
Tinggal di kota besar tidak selalu menyenangkan seperti kelihatannya. Paling tidak, itulah yang dirasakan oleh Reana. Sudah beberapa hari ini ia sibuk dengan pekerjaannya di London Bridge Hospital salah satu rumah sakit terkenal di London. Ia bekerja sebagai dokter kandungan yang sudah terkenal karena kemampuannya.
Reana gadis cantik dan pekerja keras. Ia terlahir di keluarga yang berkecukupan. Sejak kecil ia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Namun, ia tidak pernah merasa sombong dan selalu bersikap rendah hati. Reana sahabat dekat Ariana. Mereka berteman sejak kuliah di Indonesia.
Reana atau bisa dipanggil Rea ia lebih memilih untuk tidak menjalin hubungan cinta dengan seorang pria. Ia bukannya tidak mempunyai orang yang disukai atau dikaguminya. Ia pernah jatuh cinta dengan seorang laki-laki namun, cintanya bertepuk sebelah tangan.
Kedua orang tua Reana memilih tinggal di London.Ayahnya asli London dan ibunya orang Indonesia. Ayahnya tinggal di London dan ia merupakan seorang pengusaha yang terkenal. Kedatangan Rea ke London untuk memenuhi keinginan ayahnya yang saat ini sedang sakit.
Pak Jonathan adalah ayah Reana seorang CEO terkenal di salah satu perusahaan besar di London. Bu Aluna adalah ibu Reana seorang ibu sosialita yang suka dengan dunia kemewahan.
Kedua orang tua Reana berniat untuk menjodohkannya dengan anak teman Jonathan. Ia ingin agar putri semata wayangnya segera menikah.
..........
Pagi hari yang cerah menyapa warga di kota London. Setiap orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Di sebuah mansion mewah yang terletak di tengah keramaian kota. Rea sibuk dengan aktivitasnya membersihkan diri di dalam kamar mandi dan memakai jas putih miliknya. Ia bersiap berangkat ke rumah sakit untuk bekerja. Ia menuruni anak tangga untuk menemui kedua orang tuanya yang sedang sarapan di meja makan mewah yang terletak di dekat dapur.
“Pagi ayah Ibu.” Sapa Rea sambil menautkan pipinya mencium lembut pipi ibu dan ayahnya.
“Pagi juga sayang” balas bu Aluna yang sudah terlihat begitu cantik.
“Anak Ayah sudah cantik saja pagi-pagi.” Jonathan ikut menimpali.
“Terima Kasih ayah, aku harus berangkat ke rumah sakit, aku begitu sibuk.” Rea memakan beberapa roti dan minum jus jeruk kesukaannya.
“Hati-hati sayang, kau harus pulang cepat malam ini, keluarga mereka akan datang, jangan sampai kau terlambat.” Ucap bu Aluna.
“Iya bu, aku berangkat dulu.” Rea mencium punggung tangan ibunya dan memeluk ayahnya.
Rea berangkat dengan mobil pribadi miliknya. Ia menatap jalanan London yang dipenuhi dengan orang yang berlalu lalang di pinggir jalanan.
Rea sampai di rumah sakit tempatnya bekerja setelah beberapa menit mengendarai mobil mewah miliknya.
Ia masuk dan mulai melaksanakan aktivitasnya setiap hari yang mungkin terasa membosankan baginya. Ia mengambil ponselnya mencari kontak sahabatnya Ariana. Ia ingin mengetahui kabar sahabatnya setelah cukup lama mereka tidak pernah berkomunikasi sejak Rea memutuskan untuk pindah ke London.
__ADS_1
Rea mencoba menelefon kontak Arianna dua sampai tiga kali namun, nomor Ariana tidak bisa dihubungi.
“Apa yang sudah terjadi kepadamu Ana?, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk.” Batin Rea.
Ia hanya bisa berharap tidak akan terjadi sesuatu yang buruk kepada sahabatnya itu.
Ia akhirnya memutuskan untuk kembali bekerja. Ia tidak ingin larut dalam pikirannya tentang sahabatnya itu. Ia hanya bisa berpikir positif dan tidak ingin berpikir buruk. Ia percaya sahabatnya itu adalah wanita yang kuat dan tidak akan terjadi sesuatu yang buruk kepada Ariana.
..........
Sementara itu di sebuah mansion yang berada jauh dari keramaian kota London. Seorang pria bertubuh kekar sedang sibuk dengan beberapa dokumen di tangannya. Ia sibuk membaca isi dokumen itu. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum hari pernikahan. Dia adalah Aldwin Zexander seorang CEO tampan di perusahaannya yang ada di London. Ia juga merupakan ketua mafia Yardies.
Ia menggantikan ayahnya Andrew Zexander yang tengah sakit akibat luka tembak di punggungnya ketika penyerangan yang dilakukan oleh mafia The King yang dipimpin oleh Nico Alexander.
Andrew memutuskan untuk menetap di London bersama istri dan putranya. Ia memang berasal dari London dan keluarga besarnya juga tinggal di London. Andrew sengaja membawa putranya untuk menetap di London karena ia ingin menjodohkan putranya itu dengan anak sahabatnya.
“Apa kau sudah siap untuk bertemu dengan calon istrimu, malam ini kita akan berangkat untuk bertemu dengan keluarga besanku.” Ucap Andrew yang tengah menikmati secangkir kopi di ruang keluarga. Sementara itu, Aldwin sedang sibuk membuka beberapa dokumen dan membaca setiap isi dokumen tersebut.
“Apa kau tidak mendengarkan ucapan ayahmu?” Tanya Andrew kepada Aldwin yang seolah tidak peduli dengan perkataannya. Ia bahkan tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Andrew mulai terlihat kesal kepada putranya yang seolah tidak peduli dengan perjodohan yang direncanakan olehnya.
Baginya ia hanya mencintai satu wanita dan itu adalah Ariana. Aldwin masih terus memikirkan dan mengingat Ariana. Ia merasa bersalah telah meninggalkan Ariana di hari pernikahannya. Namun, ia tidak bisa berbuat apa pun. Saat pesta pernikahan yang seharusnya menjadi hari bahagia untuknya berubah menjadi duka ketika beberapa orang menculiknya dan membawanya ke suatu tempat terpencil dan disekap selama beberapa hari di tempat tersebut.
Ia tidak bisa menghubungi Ariana dan memberitahu tentang apa yang menimpanya.
“Jangan bilang kau masih mencintai anak penghianat itu, sampai kapan pun ayah tidak akan pernah merestuimu, ayah sudah membuatmu berpisah dari wanita itu, jangan harap kau akan kembali bersama dengan wanita itu.” Ucap Andrew dengan suara yang sedikit meninggi.
“Apa maksud papa, apa papa yang sudah merencanakan untuk menggagalkah pernikahanku dengan Ariana, apa papa yang menyuruh orang untuk menculikku di hari pernikahanku.” Ucap Aldwin dengan tangan yang mengepal dan suara yang meninggi.
“Papa melakukan itu untuk kebaikanmu, papa tidak akan membiarkan kau menikahi anak penghianat yang tidak tahu diri itu.”
“Sampai kapan pun aku akan tetap mencintainya, aku tidak peduli papa merestuiku atau tidak aku akan tetap menikahi Ariana.” Ucap Aldwin dengan lantang.
Plaaakkkk...
__ADS_1
Tamparan mendarat di pipi kanan Aldwin. Ini pertama kalinya ia mendapat tamparan dari ayahnya.
“Jangan pernah berpikir untuk menikahi anak penghianat itu, kalau kau masih mau jadi putraku jangan membantah perkataanku.” Andrew kembali mengingatkan Aldwin dengan tegas.
Aldwin berjalan keluar dari mansion dan meninggalkan ayahnya begitu saja. Ia tidak peduli dengan Andrew yang saat ini tengah marah.
Ia melajukan mobilnya memecah jalanan London menuju salah satu bar yang ada di kota tersebut. Ia ingin menghabiskan malamnya dengan meneguk beberapa botol wine agar pikirannya tenang. Saat ini pikirannya kacau ia begitu marah dengan ayahnya yang sudah membuatnya berpisah dari wanita yang dicintainya.
Ia masuk ke dalam privat room yang ada di dalam bar tersebut. Beberap wanita cantik masuk dan membawa beberapa botol Wine. Wanita itu mencoba merayu lelaki tampan yang duduk di dekatnya.
“Pergi kalian dari sini atau aku akan membunuhmu.” Perintah Aldwin kepada para wanita seksi yang mencoba merayunya.
Ia saat ini sangat marah. Ia tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Ia hanya ingin sendiri menikmati minumannya. Pikirannya sedang kacau.
Sementara itu, seorang laki-laki mudah sedang mengawasi Aldwin sejak tadi. Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.
BERSAMBUNG
LIKE, VOTE DAN KOMENTAR.
TINGGALKAN JEJAK YAH.
__ADS_1