Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 38


__ADS_3

Ariana yang sudah kembali tersadar dari alam mimpinya yang begitu panjang. Ia menggerakkan tangannya dengan perlahan. Ia mencoba membuka matanya yang terasa begitu berat seolah tidak ingin terbuka lagi.


Dokter Bryan datang ke ruangan Ana dan memeriksa kondisinya.


“Bagaimana dok, apa dia akan sadar.” Tanya Nico.


“Kondisi pasien sudah lebih baik, dia akan segera sadar.” Jawab dokter Bryan dengan perasaan yang lega.


Ana perlahan membuka matanya dan melihat langit-langit ruangan itu. Ia belum pulih sepenuhnya. Ia masih terlihat berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia melihat sekelilingnya dan ia melihat dokter Bryan berada di sampingnya. Ia kembali melihat setiap sudut ruangan itu mencari keberadaan Aldwin. Namun, ia tidak melihat sosok yang ia cari.


“Dokter Velin, anda sudah sadar.” Ucap Bryan.


“Dok, apa yang terjadi denganku.” Ana memegang kepalanya yang terasa masih begitu pusing pengaruh dari obat-obatan.


Ia berusaha menggerakkan tubuhnya yang masih terasa begitu kaku. Ia berusaha bersandar di sandaran ranjang rumah sakit di bantu dengan dokter Bryan.


“Kau sudah sadar Ana.” Ucap Nico. Ia mendekati Ana ingin membantunya. Namun Ana menolak dan terlihat histeris saat melihat Nico ada di depannya.


“Ahhhhhhhh, pergi.. pergi dari sini, aku tidak ingin melihatnya dokter, usir dia keluar dari ruangan ini.” Tunjuk Ana dan ia memeluk dokter Bryan dengan erat. ia terlihat begitu takut dengan Nico.


“Ana tenanglah! Aku mohon maafkan aku.” Ucap Nico lembut. Ia ingin memegang tangan Ana tapi Ana menepis tangan Nico dan tidak ingin disentuh oleh laki-laki kejam itu.


“Jangan menyentuhku! Pergi... kau seorang pembunuh, aku tidak ingin melihatmu, pergiiiiiii.” Usir Ana.


Entah mengapa ia begitu takut dengan Nico. Bayangan tentang peristiwa itu kembali terlintas di pikirannya. Ana masih menutup telinga tidak ingin mendengar suara laki-laki itu. Ia semakin memeluk dokter muda dan tampan itu.


Nico yang menatap Ana memeluk dokter Bryan terlihat marah dari raut wajahnya. Ia terlihat kesal dengan dokter Bryan.


“Tenanglah Ana!” Dokter Bryan berusaha menenangkan Ana yang terlihat begitu panik. Sepertinya ia mengalami trauma dengan peristiwa malam itu.


Dokter Bryan segera memberikan suntikan penenang agar Ana tidak semakin panik yang akan membuat kondisinya semakin memburuk.


“Istirahatlah, kau akan kembali pulih.” Ucap dokter Bryan sambil membetulkan selimut dan menutupi tubuh Ana.


“Sebaiknya Anda ikut dengan saya ke ruangan, ada yang ingin saya sampaikan mengenai kondisi pasien.” Dokter Bryan menatap Nico dan memintanya untuk ikut ke ruangannya.


“Baik dokter.”


Nico mengikuti dokter Bryan masuk ke dalam ruangannya.


Sementara Aldo masih berada di ruangan untuk menjaga Ana.


Nico sampai di ruangan dokter Bryan. Ia duduk menunggu penjelasan mengenai kondisi pasien.


“Apa yang terjadi dengan Ana? Kenapa ia terlihat begitu takut melihatku dok?” tanya Nico.


“Pasien mengalami Post traumatic stress disorder (PTSD)  merupakan kondisi psikologis seseorang yang mengalami serangan panik. Rasa panik ini disebabkan oleh kejadian lampau yang menyakitkan hati dan membuatnya merasa takut.” Ucap dokter Bryan.


“Sebaiknya anda tidak mendekati pasien karena kondisi pasien saat ini mengalami stres dan itu akan membuat kondisinya semakin memburuk. Pasien butuh waktu yang lama untuk melupakan peristiwa buruk yang menimpanya. Untuk sementara waktu anda jangan menemui pasien.” Ucap dokter Bryan lagi.


“Apa dokter tidak bisa menyembuhkan penyakitnya?” tanya Nico.


“Pasien tidak bisa disembuhkan dengan obat-obatan yang ada. Ini merupakan penyakit yang menyerang mental seseorang dan biasanya penyakit ini akan sembuh ditangan psikiater. Saran saya sebaiknya anda membawa pasien ke psikiater untuk membuat kondisinya kembali normal.”


“Baik dokter, saya akan mengikuti saran dokter.” Nico kemudian meninggalkan ruangan dokter Bryan.


Ia ingin menemui Ana dan melihat kondisi wanita itu.


“Bagaimana keadaannya, apa dia sudah sadar.” Tanya Nico kepada asistennya.


“Kondisi nona Ana belum sadar tuan.”


“Aldwin... Aldwin maafkan aku, jangan pergi..... Tidakkkkkkk.....”


Ariana sepertinya mengigau mengingat Aldwin. Ia tiba-tiba bangun dari mimpi buruk yang baru saja ia alami. Nico yang tengah duduk di sofa yang berada di samping ranjang Ariana hanya bisa melihat dan mendengar Ana memanggil nama Aldwin


“Hikkkksssssss........ Aldwin....”


Ana menangis dan terbangun dari tidurnya. ia menengok kanan dan kiri mencari keberadaan Aldwin. Namun, ia tidak menemukan sosok yang ia cari. Ia semakin menangis mengingat mimpi buruk yang baru saja ia alami.

__ADS_1


Nico mendekati Ana ingin membantu menenangkan Ana agar tidak menangis lagi.


“Pergi.... jangan mendekatiku kau pembunuh, aku tidak ingin melihatmu pergi dari sini.” Usir Ana.


Ana terlihat begitu berantakan dengan rambut yang acak-acakan dan wajah yang kusut dan mata yang sembab karena sejak sadar ia terus menangis dan mengingat Aldwin. Ia merasa bersalah dan selalu bermimpi buruk tentang peristiwa tragis yang terjadi malam itu. Ia mengalami trauma yang cukup parah.


“Suster usir pembunuh ini, Ahhhh..... pergi...... pembunuh.....” Ana berteriak membuat dokter dan suster berlari menuju ruangan Ana.


“Sebaiknya anda keluar dari ruangan ini, saat ini pasien tidak ingin melihat anda tuan.” Usir dokter Bryan kepada Nico.


Ia tidak bisa membiarkan Nico berada di dekat Ana karena itu akan membuat kesehatan Ana semakin menurun.


Nico dan Aldo akhirnya memilih keluar dari ruangan Ana.


“Sialllll, apa yang harus aku lakukan? Wanita itu bahkan tidak ingin melihatku, bagaimana aku bisa minta maaf dan menebus semua kesalahanku.” Nico mengacak rambutnya terlihat begitu prustasi.


“Sebaiknya tuan tenang, pasti ada cara untuk menyembuhkan nona Ana.”


Aldo dan Nico duduk di kursi tunggu yang ada di rumah sakit itu.


Sementara itu, Seseorang terlihat berlari masuk ke dalam ruangan Ana. Ia melihat suster menuju ruangan Ana. Dengan langkah cepat Rea juga masuk ke ruangan Ana bersama suster yang ingin masuk memeriksa Ana. Beruntung Nico dan Aldo tidak melihat Rea masuk ke dalam ruangan Ana karena Rea memakai seragam dokter membuatnya tidak bisa di kenali.


Saat Rea menerima pesan dari dokter Bryan tentang Ana yang sudah sadar. Ia dengan  cepat menuju rumah sakit tempat Ana dirawat. Dan saat ini ia sudah berada di ruangan Ana.


“Apa yang terjadi dokter?” Tanya Rea.


“Pasien mengalami stres dan trauma, kondisi pasien benar-benar lemah, sejak tadi ia terus memanggil nama Aldwin.” Terang dokter Bryan.


“Huffffff” Rea membuang nafasnya dengan kasar.


“Pasien bisa saja sembuh dengan bantuan psikiater, saat ini pasien butuh ketenangan, kalau perlu kau bisa membawanya pergi dari negara ini, itu bisa membantu pasien untuk melupakan peristiwa buruk yang menimpanya.”


“Saya akan membantu Ana agar bisa sembuh dok. Saat ini Ana tidak punya siapa pun di negara ini. Terima kasih dokter sudah menjaga Ana selama ini.”


“Sama-sama dokter Rea.”


Dokter Bryan meninggalkan ruangan Ana. Tak berapa lama kemudian, Ana membuka matanya dan ia melihat seorang duduk disampingnya.


Air mata Ana terus mengalir dari pelupuk matanya. Ada perasaan bersalah yang begitu dalam ia rasakan.


“Jangan menangis Ana! Aku akan selalu ada di sampingmu, Aldwin baik-baik saja. Cepatlah sembuh dan temui dia.” Rea memeluk Ana menenangkan dan memberinya kekuatan.


“Maafkan aku Ana, aku tidak bisa menceritakan apa yang terjadi kepada Aldwin, aku tidak ingin membuatmu semakin Shock.” Batin Rea.


“Rea aku boleh minta tolong, aku ingin menemui Aldwin, aku ingin meminta maaf dengannya, kenapa Aldwin tidak datang menemuiku, apa kau bisa menyuruhnya kemari!.” Lirih Ana.


“Al-aldwin, dia...”


Rea menghentikan ucapannya ia tidak bisa meneruskannya. Ia tahu Ana akan semakin shock mengetahui kejadian yang sebenarnya dan itu akan mempengaruhi kondisinya.


“Ana kau harus sembuh dan temui Aldwin, dia juga begitu merindukanmu.”


“Istirahatlah, kau harus cepat sembuh...”


Ana mengangguk dengan pelan dan sesaat kemudian ia memejamkan matanya. Dan Akhirnya Ana tertidur pulas setelah diberi suntikan penenang oleh suster.


“Aku akan kembali lagi menemuimu.” Rea merapikan selimut Ana dan ia keluar dari ruangan itu.


Cekleekkk


Pintu ruangan Ana terbuka dan di saat yang bersamaan Rea ingin keluar dari ruangan Ana tapi langkahnya terhenti saat Aldo juga berdiri di depan ruangan Ana ia ingin masuk ruangan Ana untuk melihat kondisinya namun ia mendapati Rea berdiri di depan pintu ruangan itu.


“Apa yang kau lakukan di sini nona?” Tanya Aldo.


“Itu bukan urusanmu, apa aku harus melapor kepadamu kalau aku ingin menemui sahabatku, memangnya siapa kau hah?” bentak Rea.


“Anda benar-benar kasar nona, sebaiknya nona ikut dengan saya, tuan Nico ingin berbicara dengan anda.”


“Aku tidak punya waktu, aku sedang sibuk dan tidak bisa menemui tuanmu.”

__ADS_1


Aldo tiba-tiba mencengkeram kuat lengan Rea dan memaksa Rea ikut dengannya.


“Lepaskannnnn! Apa yang kau lakukan?”  Bentak Rea.


Plakkkkkkkk....


Rea memukul lengan Aldo menggunakan satu tangannya. Tapi sepertinya Aldo tidak bergeming sama sekali dan tetap menarik paksa Rea ikut dengannya. Rea berusaha memberontak dan memukul lengan Aldo dengan sekuat tenaga. Tapi laki-laki itu tidak merasakan sakit sama sekali.


Aldo membuka pintu mobil Nico dan memaksa Rea masuk ke dalam mobil itu. Sementara Nico sudah berada di dalam mobil.


“Tuan saya sudah membawa wanita ini.” Ucap Aldo yang juga ikut masuk ke dalam mobil dan ia melajukan mobil Nico.


Rea semakin menciut dan terlihat takut saat Nico menatapnya tajam dan tersenyum tipis.


“Kau mau membawaku ke mana, jangan macam-macam kalian atau aku akan melaporkan kalian kepada polisi karena menculikku.” Ancam Rea.


“Hahahhahahaha.” Nico tertawa sementara Aldo hanya bisa tersenyum menatap wajah pucat gadis itu dari kaca dashboard mobil.


Mobil Nico tiba-tiba berhenti di depan sebuah restoran mewah. Aldo turun dan membuka pintu untuk Nico.


“Apa kau akan tetap berada di dalam mobil nona?” Tanya Aldo. Ia sudah membuka pintu untuk Rea tapi gadis itu belum juga keluar.


Rea akhirnya keluar dari mobil Nico dan saat keluar ia kembali menginjak kaki Aldo dengan ujung highels.


“Arrggg, kurang ajar gadis itu menginjak kaki ku lagi.” Gumam Aldo.


Rea terlihat tersenyum penuh kemenangan.


Nico, Rea dan Aldo masuk ke dalam ruangan  VVIP restoran mewah itu. Nico ingin makan siang di restoran itu.


“Pesanlah makan apa pun yang ingin kau makan dokter Rea.” Ucap Nico.


“Ada apa anda ingin menemui saya.” Tanya Rea tho the point. Ia benar-benar malas berbicara dengan laki-laki yang ada di depannya saat ini.


“Aku tahu dokter adalah sahabat dari Ana, aku hanya ingin dokter membantuku agar Ana mau memaafkanku, aku ingin menebus kesalahanku kepada Ana, tapi saat ini ia bahkan tidak ingin melihatku.” ucap Nico.


“Maaf tapi saya tidak bisa membantu Anda.”


“Kalau anda benar-benar merasa bersalah dan ingin meminta maaf kepada Ana seharusnya anda berusaha dengan cara anda, aku yakin Ana akan memaafkan anda tuan. Walau itu tidak mudah karena aku tahu Ana tidak akan mudah memaafkan orang yang pernah menyakitinya dan membuat hidupnya menderita. Berusahalah dan tunjukan kalau anda benar-benar tulus ingin meminta maaf kepada Ana. Terima kasih sudah mengajak saya makan siang, saya tidak punya banyak waktu, permisi.” Rea meninggalkan Nico dan Aldo di ruangan itu.


“Dia benar-benar gadis yang berani.” Ucap Nico.


“Apa perlu saya menyeret wanita itu kembali ke ruangan ini?” Tanya Aldo.


“Biarkan dia pergi dan jangan menghalanginya bertemu dengan Ana.” Perintah Nico.


“Baik tuan.”


“Aku akan membuatmu memaafkanku Ana, aku akan menebus kesalahanku, dan aku akan membawamu kembali ke Indonesia bertemu dengan ibumu, aku yakin kau akan segera sembuh dan melupakan peristiwa buruk malam itu.” Batin Nico.


Like, Vote dan Komentar


 


Terima kasih dukungannya.


 


🙏🙏


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2