Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 87 : Kepanikan Aldo


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat. Tak terasa sudah satu minggu Aldwin dan Dokter Zena berbulan madu. Sepertinya Aldwin tengah berusaha dengan keras untuk membuat istrinya secepatnya hamil. Ia sudah tidak sabar ingin segera memiliki bayi dan menjadi seorang ayah. Seperti pagi ini Aldwin dan Dokter Zena masih bergelut di tempat tidur setelah olahraga panas yang mereka lakukan membuat seluruh tubuh Dokter Zena serasa remuk. Ia benar-benar kelelahan meladeni hasrat suaminya itu yang sepertinya tak ada habisnya menggempur dirinya sejak tadi malam.


"Bangunlah sayang! Kau harus sarapan dulu agar memiliki tenaga hemmm." Ucap Aldwin begitu lembut sambil mengusap rambut istrinya yang masih bergulung di dalam selimut.


"Emmm... Ak-aku masih mengantuk kak. Biarkan aku tidur sebentar." Guman Dokter Zena.


"Sepertinya istriku ini benar-benar kelelahan yah. Maafkan aku sudah membuatmu seperti ini." Aldwin mencium pucuk kepala istrinya dengan penuh cinta.


"Hemmm."


Dokter Zena memilih untuk tidur lagi. Tubuhnya terasa remuk dan kedua matanya benar-benar berat dan serasa begitu mengantuk.


"Baiklah istriku, Tidurlah lagi." Aldwin menarik tubuh istrinya dan memeluknya erat. Dokter Zena menelungkupkan wajahnya di dada bidang suaminya. Dan menghirup aroma tubuh suaminya yang bisa membuatnya nyaman.


"Nyaman sekali." Gumamnya.


Keduanya kembali terlelap meski matahari semakin merangkak naik. Sepertinya mereka hanya akan menghabiskan waktu di dalam kamar. Aldwin memilih merebahkan tubuhnya di sampin istrinya. Ia juga masih merasa mengantuk karena keduanya memang baru tertidur saat dini hari akibat pergulutan panas yang menguras energi yang mereka lakukan semalam.


Dan kedunya kembali terlelap menuju alam mimpi.


******


Sementara itu. Di belahan negara lain. Tepatnya di Negara London. Rea baru saja bangun dan Ia ingin membuat sarapan untuk Suaminya. Mereka memang tidak mempekerjakan pelayan untuk mengurus apartemen yang mereka tempati. Kerena permintaan Rea yang masih bisa mengurus segalanya sendiri dan juga mengurus kebutuhan suaminya. Ia merasa senang jika bisa melayani segala kebutuhan Aldo.


Rea sudah berada di dapur dengan penuh semangat Ia akan menyiapkan sarapan untuk Aldo karena sebentar lagi suaminya itu akan akan resmi menjadi CEO di perusahaan milik ayahnya. Ia ingin memberikan hal terbaik bagi suaminya dengan membuat sarapan yang enak untuk Aldo.


Rea menata makanan di atas meja dan segera ke kamar menemui suaminya untuk membantunya bersiap.


"Sayang, aku sudah menyiapkan sarapan." Rea membantu Aldo mengancingkan kemeja suaminya.


Geleeeekkkk....


"Semakin hari suamiku semakin tampan." Batin Rea.


Pagi-pagi Ia sudah mengagumi ketampanan pria yang sudah resmi menjadi miliknya itu. Aroma tubuhnya yang begitu wangi dan bentuk tubuhnya yang sempurna membuat Rea tidak bisa berhenti mengaguminya.


Aldo menatap lekat wajah Rea yang sedang sibuk mengancingkan kemeja miliknya. Selesai menganjingakn kemeja suaminya Rea segera memasangkan dasi.


"Sudah selasai sayang, suamiku semakin tampan." Rea tersenyum manis menatap wajah Aldo.


"Aku semakin mencintaimu sayang."


Cup


Aldo mencium pipi istrinya yang semakin hari semakin cantik dan menggemaskan di matanya.

__ADS_1


"Berikan aku ciuman selamat pagi!" Perintah Aldo.


"Baiklah suamiku yang tampan, aku akan memberikan ciuman selamat pagi agar kau mengingatku setiap saat dan tidak tergoda dengan karyawan wanita di kantormu nanti."


Rea mengalungkan tangan di leher suminya dan sedikit berjinjit agar bisa meraih bibir suaminya.


Cup


"Sudah puas sayang?" Tanyanya dengan wajah merona merah. Ia tidak terbiasa memulai hal menggoda lebih dulu jika bukan karena perintah suaminya.


"Peffffttt."


Aldo terkekeh kecil saat melihat usaha istrinya yang ingin memberinya ciuman selamat pagi yang terlihat begitu gugup dan kaku.


"Kau sebut itu ciuman, Biar aku mengajarimu cara berciuman yang benar Saayanggg..."


Aldo meraih tengkuk leher istrinya dan segera menyesap bibir mungil merona merah istrinya. Ciuman yang cukup lama dan penuh cinta.


"Heeempppp... Sa-yanngg..."


Rea berusaha menghentikan aksi suamiya yang terus saja menciumnya. Ia harus mengingatkan Aldo jika Ia harus segera ke perusahaan ayahnya. Hari ini Ia akan menjadi CEO di perusahaan ayahnya dan Rea tidak ingin membuat ayah mertuanya menunggu suaminya itu.


"Aku bisa saja menghabisimu sayang, Tapi sepertinya kau masih bisa selamat pagi ini, aku harus ke kantor dulu dan persiapkan dirimu malam ini hemmm." Ucap Aldo dengan tersenyum nakal dan tatapan menggoda. Membuat wajah Rea merona merah.


"Mesum tapi sangat tampan." Batin Rea.


Pagi ini akan ada pertemuan dengan ayah dan juga Tuan Nico, kerana itu Aldo harus segera pergi ke perusahan ayahnya. Hari ini Ia akan resmi menjadi CEO di perusahaan ayahnya. Ia tidak ingin membuat ayah dan juga Nico menunggunya. Bisa-bisa Nico menghajar dirinya karena membuatnya menunggu.


Aldo dan Rea segera menuju meja makan untuk sarapan bersama. "Sayang,, Hari ini aku akan menemani kak Ana ke rumah sakit, apa boleh?"


"Tentu saja sayang."


Sejak menikah Rea memang belum bekerja lagi. Ia masih ingin menjadi istri yang sepenuhnya melanyani suaminya. Rea akan memikirkan nanti untuk bekerja lagi di rumah sakit.


Rea hanya duduk memandangi sepotong Shadwich di atas piring. Ia tidak berselera sama srklai untuk makan apapun.


"Sayang, apa kau sakit?" Tanya Aldo yang melihat Wajah Rea sedikit pucat. Ia Khawatir dengan keadaan istrinya itu.


"Tidak apa sayang, aku baik-baik saja, mungkin hanya kelelahan saja." Terang Rea.


"Aku akan menyuapimu, makanlah sayang!" perintah Aldo menyuapkan Sandwich ke arah istrinya.


Tiba-tiba saja Rea menutup mulutnya dengan tangan. Perutnya terasa bergejolak dan Ia segera berlari ke kamar mandi. Aldo menyusul istrinya dengan khawatir.


"Hooeeeekkkk.... Hooooeekkkkk...." Rea memuntahkan seluruh isi perutnya. Ia bahkan belum makan apa pun sejak tadi.

__ADS_1


Aldo memijat tengkuk leher istrinya berusaha membantunya. "Kau terlihat tidak baik-baik saja sayang, kita ke rumah sakit saja." Ucap Aldo.


"Hoeeeekkkk.... Hoeekkkkk..."


Rea terus saja memuntahkan isi perutnya.


"Sayang, aku tidak apa-apa hanya masuk angin saja, tidak perlu ke rumah sakit, istirahat sebentar aku pasti akan sembuh, pergilah kau bisa terlambat hemmm."


Rea membasuh bibirnya dengan air. Aldo mengambil handuk dan memberiakannya kepada Rea.


"Tapi sayang, kau terlihat sangat pucat." Aldo masih begitu khawatir dengan keadaan Rea.


Aldo segera membantu istrinya. Ia menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar dan segera membaringkannya.


"Aku akan menghubungi dokter." Ucap Aldo segera mengambil ponselnya


"Aku sungguh baik-baik saja sayang." Rea segera banun dari tempat tidur dan ingin menunjukkan kepada Aldo jika dirinya baik-baik saja. Aldo yang tengah menelfon segera menutup telefon dan berlari ke arah istrinya.


Rea memegangi kepalanya yang terasa berat. penglihatannya menjadi gelap dan..


Buggg...


Beruntung Aldo segera menangkap tubuh istrinya yang hampir terjatuh di lantai. Rea pingsan dan membuat Aldo semakin Khawatir.


Aldo segera saja mengangkat tubuh istrinya. Ia akan membawa Rea ke rumah sakit dan akan menghubungi keluarganya juga keluarga Rea. Ia memutuskan untuk menunda urusan pekerjasaan dengan kesehatan istrinya. Ia tidak mungkin meninggalkan Rea yang tengah sakit.


Aldo menggendong tubuh Rea dan membawnaya masuk ke dalam mobil. Liam yang merupakan asisten ayahnya yang sudah menunggunya sejak tadi terlihat panik saat melihat tuan menggendong istrinya yang sedang pingsan.


"Kau bisa membawa mobilnya lebih cepat hah, kita harus secepatnya ke rumah sakit." Perintah Aldo dengan sedikit membentak kepada Liam asisten yang ditugaskan untuk menjemputnya.


Aldo terlihat hegitu panik dan Khawatir. Ia menggenggam tangan istrinya. Ia mengusap lembut pipi Rea.


"Kau harus baik-baik saja sayang, jangan membuatku khawatir." Ucapnya.


Akhirnya mobil tiba di rumah sakit milik Nico. Aldo segera mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya di atas Brankar menuju ruang perawatan. Aldo menunggu di luar ruangan sementara Rea berada di ruang perawatan sadang diperiksa oleh dokter.


Aldo mengambil ponselnya dan segera menghubungi ayahnya mengabarkan tentang kondisi istrinya.


Bersambunggg....


Like, Vite dan Komentarnya yah.


Aku akan usahakan agar Novel Ini segera tamat.


Maafkan Author yang baru Up kerena suatu hal. Author ucapkan terima kasih untuk semua yang telah mendukung novel ini.

__ADS_1


__ADS_2