
Nico yang terkenal begitu kejam, dingin dan angkuh saat ini terlihat begitu menyedihkan. Siapa yang menyangka bahwa cinta bisa mengubah seseorang yang dulu begitu kejam menjadi pria yang begitu terluka. Sama halnya dengan Nico ia sudah jatuh cinta dengan Ariana. Namun Nico harus menerima kenyataan ia tidak bisa bersama dengan Ana. Kerena saat ini Ana benar-benar membencinya. Tapi bukan Nico namanya jika ia tidak bisa membuat Ana mencintainya. Ia tidak pernah kalah dan selalu mendapatkan apa pun yang Nico inginkan.
“Apa tuan yakin akan menemui nona Ana.” Tanya Aldo yang terlihat ragu dengan rencana Nico untuk menemui Ana. Nico akan melakukan apa pun demi membuat wanita yang Nico cintai bisa bersamanya.
“Aku yakin ingin menemuinya dan membuat wanita itu tidak bisa lepas dariku dan aku akan membuatnya mencintaiku, kau tahu dari dulu aku tidak pernah kalah dan tidak ada yang bisa menolakku, aku akan mendapatkan apa pun yang aku inginkan, wanita itu sudah membuatku hampir gila karena tidak melihatnya, aku benar-benar merindukannya, ini kesempatan untuk membuatnya mencintaiku, Ana hanya akan menjadi milikku seorang” Jawab Nico.
Malam ini Nico dan Aldo sudah berada di jet pribadi untuk kembali ke Indonesia menemui Ana dan juga menyelesaikan urusan perusahaan yang sudah lama ia tinggalkan karena urusannya di London. Nico yang mendapatkan telefon dari pengacara keluarganya. Segera memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
“Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah wanita itu, beberapa bulan tidak melihatnya membuatku merindukannya” Nico terlihat tersenyum tipis.
“Sebentar lagi tuan akan bertemu dengan nona Ana, Bagaimana jika nona Ana tidak ingin bertemu dengan tuan?”
“Aku akan membuatnya mau bertemu denganku.”
“Apa kau meragukanku? Kau tahu tidak pernah ada wanita yang menolakku, mereka selalu mengejarku, Kau pikir aku tidak bisa membuat Ana mencintaiku, kau akan lihat aku akan membuatnya menjadi milikku.” Ucap Nico dengan tatapan tajam menatap Asistennya.
“Maafkan saya Tuan.”
“Selamat berjuang tuan, ini pertama kalinya aku melihat tuan benar-benar melakukan apa pun demi wanita itu, apa benar tuan sudah jatuh cinta lagi, aku harap tuan bisa bersama dengan nona Ana, wanita itu sudah membuat tuan hampir gila dan bahkan membuat tuan tersiksa beberapa bulan ini.” Batin Aldo.
Beberapa bulan lalu Nico benar-benar tersiksa dengan perasaannya kepada Ana. Wanita yang dulu sangat dibencinya namun saat tidak melihatnya Nico begitu merindukannya. Ariana wanita yang sudah mengisi relung hati Nico. Ia tidak akan melepaskan wanita itu dengan muda. Saat ini Nico sedang berjuang membuat Ana memaafkannya dan bahkan membuat wanita itu jatuh cinta. Ia akan melakukan apa pun demi mendapatkan cintanya.
Nico yang saat itu terpuruk ketika Ana memutuskan untuk pergi dan meminta Nico menjauhinya dan bahkan tidak ingin melihat wajahnya membuat hati Nico benar-benar hancur dan begitu terluka. Bagaimana tidak saat itu Nico baru saja merasakan jatuh cinta dengan seorang wanita yang saat itu menyuruhnya pergi. Namun, Nico tidak ingin terus terpuruk tanpa melakukan apa pun untuk mendapatkan Ana. Ia akan berjuang demi cinta.
“Apa kau sudah mendapat informasi tentang Aldwin?” Tanya Nico yang terlihat menatap keluar jendela melihat awan putih yang terlihat begitu indah.
“Sepertinya laki-laki itu menghilang setelah menderita cacat, Aldwin memutuskan untuk meninggalkan nona Ana, hubungan mereka sepertinya sudah berakhir tuan. Nona Ana juga sudah kembali bekerja seperti dulu.” Ucap Aldo menyampaikan informasi kepada tuannya.
“Itu hukuman yang pantas untuknya, anak dari pembunuh itu seharusnya sudah aku lenyapkan dari dulu, aku tidak akan membiarkannya lolos suatu saat nanti, tetap selidiki keberadaannya dan jangan biarkan Aldwin lolos, aku ingin laki-laki itu lenyap dan tidak menggangguku lagi ataupun menemui Ana.” Perintah Nico.
“Baik tuan.”
Nico terlihat memejamkan matanya. Perjalanan yang cukup melelahkan dan membosankan untuknya. Ia ingin tidur saja dan memimpikan bertemu dengan Ana.
Akhirnya jet pribadi Nico tiba di Indonesia. Nico dan Aldo segera turun dari landasan pacu dan masuk ke mobil yang sudah menunggu mereka sejak tadi. Mobil Nico tiba di mansionnya dan disambut oleh para pelayan juga pengawal yang sudah menunggu kedatangan mereka.
“Selamat datang tuan.” Ucap bi Rum kepala pelayan di mansion Nico.
“Hmmmm.” Nico hanya mengangguk dan berjalan masuk menuju kamarnya bersama Aldo.
“Aku ingin bertemu dengan Pak Gunawan, dia sudah menghubungiku dan mengatakan ada hal penting yang akan ia katakan, Hubungi di malam ini juga.” Perintah Nico kepada Asistennya.
“Baik Tuan.”
Gunawan adalah pengacara keluarga Nico yang sudah bekerja menjadi pengacara keluarga saat orang tua Nico masih hidup.
Beberapa menit kemudian, Gunawan sudah berada di ruang kerja Nico.
“Katakan apa yang bapak ingin sampaikan kepadaku?” Tanya Nico.
“Maafkan saya tuan, saya baru bisa mengatakannya, ini mengenai permintaan terakhir dari tuan William sebelum beliau meninggal, tuan William pernah berpesan kepada saya untuk memberikan dokumen ini dan juga sebuah surat kepada tuan ketika dewasa nanti, maaf tuan saya baru mengatakannya karena selama ini tuan Reynad melarang saya untuk menyampaikan kepada tuan.” Gunawan menyodorkan sebuah dokumen juga sebuah surat.
Nico mengambil dokumen itu dan membukannya. Ia begitu terkejut dengan isi dokumen itu yang menyatakan bahwa William akan memberikan sebagian harta kepada Ariana Anastasya putri Bagaskara Wijaya saat berusia 25 tahun dengan syarat bahwa Ariana harus menikah dengan Nico Alexander.
__ADS_1
“Katakan apa maksud semua ini pak.” Nico terlihat begitu bingung dan juga terkejut setelah membaca surat dan dokumen yang diberikan oleh pengacara keluarganya.
“Sebelum tuan William meninggal beliau sudah menjodohkan tuan dengan nona Ariana putri Bagaskara, dulu tuan William dan pak Bagaskara adalah sahabat baik, hubungan keduanya begitu baik hingga sebuah kesalahan yang dilakukan oleh Bagaskara membuat hubungan mereka rusak, saat itu tuan masih sangan kecil dan nona Ana adalah teman kecil tuan, Tuan William begitu menyayangi nona Ana dan menganggapnya sebagai putrinya hingga Tuan William ingin mengangkatnya menjadi anak, keduanya sepakat untuk menjodohkan anak-anak mereka ketika dewasa nanti. Tapi sayangnya tuan William meninggal lebih dulu dan meninggalkan sebuah permintaan terakhir untuk tuan.” Jawab Gunawan panjang lebar.
“Kenapa bapak baru mengatakannya sekarang?" Tanya Nico lagi.
“Maafkan saya tuan, sejak dulu saya ingin mengatakannya kepada tuan tapi tuan Reynad mengancam saya agar tidak memberitahu masalah ini kepada Anda tuan." Jawabnya lagi.
“Baiklah, terima kasih karena bapak sudah berani mengatakannya, besok ikutlah denganku untuk bertemu dengan keluarga Bagaskara untuk menyampaikan semua ini, bapak bisa pulang dan istirahat.”
“Baik tuan, Saya permisi.” Gunawan menundukan kepala kepada Nico memberi hormat sebelum keluar dari ruanga Nico.
Gunawan dan Aldo berjalan meninggalkan ruangan Nico.
“Aku pikir tidak akan bisa bersamamu Ana, ternyata takdir sudah mengikat kita sejak dulu, kali ini aku tidak akan melepaskanmu, Terima kasih Ayah sudah menjodohkanku dengan putri Bagaskara sahabat ayah, aku yakin akan hidup bahagia bersamanya, aku mencintaimu Ana.” Ucap Nico dengan tersenyum menatap dokumen yang ada di tangannya.
Malam semakin larut membuat Nico ingin istirahat karena tubuhnya juga lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup lama. Nico menuju kamarnya ingin tidur. Besok ia harus terlihat segar untuk bertemu dengan wanita pujaan hatinya.
“Selamat istirahat tuan.” Ucap Aldo.
"Pulanglah dan istirahat, kau sudah bekerja keras selama ini." Perintah Nico.
"Baik tuan." Aldo menundukkan kepala berjalan keluar kamar Nico dan menutup pintu kamar dengan pelan.
“Apa yang sedang kau lakukan Ana, Aku ingin melihatmu malam ini. Bersiaplah besok aku akan memberimu kejutan. Kau akan menyukainya, aku harap kau sudah memaafkanku dan melupakan semua yang terjadi dulu. Aku akan menebus kesalahanku dengan menjagamu dan juga mencintaimu selamanya Ariana Anastasya, kau hanya akan menjadi milikku seorang.” Nico tersenyum menatap foto Ariana yang sedang tersenyum dengan begitu manis dan terlihat begitu cantik.
Tanpa terasa Nico memejamkan matanya dan terlelap menuju alam mimpinya.
***
“Operasi pasien berjalan lancar dok, Dokter memang hebat.” Ucap dokter muda yang bekerja bersama Ana.
“Terima kasih pujiannya, kau juga begitu hebat dokter.” Ucap Ana dengan tersenyum manis. Ia baru saja keluar dari ruang operasi. Tubuh dan wajahnya yang terlihat begitu lelah. Ana ingin segera pulang dan istirahat.
****
Sinar mentari menyingsing menampakkan cahaya indah di langit yang terlihat cerah. Ana menggeliat membuka matanya pelan. Tidurnya yang nyenyak harus terganggu dengan ketukan pintu kamarnya yang sejak tadi diketuk oleh ibunya.
Hari ini keluarga Ana kedatangan tamu. Tamu yang tidak pernah diinginkan kedatangannya. Tamu itu sudah duduk manis di ruang tamu rumah bu Ella. Terlihat raut wajah bahagia dari wajah pria yang tengah duduk di ruang tamu itu. Dia adalah Nico bersama asistennya Aldo dan juga seorang pria yang memakai setelan jas lengkap memegang sebuah tas berwarna hitam ia terlihat seperti seorang pengacara.
Ana yang sedang tertidur pulas membuka matanya pelan saat mendengar suara ibunya yang terus memanggilnya.
“Nak buka pintunya, ada yang ingin menemuimu.” Ucap bu Ella dengan lembut.
“hupppp.....Ada apa bu? Siapa yang ingin bertemu denganku?” Ucap Ana yang membuka pintu dan mengucek matanya dengan pelan sambil menguap. Ia masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.
“Cepatlah, kau harus lihat siapa yang ada di ruang tamu.” Bu Ella menggandeng tangan Ana segera menuju ruang tamu yang sudah ada Nico di sana.
Ana berjalan mengikuti ibunya. Saat ia melihat di ruang tamu terlihat seorang pria yang sudah duduk manis di sebuah kursi. Mata Ana membulat sempurna kesadarannya segera kembali dan jantungnya serasa ingin melompat keluar. Ana hanya bisa diam menatap pria yang ada di depannya.
"Kau tidak berubah Ana, bahkan kau terlihat begitu cantik, Aku ingin memeluknya dan mengatakan aku sangat merindukanmu." Batin Nico. Sesaat kemudian ia tersadar dari lamunannya ketika menatap Ana yang sudah duduk di depannya.
“Selamat pagi bu dan Ana, maaf aku mengganggu kalian pagi ini.” Ucap Nico dengan tersenyum.
__ADS_1
“Ka...kau, mau apa Anda ke rumahku tuan Nico.” Ucap Ana dengan terbata-bata. Ana benar-benar terkejut tidak suka dengan kedatangan Nico ke rumahnya. Pagi ini ia terlihat begitu kesal dengan tamu yang tak diinginkan kedatangannya ini.
“Ada apa tuan tiba-tiba datang ke rumah kami.” Sambung bu Ella. Ia juga terlihat tidak suka dengan kedatangan Nico bersama seorang pria asing.
“Maaf nyonya dan juga nona Ana kalau kedatangan kami ke rumah kalian membuat kalian tidak nyaman, kedatangan kami menemui kalian ingin menyampaikan sesuatu yang penting.” Ucap Aldo.
“Katakan apa yang ingin kalian katakan, jangan membuang waktuku.” Ucap Ana dengan ketus.
“Baikalah nona Ana, sebelumnya saya minta maaf kalau saya terlambat mengatakan ini. Saya hanya ingin memberikan ini, silakan nona Ana baca dokumen tersebut dan ini adalah surat perjanjian dan permintaan terakhir dari tuan William dan juga pak Bagaskara.” Gunawan menyodorkan sebuah dokumen dan juga sebuah surat kepada Ana.
Ana mengambilnya dan membuka dokumen itu membaca setiap kata yang tertulis dalam dokumen tersebut dengan teliti. Raut wajah Ana terlihat begitu bingung dan terkejut dengan isi dokumen tersebut.
Di dalam dokumen itu dijelaskan bahwa tuan William akan memberikan sebagian harta kepada Ana dengan satu syarat Ana dan Nico harus menikah. Ini adalah permintaan ayah Nico dan juga ayah Ariana.
Sebelum meninggal Bagaskara dan William dulu adalah sahabat. Mereka seperti saudara dan berniat menjodohkan ke dua anak mereka setelah dewasa nanti. Sampai sebuah peristiwa yang membuat hubungan ke dua sahabat itu hancur. Sebelum meninggal William dan Bagaskara sudah menulis sebuah surat yang disepakati oleh mereka tentang perjodohan anak-anak mereka setelah dewasa.
“Apa maksud anda tuan Nico? itu tidak mungkin, ayah tidak mungkin menjodohkan aku dengan Anda Tuan, ini semua tidak benar ayah tidak mungkin menulis surat ini, Anda jangan membohongi saya tuan.” Ucap Ana dengan tatapan tajam melihat ke arah Nico.
“Aku juga tidak tahu mengenai permintaan terakhir dari orang tua kita, aku juga begitu terkejut dengan semua ini, Kau bisa menanyakan ini kepada ibu, aku rasa ibu mengetahui semua ini dan akan menjelaskannya. aku tidak akan memaksamu untuk memenuhi permintaan terakhir dari orang tua kita, kau berhak untuk tidak setuju, kau harus tahu ini adalah keinginan dari ke dua orang tua kita, kau berhak untuk memutuskan semua ini.” Ucap Nico.
“Bu ada apa sebenarnya? Apa yang ibu sembunyikan dariku?” Tanya Ana kepada ibunya.
“Maafkan ibu Nak, ibu akan mengatakan semuanya.”
“Saya akan memberikan kalian waktu untuk memikirkan semua ini, mengenai permintaan dari orang tua kita kalian bisa memikirkannya dan berhak untuk memutuskan apa kalian akan memenuhi permintaan itu atau tidak, saya tidak akan memaksa kalian.” Ucap Nico.
“Kami permisi nyonya dan nona Ana, kalian bisa menghubungiku setelah memutuskan mengenai hal ini, Ini kartu nama saya nona Ana.” Ucap Aldo sambil menyodorkan selembar kartu nama kepada Ana.
Ana menerimanya dan menutup pintu dengan pelan setelah tamu yang tak diinginkan sudah keluar. Ia segera menemui ibunya untuk meminta penjelasan mengenai semua ini..
Bersambunggg...
Maafkkan Author yang jarang Up.
Terima kasih untuk kalian yang masih mau membaca novelku yang receh ini.
🙏🙏
__ADS_1