
Malam yang mencekam. Kilatan cahaya petir menghiasa malam itu. Suaranya terdengar membengkakan telinga. Hujan turun dengan derasnya menambah suasana dingin dan semakin menegangkan. Tanpa rasa takut, Rea dan Aldo menyusuri gelapnya malam di tengah hutan yang lebat demi menyelamatkan diri mereka dari kejaran para penjahat yang ingin menangkapnya.
Dengan tubuh lemah dan langkah kaki yang tertatih-tatih karena luka di kaki kiri Aldo membuat Ia tidak bisa berlari dengan kencang. Rea membantu Aldo untuk berjalan dengan memapah tubuhnya. Walau begitu lelah Rea tetap berusaha memberi semangat untuk Aldo.
"Kita harus segera keluar dari tempat ini, penjahat itu akan menangkap kita dan membunuh kita malam ini." Ucap Rea dengan nafas ngos-ngosan karena begitu lelah.
Gugggg.... Gugggg.....
Suara anjing Haider terdengar menggema mengisi kesunyian malam itu. Para penjahat sudah berpencar untuk menangkap Aldo dan Rea dengan membawa Anjing yang akan melacak keberadaan mereka.
"Kita harus bersembunyi sayang." Aldo menemukan sebuah rumah tak berpenghuni lebih tepatnya sebuah gubuk kayu.
"Aku benar-benar lelah Al." Rea berusaha menyeret langkah kakinya yang terasa begitu berat. Mereka bersandar di pohon besar untuk beristirahat sejenak memulihkan tenaga.
Guggggg.....
Suara Anjing terdengar semakin medekat ke arah mereka. " Kita harus pergi secepatnya dari tempat ini Al Hikkksssss..." Rea tak mampu lagi membendung air matanya. Katakutannya sudah memenuhi hati dan pikirannya. Ia takut malam ini penjahat itu akan membunuhnya juga Aldo.
"Aku takut Al." Lirih Rea.
"Tenanglah sayang, selama ada kau tidak akan terjadi hal buruk, aku akan melindungimu." Aldo memeluk Rea dengan erat memberi kekuatan dan menenangkannya dengan mengusap pelan pucuk kepala kekasihnya itu.
"Kau dengarkan aku hemmm." Aldo menangkup wajah Rea agar menatapnya.
"Pergilah! Selamatkan dirimu, Tidak perlu menghawatirkan aku." Ucap Aldo yang membuat Rea semakin menitikkan air matanya.
Rea menggeleng pelan dan berkata dengan lirih. "Aku tidak akan meninggalkanmu Al, kau harus selamat, ak-aku tidak akan membiarkan penjahat itu menangkapmu." Lirih Rea.
"Kita tidak punya waktu lagi, pergilah sayang!"
Rea tetap pada bersikeras untuk tidak meninggalkan Aldo. Apa pun yang terjadi nanti Ia sudah pasrah dan jika memang takdirnya harus mati malam ini bersama dengan Aldo maka Ia sudah pasrah
"Kami belum menemukan mereka bos." Ucap salah satu penjahat itu.
"Siallll, bos besar akan memenggal kepala kita jika sampai dua orang itu berhasil kabur dari tempat ini."
"Mereka tidak akan lolos dengan mudah."
"Cepat cari mereka, ingat jangan menembaknya biarkan mereka tetap hidup." Perintah bos penjahat itu.
Mereka kembali menyusuri hutan semakin memasuki kawasana hutan lebat itu.
Rea dan Aldo sudah berada di sebuah rumah tua. Rumah yang terlihat seperti tempat berburu binatang buas. Di dalam rumah itu terlihat berbagai benda-benda tajam dan berbahaya yang digunakan oleh para pemburu. Mereka saling berpelukan memberi kekuatan pada diri masing-masing. Hujan yang lebat masih belum reda. Suara petir saling sahut-sahutan. Rea dan Aldo bersembunyi di balik pintu. "Kita akan aman di sini." Aldo berusaha menenangkan Rea yang terlihat sangat ketakutan.
"Aku takut Al." Lirih Rea.
Para penjahat itu belum juga meyerah untuk mencari dan menangkap Mereka.
Sementara itu, Nico dan Aldwin tanpa menunda lagi. Malam ini mereka berdua ditemani anak buah yang jumlahnya sangat banyak segera menuju ke markas para penjahat itu untuk menyelamatkan Rea dan Aldo.
Aldwin dan Nico sudah tiba di markas para penjahat itu. Segera saja mereka menyerang para penjahat itu.
__ADS_1
Doooorrrrr......
Dooorrr.....
Suara tembakan terdengar menggema bersamaan denga suara gemuruh petir yang semakin menambah situasi mencekam malam itu.
Nico segera saja mencari keberadaan Rea dan Aldo. Namun, Ia tidak menemukan keberadaan mereka.
"Katakan, di mana kalian membawa Aldo dan Rea hah." Bentak Nico kepada salah satu anak buah yang wajahnya sudah babak belur tak berbentuk itu.
"Ka-kau tidak akan menemukannya, mereka sudah lenyap."
"Kurang ajar."
Bugggg.....
Aldwin melepaskan pukulan di wajah penjahat itu menggunakan senjata yanga ada di tangannya membuat penjahat itu ambruk tak sadarkan diri.
"Aku yakin mereka belum mati, kita harus mencarinya di dalam hutan, sepertinya mereka berhasil lolos." Ucap Aldwin.
"Semoga saja kau benar."
Baru saja keduanya akan keluar dari markas penjahat itu tiba-tiba saja...
Ckreettt...
Beberapa penjahat itu menodongkan senjata tepat di depan Nico dan Aldwin.
"Akhirnya kita bertemu juga Tuan Nico." Ucap Tuan Smith yang baru saja tiba di markasnya.
"Lepasakan aku." Rea dan Aldo juga berada di tangan penjahat itu.
Penjahat itu menodongakn senjata tapat di kepala Aldo begitu juga dengan Rea.
"Kalian semua akan mati ditanganku malam ini, hahhahahhaha." Suara tawa tuan Smith menggema di ruangan itu mencekam itu.
"Turunkan senjata kalian, atau kepala dua orang ini akan aku ledakkan." Perintah tuan Smith kepada Aldo dan juga Nico.
Buggggg......
Tendakan kuat mengenai perut Nico membuatnya tersungkur jatuh ke lantai.
"Kematian putriku akan segera terbalaskan." Ucap Smith.
Buggggg.....
Smith kembali melayangkan tendangan kuatnya mengenai perut Aldwin membuatnya meringis dan jatuh tersungkur ke lantai.
Aldwin dan Nico saling tatap dan tersenyum smirik. Mereka sudah menyusun rencana untuk menyelamatkan diri mereka dari para penjahat itu.
Beberapa anak buah Nico mengepung mereka dari arah belakang dan melemparkan gas beracun. Membuat suasana panik dan para penjagat itu berlari ingin menyelamatkan diri mereka.
__ADS_1
Uhuuuukkkk... Uhuukkkkk....
Dooorrrr.... Para anak buah Nico yang mengenakan masker khusus untuk melindungi diri dari gas beracun segera masuk ke dalam markas melumpuhkan anak buah Smith.
Dooorrr...
Doorrrrr...
"Jangan mendekat atau aku akan membunuhnya." Smith membawa Rea dan menodongkan senjata di kepalanya sambil berjalan mundur dan keluar dari markasnya begitu juga dengan Aldo yang sudah berada di tangan penjahat itu.
Rea menatap wajah Aldo dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Nico menatap Rea berusaha menenangkannya agar tidak panik. Nico menurunkan senjata ditanganya tanda Ia menyerah demi menyelamatkan nyawanya Rea.
Doooorrrrrrr......
"Arrrrrggggg." Peluru menembus lengan Nico.
Di saat yang bersamaan Aldwin melepaskan tembakan dan tepat mengenai lengan Smith dan.
"Arrrrggggggg.. Siaaallllll."
Rea segera saja melepaskan diri dan berlari ke arah Nico.
Aldo yang melihat hal itu, langsung saja Ia menyiku perut dan berhasil memelintir tangan penjahat itu membuat senjata di tangannya terjatuh dan...
Doooorrrrr....
Aldwin menembak penjahat itu tepat di bagian kepala dan membuat penjahat itu mati seketika.
Smith yang melihat semua anak buahnya suah tumbah ingin kabur dan menyelamatkan dirinya.
"Jangan biarkan dia lolos." Perintah Nico kepada anak buahnya.
Aldin segera melepaskan tembakannya dan mengenai kaki Smith membuatnya jatuh tersungkur di tanah.
Doooorrrrrr...
Di saat yang bersamaan Smith menembak Aldo dan hampir saja mengenai perutnya beruntung Aldwin segera mendorong tubuh Aldo sehingga Ia terkena tembakan pada lengan kirinya.
Nico yang melihat kejadian itu, segera saja melepaskan tembakan dan mengenai kepala Smith membuatnya mati seketika.
"Kau dan putrimu pantas untuk mati." Ucap Nico menatap Smith bersimbah darah yang sudah meregang nyawa.
Sampai kapan pun tidak akan ada yang bisa mengalahkan Nico seorang mafia yang terkenal kejam dan tak akan memberi ampun kepada siapa saja yang sudah berani mencari masalah dan mengusik keluarganya.
Kali ini kemenangan berpihak kepada Nico dan Aldwin. Ia berhasil melenyapkan musuh yang selama ini Ia cari. Walau Nico dan Aldwin terkena tembakan, mereka masih beruntung karena nyawa mereka masih bisa tertolong.
Bersambunggggg.....
Sementar lagi novel Author akan tamat.
maaafin Author yang jarang up.
__ADS_1