
Di sebuah ruangan gelap gulita. Terlihat seorang perempuan dengan tangan dan kaki yang terikat oleh tali. Mulutnya di lakban tengah duduk di sebuah kursi. Wajahnya ditutup menggunakan kain hitam. Ia dalam keadaan tak sadarkan diri. Wanita itu adalah Ariana. Ia berada di sebuah markas yang terletak di tengah hutan.
Beberapa orang masuk ke dalam ruangan tersebut. Untuk memeriksa keadaan Ariana. Salah satu di antaranya membuka kain hitam yang menutupi wajah Ariana.
“Bangun.. ayo bangun....” pria itu menepuk-nepuk pipi Ariana yang masih belum sadarkan diri.
“Ambilkan aku air.., sepertinya dia tidak akan sadar sebelum aku menyiramnya dengan air. Perintah laki-laki dengan tubuh kekar itu. Dia adalah Nico yang terlihat tidak sabar menunggu Ariana sadar.
“ini Tuan.” Pengawal itu memberikan segelas air kepada Nico.
“Nico mengambil air itu lalu menyiram ke wajah Ariana.”
Ceplaak.. (anggap saja suara air yang di siram ke wajah)
Tak berapa lama kemudian. Ariana membuka matanya dengan pelan. Ia memperhatikan di sekelilingnya yang tampak gelap. Ia melihat tubuhnya yang terikat dengan tali. Ia terus menggoyang-goyangkan tubuhnya yang terikat dengan tali. Ia berusaha melepaskan ikatan itu dengan susah payah. Namun, Ikatannya begitu kuat.
Ariana menatap seorang pria yang berada di sampingnya. Pria itu mendekati Ariana dan mulai berbicara kepadanya. Ia membuka paksa lakban yang melekat di mulut Ariana.
Ariana hanya bisa menjerit kesakitan. “Awwww...”.
“Akhirnya, kau bangun juga.” Nico menatap Ariana dengan tatapan tajam.
Ariana melihat Nico dengan tatapan yang sama tajamnya. Ia mengepalkan tangannya berusaha menahan perasaan kesalnya.
“ap-apa yang kau lakukan, ke-napa kau menculikku?, lepaskan aku.” Ucap Ariana dengan bibir bergetar.
“Hahhaha.. apa kau lupa dengan apa yang sudah kau lakukan, kau masih ingat dengan aku rupanya.”
“Kau.. mana mungkin aku lupa dengan pria mesum sepertimu.”
Palaaakkk...
Nico menampar wajah Ariana dengan keras membuat Ariana jatuh tersungkur dengan kursi yang didudukinya dalam keadaan tangan dan kaki yang masih terikat. Ariana menahan sakit di pipanya akibat tamparan Nico.
“Permisi Tuan..” Aldo masuk ke dalam ruangan dan menundukkan kepala memberi hormat kepada Nico. Aldo datang dengan seorang pria yang terikat kedua tangannya dengan wajah yang tertutup kain.
“Saya sudah membawa yang tuan inginkan.”
“Baik., lepaskan penutup wajahnya.”
Aldo membuka penutup wajah laki-laki itu, wajahnya lebam bahkan sulit untuk dikenali. Dia adalah laki-laki paru baya yang sudah melecehkan Ariana dan membuat Nico terlibat pada peristiwa itu.
“Katakan.. apa wanita ini yang sudah menyuruhmu untuk menjebakku dan merusak reputasiku Hah.” Nico membentak pria itu.
“i-ya.i-ya Tuan.” Dengan terbata-bata pria itu menjawab diikuti dengan bibirnya yang bergetar.
“Apa yang kau katakan.? aku tidak mengenalmu, jangan percaya ucapan pria ini, dia pasti menjebakku.” Ariana terus membela dirinya. Ia tidak ingin orang salah paham kepadanya dan menuduhnya.
“Diam., katakan siapa yang sudah menyuruhmu untuk merusak reputasiku, kau dan pria ini pasti mata-mata dari musuhku atau lawan bisnisku, katakan atau aku akan membuatmu menyesal.” Nico memegang rahang Ariana dengan keras membuat Ariana menahan sakit.
“Ti-tidak seperti itu Tuan, saya bukan mata-mata Tuan, saya adalah korban pelecehan, laki-laki itu sudah membohongi Tuan.” Ariana berusaha meyakinkan Nico.
“Kau tahu laki-laki ini yang sudah melecehkanmu, tapi kau berani menamparku dan menuduhku, kau berani mempermalukan aku dan merusak reputasiku, aku tidak pernah menyentuhmu, kau pikir aku akan menyentuh wanita sepertimu, kau bukan seleraku, cihhh.” Nico menarik laki-laki paruh baya itu dan mendorongnya dengan paksa membuat lelaki itu tersungkur di lantai. Tepat di hadapan Ariana. Lelaki itu menahan perih di sekujur tubuhnya.
Ariana melirik lelaki itu yang sudah terlihat menyedihkan dengan wajah babak belur.
“Maaaffkan saya Tuan, saya sudah salah paham kepada Tuan, saya akan memperbaiki kesalahan saya Tuan, tolong lepaskan saya.” Lirih Ariana dengan bibir bergetar ia berusaha untuk menahan tangisnya.
“Kau pikir aku bisa memaafkanmu dengan mudah, setelah mempermalukan aku, jangan harap kau bisa lepas dariku.”
“Saya mohon, tolong maafkan saya Tuan.”
“Baiklah aku akan memaafkanmu tapi dengan satu syarat.” Ucap Nico dengan senyum menyeringai.
“Saya akan melakukannya Tuan.” Lirih Ariana.
“Kau harus membayar mahal atas perbuatanmu kepadaku, kau akan membayarku sebanyak 500 juta atau kau mau menghabiskan satu malam denganku.” Bibir Nico tersenyum tipis.
Deggg.. Degggg..
Jantung Ariana berdetak dengan kencang. Nafasnya terasa begitu sesak.
“Katakan apa pilihanmu?”
__ADS_1
“Saya akan membayar 500 juta Tuan tapi, tolong beri saya waktu untuk mengumpulkan uang.” Ariana mencoba memohon kepada Nico.
“Baik, aku akan memberimu waktu satu bulan, untuk mengumpulkan uang, jika kau tidak bisa memberikan uang kepadaku, jangan coba untuk kabur atau menipuku maka kau akan menyesal.” Ancam Nico.
“Terimah Kasih Tuan, tolong lepaskan saya, biarkan saya pergi dari sini Tuan.”
Nico memanggil beberapa pengawal dan menyuruhnya untuk membawa Ariana pergi dari markasnya.
“Bawah wanita ini pergi, aku benar-benar muak melihat wajahnya.” Perintah Nico kepada pengawalnya.
Beberapa pengawal itu kembali menutup wajah Ariana dengan menggunakan penutup wajah. Kemudian membawa Ariana masuk ke dalam mobil dan mobil itu melaju meninggalkan markas Nico.
Setelah sampai di sebuah jalanan yang sepi. Para pengawal itu menyuruh Ariana untuk turun dari mobil tersebut.
“Ayo cepat turun!” perintah pengawal itu.
Ariana keluar dari mobil berwarna hitam yang sudah membawanya. Tak lama kemudian mobil itu melaju meninggalkan Ariana di sebuah jalanan yang sepi dan gelap. Ariana berjalan dengan gontai, langkah kakinya begitu lemah. Ia mengambil ponselnya di dalam tas. Tapi, ponselnya sudah mati sejak tadi. Ia tidak bisa menghubungi taksi untuk mengantarnya kembali ke rumah. Penampilannya terlihat begitu berantakan. Rambutnya acak-acakan dengan baju yang terlihat lusuh.
Pukul 11.00 malam, Ariana tiba di rumah setelah berjalan kaki hampir satu jam lamanya. Ariana mengetuk pintu rumahnya. Tak berapa lama pintu itu terbuka dan bu Ella menatap Ariana dengan raut wajah khawatir. Ia menyuruh Ariana untuk masuk.
“ Ada apa Nak, apa yang terjadi?, kenapa kau pulang larut malam?, ibu tidak bisa menghubungi ponselmu.? Pertanyaan bertubi-tubi dari Bu Ella.
Ariana berusaha mengatur nafasnya, ia diam sejenak dan mencoba menjelaskan tentang Aldwin yang pergi meninggalkannya kepada bu Ella.
Setelah mendengar cerita dari putrinya, wajah bu Ella terlihat begitu sedih. Ia begitu kecewa kepada Aldwin. Pria yang sudah menyakiti putrinya.
Ariana tidak menceritakan tentang peristiwa penculikan dirinya. Ia tidak ingin membuat ibunya semakin khawatir.
“ Maaaf sudah membuat ibu khawatir, Ariana baik-baik saja bu.” Terlihat kekecewaan di wajah Ariana. Namun, ia mencoba untuk tetap tersenyum walau hatinya begitu hancur.
Bu Ella memeluk Ariana mengusap lembut punggung putrinya. Ia mencoba Menenangkan Ariana yang sejak tadi terlihat murung dan air mata jatuh di pipinya. Hari ini ia mengalami peristiwa yang begitu berat. Setelah perasaannya mulai tenang, Ariana masuk ke dalam kamar untuk istirahat. ia begitu lelah dengan semua yang terjadi kepadanya.
...............
Sementara di sebuah markas. Nico duduk di kursi kebesarannya. Ia menatap sendu sebuah foto. Wajahnya terlihat begitu sedih.
“Apa Tuan yakin akan melepaskan perempuan itu, bagaimana kalau wanita itu kabur Tuan.” Tanya Aldo sang asisten.
Nico terlihat tersenyum tipis.
“Baik Tuan.”
Dreeett... Dreeeettt...
Suara ponsel Nico berdering. Ia segera mengangkat ponselnya.
“Saya sudah melepaskan wanita itu Tuan.” Ucap pengawal Nico
“Bagus.., tugasmu sudah selesai.”
Nico menutup sambungan telefon tersebut. Kemudian, ia menatap Aldo dengan tatapan tajam.
“Apa kau sudah mendapatkan informasi tentang orang-orang yang ada di dalam foto ini?”
Aldo memberikan sebuah kertas yang berisi identitas seseorang yang ada di foto tersebut kepada Nico.
“Menurut informasi laki-laki itu bernama Bagaskara Wijaya, dia sudah meninggal dunia sekitar satu minggu yang lalu karena penyakit asma yang di deritanya. Ia mempunyai seorang putri bernama Ariana Anastasya Tuan, dia adalah wanita yang baru saja Tuan bebaskan.” Nico menjelaskan semua informasi yang diketahuinya tentang laki-laki yang ada di dalam foto itu.
“Apa.. kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi hah..” bentak Nico dengan wajah merah padam.
“Maaff Tuan, saya baru saja mendapatkan data diri laki-laki itu Tuan.
“Bagaiman dengan laki-laki yang satunya lagi.”
“Maaff Tuan, Tidak ada informasi tentang laki-laki itu tuan, sepertinya laki-laki itu sudah menutup semua informasi tentang dirinya.”
Nico memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
Misteri tentang kematian orang tuanya belum bisa terungkap, begitu sulit mendapatkan petunjuk tentang pelaku pembunuhan orang tuanya.
“Bagaimana dengan dokumen yang aku berikan? Kau sudah menyelidiki isi dokumen itu.” Tanya Nico kepada asistennya.
“Dokumen itu merupakan bukti penggelapan dana yang di lakukan oleh perusahaan Stars Company, menurut informasi perusahaan itu sudah mengalami kebangkrutan.”
__ADS_1
“Apa ini ada hubungannya dengan wanita itu? Tidak mungkin semua ini terjadi karena kebetulan. Wanita itu pasti tahu sesuatu.” Batin Nico.
“Apa yang harus kita lakukan Tuan.” Tanya Aldo yang membuyarkan lamunan Nico.
“Awasi wanita itu, beri dia waktu satu bulan, dia tidak akan bisa lolos, wanita itu harus membayar ganti rugi kepadaku, kau harus mengumpulkan bukti dan informasi tentang palaku pembunuhan kedua orang tuaku.”
“Baik Tuan.”
Nico menatap foto ke dua orang tuanya. “Ayah, ibu. Aku akan mengungkap orang yang sudah membunuh ayah dan ibu, mereka tidak akan hidup dengan tenang.” Batin Nico.
Mata hitam pekatnya meneteskan kristal bening. Hatinya dipenuhi dendam yang membara.
Bersambung....
LIKE, VOTE DAN KOMEN
🙏🙏
__ADS_1