Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 17 : Biarkan Aku Mati


__ADS_3

Mentari pagi menyinari permukaan bumi, cahayanya menelusup masuk lewat celah gorden jendela kaca. Menyinari ruangan yang memiliki pencahayaan redup. Seseorang masih memejamkan mata lentiknya wajanya begitu damai, tenang, seolah-olah ia adalah makhluk hidup yang tak memiliki permasalahan.


Jam menunjukkan pukul 09.00 pagi beberapa orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Nico sudah bangun sejak tadi, ia terlihat begitu bersemangat ia sudah siap dengan setelan kaos berwarna putih dan celana jeans hitam yang semakin menambah ketampanannya.


Hari ini adalah hari libur dan ia ingin menghabiskan waktu di mansioonya bersama dengan paman Reynad.


Ia turun melewati beberapa anak tangga menuju ruang tengah untuk sarapan bersama pamannya. Reynad sudah berada di meja makan lebih dulu untuk sarapan. Ia duduk sejenak menunggu Nico untuk sarapan bersama.


“Pagi paman.” Sapa Nico sambil berjalan menuju meja makan.


“Pagi juga, sepertinya keponakan paman begitu bersemangat.” Reynad membalas sapaan Nico.


Nico hanya tersenyum tipis ia duduk di depan pamannya dan merekapun mulai sarapan bersama. Nico mengambil beberapa lembar roti yang ada di atas piring yang sudah diberi selai. Merekapun sarapan tanpa mengelurkan suara. Suasana menjadi hening.


Para pelayan berdiri di dekat mereka menunggu ke dua orang tersebut selesai sarapan.


“Apa kau sudah melakukan apa yang paman katakan.”  Ucap Reynad memecah keheningan yang terjadi.


“Aku sudah melakukan sesuai dengan permintaan paman, aku sudah merenggut mahkota berharga yang dimiliki oleh wanita itu.” Nico terlihat tersenyum tipis membayangkan peristiwa semalam bersama Ariana.


“Paman bangga kapadamu, kau harus ingat jangan pernah merasa kasihan atau peduli dengan wanita itu, dia adalah anak seorang penghianat dan pembunuh.” Ucap pamannya lagi.


“Paman tenang saja aku tidak akan pernah peduli dengan wanita itu, aku akan menjadikannya budak dan memberinya penderitaan.” Jawab Nico


Nico segera berdiri dan menyuruh pelayan untuk membereskan meja. Mereka berdua sudah selesai sarapan. Reynad dan Nico berada di ruang keluarga mereka sedang berbincang-bincang mengenai masalah perusahaan.


Ponsel Nico bordering dan ia langsung mengangkat panggilan telefon tersebut.


“Tuan wanita tua itu sudah sadar.” Ucap suara diseberang telefon yang merupakan anak buah Nico.


“Baik awasi wanita itu.” Perintah Nico.


“Baik tuan.”


Nico menutup sambungan telefon tersebut dan menghubungi Aldo asistennya dengan menggunakan ponselnya. Ia tahu setiap hari minggu Aldo akan menghabiskan waktu untuk jogging. Aldo mengangkat panggilan Nico dengan earphone yang dipasang ditelinganya dan ia terus berlari-lari dengan pelan.


“Ada apa tuan?” Tanya Aldo yang tengah duduk di kursi taman dekat apartemennya.


“Kau harus segera ke rumah sakit, wanita tua itu sudah sadar, jemput wanita itu dan bawa dia ke mansioonku.” Perintah Nico.


“Baik Tuan.”


Nico mematikan sambungan telefon tersebut.


“Apa istri penghianat itu sudah sadar.” Tanya Reynad yang mendengar pembicaraan Nico.


“Iya, wanita tua itu sudah sadar, aku akan membawanya ke mansion ini dan mereka berdua tidak akan bisa lepas dariku, aku akan memberi mereka penderitaan.” Ucap Nico.


………..


Karena merasa jenuh, Nico dan Reynad memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi mansionya. Mereka berdua ingin menikmati alam dan menenangkan pikirannya.


Mansion Nico dikelilingi oleh ponon-pohon yang menjulang tinggi. Di sebelah kiri terdapat taman bunga dan di sebelah kanan terdapat basmen sementara depan belakang dipenuhi dengan berbagai tanaman buah. Nico begitu menyukai suasana alam. Mansion utama yang ditempati Nico saat ini adalah mansion milik kedua orang tuanya yang telah meninggal. Ia mempunyai banyak mansion yang terletak di berbagai kota. Di dalam mansion itu terdapat begitu banyak pelayan yang mempunyai tugas masing-masing.

__ADS_1


Tampak dari luar mansion ini terlihat begitu sepi. Tak ada rumah lain selain mansion ini, Nico tidak mempunya tetangga. Jika seseorang melihat mansion ini dari luar saja tampak seperti bangunan besar tak bernyawa.


Di dalam mansion itu begitu luas dan megah di desain dengan warnah putih dan gold membuatnya terlihat begitu mewah. Ruang keluarga menyatu dengan dapur. Permukaan lantai dilapisi karpet agar merasa nyaman. Langit-langi yang menjulang tinggi terlihat begitu indah oleh beberapa lampu gantung besar yang terbuat dari kaca menambah Keindahan bagi siapa saja yang melihatnya.


Kamar Nico begitu luas dan di dominasi oleh warna biru navi warna kesukaan Nico. Di dalam kamar megah itu seorang masih betah bersembunyi dibalik selimut membiarkan sedikit cahaya masuk menyinari tubuhnya. Ia membuka matanya dengan palan mengucek kedua bola mata indahnya. Ia menatap di sekeliling kamar untuk mencari keberadaan laki-laki kejam yang sudah membuatnya menderita.


Ia bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Langkanya terasa begitu berat ia merasakan sakit yang luar biasa di daerah sensitivnya badannya terasa remuk. Seluruh tulang-tulangnya seperti patah. Ia tetap mencoba melangkah walau ia merasa begitu lemah setelah peristiwa semalam.


Ariana masuk ke dalam kamar mandi dan mengunji pintu kamar mandi tersebut. Ia tidak peduli dengan rasa sakit dan juga perutnya yang terasa begitu lapar. ia ingin berendam di bathub untuk menghilangkan rasa sakit di tubuhnya dan membuat pikirannya sedikit tenang.


Ariana menatap nanar wajahnya di kaca yang berada di dalam kamar mandi. Ia mengusap wajahnya dengan air. Tanpa terasa bulir bening kembali jatuh di pelupuk matanya. Ia menangis dalam diam. Air matanya hanya mengalir begitu saja tanpa suara dari bibirnya.


Perasaanya benar-benar hancur. Hatinya remuk dengan apa yang menimpanya. Ia memukul kaca yang memperlihatkan wajahnya. Kaca itu pecah dan berjatuhan mengenai kakinya. Ia tidak peduli darah yang keluar dari kakinya akibat pecahan beling yang mengenainya.


“Ke-ke-kenapa ini harus terjadi kepadaku Tuhan? Aku lelah dengan semuai ini, aku ingin ikut dengan ayah, aku benci diriku sendiri, aku sudah kotor, Hiksss…. Hiksss.” Ariana terkulai lemah di lantai dan memukul dirinya sendiri. Ia merasa begitu jijik dengan dirinya yang sudah kotor dan ternoda. Air matanya tak berhenti luruh dari pelupuk matanya.


Tidak ada lagi harga diri yang harus dijaganya. Kesuciannya yang selama ini ia jaga untuk laki-laki yang akan menjadi suaminya suatu saat nanti harus direnggut oleh laki-laki kejam yang sangat dibencinya.


Ia melipat kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya di balik kedua lututnya. Ia terisak-isak dengan rasa sakit di dadanya. Ia berusaha menarik nafas untuk menetralkan rasa sakit di dadanya. Ia tidak punya siapaun untuk sekedar membagi penderitaannya bahkan ia tidak bisa bertemu dengan ibu kandungnya yang begitu dirindukanya.


Pikiran Ariana menjadi kacau tatapannya kosong, ia menatap pecahan kaca yang ada di sampingnya. Ia mengambil pecahan kaca tersebut.


Setelah beberapa menit menangis, Ariana mulai masuk ke dalam Bathub dan menyiram dirinya dengan air dari shower yang mengalir. Berjam-jam ia masih berada di bawah shower dengan air yang terus mengalir mengenai tubuhnya.


Ia melihat pecahan kaca yang ia letakkan di dekat bathub. Ia mambil pecahan kaca tersebut dan mulai memotong pergelangan tangannya dan membuat darah mengalir dari pergelangan tangannya. Ia ingin mengakhiri hidupnya. Ia lelah dengan semua masalah yang ia hadapi.


Ia merendam dirinya di dalam bathub kamar mandi. Air bening itu berubah menjadi warna merah akibat darah yang terus keluar dari pergelangan tangannya. Ia tidak lagi merasakan rasa sakit. Ia sudah hancur dan tidak ingin hidup lagi.


…………..


Setelah mereka berdua puas berjalan-jalan dan menikmati alam. Nico dan Reynad kembali ke mansion. Mereka segera masuk ke dalam mansion. Mereka duduk di ruang tamu dan Nico membuka ponselnya dan membaca beberapa email yang masuk.


Nico menatap jam dinding menunjukkan pukul 12.00 dan ia belum melihat wanita itu keluar dari kamar. Ia segera memanggil kepala pelayan yang bernama bi Rum perempuan paruh baya berusia 45 tahun yang sudah bekerja sejak kedua orang tua Nico masih hidup.


Tak berapa lama bi Rum datang dan menundukkan kepala kepada Nico dan Reynad.


“Dimana wanita itu?” Tanya Nico.


“Sepertinya wanita itu masih tidur di dalam kamar tuan.” Ucap bi Rum.


“Periksa wanita itu, apa dia pikir dia adalah nyonya di rumah ini?.” Perintah Nico kepada bi Rum.


“Baik Tuan.” Bi Rum segera berlalu dan menuju kamar Nico untuk memeriksa keadaan Ariana yang memang sejak tadi belum keluar dari kamar.


Nico bahkan tidak peduli apakah wanita itu masih hidup atau sudah mati setelah semalam melakukan penyiksaan kepadanya.


Bi Rum menaiki beberapa anak tangga menuju kamar Nico. Setelah sampai ia mengetuk pintu kamar tersebut.


Took… toookkkk


“Nona buka pintunya ini bi Rum, apa nona baik-baik saja?.” Tanya bi Rum dari balik pintu. Namun, tak ada jawaban dari dalam kamar tersebut.


Bi Rum mencoba membuka pintu dan pintu kamar itu tidak di kunci. Ia masuk dan mencari keberadaan Ariana, bi Rum menatap sekeliling ruangan matanya tertuju ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


“Nona pasti ada di dalam kamar mandi.” Ucap bi Rum sambil berjalan menuju kamar mandi.


“Apa nona berada di dalam kamar mandi? tuan Nico mencari anda nona!.” Ucap bi Rum namun, tak ada suara dari dalam kamar mandi. Bi Rum mencoba membuka pintu kamar mandi tapi pintu itu terkunci dari dalam.


Bi Rum segera turun dan menemui Nico ia takut terjadi susuatu yang buruk kepada Ariana.


“Tu-tu-tuan sepertinya terjadi sesuatu dengan nona Ariana.” Dengan terbata-bata bi Rum menyampaikan laporan kepada Nico.


“Ada apa bi? katakan dengan jelas!.” Reynad ikut menimpali.


“Saya sudah mengetuk berkali-kali pintu kamar mandi tapi tidak ada suara dari dalam kamar mandi dan pintunya juga dikunci dari dalam tuan.” Bi Rum mencoba menjelaskan.


Nico dan Reynad segera menuju ke dalam kamar untuk memastikan tidak terjadi sesuatu yang buruk. Nico dan Pria paru baya itu berlari menaiki anak tangga dengan cepat disusul oleh Bi Rum dari belakang. Kemudian ia segera masuk dan menuju kamar mandi yang pintunya sedang tertutup. Ia mencoba membuka pintu kamar mandi dengan mendobraknya dan ia melihat seorang wanita tak sadarkan diri di dalam bathub dengan darah yang terus mengalir di pergelangan tangannya.


Nico, Reynad dan bi Rum terlihat begitu panik, Nico mengangkat tubuh Ariana yang berada di dalam bathub dengan air yang berubah berwarna merah. Ia mengangkat tubuh Ariana yang sudah dingin, kulitnya terlihat pucat dan keriput akibat berjam-jam berada di dalam bathub.


Bersambungg….


 


LIKE, VOTE DAN KOMEN


TINGGALKAN JEJAK


BIAR AUTHORNYA SEMANGAT.


🙏🙏🙏


😀😀😀


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2