Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 84 : Menemukan Sandaran Hati


__ADS_3

Takdir manusia memang tidak bisa ditebak. Kemana hati akan menemukan tempat yang sesungguhnya? Siapa yang akan menyangka jika cinta itu akan kembali hadir di hati seorang pria yang pernah terluka begitu dalam. Menghancurkan seluruh impiannya untuk hidup bersama wanita yang Ia cintai. Namun, Tuhan telah membuat hatinya kembali merasakan indahnya cinta. Mengisi kekosongan dan kesepian hatinya. Tuhan telah mengirim seseorang untuknya bersandar.


Seorang Pria sedang menatap penuh cinta ke arah wanita yang Ia sayangi. Pandangan keduanya saling bertemu. Dua hati yang sama-sama terluka oleh cinta memutuskan untuk merajut cinta dengan seseorang yang berbeda dan berharap Ia tidak akan lagi terluka oleh cinta.


Aldwin dan Dokter Zena telah sepakat untuk membawa hubungan keduanya ke arah yang lebih serius lagi. Hubungan yang akan mengikat mereka selamanya. Wajah keduanya terlihat begitu bahagia. Acara lamaran Aldwin dan dokter Zena berjalan lancar. Hari pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi. Semua keluarga silih berganti mengucapkan selamat kepada ke duanya. Ana dan Rea yang juga ikut bergabung bersama telihat begitu bahagia.


Rea yang baru saja tiba di London, memutuskan untuk mengikuti acara lamaran Aldwin sahabatnya itu, Laki-laki yang dulu pernah dijodohkan dengannya. Namun, takdir tidak mengizinkan mereka untuk bersama. Hati Rea sudah sepenuhnya untuk Aldo. Pria yang sudah menjadi suaminya dan mengusi relung hatinya.


"Selamat yah! sebentar lagi kau juga akan menjadi seorang istri!" Ana memeluk dokter Zena yang terlihat begitu cantik dengan gaun putih yang pas ditubuhnya.


"Terima kasih kakak ipar." Ucapnya.


"Selamat yah!" Rea juga mengucapkan selamat untuk dokter Zena.


"Akhirnya adikku yang paling cantik ini, akan segera menjadi seorang istri, kakak sangat bahagia." Dokter Zera memeluk adik kesayangannya itu dengan perasaan bahagia.


Bu Aluna dan juga Maharani mengucapkan selamat secara bergantian kepada dokter Zena.


Aldwin, Nico, Rolad, Jonathan, dan Reynad mengucapkan selamat kepada Aldwin. Mereka sedang duduk bersama-sama mengobrol dan membahas banyak hal. Mereka semua terlihat begitu senang. Kedatangan Reynad menemui Nico sebenarnya Ia juga ingin menghadiri acara pertunangan dokter Zena yang sudah Ia anggap sebagai putrinya sendiri.


Alwin dan Nico sedang berbicara berdua di taman belakang mansion.


"Jaga adikku dengan baik, jangan membuatnya menangis atau melukainya." Ucap Nico tegas dan penuh penekanan. Sejujurnya Nico masih ragu dengan Aldwin. Namun, Ana berhasil menyakinkannya bahwa tidak ada salahnya memberi mereka kesempatan bersama. Dokter Zena juga terlihat bahagai saat bersama dengan Aldwin.


"Kau tenanglah! aku tahu kau begitu khawatir, aku tidak akan melukainya, percayalah padaku tuan Nico." Ucap Aldwin begitu yakin dengan perasaannya. Ia tahu Nico begitu khawatir sebagai seorang kakak yang tidak ingin adiknya terluka.


"Panggil Aku kakak ipar, sebentar lagi kau akan menjadi adik iparku." Nico menepuk pelan bahu Aldwin. Mereka sedang menikmati segelas Wine.


"Baiklah kakak ipar." Ucap Aldwin dengan tersenyum tipis.


Semua dendam dan kebencian di hati keduanya seolah sirna begitu saja. Cinta telah mengalahkan dendam di hati. Dendam hanya membuat hatinya ke duanya kesepian. Kehilangan orang yang mereka cintai telah menjadi takdir Tuhan. Dan mereka hanya bisa pasrah dengan takdir. Balas dendam tidak membuat keduanya puas. Bahkan hati mereka tidak merasakan kebahagia. Hati mereka kesepian. Balas dendam tidak akan membuat yang pergi kembali lagi. Nico dan Aldwin merasakan perasaan itu. Walau berat namun Aldwin dan Nico sudah melypakam semuanya dan memutuskan untuk berdamai. Tidak ada lagi dendam yang tersisa di hati ke duanya.

__ADS_1


Semua ini karena Ana yang sudah membuat Nico bisa melepaskan semua dendam di hatinya. Ia banyak belajar dari istrinya yang begitu baik hati. Mengajarkannya banyak hal untuk menjadi pria yang baik, bertanggung jawab dan memberi kesempatan dan memaafkan kesalahan orang lain.


Biarlah dendam itu ikut terkubur bersama dengan kepergian orang tua mereka. Nico dan Aldwin sudah sepakat untuk berdamai dengan keadaan dan melupakan luka yang ada di hati masing-masing.


Nico sampai saat ini masih memiliki perasaan bersalah dan Penyesalan yang begitu besar. Bagaimana dulu Ia menyiksa istrinya. Ia bahkan tidak bisa melupakan dan menyesali seumur hidupnya. Rasa bersalah masih menghinggapi hatinya. Nico begitu beruntung memiliki Ana, seorang istri yang bisa menerima dan memaafkan semua kesalahan dan kekejamannya dulu. Nico begitu mencintai istrinya dan tidak ingin sesuatu melukai istri dan juga calon anaknya. Ia sudah berjanji dengan segenap jiwanya untuk menjaga Ana selamanya.


Waktu bergulir begitu cepat. Malam semakin larut membuat sebagian orang memilih untuk kembali ke mansion. "Sayang! kau terlihat lelah?" Tanya Nico membelai lembut pipi istrinya.


"Hemmmm" Ana mengangguk pelan menatap lembut suaminya yang terlihat khawatir.


Sreeetttt....


Nico segera menggendong tubuh istrinya. Membuat Ana refleks dan melingkarkan tangannya di leher suaminya.


"Sayang! Turunkan aku, Tubuhku pasti beratkan!"


"Sudah, jangan berisik atau aku akan menghukummu malam ini, Kau selalu saja menggodaku."


"Aisssshhh.... Dasar tuan Nico mesum."


Sejak hamil Nico selalu menganggap istrinya selalu menggodanya dan istrinya itu terlihat sangat seksi.


Nico dan Ana masuk ke dalam kamar meninggalkan Aldwin dan dokter Zena yang sedang berada di taman belakang mansion. Sementara Aldo dan Rea sudah kembali lebih dulu ke apartemen mereka. Aldo dan Rea mememutuskan untuk tinggal di apartemen setelah menikah. Wajah Rea terlihat pucat mungkin karena kelelahan sepulang dari bulan madu.


Di taman belakang mansion Nico. Aldwin dan dokter Zena sedang duduk bersama.


"Kau terlihat sangat cantik sayang!" Bisik Aldwin pelan di teligan dokter Zena membuatnya sedikit merinding. Hatinya berdegub kencang dan wajahnya terlihat merona merah.


Aldwin selalu saja bisa membuatnya gugup dan hatinya selalu berdebar saat sedang berdua dengannya.


"Kau juga terlihat sangat tampan kak" Pujinya.

__ADS_1


"Panggil aku 'sayang'." Perintah Aldwin manyentuh dagu wanita yang sedang tertunduk dengan wajah menahan malu. Dokter Zena memalingkan wajahnya. Ia tidak sanggup menatap wajah Aldwin yang terlihat sangat tampan di bawah sinar rembulan.


"Sa-sayang." Mendengar kata sayang yang di ucapkan oleh dokter Zena membuat Aldwin tidak bisa menahan diri untuk tidak melahap bibir mungil wanita yang sebentar lagi akan menjadi milik seutuhnya.


"Hemmmmmm." Suara deheman seseorang membuat Aldwin dan Dokter Zena menghentikan aksinya.


"Dasar pasangan mesum." Ucap Nico yang dibuat terkejut dengan tingkah dua orang yang sedang jatuh cinta itu.


Duarrr......


Mereka juga tak kalah terkejutnya. Ketika Nico sudah berdiri di depan ke duanya. Aldwin hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal dan tersenyum secerah mentari pagi.


"Kak Nico, Ak-aku... Hemmm." Dokter Zena terlihat gugup dengan wajah merona merah menahan malu. Kepergok berciuman membuat keduanya terlihat gugup.


"Sepertinya kalian harus menikah malam ini juga atau pernikahan kalian sebaiknya dibatalkan saja." Ancam Nico dengan tatapan tajamnya. Membuat nyali Aldwin menciut.


"Jangan kak." Ucap keduanya begitu kompak.


"Semua ini karena kak Aldwin, Dasar menyebalkan..." Ucap Dokter Zena meninggalkan Aldwin dengan wajah kesal namun terlihat menggemaskan. Bibirnya sudah manyun beberapa centi membuat Aldwin hanya bisa menahan dirinya.


"Maafkan aku Sayang, kau terlihat begitu menggoda." Dokter Zena tidak mendengar ucapan kekasihnya itu. Ia sudah berlalu memasuki mansion.


"Maafkan! aku tidak akan melakukannya lagi, kau tidak akan memisahkan kami kan?" Tanya Aldwin kepada Nico yang sudah duduk di kursi di tempat dokter Zena tadi duduk.


"Sebaiknya kau pulang! jangan bertemu dengan adikku sampai hari pernikahan kalian, kau paham!" Ucap Nico dengan tegas. Ia tidak ingin mereka bertemu dan tidak bisa menahan diri. Nico sudah seperti ayah untuk Dokter Zena. Ia begitu menyanyangi adiknya itu dan tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Walau Ia tahu dirinya juga tidak ada bedanya dengan Aldwin.


"Baiklah kakak ipar." Ucapnya dengan pasrah.


Aldwin hanya bisa mengikuti perintah Nico yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya itu. Walau kesal namun, Ia tidak ingin Nico membatalkan pernikahan mereka hanya karena kepergok berciuman.


Bersambunggg.....

__ADS_1


__ADS_2