
Di sebuah kamar VVIP rumah sakit milik Nico, Tepatnya di ruangan 100 A, Seorang pria mengerjapkan matanya dengan pelan. Jari-jari tangannya ikut bergerak dan perlahan mencoba membuka matanya, Ia baru saja tersadar dari koma setelah 3 bulan lamanya Ia terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Samar-samar Ia menyesuaikan indra penglihatannya dengan cahaya lampu di ruangan tempatnya di rawat. Ia menatap sekeliling mencoba mengamati sedang berada di mana saat ini dirinya. Namun, Ia sama sekali tidak mengenali tempatnya saat ini. Terlihat seorang suster sedang memeriksa kondisinya.
“Anda sudah sadar tuan, saya akan memanggil dokter untuk memeriksa kondisi anda.” Ucap suster tersebut dan berlalu meninggalkannya.
Ya pria itu adalah Aldwin. Pria yang menjadi musuh Nico dan juga pria di masa lalu Ana.
Aldwin memijat pelipisnya yang terasa berdrnyut akibat pengaruh obat-obat di tubuhnya. Ia mencoba mengingat peristiwa yang terjadi sebelum Ia koma. Sekelebat Ingatannya kembali ke peristiwa pada saat penculikan Ana hingga akhirnya Ia tertembak dan tak sadarkan diri. Beruntung nyawanya masih bisa diselamatkan.
Cekkkleeeekkk....
Pintu ruangannya baru saja dibuka dan masuklah seorang dokter yang akan memeriksa kondisinya.
Dokter muda itu memeriksa kondisi Aldwin.
“Anda sudah sadar, apa anda merasakan sakit?” Tanya dokter wanita itu.
“Hanya merasa pusing saja dok, berapa lama saya koma dokter?” Tanya Aldwin.
Dokter Zena menatap pasiennya dan berkata. “Anda koma selama tiga bulan.”
“Tiga bulan?" Ucap Aldwin dengan wajahnya yang masih terlihat pucat.
Dokter Anggita Azena adalah dokter pribadi yang merawat Aldwin. Ia merupakan adik kandung dari dokter Zera. Ia baru saja bekerja di rumah sakit itu. Dokter Zena merupakan dokter umum dan juga ahli bedah. Ia menjadi dokter pribadi Aldwin atas permintaan dokter Zera kakaknya. Karena dokter Zera akan mengikuti seminar kedokteran di beberapa kota dalam waktu yang cukup lama. Dokter Zera sengaja menyuruh dokter Zena merawat pasiennya, karena Ia percaya dengan kemampuan adik kandungnya.
Dokter Zena baru saja lulus dari sekolah kedokteran dan bekerja di rumah sakit milik keluarga Alexander atas permintaan kakaknya. Usianya terbilang masih sangat muda, 23 tahun.
Wajahnya begitu cantik, bentuk tubuhnya yang mungil ditambah dengan senyumannya yang begitu manis membuat beberapa dokter pria menyukainya. Namun, Ia sama sekali tidak tertarik dan tidak mudah jatuh cinta dengan pria karena masa lalunya membuatnya menutup hati dan hanya fokus dengan kariernya.
Siapa yang membawaku ke rumah sakit? aku ingin bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih. Batin Aldwin dipenuhi rasa penasaran
“Apa saya dibawah ke rumah sakit ini bersama seseorang dok?”
Aldwin berharap jika Zeynan kakak angkatnya itu masih hidup dan sedang berada di ruangan lain.
“Tidak ada yang bersama dengan Anda.” Jawab dokter Zena.
“Siapa yang sudah membawaku ke rumah sakit ini dok?” Aldwin mencoba bertanya kepada dokter Zena untuk menghilangkan rasa penasarannya.
“Rumah sakit ini milik tuan Nico. Tuan Nico ingin agar kami merawat anda dengan baik.” Jawab dokter Zena.
Degggg....
Tiba-tiba saja jantung Aldwin berdetak tak beraturan, Ia terdiam sejenak dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia ingin bangkit dari tempat tidurnya dengan kondisi yang masih lemah karena baru saja tersadar dari koma.
“Saya harus pergi dari sini dok.” Aldwin mencoba untuk bangun. Namun, tubuhnya sulit untuk digerakkan. Seluruh tubuhnya
"Argggg..." Saat akan bangun seluruh tubuhnya terasa kaku dan sulit digerakkan. Kakinya terasa lumpuh.
“Sebaiknya Anda istirahat, jangan terlalu banyak bergerak, tubuh anda masih sangat lemah dan anda baru saja sadar.” Ucap Dokter Zena mencoba mencegah Aldwin untuk bangun.
“Saya harus pergi dok, Nico akan melenyapkanku.” Ucapnya dengan wajah panik dan takut.
Tentu saja, Ia merasa sangat takut karena Nico adalah musuhnya dan bisa saja Nico membunuhnya di tengah kondisinya yang sedang sakit.
“Sebaiknya Anda tenang dan tidak akan ada yang membunuh anda, seharusnya anda berterima kasih dengan kak Nico. jangan berani anda menjelekkan kak Nico, Dia tidak pernah membunuh orang, Dia sangat baik." Ucap Dokter Zena dengan raut wajah kesal karena pasiennya mengatakan hal buruk kepada kakak kesayangannya itu.
Dokter Zena sangat menyayangi dan menghormati Nico yang sudah Ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Sejak ke dua orang tuanya meninggal dunia, Nico lah yang menjaga dan bahkan menyekolahkan mereka berdua. Dan tentu saja Ia tidak akan membiarkan orang lain mengatakan hal buruk tentang kakaknya itu. Selama ini dojter Zena tidak mengetahui jika Nico adalah seorang mafia yang begitu kejam dan bisa melenyapkan siapa saja yang mengusiknya.
"Kakak? apa dokter ini adik dari Nico?" Tanya Aldwin dalam hati dengan raut wajah bingung.
__ADS_1
"Sebaiknya anda istrihat jika ingin cepat pulih dan jangan berpikir buruk mengenai orang lain." Saran dokter Zena.
" Baik Dokter." Aldwin hanya bisa pasrah dan mengikuti ucapan dokter Zena.
Dokter Zena melakukan pemeriksaan tekanan darah, Ia meletakkan Stetoskop di dada Aldwin untuk memeriksa detak jantung pasiennya itu.
“Semuanya normal dan kondisi anda akan pulih dalam beberapa minggu.”
“Terima kasih dokter.” Ucap Aldwin.
“Sama-sama tuan.” Dokter Zena merapikan selimut Aldwin dan berkata. “Jika anda membutuhkan sesuatu anda bisa memanggil saya, Permisi” Dokter Zena berlalu meninggalkan Aldwin setelah memeriksa kondisinya.
Aldwin menatap ruangan tempatnya di rawat dan kembali mengingat tentang peristiwa malam itu.
Saat peristiwa penculikan Ana. Aldwin memang terkena tembakan di bagian kaki dan juga lengannya. Beruntung Ia masih hidup walau kondisinya sedang kritis karena kehilangan banyak darah dan nyawanya berada di ujung tanduk.
Ana yang saat itu ingin meninggalkan markas Aldwin, Ia melihat Aldwin mencoba mengulurkan tangannya dan meminta pertolongan dengan suaranya yang terdengar begitu lirih dan tak begitu jelas. “Tolongggg.” Ucapnya dengan lirih.
Ana yang berjalan melewatinya tiba-tiba saja berhenti saat mendengar samar-samar suara seseorang sedang meminta tolong. Ia menoleh ke sumber suara dan menemukan Aldwin yang berlumuran darah dengan ke dua matanya sudah tertutup hanya tangannya saja yang bergerak dengan lemah.
Ana mendekat dan memeriksa kondisi Aldwin. Ia memegang tangannya dan memastikan jika denyut nadinya masih ada.
“Dia masih hidup.” Ucap Ana.
Walau Ana begitu membenci sikap Aldwin yang ingin mencelakai dirinya. Namun, sebagai seorang dokter Ia Tidak tega jika harus meninggalkan Aldwin yang sedang kritis. Ia harus memegang sumpahnya untuk menolong siapa saja walau itu musuhnya sekalipun.
Demi rasa kemanusian, Ana menolong Aldwin dan membawanya ke rumah sakit dengan mobil Ambulance.
Nico sempat menolak untuk menolong Aldwin karena Aldwin adalah musuhnya sejak dulu. Namun, Ana berusaha meyakinkan Nico agar melupakan semua dendamnya di masa lalu.
“Dendam tidak akan mengubah apa pun dan mengembalikan yang sudah pergi, belajarlah untuk melupakannya dan mengikhlaskannya.”
Namun, Aldwin sama sekali tidak mengingat siapa yang sudah menolongnya karena saat itu Ia pingsan.
*******
Sinar mentari menampakan cahanya pertanda jika malam telah berganti pagi. Bias sinarnya memberi kesejukan bagi setiap insan yang ada di muka bumi. Tetesan embun membasahi bumi, burung berterbangan di langit pagi. Kicauan burung terdengar mengalun begitu indah. Suasana pagi sungguh indah dengan pemandangan lautan yang mengelilingi, air begitu jernih dan berwarna biru. Sunggu sangat memanjakan mata dan menenangkan pikiran.
Seseorang menggeliat dengan pelan. Sesaat kemudian matanya juga ikut terbuka. Sungguh pemandangan yang begitu indah saat pagi hari Ia disambut dengan wajah tampan suaminya.
Ana mengusap wajah suaminya dengan lembut.
“Sangat tampan.” Pujinya.
Ia turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke luar menikmati udara pagi sambil menatap lautan yang begitu menyejukkan mata.
Ana menghirup udara pagi ini dan membiarkan angin menerbangkan rambutnya. Tiba-tiba saja seseorang memeluknya dari arah belakang.
“Kau sangat cantik sayang.” Bisiknya pelan.
Siapa lagi kalau bukan Nico. Suami tampan yang sudah mencuri hati seorang dokter cantik, Ariana Anastasiya.
“Ini sangat indah sayang, aku sangat menyukainya.” Ucap Ana dengan matanya menatap birunya lautan.
“Terima kasih.” Ucapnya sambil mencium wajah istrinya.
“Untuk?”
“Terima kasih karena sudah menerimaku dan mau mengandung anakku.” Nico membelai rambut indah istrinya dan mencium pucuk kepala Ana.
__ADS_1
Setelah bertemu dengan Ana dan menikah dengannya membuat hidup Nico begitu berwarna. Ia tidak lagi merasakan kesepian. Ia sudah berjanji untuk meninggalkan dunia mafia di depan makan bu Ella demi keselamatan istri dan calon anaknya.
Nico sungguh telah menyesali semua perbuatan kejamnya kepada Ana dulu. Andai waktu bisa berputar kembali Ia ingin memperbaiki semuanya. Beruntung Ana adalah wanita yang begitu baik, hatinya selembut sutra dan mudah memaafkan siapa saja orang yang pernah menyakitinya asalkan Ia meminta maaf dan berjanji untuk berubah. Saat ini, Ia bisa melihat jika Nico sungguh menyesal dan tidak ada salahnya memaafkan orang yang pernah menyakitinya.
Mereka sudah berada di negeri Gingseng, Korea. Saat ini Ia berada di pulau Jeju. Pulau Jeju adalah pulau terbesar di Korea Selatan dan terletak di sebelah selatan Semenanjung Korea. Sejauh mata memandang, pulau ini akan menyajikan spektrum alam dalam warna biru dan hijau. Mereka akan mengunjungi beberapa objek wisata di pulau tersebut.
Mereka akan manghabiskan beberapa hari di negeri tersebut dan setelah itu mereka akan ke Negara London untuk menghadiri pernikahan sahabat baiknya Rea dan Aldo.
Sementara itu, di Negara London tepatnya di mansion Rea. Ia baru saja selesai berdandan dengan menggunakan gaun berwarna biru muda. Rea sudah siap dan tinggal menunggu kedatangan Sang kekasih.
Rea akan berjalan-jalan sore bersama Aldo dengan mengunjungi beberapa tempat yang sejak dulu ingin Rea kunjungi dengan orang yang Ia cintai.
Ia ingin mengunjungi West Wittering, pantai yang berpasir luas dengan air yang begitu jernih. Pantai terbaik yang ada di negara London.
Aldo tiba di mansion Rea dengan mengendarai mobil sport miliknya. Ia segera menemui Rea dan mereka pun bersiap menuju tempat yang ingin dikunjungi oleh kekasihnya itu.
"Kau sudah siap sayang?" Tanya Aldo sambil memasangkan seatlbeat demi keamanan sang kekasih.
"Tentu saja sayang." Jawab Rea dengan raut wajah bahagia dan senyum yang tak pernah surut.
Beberapa menit, Mereka tiba di tempat tujuan.
"Ini sungguh indah sayang, aku sangat menyukainya, Terima kasih." Ucap Rea.
Mereka berjalan menyusuri pantai tanpa menggunakan alas kaki. Rea membentangkan tangannya merasakan semilir angin menerpa tubuhnya. Aldo memeluk Rea dari arah belakang yang masih asyik menikmati sejuknya udara pantai.
"Aku mencintaimu sayang." Ucap Aldo.
"Aku juga mencintaimu sayang."
Kedunya berciuman dengan pamandangan pantai sungguh menambah kesan romantis.
Dari kejauhan, seseorang berpakaian serba hitam mengamatinya dan mengambil beberapa foto mereka dan mengirimkan kepada seseorang.
"Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia, bersiaplah untuk pembalasan dendamku." Ucapnya dengan menatap foto yang baru saja dikirimkan oleh anak buahnya. Ke dua tangannya mengepal kuat. Ia menatap foto Nico dan juga Aldo dengan tatapan penuh kebencian.
"Aku akan memberimu pelajaran lebih dulu." Ia menatap foto Aldo dengan ke dua tangannya mengepal kuat. Ia meremas foto yang ada di tangannya dan membuang ke lantai.
Bersambungggg.....
Like, Vote, dan Komentar.
__ADS_1