
"Aku juga menyukaimu tuan Aldo." Ucap Rea.
"Apa hanya menyukai saja? kau tidak mencintaiku dan tidak mau menjadi kekasihku." Goda Aldo merasa tidak puas dengan jawaban dari Rea.
"Aku mencintaimu tuan Aldo, apa sudah puas?" Lirih Rea dengan wajah bersemu merah.
"Good Girl." Ucap Aldo sambil mengacak rambut panjang Rea yang hitam lekat itu.
"Aiissshhh." Rea hanya bisa tersenyum manis sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"aku akan membantumu Rea, Aku akan menemui orang tuamu agar perjodohanmu gagal, secepatnya aku akan melamarmu, dan setelah itu ikutlah denganku ke London untuk bertemu dengan ke dua orang tuaku." Ajak Aldo.
"Apa kau yakin rencanamu akan berhasil? bagaimana kalau ayahku tetap ingin menjodohkanku dengan anak rekan bisnisnya itu? apa yang akan kau lakukan?" Tanya Rea bertubi-tubi.
"Aku akan melakukan apa pun agar kau tetap menjadi milikku sayang." Jawab Aldo sambil berbisik di telinga Rea.
Wajah Rea semakin bersemu merah saat ke dua pandangan mereka bertemu. Jarak wajah Aldo sangat dekat hanya sekitar 3 cm. Rea bahkan bisa merasakan deru nafas Aldo.
"Dia sangat tampan." Puji Rea dalam hatinya.
"Kau sudah menjadi kekasiku, Terima kasih sudah menerima cintaku, kedepannya selalu bersama dan melalui rintangan apa pun." Ucap Aldo.
Mereka saling memeluk dengan erat. Aldo mencium pucuk kepala Rea gadis yang sudah resmi menjadi kekasihnya malam itu. Rea membenamkan wajahnya di dada bidang Aldo yang bisa membuatnya sangat nyaman.
Setelah puas menikmati waktu berdua bersama, Rea dan Aldo memutuskan untuk kembali ke mansion Nico. Mereka sudah terlalu lama berada di luar. Walau Aldo dan juga Rea sudah memberitahu Nico dan Ana bahwa mereka berdua sedang bersama menikmati suasana malam hari di kota Tokyo. Namun, Mereka tidak ingin bersenang-senang terlalu lama.
Malam ini Aldo dan Rea merasa begitu bahagia. Hati ke duanya itu diliputi perasaan Cinta yang memberikan debaran di hati masing-masing. Cinta memang terkadang membuat seseorang selalu merasa bahagia di saat tersulit sekali pun dalam hidup ini.
Aldo menyetir mobil dengan satu tangan mengenggam tangan Rea dan satu tangan kekarnya lagi memegang setir mobil. Sesekali Ia mencium punggung tangan Rea dan menatap gadis yang duduk di sampingnya dengan senyum mereka.
"Apa kau bahagia Rea?" Tanya Aldo.
"Tentu saja." Jawab Rea.
******
Sementara itu, Nico dan Ana baru tiba di mansionnya. Paman Reynad sudah berada di mansion terlebih dahulu untuk menemui keponakannya itu.
"Kau sudah membuat paman kecewa, kau menikah dengan anak penghianat itu." Ucap Reynad penuh kemarahan. Wajahnya memancarkan api kebencian dan kekecewaan. Nico dan Reynad berada di ruang kerja. Sementara itu, Nico menyuruh Ana untuk istirahat di kamar mereka, karena Nico ingin bicara berdua saja dengan pamannya. Ia tidak ingin pamannya itu memarahi Ana dan menyakiti hati istrinya.
"Maafkan aku paman, pamanlah yang membuatku kecewa, bagaimana bisa paman menutupi tentang permintaan ayah yang menginginkan aku menjaga dan menikahi putri Bagaskara." Ucap Nico.
"Paman hanya ingin melindungimu dari putri penghianat itu, wanita itu hanya akan memanfaatkanmu, kau pikir istrimu itu sangat baik, dia hanya wanita yang tidak tahu diri dan putri seorang penghianat." Hina Reynad.
"Cukup, paman cukup menghina istriku, sampai kapan pun aku tidak akan meninggalkan Ana." Ucap Nico tegas dengan wajah merah padam menahan Amarahnya.
Ucapan Reynad yang menghina istrinya benar-benar menyakiti hatinya.
Ke duanya terlibat berdebatan yang sedikit menegang. Reynad yang tetap kekeh pada pendiriannya untuk menjauhkan Nico dan Ana. Sementara Nico tetap akan mempertahankan Ana di sisinya.
"Ceraikan wanita itu setelah Ia melahirkan, paman tidak ingin wanita itu menjadi istrimu, kau haru meninggalkannya, paman ingin kau menikah dengan wanita yang lebih baik darinya." Ucap Reynad lagi.
"Aku yakin paman sungguh tidak menyanyangiku, paman tidak pernah memikirkan kebahagiaanku, paman begitu egois." Ucap Nico juga tak kalah marah dan kesalnya.
Bagaimana bisa pamannya itu begitu egois dengan menyuruhnya berpisah dengan Ana wanita yang sangat Ia cintai dan menyuruhnya menikah dengan wanita pilihannya.
"Apa begini caramu berbicara kepada pamanmu sendiri? apa begini caramu membalas budi? kau lebih memilih wanita itu, anak seorang penghianat daripada pamanmu ini, Wanita itu sudah berhasil mempengaruhimu untuk membantah paman." Bentak Reynad.
__ADS_1
"Maafkan aku paman, aku tidak pernah melupakan bagaimana paman menjagaku selama ini, tapi maaf aku tidak akan pernah memenuhi permintaan paman, aku tidak akan meniggalkan istriku, kalian sangat berharga dalam hidupku, jangan menyuruhku untuk memilih." Ucap Nico dengan emosi yang sedikit mereda. Ia tahu bahwa pamannya selama ini sangat menyanyanginya.
Degggg... Degggg....
Jantung Ana berdetak lebih kencang dan matanya memanas. Ada yang mendesak untuk keluar dari ke dua mata indahnya itu. Tanpa terasa air matanya luruh begitu saja dari ke dua mata indahnya itu.
Di balik pintu Ana mendengar perdebatan sengit antara Reynad dan Suaminya. Ia hanya bisa menitikkan air matanya. Hatinya begitu sakit mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Reynad yang begitu menusuk hatinya. Ia merasa hatinya tersayat sembilu, begitu sakit hingga Ana merasa sesak dan sulit bernafas. Perutnya juga tiba-tiba kram dan merasa begitu sakit. "Auwww... perutku sakit, ini sakit sekali." Lirih Ana sembari meringis merasakan sakit dengan memegang perutnya.
Tanpa sengaja Ia menyenggol vas bunga yang Ada di dekatnya itu. Ana yang ingin menemui Reynad hanya sekedar ingin menyapa paman dari suaminya itu. Namun tiba-tiba saja Ana terpaku berdiri mematung di balik pintu saat mendengar percakapan dua orang yang terdengar saling membentak itu. Pertengkaran yang terjadi semua karena dirinya. Hal itu membuatnya merasa bersalah dan tertekan.
Prannkkkk....
Reynad dan Nico yang mendengar suara Vas bunga yang terjatuh di balik pintu ruangan itu. Ke duanya berlari keluar dan mendapati Ana meringis kesakitan sembari memegang perutnya.
"Perutku sakit sekali." Lirih Ana dengan wajah yang terlihat pucat, keningnya dipenuhi keringat dingin.
"Sayang, aku akan membantumu, kita kerumah sakit sekarang." Ucap Nico dengan wajah khawatir.
"Tidak perlu ke rumah sakit, aku ingin ke kamar saja." Lirih Ana lagi.
Wajah Nico tiba-tiba terlihat begitu khawatir, Namun, berbeda dengan Reynad Ia terlihat biasa saja dan bahkan terkesan tidak peduli dengan wanita yang meringis kesakitan itu.
Nico langsung saja membopong tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Ia segera menghubungi Rea dan memintanya untuk kembali ke mansion secepatnya karena kondisi Ana yang sedang tidak baik-baik saja.
Reynad memilih meninggalkan mansion dan berniat untuk bertemu dengan tuan Abraham. Ia ingin meminta maaf atas apa yang terjadi di pesta malam itu. Rencananya kali ini akan berhasil. Ia sangat yakin jika Nico akan menuruti keinginnya meninggalkan Ana. Dengan begitu Ia akan menyuruh Nico menikah dengan anak rekan bisnisnya Clara Abraham.
"Sialllll, Aku harus membuat wanita itu meninggalkan Nico, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menerima wanita itu dan merestui hubungan mereka." Geram Reynad.
Ini pertama kalinya Ia merasa sangat kecewa dengan keponakannya itu. Reynad pikir bahwa Ana lah yang berhasil merasuki pikiran keponakannya itu sehingga Nico menjadi tidak patuh dengannya padahal selama ini Nico selalu menuruti apa pun ucapannya.
Aldo segera melajukan mobilnnya dengan kecepatan penuh setelah mendengar panggilan dari tuannya yang menyuruh mereka untuk segera tiba di mansion.
"Apa perutmu masih sakit Ana?" Tanya Rea. Ia memeriksa tekanan darah Ana dan memberikan suntikan vitamin juga obat penguat kandungan.
"Sudah lebih baik." Jawab Ana.
"Istirahatlah dan jangan terlalu tertekan, pikirkan kesehatan janinmu dan juga kesehatanmu sendiri, kalau ada masalah kau bisa cerita denganku, jangan memendamnnya sendiri." Ucap Rea sembari merapikan selimut Ana.
"Terima kasih." Lirih Ana.
Rea tahu saat ini emosi Ana sedang tidak stabil. Tidak stabilnya emosi pada saat hamil bisa disebabkan oleh pengaruh hormon atau stres. Hal ini bisa membuat ibu hamil merasa sedih, marah, atau cemas secara tiba-tiba.
Perubahan emosi yang drastis saat hamil tidak hanya berdampak pada ibu hamil, namun juga janin.
"Apa Ana baik-baik saja? bagaiman kondisi janin yang ada di perut istriku?" Tanya Nico dengan wajah khawatir.
"Ana hanya sedang tertekan dan saat ini emosinya sedang tidak stabil? sebaiknya ajaklah Ana jalan-jalan untuk menghilangkan perasaan tertekan dan juga stres yang ia rasakan." Jawab Rea.
"Jangan Khawatir, Janin yang ada di perut Ana baik-baik saja, hanya saja janinnya masih lemah dan sangat berbahanya jika kondisi Ana tertekan dan stres." Terang Rea.
"Sebenarnya apa yang membuat Ana tertekan? apa kalian bertengkar?" Tanya Rea.
"Sepertinya Ana mendengar perdebatanku dengan paman." Jawab Nico.
"Apa tuan Reynad tidak merestui hubungan tuan dan nona Ana?" Tanya Aldo.
"Kau benar, paman tidak akan pernah merestui hubunganku dengan Ana dan akan melakukan cara agar aku dan Ana berpisah, paman begitu membenci Ana." Ucap Nico.
__ADS_1
"Apa yang akan tuan lakukan?" Tanya Aldo lagi.
"Apa pun yang terjadi aku tidak akan pernah mrninggalkan Ana, Jangan biarkan paman menemui Ana, aku hanya tidak ingin Ana semakin terkekan dengan ucapan paman yang akan menyakiti hatinya, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan istri dan Anakku." Perintah Nico kepada Asistennya itu.
"Baik tuan, saya akan menjaga nona Ana dengan baik dan tidak akan membiarkan Tuan Reynad menemui nona Ana. Ucap Aldo.
"Sepertinya kau harus kembali ke London secepatnya, paman dan bibi sudah sangat merindukanmu." Ucap Nico.
"Aku akan menemuinya nanti." Jawab Aldo.
Nico menepuk bahu Aldo dan berdiri di sampingnya sambil berkata. "Temuilah paman dan bibi secepatnya, aku mengizinkamu dan bawalah Rea ikut bersamamu."
"Baik tuan." Ucap Aldo menundukkan kepala tanda hormat.
Nico meninggalkan Aldo dan Rea berdua. Nico masuk ke dalam kamar untuk menemui Ana yang mungkin sudah terlelap tidur.
"Maafkan Aku sayang, maaf karena kau harus mengalami ini, apa pun yang tejadi aku tidak akan meninggalkanmu." Ucap Nico menepuk pucuk kepala Ana yang sudah tertidur pulas dan berada di alam mimpi. Nico mebgecup kening Ana dan marapikan selimut Ana. Ia mengecup kening Ana dan mengusap perut Ana yang sudah sedikit membuncit sambil berkata. "Jadilah anak yang kuat."
Setelahnya Ia juga tertidur di samping istrinya dengan memeluk Ana.
Rea dan Aldo berada di balkon mansion Nico sambil menikmati teh hangat yang di bawakan oleh pelayan.
"Apa yang terjadi?" Tanya Rea yang melihat raut wajah sedih kekasihnya itu.
"Ayah menyuruhku untuk menemui mereka." Jawab Aldo.
"Kenapa malah bersedih?" Tanya Rea lagi.
"Apa kau ingin aku menikah dengan wanita pilihan ayahku?"
"Apa." Pekik Rea.
Ucapan Aldo membuat Rea terkejut. Selama ini Ia tidak menyangka kalau Aldo juga di jodohkan oleh orangtua mereka sama sepertinya.
Aldo menatap gadis yang sedang duduk di sampinganya. Ia meraih tangan Rea dan mengenggamnya sambil berkata.
"Apa kau mau membantuku?" Pinta Aldo.
"Apa yang bisa aku lakukan?" Tanya Rea.
"Aku akan mebgenalkanmu kepada ke dua orang tuaku sebagai calon istriku, apa kau bersediah membantuku?" Pinta Ald.
"A-aku bersediah membantumu?" Tanya Rea terbata.
"Besok aku akan mengajakmu ke London dan menemui orang tuamu untuk melamarmu." Ucap Aldo dengan duduk bersimpuh di depan Rea yang sedang duduk di kursi.
"Apa tidak begitu cepat, bukannya kita perlu saling mengenal lebih lama lagi, kau tahu menikah bukan hal yang mudah." Ucap Rea.
"Aku tidak ingin berpisah denganmu dan melamarmu akan membuatmu terikat denganku dan ayahmu tidak akan menjodohkanmu dengan siapa pun, Apa kau paham sayang?"
Rea mengangguk dan hanya mengikuti rencana Aldo demi menggagalkan perjodohannya juga perjodohan Aldo yang sudah menjadi kekasihnya saat ini.
Cuppp..
"Terima kasih sayang." Ucap Aldo sambil mengecup kening Rea begitu lama.
Bersambunggg....
__ADS_1
Like, Vote dan Komentar.
ššš