Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 50 : Sah Menjadi Pasutri


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang dinantikan oleh Ana dan juga Nico. Hari di mana keduanya akan mengucapkan janji untuk hidup bersama dalam sebuah ikatan yang namanya pernikahan.


Pernikahan yang akan diadakan di rumah Ana dengan hanya dihadiri oleh keluarga terdekat ke dua mempelai. Ana memang sudah memutuskan untuk menikah secara sederhana dan tertutup. Tidak akan ada resepsi pernikahan karena keduanya sudah sepakat untuk tidak mengumumkan pernikahan mereka. Entah apa alasan Ana ingin pernikahan yang sederhana dan tertutup.


Ana menatap wajahnya dibalik pantulan cermin. Ia terlihat begitu cantik, anggun, dan menawan dengan gaun pengantin pilihannya. Ingatannya kembali ke memori 2 tahun lalu saat ia dan Aldwin akan menikah. Ana tidak pernah membayangkan akan mengenakan gaun penganti lagi setelah dulu ia tidak jadi menikah dan begitu trauma dengan pernikahan.


Entah perasaan apa yang Ana rasakan bahagia, takut, dan trauman masih bercampur menjadi satu di hati Ana. Ia takut kali ini pernikahannya gagal lagi seperti dulu.


Bu Ella masuk ke dalam kamar Ana memastikan bahwa Ana sudah bersiap dan baik-baik saja. Ia tahu di hati putrinya masih ada keraguan tentang pernikahan yang sebentar lagi akan terjadi.


"Anak ibu cantik sekali, Jangan sedih Nak, ibu tahu perasaanmu, kau akan bahagia dengan pernikahannmu, Ayahmu pasti akan bahagia di sana melihat putrinya akan menikah, percayalah Nak! Nico akan menjaga dan mencintaimu, Cobalah untuk membuka hatimu untuknya. Maafkanlah dia dan lupakan mengenai masa lalu yang terjadi" Ucap bu Ella meyakinkan Ana dengan menggenggam tangan putrinya.


"Terima kasih bu, Maafkan Aku bu selama ini sudah membuat ibu susah, aku sayang dengan ibu." Ana memeluk ibunya erat.


"Ibu juga sayang denganmu Nak, Sekarang bersiaplah sebentar lagi calon suamimu akan tiba." Ucap bu Ella lembut.


Ana mengangguk dan kembali menatap dirinya di balik pantualn cermin. Polesan make up semakin menambah kecantikan alami di wajah Ana. Ia tersenyum dan meyakinkan dirinya bahwa apa pun yang terjadi semua sudah menjadi takdirnya.


*****


Sementara itu di mansion keluarga Alexander. Nico sudah siap dengan balutan jaz berwarna putih. Ia menatap dirinya di balik kaca. "Sempurna." Batinnya.


Raut wajah bahagia terliahat jelas di wajahnya. Hari ini adalah hari yang Nico nanti-nantikan. Hari dimana ia akan memiliki Ana seutuhnya dan mengikat wanita itu selamanya.


Aldo membantu tuannya untuk bersiap karena sebentar lagi mereka akan segera berangkat ke rumah Ana.


"Tuan terlihat begitu tampan dan sempurna, Nona Ana akan jatuh cinta saat melihat tuan." Ucap Aldo.


"Hemmmm." Senyum terukir di bibir Nico.


Membayangkan Ana akan mencintainya membuat Nico semakin bahagia.


"Tuan besar dan Nyonya pasti akan bahagia di sana kerena sebentar lagi tuan akan menikah dengan wanita yang baik." Ucap Aldo lagi.


"Kau benar, Ayah dan ibu pasti merestui kami, Andai mereka masih hidup mereka akan begitu bahagia saat melihat putranya akan menikah." Lirih Nico wajahnya yang tadi bahagia seketika bersedih mengingat ke dua orang tuanya yang telah meninggal.


Siapa yang tidak akan bersedih saat menikah tapi ke dua orang tua tidak menemani di hari bahagia?


"Tuan jangan sedih, hari ini hari yang bahagia untuk tuan, Saya yakin Tuan besar dan Nyonya pasti bahagai di sana." Ucap Aldo berusaha menghibur tuannya.


"Terima kasih sudah setia denganku sejak dulu, Kau bukan hanya Asisten bagiku tapi lebih dari itu, kau tahu sejak dulu aku sudah menganggapmu sebagai adikku." Ucap Nico memukul pelan pundak asistennya sekaligus saudara bagi Nico.


Aldo adalah orang yang sangat setia dengan Nico. Tidak hanya sebagai asisten tetapi bagi Nico Aldo sudah seperti adiknya sendiri karena Nico anak tunggal dan sering merasa kesepian sejak kecil dan Aldo yang sudah menemani Nico dan tumbuh bersama keduanya memiliki hubungan yang begitu dekat menjaga dan melindungi satu sama lain.


Nico hanya mengajak Aldo, Dokter Zera dan juga beberapa kerabat terdekat yang akan mengantarnya. Ia tidak mengundang pamannya karena Nico tahu pamannya pasti akan mengagalkan pernikahannya dengan Ana. Ia sengaja tidak memberi tahu paman Reynad mengenai pernikahannya. Nico sudah membayangkan kemarahan dan kekecewaan Reynad karena Nico tidak mengundanganya di hari spesialnya.

__ADS_1


Waktu yang dinantikan pun tiba, Waktu untuk mengucapkan janji pernikahan. Nico sudah berada di dalam mobil mewahnya menuju ke rumah calon istrinya.


Ana juga sudah siap dan hanya menunggu kedatangan Nico calon suaminya.


Deggg.... Degggg.....


Jantung Ana berpacu kencang. Ia seperti kembali pada peristiwa masa lalunya. Peristiwa di mana ia menunggu kedatanga Aldwin yang tidak pernah datang di hari pernikannya. Peristiwa itu meninggalkan trauma tersendiri bagi Ana.


"Apa yang terjadi Nak?" Ibu Ella yang sejak tadi memperhatikan Ana yang terlihat gelisah dan cemas.


"Ana baik-baik saja bu." Ucap Ana lembut.


Bu Ella seperti paham dengan apa yang ditakutkan oleh putrinya.


"Tenanglah Nak! Nico sebentar lagi akan datang, dia tidak akan meninggalkanmu di hari pernikahan kalian." Ucap bu Ella memegang tangan putrinya berusaha menenangkan Ana yang terlihat begitu cemas.


"Tuhan, semoga semuanya berjalan lancar, aku lelah kalau harus gagal dengan pernikahanku kali ini, aku tidak ingin ibu sedih dan malu karenaku." Batin Ana.


Beberapa menit kemudian, Nico dan beberapa orang yang ikut mengantarnya sampai di rumah Ana. Nico turun dari mobil dengan disambut oleh bu Ella yang sudah menunggu calon menantunnya sejak tadi.


"Masuklah Nak, Ana sudah menunggumu." Ucap Bu Ella dengan terseyum bahagia. Bahagia karena sebentar lagi ia akan mempunyai menantu seperti Nico. Menurut bu Ella sikap Nico sudah banyak berubah. Di mata bu Ella Nico adalah sosok pria yang baik yang bisa menjadi imam yang baik bagi putrinya.


Nico masuk ke dalam rumah Ana dimana mereka akan mengucapkan janji suci di depan penghulu. Nico duduk menghadap bapak penghulu yang akan menikahkan mereka.


"Aku akan memanggilnya." Bu Ana segera masuk ke dalam kamar Ana dan memanggil putrinya.


Ana berjalan dengan didampingi bu Ella yang menggandeng tangan putrinya. Ana berjalan begitu anggun menuju tempat acara. Tatapan mata Nico tidak bisa lepas darinya. Ia terpesona dengan kecantikan wanita yang sebetar lagi akan menyandang status menjadi istrinya.


Jantung Nico sudah berdetak tak karuan. Perasaannya sudah campur aduk senang dan juga gugup.


"Aku yakin tuan pasti bisa, jangan gugup tuan." Ucap Aldo menenangkan tuannya yang terlihat gugup. Aldo sudah duduk di samping Nico. Ia akan menjadi saksi dari pernikahan tuannya. Pempilannya juga tak kalah jauh dari Nico. Setelah Jaz hitam yang pas di tubuhnya menambah ketampanannya.


Dengan satu tarikan nafas Nico mengucapkan Ijab Qabul dengan lantang dan tegas. Ia sudah sah di mata hukum maupun agama menjadi pasangan suami istri. Ana meneteskan Air matanya entah air mata bahagia atau air mata sedih hanya ia yang tahu.


Ana memasangkan cincin di jari manis Nico begitupun sebaliknya. Ana mencium tangan Nico yang sudah resmi menjadi suaminya.


Deggg.... Deggggg..... Deggggg....


Jantung Ana berdetak dan berpacu dengan kencang.


"Laki-laki ini sudah menjadi suamiku, apa aku bisa mencintainya? apa aku bisa menjadi istri yang baik untuknya? apakah aku bisa bahagia bersamanya." Batin Ana di penuhi ribuan pertanyaan.


"Selamat Nak akhirnya kalian menjadi suami istri, Jadilah istri yang baik buat suami, jangan membantahnya dan selalu menuruti ucapan suamimu. Dan Nak Nico jadilah imam yang baik untuk putri ibu, lindungi dan sayangi dia, jangan menyakiti hati istrimu, Ibu selalu mendoakan kebahagian kalian, Menjalani rumah tangga tidaklah muda akan banyak duri dan kerikil tajam yang akan kalian lalu. Percayalah dengan kekuatan cinta dan saling percaya kalian pasti akan melewati semuanya dengan mudah." Nasehat bu Ella untuk Ana dan Nico yang baru beberapa menit yang lalu resmi menjadi pasutri.


"Doakan kami bu agar kami bisa bahagia dan menjadi pasangan yang saling mencintai dan melindungi." Ucap Ana.

__ADS_1


"Ibu selalu memndoakan kalian." Ucap bu Ella dengan meneteskan air mata bahagia.


Bu Ella begitu bahagia akhirnya putri satu-satunya sudah menjadi seorang istri. Ia tidak akan takut lagi jika suatu saat Tuhan memanggilnya setidaknya ia bisa pergi dengan tenang melepaskan putrinya bersama laki-laki yang mencintainya.


"Selamat tuan dan nona Ana, Semoga tuan dan nona selalu bahagai." Ucap Aldo.


Ke duanya mendapatkan ucapan selamat dari beberapa keluarga dan rekan terdekat yang hadir menyaksikan pernikahan mereka.


"Kau sudah menjadi milikku seutuhnya Ana, kau tidak akan bisa lagi lari dariku, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, aku akan melindungimu dengan nyawaku, I Love You My Wife." Batin Nico.


Sampai saat ini Nico belum menyatakan perasaannya kepada Ana. Ia akan mengungkapkan perasaanya setelah pernikahan mereka. Nico ingin Ana mengetahui mengenai perasaanya dan tidak menganggap pernikahan mereka sebagai sebuah keterpaksaan terlepas dari keinginan orang tua mereka masing-masing.


"Aku berharap pernikahan ini akan membuatmu bahagia Ana." Ucap Nico berbisik pelan di telinga Istrinya.


"Apa kau bahagia dengan pernikahan ini." Tanya Ana kepada Nico.


"Tentu saja sayang, Aku bahagia dan kebahagian itu tidak bisa kau bayangkan, Terima kasih sudah mau menjadi istriku." Ucap Nico menggenggam tangan Ana dan mencium punggung tangan istrinya cukup lama.


"Apa kau bahagia Ana." Kali ini Nico bertanya dan ingin mengetahui isi hati istrinya.


Ana terdiam cukup lama. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Nico. Sampai saat ini ia belum mengetahui bagaimana sebenarnya perasaanya kepada Nico yang sudah menjadi suaminya.


"Kau tidak perlu menjawabnya Ana, aku tidak akan memaksamu, kau bisa mengatakannya saat kau yakin tentang perasaanmu, aku akan setia menunggumu." Ujar Nico.


"Terima kasih." Lirih Ana.


Ana tidak pernah membayangkan bahwa laki-laki yang akan hidup bersamanya dan menjadi suaminya adalah laki-laki yang dulu begitu dibencinya. Takdir seolah membawa Ana pada satu titik di mana ia tidak bisa memilih dan menghindar. Ana yang dulu mencintai Aldwin dan berharap bisa menikah dan membina keluarga kecil yang bahagia ternyata Tuhan tidak mengizinkan mereka bersama takdir sudah menentukan kehidupan setiap manusia.


Menjalani dan meneriama takdir itu dengan ikhlas adalah pilihan terbaik. Tidak ada manusia yang mampu melawan takdir sejauh dan sekeras apa pun kita berusaha pada akhirnya manusia memiliki takdirnya masing-masing. Percayakan semuanya kepada sang pemilik takdir itu. Berusaha dan pasrahkan hidupmu kepada Tuhan.


Semoga Saja mereka bisa merasakan kebahagian bersama hingga maut memisahkan.


Bersambung..


Author juga berharap semoga selalu bisa bahagia dan kalian juga bahagia yah..


Ada yang mau kasih ucapan selamat kepada Ana dan Nico yang baru saja menikah? Silahkan!!


Author minta maaf kalau novelnya ada yang salah ketik, alurnya kurang menarik. Saran dan komentar dari kalian selalu Author tunggu.


Mari saling menghargai.


Like, Vote dan Komentar kalian sangat Author butuhkan untuk mendukung dan memberi semangat buat author dalam berkarya.


šŸ™šŸ™

__ADS_1


__ADS_2