
Setelah menempuh perjalan yang memakan waktu cukup lama, Akhirnya jet pribadi Nico tiba di Negara London. Anak buah Nico segera saja membawa Aldwin ke markas mereka. Sementara dokter Zena akan menuju ke mansion Nico.
Di Mansion, Nico dan Ana baru saja terbangun dari tidurnya karena perutnya yang terasa lapar. mereka baru saja bangun menjelang siang hari. Setelah semalaman mereka mengarungi surga dunia bersama. Sudah lama mereka tidak melakukan hubungan suami istri karena kejadian yang terjadi membuat mereka tidak mempunyai waktu untuk sekedar bermesraan bersama.
Ana menggeliat pelan dan berusaha melepaskan tangan suaminya yang melingkar di perutnya. Namun, Nico semakin memeluknya dengan erat. “Sayang.. bangunlah! Ayo kita sarapan, aku sudah lapar.” Ucap Ana sambil mengusap lembut wajah suaminya.
Nico segera membuka matanya saat mendengar istrinya sangat lapar. Nico mencium-cium lembut perut istrinya dan berkata “Maaff, sudah membuatmu lapar.” Nico sampai lupa waktu jika sudah bersama dengan istrinya.
“Anak ayah pasti sudah laparkan.” Nico mengusap lembut perut istrinya yang sudah semakin membesar. Usia kandungan Ana memang sudah memasuki usia 4 bulan. Selama menjalani kehamilannya ini, Ana tidak mengalami kesulitan hanya mual di awal kehamilan saja.
Ana bangun dan langsung masuk ke dalam kamar mandi disusul oleh suamniya, mereka sedang mandi bersama. Setelah selesai bersiap Mereka menuruni anak tangga menuju dapur untuk sarapan lebih tepatnya makan siang. “Aku akan ke dapur, Kau makanlah dulu.” Ucap Ana berlalu menuju dapur meninggalkan Nico di meja makan.
Ana ingin membuat susu ibu hamil. Ia lebih suka melalukan sendiri dan tidak ingin menyuruh pelayan untuk mengurusnya selama Ia masih bisa melakukannya.
Nico menunggu istrinya membuat segelas susu. Ia sedang memeriksa ponselnya. Beberapa panggilan tidak terjawab dari anak buah sekaligus pengawal pribadinya itu.
Dokter Zena tiba di mansion Nico dan langsung masuk bersama dengan pengawal pribadi Nico.
“Kakak.” Ucap dokter Zena mencari keberadaan kakaknya itu. Dokter Zena menuju dapur dan melihat jika Nico ada di sana. Ia langsung saja berlari dan menghambur memeluk Nico.
“Kakak.” Dokter Zena memeluk Nico erat meluapkan kerinduaan akan sosok kakak yang sangat dirindukannya itu.
“Kau sudah tiba.”
“Aku sangat merindukan kakak, bagaimana kabar kakak? kenapa tidak mengundangku saat kakak menikah?” Tanya dokter Zena melepaskan pelukannya. Ia memanyungkan bibirnya merasa kesal dengan Nico yang tiba-tiba sudah menikah dan tidak mengundangnya.
“Kakak juga sangat merindukanmu, kakak baik-baik saja.” Jawab Nico mengusap pucuk kepala dokter Zena dengan lembut.
“Kenapa kakak tiba-tiba ingin bertemu denganku?”
“Hanya merindukan adikku saja, apa ada yang salah?” Tanya balik Nico
Tujuan Nico menyuruh anak buahnya untuk membawa Dokter Zena bersama dengan Aldwin adalah untuk membuktikan kecurigaaannya selama ini. Karena dokter Zena adalah dokter pribadi yang merawat Aldwin pasti adiknya itu mengetahui sesuatu selama Aldwin menjadi pasiennya.
“Tentu saja tidak ada yang salah kak.”
“Oh yah kak, di mana kakak ipar?” Tanyanya Lagi.
Tak berapa lama, Ana muncul dari dapur dengan membawa segelas susu di tangannya. Ia meletakkan gelas yang berisi susu di atas meja.
“Kakak ipar.”dokter Zena menghambur memeluk Ana.
Ana juga memeluk dokter Zena.
“Kakak ipar sangat cantik.” Puji dokter Zena.
“Adik ipar juga sangat cantik.” Ana juga memuji dokter Zena yang memang sangat cantik dan imut.
Ini adalah pertemuan pertama dokter Zena dengan Ana kakak iparnya itu. Keduanya terlihat sangat akrab seperti seorang kakak dan adik. Dokter Zena merupakan pribadi yang ceria dan mudah bergaul dan akrab dengan siapapun.
“Bagaimana kabar keponakanku?” Tanyanya sambil mengelus lembut perut Ana.
“Kabar baik Aunty.” Jawab Ana menirukan suara anak kecil.
Nico, Ana dan dokter Zena sarapan bersama di meja makan. Setelah sarapan Nico mengajak adiknya itu untuk ikut dengannya.
“Apa kau bisa ikut denganku? aku ingin mengajakmu bertemu seseorang.” Tanya Nico kepada dokter Zena.
“Tentu saja kak.”
Nico memutuskan akan mengajak Dokter Zena menemui Aldwin di markasnya.
Maharani dan bu Aluna baru saja tiba di Mansion Nico. Selama suami mereka pergi keluar maka mereka memutuskan untuk berkumpul bersama demi keamanan diri mereka. Nico memutuskan untuk ke markasnya bersama dengan Rolad, Jonathan dan juga dokter Zena.
“Kalian awasi mansion ini dan jangan biarkan siapa pun mendekati keluargaku.” Perintah Nico kepada seluruh anak buahnya.
“Baik tuan.”
“Selama tidak ada aku, jangan keluar kemana pun, kau mengerti sayang.” Ucap Nico mencium pucuk kepala Ana.
“Iya sayang, berhati-hatilah!”
Di markas Nico, Aldwin sedang duduk di dalam ruangan menunggu kedatangannya. Ada perasaan takut di hatinya untuk bertemu dengan Nico yang merupakan musuh di masa lalunya. Namun, Aldwin membuang jauh perasaan buruk yang menghinggapi pikirannya. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah kejadiaan malam itu.
Mereka berempat tiba di markas. Anak buah Nico menyambut kedatangan tuannya.
Dokter Zena terlihat bingung akan menemui siapa di dalam markas kakaknya itu. Ia memberanikan diri untuk bertanya.
“Siapa yang akan kita temui kak?”
“Kau akan tahu nanti.” Jawab Nico.
“Tuan Aldwin sudah berada di dalam ruangan anda tuan.” Ucap salah satu anak buah Nico.
“hemmmm.”
Nico, Rolad, Dokter Zena dan juga Jonathan masuk ke dalam ruangan di mana Aldwin berada. Tatapan mata Nico menatap tajam kearah Aldwin. Sungguh tatapan mata Nico membuat jantung Aldwin berdetak kencang.
Apa dia masih menyimpan dendam dan ingin membunuhku? Batin Aldwin.
Nico duduk di kursi kebesarannya dengan begitu angkuh, mengintimidasi dengan tatapannya yang tajam membuat nyali siapa saja yang melihatnya akan menciut. Aldwin akui Nico adalah sosok yang tidak mudah dikalahkan oleh siapapun termasuk dirinya. Sejak dulu Ia memang selalu kalah ketika berhadapan dengannya.
Paman, Dokter Zena… kenapa mereka semua bisa berkumpul bersama? Batin Aldwin.
Wajah bingung dokter Zena sudah menghilang saat Ia melihat ternyata orang yang akan mereka temui adalah Aldwin.
__ADS_1
“Kau tahu kenapa aku menyuruh anak buahku membawamu bertemu denganku?” Posisi mereka saling berhadapan. Aldwin bisa melihat dengan jelas kemarahaan di wajah Nico.
“Tentu saja tidak, Apa aku melakukan kesalahan?” Tanya balik Aldwin.
“Aku akan langsung mengatakannya. Katakan apa lagi yang kau rencanakan kali ini hah?” Bentak Nico.
Degggg…..
Jantung dokter Zena berpacu kencang dan Ia cukup terkejut saat Nico membentak Aldwin di depannya.
“Apa yang kau maksud? rencana apa?” Tanya bingung Aldwin.
Rolad dan juga Jonathan menatap penuh curiga kepada Aldwin. Sungguh Ia tidak akan menyangka jika Aldwin terlibat dalam peristiwa penculikan Aldo dan juga Rea. Ia berharap kecurigaannya tidaklah benar.
“Sekarang katakan dengan jujur, Apa kau terlibat dengan penculikan putriku?” Tanya Jonathan.
“Putri paman diculik? aku tidak terlibat apa pun paman, sungguh aku tidak tahu apa yang terjadi selama ini, percayalah paman aku tidak akan melakukan itu.” Hati Aldwin sungguh terluka saat tidak ada yang mempercayainya dan menganggapnya sebagai penjahat.
Apa yang mereka bicarakan, penculikan? Siapa yang diculik dan apa hubungannya dengan Aldwin? Batin Dokter Zena.
“Maaf membuatmu terlibat dalam masalah ini." Ucap Nico lembut menetap dokter Zena.
"Tidak apa kak. Aku akan membantu kakak."
"Kau adalah dokter pribadi yang selama ini merawat Aldwin, Kakak sangat yakin jika Dia terlibat dalam peristiwa penculikan Aldo dan juga Rea.” Tanya Nico penuh keyakinan.
“Kak Aldo diculik?” Tanya Dokter Zena dengan raut wajah bingung.
Nico menceritakan semuanya kepada dokter Zena. Ia tidak menutupi apa pun dari adiknya itu. Nyawa seluruh keluarga Nico berada dalam bahaya jika musuhya belum Ia lenyapkan.
“Dan aku yakin, Dia terlibat dalam penculikan itu.” Tuduh Nico sambil menatap tajam ke arah Aldwin.
Dokter Zena juga menatap kecewa kepada Aldwin. Namun, Ia tidak ingin menyimpulkan sesuatu yang tak pasti dan tidak ingin curiga dengan Aldwin.
“It-itu tidak benar, aku--.” Ucapan Aldwin terhenti.
“Cukup, jangan membela dirimu, selama ini hanya kau yang ingin membunuhku.” Tuduhnya lagi.
“Cukup kak, jangan menuduhnya seperti itu, aku yakin Dia tidak bersalah dan terlibat dalam penculikan kak Aldo, selama ini aku selalu bersamanya, dia bahkan tidak pernah memegang ponsel di tangannya, bagaimana bisa kakak menuduhnya seperti itu.” Dokter Zena membela Aldwin karena Ia yakin Aldwin tidak sejahat yang mereka semua tuduhkan.
Hati Aldwin menghangat dan merasa begitu bahagia saat semua orang menuduhnya sebagai penjahat ternyata masih ada yang mau membelanya.
“Cukup, aku rasa dia tidak akan mengakui apa pun.” Ucap Rolad.
Rolad merasa kasihan melihat keponakannya itu, Rolad menatap dalam mencoba menelisik kebohongan di balik sorot mata Aldwin. Namun, Ia tidak menemukan kebohongan di balik matanya. Sungguh Ia yakin Aldwin yang dulu sudah berubah dan tidak lagi menyimpan kebenciaan di hatinya.
“Paman yakin Aldwin tidak terlibat dalam penculikan itu.” Kali ini Jonathan ikut membela Aldwin.
Aldwin seperti berada di persidangan dengan tuduhan melakukan perbuatan jahat. Padahal Ia sama sekali tidak tahu apa pun tiba-tiba saja semua orang menuduhnya. Sungguh hatinya tercabik dan sangat terluka.
“Dengan cara apa kau membuktikan dirimu tidak bersalah hah?” Tanya Nico.
“Aku akan membantumu mengungkap siapa yang sudah menculik Rea dan juga asistenmu itu.” Jawab Aldwin.
Nico melemparkan dokumen yang berisi informasi mengenai penjahat itu di atas meja tepat di hadapan Aldwin sambil berkata.
“Kau pasti mengenal mereka.”
Aldwin mengambil dokumen dan juga beberapa foto yang berserakan di atas atas meja itu dan membaca dengan rinci dokumen yang ada ditangannya.
Deggggg…….. Degggggg……
Jatunganya serasa ingin melompat keluar dari cangkanya. Tangannya bergetar hebat dan keringat dingin membasahi keningnya. Sorot matanya menatap tajam foto yang ada di genggamannya. Tanpa sengaja Ia mejatuhkan foto itu.
“Me-mereka adalah anak buah Tuan Smith. Orang yang ingin menghancurkanmu adalah musuh dari masa lalumu.” Ucap Aldwin.
“Katakan dengan jelas.” Perintah Nico.
“Dia adalah tuan Smith, dia ingin membalaskan dendam atas kematian putrinya.”
“Kematian putrinya?”
“Cycylia, Wanita di masa lalumu yang kau bunuh malam itu.” Terang Aldwin.
"Bukankah kedua orang tua Cycylia sudah meninggal."
"Dia membohongimu, ayah Cycylia merupakan seorang mafia berdarah dingin dan penjahat kelas atas, Dia tidak akan membiarkan kematian putrinya begitu saja, Dia akan membalaskan dendam atas kematian putrinya." Terang Aldwin.
Selama Nico menjalin hubungan dengan Cycylia, Yang Nico ketahui bahwa ke dua orang tua Cycylia sudah meninggal dunia.
“Dia tidak akan membiarkanmu dan seluruh keluargamu hidup dengan tenang.”
Nico mengepalkan tangannya dengan kuat, seluruh uratnya terlihat dengan jelas. Sekarang Ia sudah mengetahui siapa musuh yang sedang Ia hadapi. Dulu Aldwin pernah bekerja sama dengan kelompok mafia “La Cosa Nostra” untuk melenyapkan Nico. Alswin tahu banyak tentang kelompok mafia itu. Aldwin mengetahui di mana markas mereka dan Ia yakin jika Rea dan Aldo berada di markas itu.
“Aku akan membantumu untuk melenyapakan mereka.” Aldwin menawarkan bantuan kepada Nico.
“Apa imbalan yang kau inginkan?”
“Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bukanlah penjahat seperti yang kalian tuduhkan, dan terima kasih tuan Nico karena pertolonganmu aku masih hidup sampai saat ini, anggap saja ini sebagai balas budiku karena kau sudah menolongku malam itu.” ucap Aldwin tulus.
Nico memutuskan bekerja sama untuk melenyapkan para musuhnya. Aldwin juga terlibat atas kematian Cycylia malam itu karena Ia gagal melindungi putri dari Tuan Smith. Dan jika tuan Smith mengetahui bahwa Aldwin masih hidup maka Ia juga tidak akan lolos dengan begitu mudah.
“Siapkan seluruh anak buah kita, untuk melenyapkan para penjahat itu.” Perintah Nico.
“Baik Tuan.”
__ADS_1
“Kami akan membantumu.” Ucap Rolad dan Juga Jonathan.
“Paman tidak perlu terlibat dengan masalah ini, aku akan menghadapi mereka.”
“Berhatih-hatilah.”
“Baik paman, selama aku pergi tolong jaga Ana dengan baik, jangan memberitahu apa pun kepadanya.” Ucap Nico.
Ia tidak ingin Ana terbebani dengan peristiwa yang terjadi dan membuat istrinya itu khawatir.
“Terimkasih sudah membelaku.” Ucap Aldwin berterima kasih kepada dokter Zena.
“Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, aku yakin kakak tidak bersalah.” Balasnya.
Aldwin tersenyum bahagia saat dokter Zena bersikap baik kepadanya.
“Berhatih-hatilah kak, jangan sampai terluka.”
Dokter Zena meninggalkan Aldwin setelah mengucapkan kata-kata yang terdengar begitu manis di hati.
Aldwin menatap punggung dokter Zena yang semakin menghilang bersama dengan paman Rolad dan juga Jonathan.
“Bersiaplah malam ini kita akan mengahadapi mereka.” Ucap Nico dengan penuh keberanian.
Nico dan Aldwin dua mafia tampan dan juga kuat akan berasatu melawan musuh yang sama. Aldwin, Nico dan seluruh anak buahnya sudah bersiap menuju markas para musuhnya.
……..
Sementara itu, Rea dan Aldo masih berada di markas penjahat itu, Rea menatap sekeliling ruangan mencari celah untuk meloloskan diri. Namun, tidak ada jalan keluar untuknya meloloskan diri dari tempatnya saat ini.
Ia mendekati Aldo yang masih terbaring lemah. Rea menggenggam tangan Aldo dan meletakkan tangan itu di pipinya.
“Al, bangunlah kita tidak punya waktu lagi, malam ini mereka akan membunuh kita, Hikssssss…...” Lirihnya.
Air mata menetes di pipinya membasahi tangan Aldo yang dingin dan pucat itu.
Malam ini bos mafia itu akan tiba dan itu berarti mereka akan mati di tangan Tuan Smith sang bos mafia.
Aldo menggerakan jarinya, Rea bisa merasakan gerakan jari Aldo yang Ia genggam erat.
“Al kau sudah sadar.”
Aldo perlahan membuka matanya dan Ia menatap samar-samar wajah Rea yang terlihat sembab karena terus menangis.
“Sa-sayang.” Ucap Aldo.
“Al, ini aku, kita harus keluar dari tempat ini.”
“Apa yang terjadi sayang? Kenapa menagis?” Aldo berusaha menenangkan Rea yang terlihat panik dan takut.
Rea memeluk Aldo dengan erat karean merasa begitu bahagia akhirnya Aldo bisa sadar dan kembali bersamanya.
“Penjahat itu menculik kita Al, saat ini kita berada di markas mereka, aku takut mereka akan membunuh kita malam ini.”
“Sssssttttt…. Itu tidak akan terjadi sayang, Tenanglah!” Aldo berusaha untuk bangun namun, kepalanya terasa sangat berat dan Ia masih berada dalam pengaruh obat-obatan.
“Kau belum cukup kuat Al, berbaringlah lagi! Aku akan mencari cara agar bisa lolos dari tempat ini.”
Ceeekkkklleeeeee…..
Aldo yang melihat jika seseorang akan memasuki ruangannya langsung berpura-pura tertidur. Begitu juga dengan Rea Ia kembali berpura-pura duduk tak berdaya di sisi ranjang Aldo.
Penjahat itu masuk ke dalam ruangan mereka untuk memeriksa jika semuanya tetap aman.
"Bagus, semuanya man terkendali." Ucap Penjahat itu.
Di saat yang bersamaan, saat penjahat itu akan meninggalkan ruangan itu. Aldo bangun dan
Buggggg…..
Ia berhasil memukul penjahat itu dan membuatnya pingsan. Jika saja tubuh Aldo tidak lemah sudah pasti Ia akan membunuh penjahat itu.
“Sayang, kita harus keluar dari tempat ini.” Aldo menarik tangan Rea.
“Arrrrrrrrggggggg….” Aldo memegang kepanya yang terasa berdenyut sangat sakit.
“Kau baik-baik saja Al, aku akan membantumu.” Rea membantu Aldo dengan meletakkan lengan Aldo di pundaknya. Mereka berjalan mengendap-ngendap keluar. Langkah kaki Aldo berjalan tertatih-tatih. Dengan sekuat tenaga Ia tetap memaksakan dirinya berjalan agar bisa keluar dari markas penjahat itu.
Beberapa orang yang berlalu lalang tidak melihat keberadaan mereka. Dan akhirnya mereka berhasil keluar dari bangunan tua itu.
“Siaaalllllll…… Mereka berhasil kabur… Cepat cari mereka atau bos akan memenggal kepala kita.” Ucap para penjahat itu.
Bersambunggggg…..
__ADS_1