Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 86 : Rasa yang Tak Terlupakan


__ADS_3

Menikah menjadi impian setiap wanita. Begitu juga dengan Dokter Zena. Malam ini Ia telah resmi menjadi istri dari pria yang sangat mencintainya. Hatinya sungguh bahagia. Jantungnya berdebar kencang dan perasaanya dipenuhi dengan kebahagiaan.


Semua tamu sudah kembali ke mansion mereka begitu juga dengan para orang tua karena waktu memang sudah larut malam. Nico mengajak Ana untuk pulang lebih awal setelah pesta usai. Ia tidak ingin istrinya itu kelelahan. Nico sudah menyiapkan hadiah pernikahan untuk Dokter Zena dan juga Aldwin. Paket bulan madu ke negara yang ingin mereka kunjungi.


******


Time Skip


Tiga hari setelah pernikahan Aldwin dan Dokter Zena. Mereka berdua memutuskan untuk pergi berbulan madu.


Dan disinilah mereka berada setelah menempuh perjalan yang panjang akhirnya mereka tiba di Negara Maladewa/ Maldives. Yang merupakan negara kepulauan.


Negara ini dikenal memiliki pantai yang indah dan pemandangan bawah laut yang menarik. Popularitas Maldives/Maladewa di kalangan turis sudah tak perlu diragukan lagi. Negara kepulauan di barat daya India ini memiliki keindahan alam menakjubkan, terutama pantai berpasir putih dan laut biru seperti kaca.


Bukan saja elok di permukaan, Maldives juga punya alam bawah laut yang cantik dan bertabur spot untuk snorkeling maupun diving.


Tak berlebihan jika Maladewa menjadi salah satu destinasi wisata impian bagi wisatawan seluruh dunia, terutama bagi pasangan yang ingin berbulan madu.


Dokter Zena dan juga Aldwin keduanya memang sangat menyukai suasana alam dan juga berenang di laut menjadi hobi keduanya. Itulah sebabnya mereka memilih bulan madu di Negara ini.


Mereka tiba di Negara Maladewa pada waktu Pagi dan disambut dengan pemandangan laut dan hembusan angin yang memberikan rasa Sejuk dan lembut.


Dokter Zena dan Aldwin sudah berada di salah satu kamar yang khusus di siapkan untuk keduanya. Kamar yang pemandangannya menghadap langsung dengan lautan sungguh terlihat begitu indah.



Mereka masuk dan menatap kamar yang sudah disiapkan untuk sepasang pengantin baru itu. Sebuah Kamar yang paling mewah dengan nuansa yang begitu romantis. Dokter Zena menatap takjub kamar yang akan Ia tempati. Ia membuka tirai dan Ia bisa melihat lautan yang begitu luas dari kamar yang Ia tempati sungguh begitu cantik dan sangat memanjakan mata.


Perjalan yang melelahkan terbayar dengan pemandangan yang begitu indah dan menakjubkan.


"Ini benar-benar indah." Dokter Zena menatap pemandangan laut yang berwarna biru toska. Ia membuka jendela kamarnya. Ia bisa merasakan hembusan angin sejuk yang menerbangkan rambutnya. Ia merentangkan tangan dan sesekali menghirup udara segar. Rasanya begitu nyaman dan membuat pikiran tenang.


Aldwin yang melihat istrinya begitu menikmati pemandangan laut hanya tersenyum tipis.


"Kau menyukainya sayang?" Aldwin memeluk dan menyandarkan kepalanya di bahu istrinya dan ikut merasakan hembusan angin menerpa kulitnya.


"Hemmmm." Dokter Zena mengangguk pelan.


"Aku sudah tidak sabar ingin berenang sayang, apa boleh?" Tanya Dokter Zena begitu antusias dan matanya berbinar-binar. Ia begitu menyukai segala hal yang berhubungan dengan laut.


"Setelah sarapan kita akan berenang bersama." Jawab Aldwin.


"Benarkah, ahhhh terima kasih sayang." Dokter Zena memeluk Aldwin dengan begitu bersemangat.


Setelah selesai sarapan keduanya memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggir pantai sebelum kedunya melakukan Snorkling.


Aldwin dan Dokter Zena akhirnya melakukan Snorkling bersama. Sinar matahari menembus Air laut yang jernih membuat terumbu karang terlihat semakin cantik. Ikan yang berenang bebas semakin menambah keindahan alam bawah laut saat itu. Mereka berenang sambil berpegangan tangan. Seolah keduanya tak ingin berpisah. Aldwin mengambil beberapa gambar istrinya yang terlihat begitu bahagia menikmati anugera Tuhan yang begitu indah.


*****


Matahari tepat berada di atas kepala, Sinarnya yang terik membuat kedua pasangan itu memutuskan untuk mengakhiri kegiatan mereka.

__ADS_1


"Ahhhhh ..... benar-benar sangat menyenangkan." Ucap Dokter Zena.


"Rasanya menyenagkan sekali punya suami yang mempunyai hobi yang sama denganku, Aku sangat suka dengan laut, kenapa kakak juga menyukai lautan." Dokter Zena tak hentinya berbicar. Saat ini mereka tengah berjalan menuju ke hotel tempat mereka menginap setelah puas berenang di laut. Jari-jemari kedunya saling menggenggam erat.


"Laut selalu memberikan kejutan dengan keindahannya. Kita tidak akan pernah tahu apa yang ada di dalamnya dan itu selalu membutku penasaran ingin mengetahui sesuatu yang tersembunyi di dalam lautan." Jawab Aldwin.


Dokter Zena mengangguk saat mendengar penjelasan Aldwin. Mereka samp


Mereka tiba di hotel dan memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran yang menyajikan berbagai Hidangan Seafood dengan pemandangan menghadap laut. Mereka sedang mengisi perut mereka yang lapar.


Waktu berlalu begitu cepat. Matahari akan kembali ke peraduannya. Langit tampak berwarna jingga. Dokter Zena dan Aldwin sedang menikmati Sunset bersama.


Aldwin menarik tubuh mungil istrinya. Tangan kokohnya memegang pinggang Dokter Zena. Ia menatap lekat wajah istrinya.


"Ap-Apa yang kakak lakukan?" Tanya dokter Zena sedikit gugup.


Aldwin tersenyum menyeringai. Jemarinya mengusap bibir mungil menggoda istrinya dan berbisik pelan.


"Aku ingin memberimu hadiah yang tidak akan pernah bisa kau lupakan sayang."


Aldwin segera melancarkan aksinya mencium bibir mungil yang menggodanya sejak tadi. Ciuman yang begitu lembut dan penuh cinta dengan pemandangan matahari terbenam.


"Hemmmmm... Hemmppp aku tidak bisa bernafas..."


Aldwin yang melihat istrinya tersengal dan hampir kehabisan nafas segera menghentikan ciumamnya.


"Baiklah sayang, kali ini aku akan melepaskanmu, sepertinya kau belum terlalu pandai berciuman, aku akan mengajarimu secara perlahan hemmm."


Langit tampak berwarna gelap menandankan siang telah berganti malam. Malam itu bintang menghiasi langit. Suasana semakin terasa begitu romantis.


"Sayang kau mau membawaku kemana?" Tanya dokter Zena. Keduanya matanya sedang ditutup dengan kain berwarna hitam. Aldwin memegang tangan istrinya dan menuntunya berjalan ke suatu tempat.


"Sayang, kau ikut saja denganku, aku akan menuntunmu, aku sudah menyiapkan kejutan untukmu, kau pasti akan menyukainya." Bisik Aldwin.


Akhirnya mereka tiba ditempat yang sudah disiapkan oleh Aldwin.


"Kau bisa membuka matamu." Aldwin melepaskan penutup mata istrinya.


"Sayanggg.. Ini benar-benar indah."


"Kau menyukainya." Tanya Aldwin.


"Hemmm."


Aldwin sudah menyiapkan makan malam romantis di balkom kamar mereka. Ia juga sudah menyiapkan hadiah spesial untuk istrinya itu.


Mereka menikmati makan malam dengan penuh kebahagiaan. Setelah makan, Aldwin mengambil hadiah yang berada di Saku celananya. Hadiah yang sudah Ia siapkan untuk istri tercintanya.


"Aku mencintaimu istriku, Anggita Azena. Terima kasih sudah mau menghabiskan sisa umurmu bersamaku, Teruslah mencintaiku sampai maut memisahkan. I Love You More Baby." Aldwin berlutut di depan Dokter Zena dengan menyodorkan sebuah kotak perhiasan.


Dengan mata berkaca-kaca, Dokter Zena meraih hadiah yang diberikan oleh suaminya itu. Ia membukannya dan kedua matanya berbinar bahagia.

__ADS_1


"Kau suka dengan hadiahku?" Tanya Aldwin.


Dokter Zena mengangguk pelan.


Bagiamana mungkin Ia tidak menyukai hadiah dari suaminya itu. Sebuah kalung dengan ukiran inisial nama kedunya yaitu 'AA' yang artinya Aldwin dan Anggita.


Aldwin segera memakaikan kalung pemberiannya di leher jenjang istrinya dan juga memberi ciuman di tengkuk leher istrinya dengan penuh cinta.


"Terima kasih kak." Dokter Zena segera memeluk Aldwin dengan perasaan begitu bahagia.


Aldwin segera membalas pelukan istrinya. Keduanya berpelukan begitu erat cukup lama.


Aldwin segera mengangkat tubuh mungil istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka. Aldwin membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang dan segera mengungkung tubuh mungil istrinya itu.


"Aku menginginkamu malam ini sayang." Ucap Aldwin dengan tersenyum tipis.


"Ak-Aku hmmm." Dokter Zena terlihat gugup dan malu. Jantungnya berdegub kencang pipinya merona merah. Ia hanya bisa menatap ke lain arah. Ia tidak berani menatap wajah pria yang sudah mengungkung tubuhnya. Aldwin terlihat tersenyum sangat nakal dan tatapannya yang begitu menggoda sejak tadi.


"Persiapkan dirimu malam ini sayang, aku tidak akan melepaskanmu lagi." Aldwin berbisik pelan di telingan istrinya. Membuat Jantung dokter Zena berdegub lebih kencang.


Deggg....


Setelah menikah mereka belum melakukan malam pertama karena keinginan dokter Zena untuk melakukannya saat bulan madu nanti. Sebenarnya dokter Zena belum siap untuk melakukan hubungan suami istri. Ini akan jadi pengalaman pertamanya dan Ia benar-benar takut dan gugup di saat yang bersamaan. Ia tahu ini sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang istri. Cepat atau lambat Ia pasti akan tetap memenuhi kewajibannya itu dan malam ini Ia tidak akan bisa lagi menghindar.


Aldwin yang begitu pengertian dan menghargai keinginan istrinya. Ia tidak ingin egois dan memaksakan kehendaknya tanpa memikirkan perasaan istrinya. Selama tiga hari ini Ia berusaha menahan gairahnya. Dan malam ini Aldwin tidak akan lagi membiarkan istrinya lepas dengan mudah.


Aldwin hanya bisa tersenyum tipis melihat wajah merona Istrinya yang terlihat menggemaskan saat Ia tengah gugup dan malu.


"Apa kau sudah siap sayang?" Aldwin membelai lembut pipi dokter Zena.


"Hemmmm." Dokter Zena mengangguk pelan.


"Apa malam ini dia akan melakukannya? ahhhhhh.... tapi aku benar-benar takut dan belum siap, ini pertama kalinya untukku." Batin Dokter Zena.


"Bersiaplah sayang, malam ini aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah." Batin Aldwin tersenyum menyeringai.


"Aku akan melakukannya dengan lembut, Aku akan membuatmu tidak bisa melupakan malam ini." Bisik Aldwin di telingan istrinya. Ia menyesap daun telingan Dokter Zena.


Aldwin melepaskan pakaian istrinya dan juga pakaian yang melekat ditubuhnya. Aldwin melancarkan aksinya dengan mencium bibir istrinya. Ciuman yang begitu menuntut. Ia memberikan gigitan kecil dibeberapa bagian tubuh istrinya.


"Ukurannya sangat pas ditangan." Aldwin sedang bermain di area favoritnya. Terdengar suara de ** han dari bibir mungil dokter Zena yang merasakan gejolak ditubuhnya. Aldwin begitu pandai membuta tubuh istrinya tidak bisa menolaknya. Sentuhannya begitu lembut dan memabukkan.


Aldwin mulai melakukan penyatuannya dengan begitu pelan dan hati-hati.


"Awwww.... Sa-sakit kak." Dokter Zena menarik rambut Suaminya dan jemarinya mencengkram kuat bahu bidang Aldwin.


"Maafkan aku sayang... Ak-aku akan melakukannya dengan pelan."


Aldwin memulai aksi panasnya bersama dengan istrinya. Ia akan melakukannya dengan lembut karena Ia tahu hal ini adalah pertama kalinya bagi dokter Zen. Malam yang panas dan panjang baru akan segera dimulai untuk pasangan suami istri yang sudah terbakar gairah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2