Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 64 : Jepang I’M Coming


__ADS_3

Setelah menyetujui permintaan Ana dan Nico, Di sinilah Rea dan Aldo. Mereka berempat sudah berada di jet pribadi milik Nico Alexander bersiap ke Negara Jepang. Rea dan Ana duduk berdua sambil mengobrol. Sementara Nico dan  Aldo sedang membahas masalah pekerjaan sebelum acara peresmian perusahaan di sana.


Perjalanan yang memakan beberapa jam membuat mereka merasa sedikit bosan. Kurang lebih 7 jam lamanya waktu yang mereka butuhkan untuk sampai ke Negara tujuan mereka.


Ana yang sedang hamil memilih untuk istirahat di kamar khusus yang ada di jet pribadi itu bersama suaminya. Ana harus banyak istirahat karena kondisinya yang tengah hamil menyebabkan Ia mudah lelah. Sementara Rea memilih duduk sambil menatap keluar jendela. Aldo yang duduk tidak jauh dari Rea hanya bisa tersenyum menatap gadis aneh itu.


“Apa kau merasa bosan Nona Rea?” Tanya Aldo mendekati Rea dan duduk di samping gadis itu.


“Hemmm iya, ini sedikit membosankan.” Jelas Rea.


Akhirnya Rea dan Aldo mengobrol bersama. Obrolan ke duanya juga begitu nyambung.


“Ternyata laki-laki ini cukup menyenangkan juga yah.” Batin Rea.


Ke duanya terlihat tertawa bersama dengan lepas. Rea tahu bahwa Aldo tidak lah sedingin seperti yang Ia pikir selama ini. Aldo ternyata mempunyai sisi humoris. Ke duanya duduk bersama sambil mengobrol untuk menghilangkan rasa bosan mereka.


“Apa kau juga berasal dari London?” Tanya Rea sedikit penasaran dengan sosok Aldo asisten yang selalu bersama Nico.


Ia penasaran dengan kehidupan seorang Aldo Zexander.


“Apa kau penasaran dan mulai tertarik denganku nona Rea?” Goda Aldo dengan senyum terangkat di sudut bibirnya.


“Percaya diri sekali anda tuan.” Jawab Rea.


“Baiklah karena kau penasaran dengan kehidupanku, aku akan menceritakan sedikit tentangku.”


Siapa juga yang tertarik denganmu? Kenapa Laki-laki ini begitu percaya diri, ahhhh.... kenapa juga perjalanan ini terasa sangat lama yah? Gerutu Rea dalam hatinya.


Aldo mulai bercerita tentang kehidupannya kepada Rea.


Rea yang duduk di sampingnya terlihat diam dan menyimak cerita Aldo.


“Aku lahir di Negara London, Keluarga besarku tinggal di sana, sejak kecil aku sudah ikut dengan Tuan William ayah dari tuan Nico. Aku dan tuan Nico tumbuh bersama. Tuan William begitu baik kepada ke dua orang tuaku karena itu aku sudah berjanji untuk setia dengan tuan Nico sampai kapan pun, Tuan William bahkan menyerahkan salah satu cabang perusahaannya yang ada di London untuk orang tuaku, karena itu aku sudah menganggap Nico tidak hanya sebagai tuanku saja tetapi lebih dari itu, Tuan Nico sudah aku anggap sebagai kakak dan juga seorang tuan yang selalu menjaga dan melindungi orang-orang yang Ia cintai dengan caranya sendiri.” Terang Aldo.


Rea yang mendengar penjelasan dari Aldo semakin tertarik dan penasaran dengan kehidupan Aldo. Karena penasaran Rea semakin ingin mengulik lebih jauh lagi tentang Aldo dan juga hubungan antara Ana dan  Nico. Saat ini Rea sudah beralih profesi dari seorang dokter menjadi wartawan dengan tingkat rasa penasaran di atas rata-rata untuk mencari informasi yang selama ini membuatnya dilanda rasa penasaran.


“Itu berarti kau dan Tuan Nico saling mengenal dengan baik, pasti di antara kalian tidak ada rahasiakan, kau pasti tahu alasan Ana dan Nico menikah, selama ini kau tahu apa yang terjadi dengan Ana dan tuanmu itu, apa kau tidak ingin menceritakan sedikit saja tuan Aldo.” Tanya Rea dengan wajah memelas. Matanya berkedip-kedip menunggu jawaban dari Aldo. Raut wajahnya Ia buat begitu menggemaskan sambil menatap wajah Aldo.


Kenapa wanita aneh ini jadi begitu menggemaskan. Batin Aldo.


Aldo menghela nafasnya dan berkata.


“Maaf nona Rea, saya tidak bisa mengatakan mengenai informasi yang bersifat pribadi yang menyangkut tuan Nico dan Nona Ana, kalau nona penasaran, silakan nona Rea bertanya langsung kepada Nona Ana, Aku rasa Nona Ana akan mengatakan alasannya.” Terang Aldo sudah mulai dengan mode dinginnya. Ia bahkan merubah cara berbicaranya dengan nada formal.   


“Kau ini yah, aku pikir kita sudah jadi teman dan tidak menutupi rahasia apa pun lagi, kau pelit sekali tuan, tadi sudah berbagi cerita tentang kehidupannya, apa salahnya menceritakan sedikit tentang tuannya itu?” Gumam Rea yang masih bisa di dengar oleh Aldo.


“Terlalu banyak tahu akan membuatmu cepat mati nona Rea.” Ucap Aldo sambil tersenyum penuh makna.


“Baiklah tuan Aldo, aku akan bertanya hal lain saja, apa kau pernah punya pacar? Aku rasa tidak ada wanita yang mau denganmu tuan, kau ini seperti kulkas berjalan dan sangat kaku, wanita jadi takut berada di sisimu, kau bisa membuatnya mati membeku. Hahahhahahahha....” Ucap Rea menghina Aldo. Rea bahkan tertawa terbahak-bahak saat membayangkan wanita yang akan jadi kekasih Aldo.

__ADS_1


“Apa kau yakin tidak ada wanita yang akan tertarik denganku? Bagaimana kalau kau tertarik dan takut kehilanganku nona Rea?” Ucap Aldo dengan penuh percaya diri, wajahnya begitu dekat dengan Rea. Wajah ke duanya hanya berjarak 3 Cm, Rea bahkan bisa merasakan deru nafas Aldo.


“Ap-apa yang kau lakukan?” Tanya Rea terbata-bata. Detak jantungnya sudah berpacu kencang membuat Rea memundurkan wajahnya dan membuat kepalanya membentur kursi jet itu


“Aku belum pernah jatuh cinta dengan wanita.” Ucap Aldo sudah menjauh dari wajah Rea.


Rea kembali membenarkan posisi duduknya.


Jantung Aldo sudah berdetak tak karuan  sejak tadi saat matanya melihat dengan jarak yang begitu dekat wajah Rea yang putih bersih itu. Aldo bahkan bisa mencium aroma mint dari rambut Rea.


“Peffftthh.” Rea mencoba menahan tawanya. Ingin rasanya Rea tertawa di depan Aldo saat mendengar apa yang dikatakannya. Namun, Ia menahan tawanya takut membuat Aldo tersinggung. Rea mengambil juz jeruk yang  ada di dekatnya dan meminumnya.


“Apa kau ingin menertawakan aku nona Rea, Kau bisa tertawa sesukamu, kau bahkan terlihat sangat cantik saat tertawa.” Puji Aldo.


“Uhuuuukkkkk.... Uhuuuukkkkk....” Rea terbatuk-batuk saat mendengar Aldo memujinya. Ia tersedak minuman yang baru saja masuk ke dalam tenggorokannya itu.


Aldo yang melihat Rea terbatuk-batuk menepuk punggungnya dan Ia memberikan segelas air putih miliknya. Sambil berkata.


“Kau selalu saja ceroboh, kau bisa minum dengan pelan, tidak ada yang akan mengambil minumanmu itu.” Ucap Aldo sambil terus menepuk-nepuk punggung Rea.


“Te-terima kasih, aku ingin istirahat saja di kamar, aku lelah dan mengantuk.” Ucap Rea gugup sambil berdiri dari kursinya. Ia memilih meninggalkan Aldo yang menurutnya Aneh itu.


"Benar-benar laki-laki aneh, kenapa jantungku berdetak kencang sih, ini pasti karena sikap aneh laki-laki itu, menyedihkan sekali hidupnya, Ia bahkan tidak pernah jatuh cinta, menyedihkan sekali hidup wanita yang akan menjadi istrinya itu ." Gumam Rea.


Ia memilih untuk menghabiskan waktu di kamar yang ada di jet pribadi itu. Sementara Aldo memilih duduk sambil menatap keluar jendela. Menatap awan putih yang terlihat indah.


Apa aku menerima perjodohan orang tuaku saja? aku juga penasaran seperti apa wanita yang dipilihkan oleh ayah, sepertinya aku bisa menemui wanita itu, tidak ada salahnya bertemu dengannya. Batin Aldo.


“Kenapa jantungku selalu saja berdetak tak karuan saat berdebat dan melihat tingkah aneh wanita itu, akhir-akhir ini kenapa aku memikirkannya.” Gumam Aldo sambil memegang dadanya memeriksa detak jantungnya.


Sejak Aldo mengantarkan Rea pulang ke apartemennya karena mobil Rea yang kehabisan bensin malam itu. Aldo jadi semakin gelisah dan mulai memikirkan tentang gadis aneh itu. Dulu saat Aldo bertemu Rea di Negara London hubungan ke duanya tidak pernah akur sampai saat ini. Namun, Aldo berharap setelah perjalanannya ke Jepang bersama gadis itu akan membuat hubungannya bisa sedikit akur. Ia juga lelah  selalu berdebat dengan Rea.


Sementara itu, di kamar lain yang ada di dalam jet mewah itu. Terjadi perdebatan kecil sepasang suami istri.


“Sayang apa kau tidak bisa berhenti menganggukku, aku ingin istirahat, kau membuatku pusing dan perutku mual mencium aroma tubuhmu itu.” Ucap Ana.


“Sayang aku benar-benar menginginkanmu.” Ucap Nico.


Cup... Cup... Cium pipi kiri dan kanan istrinya.


Nico sudah berbaring di paha Ana dan membenamkan  wajahnya ke perut istrinya itu. Uyel-uyel wajah ke perut Ana yang sedikit membuncit itu. “Sayang, kau harus sehat dan cepat bertemu ayah, jadi anak yang baik dan berani seperti ayahmu ini.” Ucap Nico membanggakan dirinya sendiri, Ia Seolah sednag berbicara dengan anaknya. Tangannya mengusap perut istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


“Sayang kau membuatku geli, hentikan yah dan kita istirahat, aku benar-benar lelah.” Ucap Ana menahan tangan Nico yang sudah menjelajah masuk ke dalam bajunya memegang area yang menjadi favoritnya itu.


“Kau lupa sayang, tunggu satu bulan lagi yah, ini demi anak  kita, kau pasti ingin dia baik-baik saja kan.” Ucap Ana menangkup ke dua pipi suaminya yang terlihat cemberut itu.


“Kau menggemaskan sekali dan terlihat tampan.” Ucap Ana.


Cup...

__ADS_1


Ana mencium bibir suaminya. Nico meraih tengkuk Ana dan memperdalam ciuman di bibir istrinya itu. Ana dibuat tersengal dengan ciuman ganas suaminya. Ana sudah berada di bawah kungkungan Nico. Bibirnya menyusuri leher jenjang Ana dan memberi kecupan yang meninggalkan bekas merah di leher istrinya itu.


“Sayang, hentikan! Kau bisa lupa dengan saran dokter Rea.” Ucap Ana.


“Maafkan aku, aku hampir saja lupa dengan saran dari sahabatmu itu.” Ucap Nico berbaring di samping Ana. Ia terlihat mengusap wajahnya kasar.


Nico menghentikan aksinya saat mengingat saran dokter Rea yang melarang mereka melakukan hubungan suami istri sampai usia kandungan Ana 3 bulan. Hal itu membuat Nico tersiksa karena tidak bisa menyentuh Ana. Namun, Ia tidak boleh egois demi keselamatan anak yang ada di dalam kandungan istrinya itu.


Nico memeluk istrinya sambil berkata. “aku akan menunggu satu bulan.” Ia mengecup pucuk kepala Ana.


Ana memeluk erat tubuh suaminya dan membenamkan wajahnya ke dada bidang Nico yang selalu membuatnya nyaman. Entah mengapa Ia merasa tidak suka dengan aroma tubuh Nico dan terkadang Ia juga sangat menyukai aroma tubuh suaminya itu. Semenjak hamil Ana tidak  banyak mengalami kesulitan. Ia hanya sesekali mual di pagi hari. Ia juga sangat jarang meminta hal-hal aneh kepada suaminya seperti kebanyakan wanita hamil yang terkadang ada yang ngidam makanan dan hal-hal aneh lainnya.


Semenjak hamil Ana jadi lebih mudah lelah. Ia juga sering lapar saat tengah malam dan selalu menyuruh suaminya itu membuat makanan untuknya. Nico juga selalu menuruti keinginan Ana yang memintanya memasak makanan untuknya. Alhasil Nico sedikit demi sedikit sudah bisa memasak makanan yang layak untuk dinikmati.


“Sayang, apa kau mau berjanji untuk selalu di sisiku apa pun yang terjadi nanti?” Ucap Ana.


“Tentu saja sayang, aku tidak akan meninggalkanmu apa pun yang terjadi, kau dan anak kita adalah dua orang yang sangat berarti untukku.” Jawab Nico berjanji kepada Ana.


“Aku takut.” Lirih Ana.


“Apa yang membuatmu takut sayang?” Tanya Nico sambil mengusap punggung Ana.


“Apa paman akan merestu pernikahan ini dan menerimaku sebagai istrimu? aku tahu paman sangat menyayangimu dan menganggapmu sebagai putranya sendiri, aku hanya takut paman akan menolakku.” Ucap Ana dengan wajah sedihnya.


“Apa pun yang terjadi aku akan membuat paman mau merestui hubungan kita dan menerimamu sebagai bagian dari keluarga Alexander, kau adalah nyonya Alexander, jangan khawatir sayang semua akan baik-baik saja.” Ucap Nico menenangkan istrinya.


“Terima kasih sayang.” Ucap Ana semakin erat memeluk tubuh suaminya itu.


Ke duanya sudah terlelap dan berada di alam mimpi masing-masing dengan berpelukan erat.


Bersambung..


 


Maafkan Author yang jarang Up karena kesibukan di dunia nyata.


Semoga masih berkenan setia dengan novelku ini.


Selalu sehat dan Rezeki kalian berlimpah.


Author juga ucapkan terima kasih banyak yang sudah dukung novelku ini.


🙏🙏😊😊


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2