Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 69 : Tidak Mudah Tergoda


__ADS_3

“Kakiku terkilir, ini sakit sekali, apa kau bisa membantuku?” Pinta Clara.


Nico terlihat terdiam sejenak dengan tatapan dingin menatap gadis yang sedang terduduk di lantai ruangannya dengan wajah yang sengaja menahan sakit memegang pergelangan kakinya.


Nico merogo ponsel yang ada di saku celananya. Ia segera mendail nomor seseorang.


"Segera ke ruanganku." Perintah Nico kepada seseorang di seberang telefon.


Clara menatap Nico dengan tatapan menghiba agar laki-laki yang sedang menatapnya dingin itu mau membantunya untuk sekedar berdiri. Tapi sepertinya Nico bahkan tidak peduli dan terkesan acuh dengan gadis seksi yang sedang kesakitan akibat kakinya terkilir. Entah Clara sengaja atau tidak untuk menarik perhatian Nico.


Cekleekkkk....


pintu ruangan Nico terbuka dan masuklah seseorang.


"Apa ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya Diego asisten paman Reynad yang saat ini sibuk membantu Nico dan menggantikan Aldo sementara waktu.


"Kau urus dia dan bawa dia ke rumah sakit, aku ingin menemui istriku." Perintah Nico.


"Baik tuan." Nico berlalu dari ruangannya meninggalkan Clara yang masih terduduk di lantai dengan tatapan membeku menatap Nico yang bersikap begitu dingin dengannya.


Clara hanya diam sambil menatap punggung Nico yang semakin menjauh dari pandangannya. Tangannya terkepal kuat sambil menatap tajam Nico yang meninggalkannya begitu saja.


"Mari saya bantu nona." Diego menawarkan bantuan kepada Clara.


"Saya tidak butuh bantuanmu." Hardik Clara.


Clara mencoba berdiri walau dengan menahan sakit. Ia berjalan terpincang-pincang meninggalkan ruangan Nico begitu saja. Diego hanya menatap Clara yang sedang berjalan terseok-seok itu. Diego menggelengkan kepalanya merasa bingung dengan sikap wanita yang ada di depannya.


"Aku tidak akan membiarkanmu menggoda tuan Nico." Guman Diego.


Clara sejak dulu sudah menyukai Nico. Saat usia 10 tahun Clara sudah jatuh cinta dengan Nico yang saat itu berusia 15 tahun. Reynad yang selalu membawa Nico ke mansion Tuan Abraham membuat hubungan Nico dan Clara menjadi dekat. Namun, Nico hanya menganggap Clara sebagai seorang teman biasa. Dan sampai saat ini Nico tidak menaruh hati dan perasaan apa pun kepada Clara. Walau pamannya pernah menyuruhnya untuk menikahi Clara tetapi Nico menolak dengan tegas permintaan pamannya itu.


Tampaknya Clara tidak akan menyerah dengan mudah melepaskan Nico begitu saja. Hatinya masih menginginkan Nico untuk menjadi suaminya. Bahkan Ia akan mencoba berbagai cara untuk merebut Nico.


"Lihatlah nanti, kau akan menjadi milikku." Kesal Clara.


Clara melajukan mobilnya meninggalkan gedung pencakar langit itu dengan wajah merah padam. Rencananya yang datang menggoda Nico dengan penampilannya yang terkesan seksi dan menggoda itu hanya gagal begitu saja.


Semntara itu, Nico sudah berada di dalam mobil mewahnya bersiap segera pulang menemui Ana yang sedang menunggunya. Tiba-tiba saja Ia merasa begitu merindukan istrinya. Jalan kota Tokyo cukup lengang karena malam ini salju turun sehingga membuat orang-orang lebih memilih berdiam diri di rumah saja.


Mobil Nico berhenti sebentar di sebuah minimarket untuk membeli pesanan istrinya. Setelah mendapatkan pesanan Ana. Nico memutuskan untuk kembali ke mansion.


"Sayang, apa kau sedang menyiapkan makan malam, Emmm baunya lezat sekali." Ucap Nico yang sudah memeluk pinggang istrinya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu Ana.


Saat memasuki mansion Nico sudah mencium aroma lezat dan membuatnya segera saja ke dapur dan melihat istrinya sedang memasak makan malam.


"Kau mandilah dulu dan kita makan malam bersama." Perintah Ana.


"Aku membawa pesananmu sayang, aku melatekannya di meja ini saja." Ucap Nico.


"Iya."


Cup


Nico menyambar sekilas pipi istrinya sebelum berlalu ke kamarnnya untuk membersihkan diri.


"Cepatlah sayang." Ucap Ana.


"Tentu sayang."

__ADS_1


Ana menyiapkan makan malam yang sudah ia buat di atas meja makan sambil menunggu suaminya.


Beberapa menit, akhirnya Nico turun dan menuju meja makan. Perutnya memang sudah lapar sejak tadi.


"Ini Lezat sekali, istriku ini sangat pandai memasak." Puji Nico menikmati masakan Ana. Ia terlihat sangat lahap menghabiskan makanan yang ada di piringnya.


Mereka berdua menikmati makan malam bersama. Setelah selesai Ana menyuruh pelayan untuk membereskan meja.


Ana dan Nico menuju kamar mereka untuk istirahat. Nico duduk di sisi kasur sambil menatap Ana yang sedang membersihakn wajahnya. "Apa saja yang kau lakukan seharian ini sayang?" Tanya Nico.


"Tidak ada, hanya menunggumu dan menyiapkan makan malam saja." Jawab Ana.


"Apa paman datang menemuimu?" Tanya Nico Lagi.


Degggg....


Ana hanya terdiam membisu di depan cermin rias. Jantungnya berpacu kencang mendengar pertanyaan Nico.


"Ada apa?" Nico mendekati Ana dan duduk bersimpuh di depan istrinya.


"Pa-paman--" Ucapannya tiba-tiba berhenti, Ia terlihat ragu mengatakan jika paman datang menemuinya dan mengajukan permintaan agar Ana meninggalkan Nico setelah bayi dalam kandungannya lahir.


"Aku tahu paman datang menemuimu." Ucap Nico menggenggam tangan Ana dan mencium punggung tangan istrinya.


"Maafkan aku." Lirih Ana.


"Untuk apa meminta maaf hemmm." Nico membelai lembut pipi istrinya. Ana meneteskan air mata mengingat perkataan paman Reynad yang menyuruhnya untuk bercerai dengan Nico sungguh menyakiti hatinya.


"Apa pun yang dikatakan paman aku tidak akan menuruti permintaanya, tidak ada yang penting selain kalian, aku mencintai kalian berdua, sangat mencintaimu sayang." Ucap Nico memeluk Ana yang masih duduk di kursi. Nico menghapus sisa air mata istrinya dan juga mengusap perut Ana. Seakan Ia tahu istrinya itu sedang sangat terluka oleh perkataan pamannya. Nico tahu bahwa Reynad pasti meminta Ana untuk meninggalkannya dan Ia tidak akan menuruti permintaan pamannya itu walau pada akhirnya hubungan Nico dan Reynad akan renggang.


Nico membawa Ana ke tempat tidur mereka. Ia membaringkan tubuh istrinya dan mengecup sekilas bibis ranum milik istrinya. Malam ini Nico sangat menginginkan Ana. Hasratnya untun menyentuh istrinya sudah berada di puncak. Nico me***mat bibir tipis Ana dan turun ke leher jenjang istrinya. Nico menggigit leher Ana memberi tanda merah, tangannya yang satunya sudah berada di dua gunung kembar milik istrinya itu. "Sayang, ap-apa yang kau lakukan?" Ucap Ana terbata.


"Hmmmm." Nico hanya berdehem.


"Sayang ini belum cukup 3 bulan, tunggu satu minggu lagi hemmmm." Ucap Ana lembut sambil berbisik di telinga Nico yang sudah mengungkung tubuhnya.


Ana menyadarkan Nico agar Ia tidak semakin melakukan hal yang merugikannya karena harus menahan hasratnya.


"Maafkan aku sayang." Ucap Nico merebahkan tubuhnya di samping Ana.


Hampir saja Ia melupakan perintah Rea agar tidak menyentuh istirinya sebelum 3 bulan. Nico merasa 3 bulan itu waktu yang sangat lama baginya.


Cuppp..


Nico mengecup pipi istrinya sambil berkata."Kau tidurlah dulu sayang."


Cupp...


Nico mencium perut istrinya dan mengusapnya pelan. "Jadilah anak yang kuat, ayah dan ibumu sangat menyanyangimu Nak."


Nico menyelimuti tubuh istrinya. "Kau mau ke mana sayang." Tanya Ana.


"Aku ingin ke kamar mandi sebentar, kau tidurlah dulu hemmm." Nico turun dari tempat tidur.


"Baiklah." Ana menarik selimut dan menutupi sebagian kepalanya dan Nico menuju ke kamar mandi.


"Maafkan aku, Tunggulah satu minggu lagi sayang, aku akan memberikan pelayanan yang terbaik untukmu." Gumam Ana.


Ia seakan tahu suaminya sangat menginginkan dirinya. Sudah cukup lama mereka tidak melakukan hubungan suami istri.

__ADS_1


Ana akhirnya memilih untuk tidur dan tak lama kemudian Nico keluar dari kamar mandi dan tidur memeluk istrinya. Ia juga ikut terlelap menuju alam mimpi.


*******


Mentari pagi menyinari langit London, Udara cukup Cerah semakin menambah semangat warga London untuk melakukan aktivitas yang begitu padat di pagi hari. Terlihat Sepasang kekasih baru saja turun dari jet pribadi. Jari jemarinya saling menggenggam kuat seolah tak ingin terpisahkan. Raut wajah bahagia begitu jelas terlihat di wajah sepasang kekasih itu.


Aldo dan Rea sudah tiba di negara London. Mereka akan menemui keluarga masing-masing. Aldo akan mengunjungi terlebih dahulu rumah calon mertuanya untuk menyampaikan keinginannya melamar Rea.


"Sayang, sebaiknya kita beli beberapa hadiah untuk calon mertuaku." Ucap Aldo.


"Boleh juga."


Mereka berdua sudah berada di pusat perbelanjaan memilih hadiah untuk ke dua orang tua Rea.


Setelah membeli beberapa hadiah. Aldo dan Rea masuk ke dalam mobil dan menuju mansion orang tuanya.


"Kenapa aku merasa sangat takut, lebih baik mengahadapi seribu musuh daripada menghadapi calon mertua." Guman Aldo.


"Apa yang kau katakan?" Tanya Rea yang masih bisa mendengar dengan jelas apa yang Aldo katakan.


"Tidak ada, aku hanya sedang berdoa agar ayahmu menyambutku dengan baik." Elak Aldo.


"Apa kau takut?"


"Un-untuk apa takut, Aku akan membuat orang tuanmu menyukaiku." Ucap Aldo dengan percaya diri.


Ingin rasanya Rea menertawakan kekasihnya itu yang jelas-jelas terlihat begitu gugup. Rae hanya bisa menggenggam erat tanga Aldo Sambil berkata."Semuanya akan berjalan lancar."


Beberapa menit kemudian, Mobil tiba di mansion orang tua Rea.


Aldo dan Rea turun dari mobil. Mereka di sambut oleh para pengawal. "Selamat datang nona Rea."


"Hmmmm."


Rea dan Aldo masuk ke dalam mansion. Ia di sambut oleh pelayan.


"Non Rea." Sapa pelayan.


"Apa ibu dan ayah ada bi?" Tanya Rea.


"I-iya non, Nyonya dan tuan ada di lantai atas, apa perlu saya panggil non."


"Iya bi."


"Sayang duduklah dulu." Rea mempersilahkan Aldo untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Kalian siapkan cemilan dan juga minuman untuk kekasihku." Perintah Rea kepada pelayan yang berdiri di dekatnya.


"Baik Non."


Tak berapa lama kemudian, Jonathan dan Bu Aluna turun dari tangga. Wajah bu Aluna terlihat begitu bahagia menatap putri kesayangannya yang akhirnya kembali setelah beberap bulan kabur dari rumah. Sementara itu, Jonathan terlihat menatap Rea dan Aldo dengan tatapan tajam dan sulit diartikan.


Bersambungg....


Like, Vote dan Komentar.


Author tidak suka ada pelakor di dalam cerita Author.


Konflik dalam novel ini tidak begitu berat, Konflik di awal cerita udah berat. Jadi saatnya cerita yang manis-manis aja yah. Walau masih ada sedikit konflik tapi konflik dalam cerita tidak menguras emosi lagi.

__ADS_1


Semoga kalian suka dengan novel recehku ini.


Kira-kira ada yang tahu siapa yang dijodohkan sama Rea nggak?


__ADS_2