Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 36: Meminta Maaf


__ADS_3

Penyesalan memang selalu datang di belakang. Begitu pula yang dirasakan oleh Nico. Ia menyesal sudah menyiksa Ariana dan ibunya selama ini. Andai ia tahu kenyataan yang sebenarnya ia akan menjaga dan melindungi Ariana seperti yang sudah Bagaskara lakukan untuknya.


Nico kembali ke mansionya setelah mengetahui kebenaran tentang peristiwa 20 tahun lalu.


Ia ingin meminta maaf kepada Bu Ella. Dan di sinilah Nico berada di sebuah ruang tamu mewah di mansionnya. Ia tengah duduk di sofa dan menunggu bu Ella.


Bu Ella berjalan mendekati Nico yang tengah duduk di sofa dengan wajah yang terlihat takut. Ia takut jika Nico menyakitinya lagi.


“Duduklah.!” Nico menepuk sofa di sampingnya menyuruh bu Ella untuk duduk.


“Baik tuan.” Bu Ella duduk di samping Nico. Walau ia terlihat begitu takut namun ia tidak punya keberanian untuk membantah orang yang ada di depannya saat ini.


“Ad-ada apa tuan memanggil saya.” Ucap bu Ella dengan terbata-bata. Ada raut ketakutan di wajahnya.


“Mulai saat ini ibu tidak perlu bekerja sebagai pelayan di mansion ini. Mulai saat ini ibu bisa tinggal di mansion ini kapan pun yang ibu inginkan. Aku akan ibu menganggap mansion ini sebagai rumah ibu sendiri. Aku ingin minta maaf kepada ibu atas perbuatanku selama ini, aku mohon maafkan aku bu. Ibu boleh membenciku, aku memang pantas untuk ibu benci.” Ucap Nico dengan suara lembut.


Ia ingin memeluk bu Ella dan mengucapkan terima kasih kepada wanita paruh baya itu. Namun, ia mencoba untuk bersikap tidak berlebihan.


“Ta-Tapi Tuan, Kenapa tuan tiba-tiba minta maaf? Tanya bu Ella dengan ragu.


“Aku akan menebus semua kesalahan yang aku lakukan dulu kepada ibu dan Ariana, aku akan membuat ibu dan Ariana bahagia. Aku akan membawa putri ibu. Ibu akan kembali berkumpul dengan putri ibu, maafkan aku atas perbuatanku yang selama ini sudah menyakiti kalian, beri aku keaempatan untuk menebus kesalahanku bu.” Ucap Nico lagi.


Bu Ella terlihat begitu bingung dengan sikap Nico yang tiba-tiba berubah menjadi lebih lembut dan bersikap ramah. Biasanya bu Ella melihat Nico dengan tatapan kebencian yang ia tujuhkan untuknya dan juga putrinya itu. Tapi saat ini ia melihat Nico yang terlihat begitu baik seakan kebencian di hati Nico sirna begitu saja.


“Aku sudah memaafkan tuan, tolong biarkan saya pergi dari sini tuan, saya ingin mencari putriku tuan, saya begitu merindukannya. Hiksss.... Hikssss.....” Ucap bu Ella dengan air mata mengalir di pelupuk matanya.


“Aku tidak akan membiarkan ibu pergi dari mansion ini, aku tidak ingin melihat ibu menderita di luar sana dan tidak mempunyai tempat tinggal. Tinggallah di mansion ku ini. Ibu bisa menganggap mansion ini sebagai rumah ibu. Aku akan mencari keberadaan Ariana dan membawanya kembali untuk berkumpul bersama ibu kembali. Beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku.” Nico memegang punggung tangan Bu Ella dengan lembut.


Entah mengapa Nico begitu merindukan sosok ibunya yang sudah meninggal. Dengan melihat bu Ella ia teringat dengan sosok ibunya yang telah pergi untuk selamanya.


“Tuhan, semoga ini bukan mimpi.” Batin Bu Ella.


“Aku mohon jangan sakiti putriku tuan, dia tidak bersalah, maafkan putriku yang sudah mencoba kabur dari tuan.” Ucap bu Ella lagi.


Nico mengangguk mengerti dengan keinginan bu Ella. Keinginan seorang ibu yang ingin melihat putrinya baik-baik saja. Ia begitu merindukan putrinya yang sudah hampir sebulan ini tidak bertemu dengannya. Dan entah mengapa perasaan bu Ella tidak bisa tenang beberapa hari ini.


“Maafkan aku bu, aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya tentang kondisi Ariana. Aku berjanji akan membawa Ana kembali bersama ibu.” Batin Nico.


“Mulai saat ini kalian harus melindungi dan menjaga bu Ella. Dia akan tinggal di mansion ini bukan sebagai pelayan. Kalian harus melayani bu Ella dengan baik.” Perintah Nico kepada para pelayan dan anak buahnya.


“Mulai saat ini ibu akan tinggal di kamar tamu mansion ini. Jika ibu membutuhkan sesuatu jangan sungkan meminta kepadaku.” Perintah Nico kepada bu Ella.


“Terima kasih tuan.” Ucap bu Ella.


Walau ia masih begitu bingung dengan perubahan sikap Nico yang tiba-tiba baik itu. Ia merasa begitu bahagia bahwa tuhan mendengar doanya selama ini.


Nico sebenarnya memang bisa bersikap baik kepada siapa pun kecuali kepada musuhnya. Ia menjadi begitu kejam  karena dendam di hatinya.


Setelah meminta maaf kepada bu Ella Nico memutuskan untuk kembali ke London bersama Aldo asistennya. Nico ingin melihat kondisi Ariana. Dengan mengendarai jet pribadi miliknya. Kurang lebih 16 jam menempuh perjalanan Jakarta-London. Akhirnya Nico tiba di mansionya yang ada di London. Segera saja ia menuju rumah sakit tempat Ariana dirawat.


Dan di sinilah Nico berada di samping ranjang rumah sakit tempat Ariana terbaring lemah dengan wajah pucat dan berbagai peralatan medis terpasang di tubuh Ariana.


Ia menggenggam tangan Ariana.


“Maafkan aku, aku mohon bangunlah!” Hanya maaflah yang bisa Nico ucapkan saat ini.

__ADS_1


Namun, belum ada tanda-tanda Ariana akan bangun dari tidur panjangnya.


Ana masih memejamkan matanya seolah tidak ingin membukanya lagi. Mungkin ia tidak ingin melihat dunia ini yang penuh dengan penderitaan dalam hidupnya


“Bagaimana keadaan Ariana dok.” Tanya Nico kepada dokter Bryan yang baru saja selesai memeriksa kondisi Ana.


“Kondisi pasien masih tetap saja koma, berdoalah untuk kesembuhan Ariana. Hanya mukjizat yang bisa menolongnya. Harapannya untuk hidup sangat sulit.” Ucap dokter Bryan dengan raut wajah sedih.


Nico yang mendengar penjelasan dari dokter hanya bisa pasrah. Ia begitu menyesal dan merasa bersalah. Semua ini terjadi karena perbuatannya. Ia membenci dirinya sendiri. sudah menyakiti orang yang tidak bersalah dan orang yang menolongnya sehingga ia bisa hidup sampai saat ini.


“Itu tidak mungkin, kau pasti berbohong kan dok, dia harus hidup, aku akan melakukan apa pun agar dia bisa selamat.” Ucap Nico dengan mencengkeram kerah baju dokter Bryan.


Aldo yang melihat kemarahan di raut wajah Nico segera menghampiri tuannya itu.


“Sebaiknya tuan tenang. Ini rumah sakit dan serahkan semua ini kepada dokter. Nona Ariana akan baik-baik saja tuan, sebaiknya tuan kembali ke mansion, tuan terlihat begitu lelah dan butuh istirahat.” Ujar Aldo kepada tuannya.


“Huffff.” Nico membuang nafasnya dengan kasar.


Ia melepaskan cengkeraman tangannya pada kerah baju dokter Bryan.


“Maaf dok.” Ucap Aldo.


Dokter Bryan meninggalkan Nico dengan wajah menahan marah. Ia kesal dengan sikap Nico yang begitu kasar.


“Sebaiknya kita kembali ke mansion, tuan perlu istirahat.” Ucap Aldo.


“Kau benar.”


Akhirnya Nico meninggalkan rumah sakit setelah melihat kondisi Ariana yang masih belum sadarkan diri. Ia sudah berada di dalam mobil mewahnya. Ia terlihat prustasi dan mengacak rambutnya dengan kesal.


######


Sementara itu, di sebuah kompleks pemakaman milik  keluarga Andrew Zexander. Terlihat seorang wanita paruh baya menangis dengan sesenggukan di depan makam suaminya. Dia adalah bu Anna ibu dari Aldwin.


“Hikssss..... Hiksssss....”


“Kenapa ini harus terjadi, kenapa kau tega meninggalkan aku sendiri pah.” Ia memegang nisan suaminya dengan air mata yang tak hentinya mengalir.


Setelah peristiwa menyakitkan yang terjadi, bu Anna begitu terpukul dengan kematian suaminya dan juga putranya yang menghilang entah ke mana.


“Maafkan kami nyonya kami belum menemukan keberadaan tuan Aldwin.” Ucap salah satu anak buah bu Anna memberikan informasi.


“kau harus menemukan putraku, Aku yakin putraku masih hidup selama kalian belum menemukan mayat putraku.” Perintah bu Anna.


“Kami sudah menemukan mobil tuan Aldwin yang terbakar di dasar jurang, tapi kami tidak menemukan keberadaan tuan Aldwin. Besar kemungkinan tuan Aldwin dan asistennya masih hidup nyonya.” Ujar salah satu anak buah tersebut.


“Aku yakin putraku masih hidup.” Ucap bu Anna dengan penuh keyakinan.


Ini adalah firasat seorang ibu. Dan ia percaya pada firasatnya kali ini. Bahwa putranya masi hidup.


“Aku yakin suatu saat nanti putraku akan kembali dan membalaskan kematian ayahnya.” Batin bu Anna.


Bu Anna menghapus sisa air matanya dan segera bangkit setelah menabur bunga dan mengusap lembut Nisan suaminya.


“Aku akan kembali mengunjungimu Pah, tenanglah di sana, suatu saat nanti putra kita akan kembali untuk membalaskan kematianmu.” Ucap bu Anna lirih. Ia berbicara di depan makam suaminya.

__ADS_1


Ia tidak bisa menerima kenyataan pahit yang terjadi dalam keluarganya. Suaminya yang tewas dengan tragis dan saat ini putranya juga menghilang entah ke mana.


Sudah 1 minggu sejak kepergian Andrew. Namun bu Anna masih merasakan duka yang mendalam. Kehilangan suami yang begitu dicintainya.


Ia masih duduk terkulai lemah di lantai kamarnya memegang  foto dirinya bersama suaminya. Terdengar isak tangis dari bu  Anna.


"Hikssss..... Hikssss....."


Sementara itu, Terlihat Reana duduk disamping bu Anna yang sejak tadi masih terisak. Reana memeluk erat bu Anna memberinya kekuatan. Sejak mengetahui tentang kematian Andrew dan Aldwin yang menghilang. Rea selalu mengunjungi mansion Aldwin setelah pulang bekerja dari rumah sakit. Ia sudah menganggap bu Anna sebagai ibunya sendiri. Ia ingin ada di saat bu Anna terpuruk.


“Tenanglah bu!” Rea memeluk bu Anna dan mengusap lembut punggung wanita paruh baya itu.


Sejujurnya Rea juga begitu terpukul dengan peristiwa yang menimpa keluarga Aldwin laki-laki yang sangat dicintainya selama ini.


“Terima kasih Nak, kau sudah ada di saat ibu benar-benar terpuruk dengan semua kejadian ini.” Ucap bu Anna lirih.


“Sama-sama bu, mulai saat ini anggaplah aku putri ibu. Ibu bisa berbagi kesedihan denganku, jangan memendamnya sendiri bu.” Rea mengusap punggung tangan bu Anna dengan lembut.


Bu Anna hanya bisa mengangguk dan memeluk Rea dengan erat.


Raut wajah kesedihan masih terlihat jelas di wajah bu Anna. Namun, ia mencoba untuk tetap kuat menerima kenyataan yang terjadi.


Setelah kondisi bu Anna terlihat sedikit lebih tenang. Rea memutuskan untuk kembali ke apartemennya.


Ia ingin mencari keberadaan Ariana. Ia memutuskan untuk mencari Ana besok pagi saja  karena ia juga begitu lelah. Ia begitu merindukan sahabatnya itu.


“Tuhan, lindungilah di mana pun Ana berada.” Batin Rea.


Bersambung....


Like, Vote dan Komentar.


🙏🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2