
Beberapa hari berada di rumah sakit kondisi Ariana semakin membaik. Ia sudah sadar dan merasa begitu bahagia bisa bertemu dengan bu Ella ibunya. Setiap hari bu Ella selalu menemani dan merawat putrinya.
“Maafkan aku bu, sudah membuat ibu khawatir.” Ucap Ariana dengan menggenggam kedua tangan ibunya.
“Jangan minta maaf Nak, saat ini ibu begitu bahagia bisa bertemu dengan putri ibu.” Bu Ella membelai lembut rambut putrinya.
“Apa kita akan kembali ke kontrakan?, aku ingin tinggal dengan ibu.”
“Iyya Nak, ibu akan membawamu pergi.”
Tak lama kemudian dokter Zera dan Nico masuk ke dalam ruangan tempat Ariana dirawat untuk memeriksa keadaannya.
“Bagaimana kondisi anak saya dokter?” Tanya Bu Ella.
“Kondisi anak ibu sudah lebih baik, dia bisa pulang hari ini.” Jawab dokter Zera.
“Terima kasih dokter.”
Dokter Zera meninggalkan ruangan Ariana dan tinggallah Nico dan Bu Ella.
“Kalian akan ikut denganku, jangan berpikir untuk kabur dariku.” Ancam Nico dengan tatapan tajamnya.
“Saya mohon tuan biarkan saya dan putri saya kembali ke rumah kami.” Ucap bu Ella dengan mencoba memohon.
Namun, Nico tetap tidak peduli dengan permintaan bu Ella. Ia menyuruh asisten dan anak buahnya untuk membawa Ariana dan ibunya kembali ke mansionnya.
“Bawa ke dua wanita ini ke mansionku, jangan biarkan mereka kabur, kalian paham.” Perintah Nico kepada Aldo dan Anak buahnya.
“Baik tuan.”
Nico segera pergi meninggalkan ruangan Ariana. Ia kembali ke mansionnya lebih dulu setelah menerima panggilan telefon dari pamannya Reynad.
Bu Ella menyiapkan barang-barang Ariana selama berada di rumah sakit. Ariana hanya pasrah jika harus kembali ke mansion Nico. Ia tidak mungkin bisa lepas dari laki-laki kejam yang selalu membuatnya menderita.
Aldo membawa Ariana dan bu Ella masuk ke dalam mobil berwarna hitam menuju mansion Nico. Sepanjang perjalanan tidak ada suara suasana di dalam mobil menjadi hening.
Setelah beberapa menit mobil yang membawa Ariana dan bu Ella sampai di mansion Nico. Bu Ella memandang takjub bangunan mansion yang begitu luas dan megah.
Aldo keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Ariana dan ibunya.
“Silakan masuk nona, tuan Nico sudah menunggu Anda.” Aldo membawa Ariana dan ibunya masuk ke dalam mansion mewah tersebut.
Langkah kaki Ariana terasa berat. Ia tidak ingin masuk dan bertemu lagi dengan laki-laki kejam itu. Ia benar-benar ingin melarikan diri dan bersembunyi andai ia bisa melakukannya.
Ariana dan ibunya masuk ke dalam mansion dan menemui Nico yang tengah duduk di ruang tengah bersama Reynad. Tatapan tajam kedua manusia itu bagai ingin menerkam mangsanya.
Ariana dan bu Ella berdiri di depan ke dua laki-laki itu.
“Saya sudah membawa ke dua wanita ini tuan.”
“Terima kasih atas kerja kerasmu hari ini, kau boleh pulang dan istirahat.” Perintah Nico kepada Asistennya.
“Baik Tuan, saya permisi Tuan.” Aldo menundukkan kepala dan berlalu keluar dari mansion Nico.
Ariana hanya bisa menatap punggung asisten Aldo yang semakin menjauh ia berharap agar laki-laki itu tidak meninggalkannya begitu saja setelah mengantarnya. Ia saat ini sedang takut dengan dua orang laki-laki yang ada di depannya itu.
“Berani sekali kau mencoba untuk mengakhiri hidupmu, kau sudah merepotkan dan menyusahkan aku,” Ucap Nico kepada Ariana dengan mata tajamnya.
“Maafkan saya tuan, saya akan mengganti semua biaya yang tuan keluarga untuk membantu saya, biarkan saya dan ibu saya pergi dari sini tuan.” Lirih Ariana.
“Tolong maafkan kesalahanku dan putriku tuan, biarkan kami pergi tuan.” Bu Ella mengatupkan tangannya memohon kepada Nico.
“Kau pikir aku dan keponakanku akan memaafkan kesalahan kalian, kau tahu suamimu itu adalah seorang penghianat dan pembunuh.” Ucap Reynad ikut menimpali.
“Apa maksud tuan, suamiku tidak mungkin menghianati atau membunuh siapa pun, dia suami dan ayah yang baik Tuan, itu hanya fitnah Tuan.” Bu Ella mencoba membela suaminya.
Ia tidak percaya dengan ucapan ke dua laki-laki yang ada di depannya saat ini.
“Kau pikir aku percaya dengan ucapanmu HAH.” Bentak Nico membuat kedua wanita itu semakin takut.
“Bawa wanita tua ini ke kamar yang ada di dekat dapur, dia akan menjadi budakku.” Perintah Nico kepada bi Rum.
__ADS_1
“Baik Tuan, mari ikut saya bu, saya akan membawa ibu ke dalam kamar ibu.” Bi Rum menarik lengan Bu Ella dan membawanya menuju kamar belakang.
“Tolong lepaskan kami tuan, jangan sakiti kami hiksss... “ bu Ella menangis di depan Nico berharap laki-laki itu akan membiarkannya pergi.
“Kalian masih beruntung bisa hidup setelah apa yang sudah suamimu lakukan kepada orang tua Nico, aku seharusnya melenyapkan kalian berdua.” Ucap Reynad. Kali ini ia tampak begitu marah dengan dua orang wanita yang ada di depannya itu.
Bu Ella semakin menjauh dari pandangan Ariana, ibunya sudah di bawah ke dalam kamar yang mungkin bukan kamar melainkan gudang yang terletak di dekat dapur.
Sementara itu, Ariana berdiri mematung di depan ke dua laki-laki di depannya.
“Tu-Tua-Tuan jangan sakiti ibuku, aku mohon tuan, hukum aku saja tapi jangan sakiti ibu saya tuan hikksss...hikss..” Suara Ariana terbata-bata.
“Baiklah aku tidak akan menyakiti ibumu tapi kau harus menikah denganku atau kau dan ibumu menjadi budakku selamanya.” Nico menarik kasar rambut Ariana membuatnya menahan sakit.
“Sa-saya rela menjadi budak tuan, tapi jangan sakiti ibuku.”
“Hahahahha, kau bahkan menolak menikah denganku dan memilih menjadi budakku, baiklah aku akan mengabulkan permintaanmu, kau harus ingat bahwa kau akan melakukan apa pun yang aku perintahkan termasuk melayaniku, Kau paham.” Nico melepaskan cengkeraman tangannya pada rambut Ariana. Terlihat senyum tipis dari bibirnya.
Mata Ariana membulat sempurna mendengar kata terakhir Nico.
“Apa, melayaninya!, Aku tidak mau melayani laki-laki mesum itu, cukup sekali dia memaksaku untuk melayaninya di tempat tidur.” Batin Ariana.
“Apa kau mau?”
“Maafkan saya tuan, tapi Tuan.”
“Mulai saat ini wanita ini adalah budak di rumah ini, dia akan melaksanakan tugas yang sama dengan kalian, jangan perlakukan wanita ini sebagai nyonya, kalian paham.” Perintah Nico kepada para pelayan.
“Baik tuan.” Jawab pelayan serempak.
Ariana diantar oleh bi Rum menuju kamar yang ada di dekat dapur. Ariana masuk dan memeluk ibunya yang sudah lebih dulu berada di dalam kamar tersebut.
“Apa kau baik-baik saja Nak, laki-laki itu tidak menyakitimu kan Nak?. Tanya bu Ella dengan memeriksa seluruh bagian tubuh putrinya. Namun, ia tidak menemukan luka apa pun.
“Aku baik-baik saja bu, maafkan aku bu.”
“Jangan minta maaf Nak ini bukan salahmu, jangan percaya ucapan laki-laki itu ayahmu bukan seorang penghianat atau pembunuh, mereka pasti salah paham kepada ayahmu, andai kamu masih hidup mas, ini semua tidak akan terjadi. Hiksss... Hikksss....” Ariana mencoba memeluk ibunya yang sedang menangis.
Hari berganti hari kehidupan Ariana dan ibunya semakin hari semakin menderita, ibunya yang sakit-sakitan harus mengerjakan pekerjaan rumah. Setiap hari bu Ella membersihkan mansion Nico yang sangat luas. Ariana sendiri melayani setiap keperluan Nico.
“Apa yang kau masak, ini tidak enak sama sekali, kau memang bodoh.” Bentak Nico di pagi hari.
Braakkk...
Nico melemparkan piring yang berisi makanan berserakan di lantai. Ariana hanya menatap nanar makanan yang ia masak dengan susah payah harus di buang begitu saja di depan matanya.
“Sini kau, apa yang kau masak untukku?, kau mau meracuniku dengan masakanmu itu. HAH.”
“Tidak tuan, ini adalah makanan yang biasa saya masak untuk tuan.” Ariana mencoba membela diri.
“Mulai hari ini kau tidak perlu memasak untukku, biarkan bi Rum yang memasak makanan setiap pagi untukku, kau akan aku pindah tugaskan untuk melayaniku di dalam kamar.”
Mata Ariana kembali membulat sempurna.
“Ta-tapi Tuan.”
“Jangan membantahku, mulai hari ini kau harus mengurusku.”
Nico berdiri dari kursi ia sudah tidak memiliki selera untuk makan Ia akan makan di luar saja.
“Ikut aku sekarang juga, kau harus menyiapkan keperluanku.”
Ariana mengikuti Nico dari belakang. Nico menaiki anak tangga dan berjalan masuk ke dalam kamarnya. Sementara langkah kaki Ariana terhenti ketika berada di depan kamar Nico. Ia takut untuk masuk lagi ke dalam kamar tersebut. Ia masih punya trauma tentang apa yang dilakukan Nico kepadanya.
“Apa yang kau lakukan di situ?, Ayo masuk!” Perintah Nico yang masih melihat Ariana berdiri mematung di depan pintu kamarnya.
“Ba-Baik Tuan.”
Ariana mencoba melangkah masuk kemudian Nico menarik tangan Ariana membuatnya membentur dinding kamar tersebut. Nico memegang kedua tangan Ariana dan menguncinya agar Ariana tidak bisa kabur darinya. Nico mendekat dan menatap wajah cantik Ariana. Ia menatap bibir seksi merah merona Ariana.
“A-Ap-apa yang mau tuan lakukan.” Ariana memejamkan matanya dan wajahnya semakin takut. Ia takut kalau laki-laki itu akan melakukan hal buruk kepadanya lagi.
__ADS_1
“Tolong lepaskan saya tuan.” Lirih Ariana.
“Kau harus melayaniku, kau adalah budakku dan aku menginginkanmu untuk memuaskan aku.”
“Tidak tuan, lepaskan saya.”
Ariana mendorong tubuh Nico membuat Nico menahan geram. Matanya menatap tajam Ariana. Tangannya mengepal dan..
Plakkkk.
Tamparan mendarat di pipi mulus Ariana dan meninggalkan bekas merah. Ariana memegang pipinya yang terasa sakit.
“Kau berani membantahku, Hei budak kau pikir bisa menolak perintahku Hah.” Bentaknya.
Nico melepaskan ikat pinggang dari celananya. Kau harus merasakan ini. Ariana dicambuk oleh Nico. Ia lebih memilih dicambuk daripada harus melayani laki-laki kejam yang sangat dibencinya.
“Sakit tuan, jangan sakiti saya tuan.” Lirihnya dengan suara yang mulai melemah.
Nico yang melihat Ariana sudah mulai pingsan menghentikan cambukkannya.
“Jangan berani menolakku atau aku akan menyiksamu, keluar dari kamarku sekarang juga.”
Ariana segera bangkit dia mencoba untuk berdiri. Walau kakinya terasa begitu berat dan pungguknya terasa begitu sakit bahkan mengeluarkan darah. Ia berjalan dengan gontai keluar dari kamar Nico. Ia berjalan menuju kamarnya dan ibunya yang ada di dekat dapur.
Bu Ella membuka pintu kamarnya dan langsung memeluk tubuh putrinya yang hampir terjatuh ke lantai. Ia membantu Ariana masuk ke dalam kamar. Ia memegang lengan putrinya membantunnya untuk berjalan masuk ke dalam kamar mereka.
Kamar Ariana dan bu Ella tidak memiliki kasur dan mereka hanya tidur beralaskan kardus bekas. Mereka kadang merasakan dinginnya lantai kamar tersebut. Gudang yang dijadikan kamar oleh mereka sebenarnya tidak layak untuk ditinggali. Banyak tikus dan hewan menjijikkan lainnya di dalam kamar tersebut. Nico benar-benar ingin membuat ke dua wanita itu menderita. Nico juga memperlakukan Ariana dan ibunya seperti bukan manusia yang bisa ia siksa kapan saja.
Kondisi bu Ella juga semakin hari semakin memburuk. Ariana yang melihat kondisi ibunya berusaha untuk kabur dari mansion Nico agar ibunya bisa mendapatkan perawatan di rumah sakit. Ia pernah mencoba untuk kabur tapi ia tidak bisa karena anak buah Nico berada di setiap sisi mansion tersebut.
Bu Ella membuka baju dan menatap punggung putrinya yang terdapat banyak luka cambuk. Hatinya sakit melihat keadaan putrinya yang disiksa oleh Nico. Ia mengambil obat dan mengolesi punggung Ariana.
“Apa ini perbuatan laki-laki kejam itu Nak?” Tanya Bu Ella.
Ariana hanya bisa mengangguk dengan pelan. Tanpa terasa bulir bening kembali jatuh di pelupuk matanya.
BERSAMBUNG...
LIKE, VOTE DAN KOMENTAR.
TINGGALKAN JEJAK AGAR AUTHORNYA SEMANGAT.
🙏🙏🙏😀😀
__ADS_1