku lagi. Mengenalmu membuat hidupku menderita, biarkan aku dan ibu bahagia. Aku akan memafkan semua perbuatanmu kepadaku dan juga ibu. Aku akan melupakan semua yang tuan lakukan dulu. Berjanjilah bahwa tuan tidak akan menggangguku lagi dan membiarkan aku dan ibu bebas.
Degggg.....
Jantung Nico berpacu dengan kencang mendengar permintaan Ana. Bagi Nico permintaan Ana begitu berat. Bagaimana mungkin ia menjauhi Ana wanita yang dicintainya.
"Apa tuan bersedia mengikuti syarat yang aku katakan?" Tanya Ana.
Nico, Aldo dan Bu Ella hanya diam mendengar permintaan Ana. Nico begitu ingin mendapatkan maaf dari Ana tapi ia juga tidak bisa memenuhi permintaan Ana yang begitu sulit baginya.
"Huuffff." Nico menghembuskn nafasnya denggan kasar.
Setelah memikirkan permintaan Ana akhirnya Nico setuju dengan keinginan Ana.
"Aku akan membiarakanmu pergi dari hidupku Ana, Aku ingin melihatmu bahagia dan jika kau bahagia dengan tidak melihatku, aku akan memenuhi semua permintaanmu, mulai saat ini aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi, kau dan ibumu sudah bebas. Pergi lah jika kalian ingin pergi aku tidak akan menghalangimu lagi. Maafkan aku." Terlihat raut wajah sedih dan kecewa dari wajah Nico.
"Aku dan ibu sudah memaafkanmu tuan Nico, Semoga kau bisa bahagia, Terima kasih sudah melepaskan kami." Ana menundukkan kepala memberi hormat untuk Nico dan berlalu meninggalkan mansion Nico untuk kembali ke bandara. Bu Ella hanya mengikuti Ana meninggalkan mansion Nico.
"Tunggu Ana." Nico menghentikan langkah kaki Ana yang ingin meninggalkan mansionnya.
Ana berbalik saat Nico memanggilnya.
"Ada apa lagi tuan?" Tanya Ana.
"Ambillah, kau berhak untuk ini, aku tidak akan mengganggumu lagi. Terima lah pemberian terakhirku untuk kalian." Nico memberikan semua map berwarna coklat yang berisi beberapa dokumen di dalamnya. Ana menerima pemberian Nico walau ia terlihat bingung dan mengeryitkan alisnya.
__ADS_1
"Bukalah!" perintah Nico.
Saat Ana membuka map pemberian Nico jantungnya berdetak kencang dan matanya berkaca-kaca. Ada perasaan bahagia saat mengetahui bahwa dokumen yang ada ditangannya adalah sertifikat rumahnya yang telah ia gadaikan.
Bu Ella yang melihat putrinya diam saja. mengambil dokumen yang ada di tangan Ana dan melihatnya.
"Nak, apa ini benar sertifikat rumah kita, Terima kasih tuan sudah menebus sertifikat rumah kami." Ucap Bu Ella dengan seyum bahagia.
Rumah yang penuh kenangan dengan suaminya bisa kembali ia tempati. Bu Ella begitu bersyukur dan merasa bahagia.
"Nak kita akan kembali ke rumah ayahmu, rumah yang penuh dengan kenangan indah. ibu begitu bahagia sayang." Ucap bu Ella.
Ana hanya mengangguk ia masih tidak percaya bahwa Nico telah membantunya dengan mengembalikan hal yang hilang dalam dirinya. Kenangan dengan Ayahnya ada di dalam rumah itu. Ana begitu bahagia.
"Mulai saat ini kalian bisa kembali ke rumah kalian yang dulu. Mereka tidak akan mengganggu kalian lagi aku sudah membayar hutang kalian. Aku mohon terima bantuan terakhirku untuk kalian. Anggaplah hadiah ini sebagai penebus kesalahanku kepada ibu dan juga Ana."
Flashback On
Saat Nico kembali ke Indonesia untuk mencari tahu tentang kebenaran peristiwa 20 tahun lalu. Nico mengetahui informasi tentang apa yang terjadi kepada keluarga Bagaskara Wijaya. Saat itu Nico datang ke rumah Bagaskara namun ia mengetahui bahwa rumah itu bukan lagi milik keluarga Bagaskara. Ana sudah menggadaikan sertifikat rumah itu untuk biaya operasi ayahnya karena Ana belum punya uang ia belum menebus sertifikat rumahnya dan saat ini rumahnya sudah disita. Ana bahkan takut untuk kembali ke rumahnya yang dulu karena para rentenir terus mengejarnya karena Ana belum melunasi hutangnya sebanyak 500 juta dengan bunganya.
"Kau urus masalah rumah dan juga masalah hutang keluarga Bagaskara. Selesaikan semuanya hari ini juga." Perintah Nico kepada Aldo aistennya.
"Baik tuan." Jawab Aldo.
"Apa tuan akan mengunjungi makam pak Bagaskara" Tanya Aldo.
"Hemmmm."
Mobil Nico menuju TPU dimana Bagaskara di makamkan.
Saat ini Nico tengah berdiri di depan makam Bagaskara menatap nanar Nisan yang bertuliskan nama Bagaskara Wijaya.
"Maafkan aku paman, aku baru bisa mengunjungimu saat ini, Terima kasih sudah menolongku malam itu, maafkan aku sudah menuduh paman dan membuat putri paman menderita, aku menyesal dan berjanji akan membuat ibu dan Ana bahagia. Tenanglah di sana pamam." Ucap Nico dengan mata berkaca-kaca.
Aldo hanya berdiri dari jauh menetap Nico yang tengah berbicara dengan makam Bagaskara. Ini kedua kalinya Aldo melihat tuannya begitu sedih. Sama sedihnya ketika mengunjungi makam orang tuanya.
Seelah mengunjungi makam Bagaskara dan menyelesaikan masalah yang terjadi Nico memutuskan untuk kembali ke London dan bertekad untuk menebus kesalahannya kepada istri dan putri Bagaskara Wijaya.
Flashback Off
Saat ini Ana menatap Nico dengan tatapan lembut. Kemarahan yang ada di hatinya sedikit mereda. Ia bisa melihat ketulusan dan rasa menyesal di mata Nico. Namun, Ana tetap tidak ingin berurusan lagi dengan Nico. Baginya Nico tetaplah laki-laki yang bisa saja berbuat kejam lagi kepadanya dan ibunya.
"Terima kasih atas bantuan tuan, aku dan ibu akan menerimanya, aku sudah memafkan tuan dan melupakan peristiwa yang dulu, aku harap tuan hidup bahagia." Ucap Ana berusaha menahan air mata yang akan jatuh di pelupuk matanya.
"Ana.. Ibu ... hiduplah dengan baik, Jika kalian membutuhkan bantuanku aku akan selalu membantu kalian, Sekali lagi Terima kasih sudah mau memaafkanku dan maaf untuk semua penderitaan yang aku berikan kepada kalian.." Ucap Nico dengan lembut.
Ana dan ibunya menerima bantuan Nico kali ini. Ana ingat pesan dari ayahnya agar memaafkan orang yang menyakitinya walau itu berat tapi kali ini Ana mencoba ikhlas dan melupakan semua yang dulu. Ia sudah melupakan masa lalunya yang begitu menyakitkan.
"Apa aku boleh memeluk ibu?" Tanya Nico.
Entah mengapa Nico tidak rela berpisah dari Ana dan bu Ella yang sebentar lagi akan meninggalkannya.
Bu Ella memeluk Nico untuk terakhir kalinya. Nico merasa pelukan bu Ella sama seperti pelukan ibunya yang begitu ia rindukan. Hatinya kesepian selama ini tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua.
"Ibu harap tuan bahagia dan jaga kesehatan tuan, maafkan kami juga tuan, Terima kasih sudah membantu kami." Ucap bu Ella lembut.
Bu Ella wanita yang begitu baik. Ia selalu memafkan orang yang menyakitinya. Bagi bu Ella tidak ada manusia yang sempurna semua manusia pasti melakukan kesalahan dan ia sudah memaafkan Nico karena laki-laki itu sudah meminta maaf dam menyesali perbuatannya.
"Ana Maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi, semoga kalian bahagia." Ucap Nico.
"Aku sudah memaafkanmu tuan, dendam tidak akan menyelesaikan semuanya. Dendam hanya akan membuat kita kehilangan segalanya. Aku memang membenci tuan. Tapi aku tidak ingin hatiku sakit dengan menyimpan dendam untuk tuan. Aku harap tuan benar-banar berubah dan menyesali semuanya." Ucap Ana bijak.
Ana dan bu Ella akhirnya meninggalkan mansion megah Nico. Ia merasa bersyukur masalahnya dengan Nico sudah selesai dan ia tidak perlu berurusan lagi dengan Nico. Hidupnya akan lebih tenang dan Ana sudah siap membuka lembaran baru di negaranya tercinta.
Nico memandang punggung Ana yang semakin menjauh.
"Apa benar tuan akan melepaskan nona Ana." Tanya Aldo.
"Aku tidak bisa memaksanya, saat ini yang terpenting adalah Ana mau memaafkanku. Itu sudah lebih dari cukup. Aku akan menjaganya secara diam-diam. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, aku begitu mencintainya dan tidak akan membiarkannya pergi jauh dari hidupku." Jawab Nico.
"Pastikan mereka bebar-benar kembali ke Indonesia, tetap awasi mereka dan jangan sampai Ana mengetahuinya. Aku tidak ingin terjadi hal buruk dengan Ana dan bu Ella." Perintah Nico kepada Aldo.
"Baik Tuan."
"Aku akan menjagamu Ana dengan caraku sendiri." Batin Nico.
Bersambung.....
__ADS_1
Like, Vote dan Komentar.
šš