
Langit Siang itu mendung dan air dari langit jatuh menetes membasahi bumi. Langit seakan ikut menangis merasakan kesedihan Ana. Kesedihan seorang anak yang yang baru saja kehilangan orang yang begitu berarti dalam hidupnya, kehilangan ibu yang begitu dicintai dan disanyanginya. Kematian memang sudah menjadi takdir setiap yang bernyawa. Tapi tetap saja kematian itu menyisakkan luka mendalam bagi yang ditinggalkan.
Begitu pula yang dirasakan oleh Ana saat ini. Hidupnya terasa hampa dan sepi tanpa kehadiran sosok wanita tangguh yaitu bu Ella ibunya. Dunia Ana seakan berhenti perputar. Hancur, luka, kecewa dan Sakit itulah yang Ana rasakan. Duka kehilangan itu kembali lagi dalam hidupnya. Rasanya baru saja Ia merasakan kehilangan seorang Ayah pahlawan dan sosok teladan yang sangat disayanginya. Dan sekarang Ia kembali harus kehilangan sosok ibu yang begitu sangat Ana sanyangi.
Air mata Ana jatuh membasahi pipinya. Air mata itu seakan tak ingin berhenti keluar dari pelupuk mata indahnya. Mata Ana sudah sembab dan bengkak karena sejak tadi Ia menagis tanpa ingin berhenti.
Rasanya berat untuk mengikhlaskan kepergian sosok yang begitu dicintainya itu. Kepergian bu Ella menyisahkan luka yang teramat dalam bagi Ana dan juga Nico.
"Ibuuuuuh, jangan pergi bu, Aku mohon, aku akan memberikan ibu cucu, ibu sudah janji akan menunggu sampai aku punya anak, ibu pernah bilang akan menggendong dan mengajak cucu ibu bermain, kenapa sekarang ibu pergi? aku tidak punya siapa pun di dunia ini bu, Ayah sudah pergi meninggalkan aku selamanya dan sekarang kenapa ibu juga pergi meninggalkan Ana sendiri? Hikkssss.... Hiksssss" Lirih Ana memeluk jazad yang terbujur kaku di depannya itu, Jazad bu Ella.
Ana merasa begitu hancur dan rapuh. Keadaanya sangat menyedihkan. Ana tenggelam dalam kesedihan yang teramat dalam. Bibirnya seakan ingin menjerit namun terasa begitu kaku. Ia menjerit dalam hatinya menahan rasa sakit yang begitu dalam.
"Sayang, tenangalah! ibu sudah pergi untuk selamanya, maafkan aku tidak bisa melindungimu dan juga ibu, aku mohon berhentilah menangis." Ucap Nico merasa bersalah.
Hatinya juga sama hancurnya dengan Ana. Bagaimana pun Bu Ella sudah Nico anggap sebagai ibunya sendiri. Bu Ella adalah sosok ibu yang begitu baik, lemah lembut, penyanyang dan selalu memafkan kesalahnnya.
Ada raut penyesalan di wajah Nico mengingat bagaimana dulu Ia menyiksa dan menyakiti bu Ella. Kepergian Bu Ella benar-benar membuat Nico hancur dan terluka sangat dalam. Nico belum sempat membahagiakan bu Ella selama ini dan sekarang bu Ella harus pergi begitu cepat untuk selamanya.
"Maafkan aku bu, Aku belum bisa menjadi menantu yang baik dan bisa membuat ibu bahagia, aku janji akan menjaga Ana sesuai dengan janjiku kepada ibu, aku tidak akan membiarkan putri ibu terluka lagi, aku janji akan melindungi Ana bu." Batin Nico.
Hari itu, di mansion Nico terdengar isak pilu yang begitu manyayat hati, tangis pilu meratapi kematian seseorang yang sangat berarti dalam hidup Ana dan juga Nico. Semua pemgawal dan pelayan ikut merasakan kesedihan dari nonanya. Mereka bisa melihat dan merasakan bagaimana sedihnya saat ini tuan dan nyonyanya itu.
"Sudah saatnya kita mengantar bu Ella pergi keperistirahatan terakhirnya, Ikhlaskan dia sayang, Biarkan ibu pergi dengan tenang." Pinta Nico membujuk Ana agar berhenti menangis. Ia memeluk Ana dan membenangkan wajah istrinya itu di dada bidangnya. Nico mengusap lembut rambut Ana berharap Agar istrinya itu bisa berhenti menangis dan tidak merasa sedih lagi.
"Biarkan ibu pergi dengan tenang." Ucap Nico membujuk Ana dan membantunya untuk berdiri.
Jazad bu Ella harus segera di makamkan. Ana dan Nico mengantar Bu Ella ke peristirahatan terakhirnya. Ia akan di makamkan di samping makam suaminya. Sesuai dengan permintaan bu Ella sebelum meninggal.
__ADS_1
"Hikkksssss..... Ibuuuu." Isak Ana.
Ini adalah saat-saat terberat dan tersulit bagi Ana. Keadaannya terpuruk dan hancur. Ke dua lututnya seakan lemas saat melihat ibunya sudah di bawah masuk ke dalam liang lahat. Bu Ella sudah dikuburkan.
Langit siang itu tampak mendung sekan ikut bersedih merasakan kesedihan Ana. Kepergian bu Ella yang begitu mendadak membuat Ana sulit untuk merelakannya.
"Ayah, ibu tenanglah di sana, maafkan aku ayah ibu, aku tidak bisa membahagiakan kalian, aku janji akan hidup dengan bahagia." Lirih Ana. mengenggam tanah makam ibunya. Ana juga menabur bunga di pusara ayahnya yang bersebelahan dengan makam ibunya.
"Maafkan aku bu tidak bisa menyelamatkan ibu, Jangan khawatir bu, aku akan menjaga dan melindungi Ana, tenanglah di sana bu." Ucap Nico mengenggam tanah makam bu Ella yang masih basah. Nico menabur bunga di makam bu Ella dan juga Pak Bagaskara.
"Tenaglah di sana ayah, Aku akan membuat Ana bahagai, doakan kami ayah agar selalu bersama dan hidup dengan baik." Lirih Nico menatap pusara Ayah mertuanya.
Air matanya menetes Ia tak mampu lagi menahan kesedihannya. Bagaiman pun kejamnya seseorang hatinya akan tetap terluka ketika ditinggalkan oleh orang yang begitu berarti apalagi orang itu meninggalkannya untuk selamanya.
Ana menyentuh batu Nisan bu Ella, memeluknya begitu erat seolah Ia sedang memeluk tubuh ibunya. Ana mengusap lembut Nisan yang bertuliskan nama ibunya.
"Saya turut berduka cita nona, maafkan saya tidak bisa melindungi Ibu nona." Ucap Aldo merasa bersalah. Ia sejak tadi berdiri di belakang tuan dan nonanya. Ia melihat bagaimana sedihnya tuan dan nonanya yang kehilangan sosok ibu yang sangat berarti melebihi apa pun.
Nico mengajak Ana untuk kembalin ke mansion. Hujan yang deras bisa saja membuat istrinya itu sakit. Nico memegang payung dan melindungi Ana dari Air hujan yang akan mengenainya.
"Sayang, sebaiknya kita kembali sekarang, Hujan semakin deras, kau bisa sakit jika terus berada di sini, kita harus bisa merelakan kepergian ibu, ibu akan sedih jika melihat putrinya bersedih, kau harus kuat sayang, jangan seperti ini hemm." Bujuk Nico.
"Aku tahu ini berat buatmu, aku pernah mengalami masa sulit sepertimu saat kehilangan ke dua orang tuaku, kita sama-sama kehilangan orang yang dicintai, ketahuilah Ana aku akan selalu ada di sampingmu apa pun yang terjadi, jangan pernah merasa sendiri di dunia ini, aku tidak akan membiarkanmu sendiri dan menangis lagi." Nico menatap Ana penuh cinta. Nico mengusap sisa air mata di mata indah istrinya.
"Berjanjilah, berjanjilah di depan makam ibu, kau tidak akan lagi membalas dendam, Dendam hanya akan membuat hidup kita semakin menderita, aku sudah kehilangan ke dua orang tuaku karena dendam ini, aku mohon berhentilah dari dunia gelapmu, aku tidak ingin ada pertumpahan darah lagi, Berjanjilah jika kau mencintaiku, kau akan mengikuti keinginanku." Pinta Ana dengan mata berkaca-kaca menatap Nico. Tatapan yang penuh permohonan.
Ini adalah permintaan yang begitu berat untuk Nico. Ia harus berjanji di depan makam bu Ella. Berjanji untuk berhenti membalas dendamnya. Ana tahu dendam itu hanya akan membuat Nico semakin hancur.
__ADS_1
"Aku berjanji sayang, aku akan melupakan tentang dendam itu, aku akan melupakan semua yang terjadi dulu, mulai saat ini kita akan mulai membuka lembaran baru dan hidup lebih baik, aku janji akan membuatmu bahagia di depan makam ibu, aku berjanji Ana." Ucap Nico.
Setelah mendengar janji yang diucapkan oleh Nico perasaan Ana begitu lega. Ia tidak harus melihat laki-laki yang Ia cintai dalam keadaan bahaya. Ana tidak ingin ada yang harus menjadi korban lagi dari pembalasan dendam ini.
Ana dan Nico memutuskan untuk kembali ke mansion. Ana yang sejak tadi menangis wajahnya terlihat pucat. Ana belum makan apa pun sejak pagi. Ia bahkan tidak punya selera untuk makan apa pun. Perutnya yang terasa lapar tak Ana hiraukan lagi. Selera makannya menghilang.
"Makanlah dulu sayang, sejak pagi kau belum makan apa pun, jangan menyiksa dirimu seperti ini." Bujuk Nico.
Ana menatap wajah suaminya. Ia bisa melihat wajah sedih yang sama hancurnya dengan dirinya.
"Maafkan Aku." Lirih Ana.
Ana makan dengan disuapi oleh Nico. Baru beberapa suap Ana sudah kenyang dan perutnya terasa bergejolak Ia ingin menuntahkan makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
Hooeeeekkkkk..... Hoekkkk....
Ana sudah berada di dalam kamar mandi. Nico yang melihat istrinya muntah membantunya dengan memijat tengkuk istrinya. Nico menatap wajah Ana yang semakin pucat.
"Istirahatlah! sepertinya kau sakit sayang." Nico membantu Ana menuju tempat tidur. Nico memeriksa kening Ana merasai panas tubuh istrinya.
"Kau demam sayang, tubuhmu sangat panas." Ucap Nico.
Ana yang merasa kepalanya begitu berat. Pandangannya menjadi gelap dan Ia tak sadarkan diri, Ana pingsan, beruntung Nico memegang tubuhnya agar tidak terjatuh ke lantai. Nico menggendong tubuh Ana, membawanya ke tempat tidur dan menyelimuti istrinya itu. Ia mengambil ponsel dan menghubungi dokter.
Bersambung.
šš
__ADS_1