
Rea baru saja selesai memeriksa keadaan Ana. Rea menatap wajah pucat sahabatnya itu dengan perasaan sedih. Di satu sisi Rea merasa bahagia dengan kabar bahwa Ana sedang hamil, namun di sisi lain Ia juga merasa begitu sedih dengan kenyataan bahwa Ana ternyata menikah dengan Nico laki-laki yang selama ini menyiksa Ana dan bahkan sahabatnya itu tengah mengandung anak dari Nico.
“Kau dan istriku saling mengenal, Sepertinya aku pernah melihatmu, kau sahabat istriku kan?”Tanya Nico kepada Rea yang sedang memeriksa kondisi Ana.
Nico masih begitu mengingat wajah dokter kandungan yang memeriksa istrinya itu.
“Iya, aku dan Ana adalah sahabat, Kita pernah bertemu saat di London.” Jawab Rea.
“Kau bekerja di rumah sakit ini?” Tanya Nico lagi.
“Saya baru dua hari bekerja di rumah sakit ini tuan”.
“Bagus, Mulai saat ini kau akan menjadi dokter khusus yang akan menangani istriku, aku ingin Ana dan juga calon anakku sehat, pastikan kau menjaga Ana dengan baik.” Perintah Nico.
“Aku akan melakukannya, Ana sahabatku sejak dulu dan aku tidak akan membiarkan ada orang yang akan menyakitinya.” Sindir Rea.
Nico sama sekali tidak menanggapi ucapan Rea yang menyindirnya, Nico tahu Rea pasti masih belum bisa menerima bahwa Ana menikah dengannya.
Nico duduk di sisi tempat tidur Ana, Ia menggenggam tangan Ana erat dan mencium punggung tangan istrinya. Nico juga mengusap lembut rambut Ana dengan penuh sayang.
“Cepatlah sembuh sayang!” Ucap Nico.
Rea yang melihat sikap Nico yang sangat perhatian kepada Ana merasa aneh. Laki-laki kejam tiba-tiba saja berubah menjadi sosok yang begitu romantis dan penuh perhatian. Rea tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Apa benar mereka menikah karena saling mencintai, Bukannya Nico begitu membenci Ana, kenapa mereka malah menikah. Batin Rea.
“Bagaimana keadaan istriku?” Tanya Nico membuyarkan lamunan Rea.
Rea sejak tadi melamun memikirkan nasib sahabatnya itu.
“Kondisi Ana baik-baik saja, dia hanya kelelahan dan sedang tertekan.” Jawab Rea.
“Apa aku boleh bertanya sesuatu?” Rea memberanikan diri untuk bertanya kepada Nico.
“Hmmmm.” Nico hanya berdehem.
“Apa yang membuat Ana tertekan? tubuhnya bahkan sangat lemah, Tuan tidak melakukan sesuatu yang buruk kepada Ana kan?”
Sejak dulu Rea memang memiliki keberanian yang lebih, Ia bahkan tidak takut dengan Nico. Waktu itu Rea bahkan berani menolong dan membawa Ana kabur saat akan menikah dengan Nico. Tapi sayangnya Ana dan Nico tetap menikah tanpa sepengetahunnya dan hal itu membuatnya sedikit kecewa dengan sahabatnya itu.
Nico yang mendengar pertanyaan Rea terlihat mengeryitkan alisnya. Wajahnya semakin datar dan dingin. Tatapannya tajam menatap ke arah Rea.
“Apa kau pikir aku akan tega menyakiti wanita yang aku cintai, wanita yang akan mengandung anakku, kau akan tahu nanti apa yang sebenarnya terjadi, kau harus tahu batasanmu dokter Rea.”Geram Nico.
Pertanyaan Rea benar-benar membuat Nico kesal.
“Maafkan saya tuan Nico.” Rea tidak ingin membuat Nico marah, Ia tidak ingin dipecat, Rea tahu bahwa Nico adalah pemilik dari rumah sakit tempatnya bekerja saat ini.
Rea memilih meninggalkan Nico dan Ana. Rea melangkah untuk keluar dari ruangan. Rea baru saja akan membuka pintu ruangan Ana. Tiba-tiba
Cekleeeekkk……..
Pintu ruangan dibuka dari luar dan masuklah Aldo asisten Nico.
Deggg….. Jantung Aldo berpacu tak beraturan.
Aldo dan Rea berpapasan di depan pintu, ke duanya berdiri mematung dan saling menatap tajam. Lagi-lagi Aldo dan Rea bertemu dengan pertemuan yang begitu aneh. Mereka selalu bertemu di rumah sakit.
Kenapa aku selalu bertemu dengannya? aku benar-benar muak melihat wajahnya yang sangat menyebalkan itu, Dua laki-laki aneh yang sangat kejam, bagaimana bisa Ana terlibat dengan dua laki-laki mengerikan seperti mereka sih? Batin Rea.
“Senang bertemu denganmu, bagaimana kabar anda dokter Rea?” Tanya Aldo dengan tersenyum manis.
“Apa kau bisa minggir? kau mengahalangi jalanku.” Bentak Rea.
__ADS_1
Rea melangkah dengan cepat untuk keluar dari ruangan yang sejak tadi membuatnya semakin kesal bahkan Rea sengaja menabrak lengan Aldo.
“Ada apa dengan wanita itu? Kenapa dia selalu membentak saat bertemu denganku? Dasar wanita aneh.” Gumam Aldo.
Aldo masuk ke dalam ruangan dan menyapa tuannya.
“Selamat pagi tuan, maaf menganggu anda pagi ini.” Sapa Aldo.
“Ada apa?” Jawab Nico datar.
“Hari ini ada rapat penting untuk membahas masalah yang terjadi di perusahaan yang ada di Negara Jepang.”
“Apa kau tidak bisa mengurusnya? aku tidak mungkin meninggalkan istriku yang sedang sakit.”
“Maafkan saya tuan, tapi rapat ini tidak bisa diwakilkan, para klien yang datang dari luar negeri ingin bertemu langsung dengan anda tuan.”
“Baiklah! Aku akan menemui mereka, pastikan pengawal menjaga istriku.”
Nico memutuskan untuk menemui para kliennya. Ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Dokter Zera sudah berada di ruangan Ana saat Nico memanggilnya melalui tombol hijau.
“Apa kau bisa menjaga istriku? Aku akan ke kantor ada hal penting yang harus aku kerjakan.”
“Jangan Khawatir, aku akan menjaga Ana dengan baik, aku akan menghubungimu saat Ana sadar, kau bisa menyelesaikan pekerjanmu.” Ucap Dokter Zera.
Setelah mendengar ucapan dokter Zera yang akan menjaga Ana dengan baik, perasaan Nico menjadi tenang, Nico dan asistennya memutuskan untuk ke kantor bertemu dengan para kliennya dan mengadakan rapat untuk membahas masalah pembangunan perusahannya di Negara Jepang.
Dokter Zera menghubungi Dokter Rea melalui panggilan telefon. Hari ini dokter Zera ada operasi mendadak. Dokter Rea sudah berada di ruangan Ana.
“Apa kau bisa menjaga Ana, aku ada operasi mendadak, kalau terjadi sesuatu kau bisa menghubungiku, maaf merepotkanmu dokter Rea.” Ucap dokter Zera.
“Tidak masalah dok, aku juga sedang tidak ada pekerjaan, Aku akan menjaganya dengan baik.”
Dokter Zera meninggalkan ruangan Ana dan tinggallah Rea di dalam ruangan.
Ana mencoba membuka matanya pelan, Ia menatap sekeliling ruangan mencari keberadaan suaminya.
Degggg…… Jantung Ana berapacu kencang saat matanya menangkap sosok wanita yang duduk di sampingnya. Ke dua bola matanya membulat sempurna
“Kau sudah sadar Ana.” Ucap Rea.
“Rea?”
“iya, ini aku, apa kau sudah lupa denganku.”
Ana mencoba untuk bangun, Rea membantu Ana untuk bangun dan duduk bersandar di tempat tidur.
“Mana mungkin aku melupakanmu Rea, aku merinduakanmu, Hiksss.... Hikssss....."
Ana memeluk sahabatnya itu meluapkan segala kerinduannya selama ini, Mereka sudah lama tidak berkomunikasi dan bertemu. Rea juga memeluk Ana dengan erat.
"Ibu... Sudah pergi Rea, ibu pergi meninggalkan aku sendiri, Hikssss...." Lirih Ana.
"Jangan menangis Ana, kau tidak boleh sedih demi anak dalam kandunganmu, Aku turut berduka atas kematian ibu, kau harus Ikhlas, ibu pasti bahagia di sana kalau kau juga bahagia, percayalah." Ucap Rea memberi kekuatan kepada Ana.
Sejak dulu Rea menganggap Bu Ella sebagai ibunya sendiri. Rea juga merasa begitu sedih dengan kematian bu Ella. Tapi, Ia mencoba untuk ikhlas dan menganggap semua yang terjadi adalah takdir.
Ana mengusap sisa air matanya.
"Maafkan aku Rea." Lirih Ana.
"Untuk Apa?" Tanya Rea.
"Maaf karena merahasiakan banyak hal darimu." Lirih Ana.
__ADS_1
"Aku percaya kau punya alasan, aku akan menunggu sampai kau mau menceritakannya, jangan merasa terbebani Ana, aku sahabat baikmu sejak dulu dan sampai kapan pun."
"Selamat Atas kehamilannmu dan juga pernikahanmu dengan Nico." Raut wajah Rea berubah menjadi Sedih.
"Terima kasih Rea, kau sahabat terbaikku." Ana kembali memeluk Rea.
"Percayalah! aku bahagia menikah dengannya, Dia sudah berubah, Kami saling mencintai Rea, Nico akan menjadi ayah dari anakku." Ucap Ana. Ia bisa melihat gurat kecemasan di wajah Rea sahabatnya itu.
"Aku senang kau bahagia dengan pernikahanmu, Apa aku boleh boleh bertanya satu hal Ana?"
"Tentu saja Rea."
"Apa kau sudah melupakan Aldwin?" Tanya Rea.
Deeegggg......
Ana diam dan wajahnya berubah murung.
"Kau tidak harus menjawabnya, maaf membuatmu sedih."
"Ak-aku...." Ucapan Ana terhenti saat pintu ruangan Ana dibuka dan masuklah Nico bersama Aldo. Mereka baru saja datang setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Kau sudah sadar sayang." Nico memeluk tubuh Ana dan mendaratkan kecupan di kening istrinya cukup lama.
"Apa ada yang sakit sayang? apa kau mau makan sesuatu, aku akan membelinya untukmu?" Tanya Nico.
Ana hanya menggeleng pelan.
"Aku belum lapar." Jawab Ana singkat.
Nico sedang berusaha menjadi suami siaga dan ayah yang baik untuk anaknya kelak.
Rea dan Aldo saling menatap melihat Nico berubah menjadi sosok yang penuh perhatian.
"Sebaiknya kita keluar, biarkan mereka berdua, jangan menganggunya." Aldo menarik tangan Rea keluar dari ruangan Ana. Mereka sudah berada di Loby rumah sakit.
"Le-lepaskan! aku bisa jalan sendiri." Rea menghempaskan tangan Aldo yang menggenggam tangannya dengan kasar.
Rea selalu menunjukkan sikap tidak menyukai Aldo sejak dulu sampai saat ini. Bagi Rea, Aldo sama menyebalkannya dengan Nico suami sahabatnya itu.
"Apa kau tidak bisa bersikap lembut sedikit saja, Dasar laki-laki mengerikan?" Tanya Rea.
"Argggggh..." Jerit Aldo saat kakinya diinjak oleh Rea.
"Laki-laki menyebalkan." Geram Rea dan Ia meninggalkan Aldo begitu saja yang sedang memegangi kakinya.
"Hidupku selalu saja sial bertemu dengan wanita aneh itu." Gumam Aldo.
Sementara itu, Di ruangan lain rumah sakit tersebut. Seorang pria sedang terbaring lemah dengan berbagai selang dan alat-alat medis terpasang di sebagian tubuhnya. Kondisinya sedang kritis dan Ia sedang berjuang melawan maut, berusaha untuk tetap hidup. Keinginanya untuk hidup sangat besar.
Bersambunggg.......
__ADS_1