Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 80 : Pernikahan Impian


__ADS_3

Dua Minggu berlalu setelah peristiwa malam itu...


Pernikahan impian adalah keinginan setiap wanita. Menikah dengan pria yang kita cintai dan mencintai kita adalah pernikahan yang diimpikan seluruh wanita di dunia ini begitu juga dengan Rea. Hari ini adalah hari yang sangat dinantikan oleh Aldo dan juga Rea. Setelah melewati banyak peristiwa yang menyakitkan akhirnya mereka akan bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan yang tinggal menghitung menit mereka akan sah menjadi sepasang suami istri.


Pernikahan akan berlangsung dengan pesta megah di salah satu hotel berbintang. Para keluarga dan juga kolega bisnis tuan Jonathan dan Rolad sudah berkumpul untuk menyaksikan acara penikahan Rea dan Aldo.


Nico akan mendampingi Aldo, Begitu juga dengan Ana dan bu Aluna akan mendampingi Rea menuju pelaminan yang sudah di beri hiasan yang begitu megah dengan karpet merah terbentang. Hidangan tersaji di meja panjang. Gelas dan piring tertata dengan begitu rapi. Lampu-lampu kristal tergantung di langit-langit ruangan. Kilauan cahaya yang terpancar dari butiran kristal Sungguh menambah kesan pesta yang mewah dan elegan.


Rea dan Aldo resmi mengucapkan janji suci pernikahan. Kata "Sah" terucap dari bibir para tamu yang menghadiri acara tersebut. Aldo memasankan cincin di jari manis Rea begitu juga sebaliknya. Aldo mencium kening Rea yang sudah berstatus sebagai Istrinya beberapa menit yang lalu. Para tamu bersiul saat pasangan yang baru menikah itu saling berciuman bibir.


"Selamat atas pernikahan kalian, mulai saat ini kau bebas dari janjimu." Ucap Nico memeluk Aldo dengan erat. Nico begitu bahagia melihat Aldo menikah dengan wanita yang dicintainya.


"Terimah kasih tuan."


"Hiduplah dengan bahagia, jaga istrimu dengan baik, aku sudah menyiapkan hadiah untukmu." Ucap Nico.


"Selamat yah Rea, akhirnya kau menjadi seorang istri, aku sangat bahagia, semoga kalian selalu hidup bahagia dan saling menerima kekurangan satu sama lain." Ana memeluk Rea.


"Terimah kasih, kau sahabat terbaikku Ana."


Kemeriaan pesta masih berlangsung. Para tamu memberi selamat kepada sepasang pengantin yang sejak tadi tak hentinya tersenyum bahagia.


"Akhirnya anak-anak kita bisa menikah setelah mereka melalui banyak pertistiwa, aku sangat bahagia, kita sudah menjadi satu keluarga." Ucap Rolad.


"Kau benar, aku benar-benar bahagia malam ini." Timpal Jonathan.


Seorang pria baru saja memasuki tempat pesta berlangsung. Ia datang terlambat ke acara malam itu. Wajahnya terlihat begitu tampan dengan setelan jaz berwarna putih yang pas ditubuhnya semakin menambah ketampannya. Seorang wanita menggandeng lengannya yang juga terlihat begitu anggun dengan gaun yang berwarna senada berjalan bersama memasuki aula pernikahan.


Dia adalah Aldwin bersama dengan dokter Zena. Hubungan Aldwin dan Zena terlihat semakin dekat. Walau Aldwin belum menyatakan perasaanya kepada dokter Zena karena Ia menunggu moment yang pas untuk menyatakan cintanya kepada dokter cantik itu.


Selama ini, Dokter Zena lah yang selalu menemaninya. Doker Zena yang merawat Aldwin saat ia terluka terkena tembakan di lengannya saat menolong Aldo dan Rea malam itu. Hubungan ke duanya menjadi semakin dekat. Dokter Zena juga tidak menutup lagi hatinya. Walau dulu Ia pernah terluka karena mencintai seorang pria yang hanya menganggapnya sebagai adik saja. Namun, saat Ini Ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk melupakan pria itu dan membuka hatinya untuk pria lain.


Tidak mungkin lagi mencintai pria yang baru saja menyandang status sebagai suami orang. Ia tidak ingin menjadi wanita yang merebut kebahagian wanita lain. Walau perasaan itu masih belum sepenuhnya hilang dari hatinya.


Kak Aldo, selamat untuk kebahagiaan kakak, aku turut bahagia melihat kakak menikah dengan wanita yang baik, wanita yang kakak cinta dan mencintai kakak. Batin Dokter Zena.


Aldo adalah pria yang selama ini dokter Zena cintai. Tapi sayang cintanya hanya bertepuk sebelah tangan karena Aldo hanya menganggapnya sebagai adik. Akhirnya Dokter Zena memilih mundur dan menjauh dari pria yang dicintainya walau rasanya begitu menyakitkan. Bagi dokter Zena, Aldo adalah pria yang menawan, dingin dan setia. Buktinya Ia tidak mudah dekat dengan seorang wanita. Karena itu, Ia menyukainya. Hingga Ia menyatakan cintanya kepada Aldo. Namun, Aldo tidak ingin menyakiti perasaannya dengan berpura-pura mencintainya. Akhrinya Zena memilih menjauh dari Aldo.


"Selamat kak Aldo dan kak Rea, semoga kakak selalu bahagia." Zena memeluk Rea.


"Selamat untuk pernikahan kalian." Aldwin mengucapkannya begitu tulus. Ia juga memeluk Aldo. Sungguh Ia bahagia saat ini, apalagi semua orang sudah memafkannya dan menerima kehadirannya terutama Rolad yang merupakan paman angkat Aldwin juga sudah memaafkannya.


"Terima kasih, aku juga mengucapkan terima kasih kau sudah menolongku malam itu." Aldwin memeluk erat Aldo dengan erat.


Ana dan Nico berjalan mendekati Aldwin dan dokter Zena.

__ADS_1


"Kalia datang bersama?" Tanya Ana.


"Iya kak, kak Aldwin mengajakku ke pesta bersamanya." Jawab Zena.


Ana dan Zena memilih pergi bersama untuk berkumpul bersama para orang tua dan meninggalkan Aldwin dan Nico di antara kemerian pesta itu.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Nico yang sudah bersama Aldwin duduk di salah satu meja menikmati beberapa hidangan yang tersaji.


"Aku baik, bagaimana denganmu?" Tanya balik Aldwin.


"Kau bisa melihatnya sendiri, aku sangat baik." Jawab Nico.


Mereka duduk berbincang bersama. Ke duanya menikamti segelas wine dan meneguknya hingga tandas. Aldwin terdiam dengan pikirannya yang menerawang kembali ke masa lalu. Ia tidak pernah menyangka akan duduk bersama Nico musuh dari masu lalunya.


FLASHBACK ON


Setelah peristiwa penyelamatan Aldo dan Rea malam itu, Hubungan Nico dan Aldwin semakin baik, Tidak ada lagi dendam di hati Nico maupun Aldwin. Mereka mencoba berdamai dengan masa lalu dan melupakan semua yang terjadi dulu.


Beberapa hari yang lalu, Aldwin, Nico dan juga Ana bertemu di salah satu restoran. Pertemuan itu adalah keinginan Aldwin. Dan tentu saja Nico tidak menolaknya.


"Anggap saja aku meminta hadiahku, aku hanya ingin bertemu dengan istrimu, aku tidak akan mengusiknyan lagi, kau bisa menemaninya bertemu denganku, aku akan menunggu kalian di restoran X, datanglah besok pagi." Ucap Aldwin menyatakan permintaannya kepada Nico.


"Baiklah, Sekarang aku tidak memiliki hutang apapun lagi, aku sudah memberimu hadiah, kau boleh bertemu dengan Ana, istriku." Jawab Nico menyetujui permintaan Aldwin walau itu terasa sangat sulit.


Tentu saja Nico tidak mudah mengizinkan Aldwin untuk bertemu dengan Istrinya karena Ia sangat mengetahui hubungan Aldwin dan Ana dulu. Aldwin adalah mantan kekasih istrinya dan hungungan mereka dulu begitu dekat dan hampir saja menikah.


Dan disinilah Aldwin, Nico dan Ana berada. Mereka duduk bertiga di salah satu meja yang ada restoran itu. Suasana terasa canggung dan mereka hanya terdiam. Ini pertama kalinya Ana bertemu lagi dengan Aldwin setelah sekian lama. Aldwin menatap Ana dengan tatapan bahagia.


Kau pantas bahagia Ana. Batin Aldwin.


Ia melihat wajah Ana yang terlihat menampakkan Aura kebahagian dan perutnya yang juga terlihat semakin membuncit.


"Katakan! apa yang ingin kau bicarakan dengan istriku?" Tanya Nico memecah keheningan yang ada. Aldwin tersadar dari lamunannya.


"Hemmmm, Aku ucapkan selamat untuk kalian, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua." Ucap Aldwin begitu tulus.


"Terimah kasih." Ucap Ana. Ia masih belum berani menatap wajah Aldwin.


"Ana, aku minta maaf dengan semua yang terjadi di masa lalu, aku juga ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menolongku dan menyelamatkan nyawaku, kau berhak untuk bahagia, sekali lagi aku benar-benar meminta maaf atas semua yang terjadi." Ucap Aldwin dengan tulus.


"Aku sudah memafkanmu Aldwin, Aku sudah melupakan semua yang terjadi di masa lalu, aku harap kau juga bisa bahagia, Aku dan suamiku juga meminta maaf atas apa yang terjadi dulu." Ana mengenggam tangan Nico. Ia menatap suaminya dengan penuh cinta. Dan Ia menatap Aldwin sekilas.


Sungguh hatinya sudah mengikhlaskan semua peristiwa yang menyakitkan di masa lalu. Tidak ada yang berhak disahkan. Ana juga tahu Aldwin adalah korban dari dendam. Ia tidak membenci Aldwin. Walau bagaimana pun Aldwin adalah pria yang pernah singgah di hatinya. Perasaan Ana untuk Aldwin sudah lama terkubur. Ia hanya menganggap Aldwin sebagai masa lalunya.


"Tidak ada yang perlu disesali semua sudah terjadi, aku juga ingin meminta maaf denganmu, kita sama-sama terluka dengan dendam masa lalu." Ucap Nico.

__ADS_1


"Terimah ini! anggap saja ini hadiah dariku untukmu, kau sudah membantuku, kita impas sekarang, Dan mulai saat ini hiduplah dengan baik." Nico meletakkan beberapa dokumen di atas meja dan menyodorkan dokumen itu di depan Aldwin.


Aldwin mengambil dokumen yang diberikan oleh Nico dan membukanya. Ia begitu terkejut dengan apa yang ada ditangannya. Dokumen itu merupakan dokumen perusahaan miliknya. Selama ini seluruh perusahaan Aldwin dikuasai oleh Nico.


"Kau berhak memilikinya, mulai saat ini hiduplah dengan bahagia, aku dan istriku akan mendoakan kebahagianmu." Ucap Nico dengan dengan tulus.


Walau sebelumnya Ia curiga dengan Aldwin adalah dalang dari penculikan Rea dan Aldo. Namun kecurigaannya tidak terbukti dan Aldwin yang membantunya menyelamatkan Aldo dan Rea. Ia bahkan rela mengorbankan nyawanya.


Ana tersenyum bahagia melihat suaminya yang memiliki hati yang begitu baik dan pemaaf.


"Terima kasih, kalian sudan begitu baik denganku."


"Sama-sama." Ucap Ana.


"Apa aku boleh mengajukan satu permintaan lagi? ini permintaan terakhirku setelah itu aku tidak akan meminta apa pun lagi." Tanya Aldwin.


"Katakan! apa permintaanmu?"


"Apa kau akan mengizinkanku mendekati adikmu?" Tanya Aldwin dengan tatapan begitu penasaran bagaimana reaksi Nico saat ia menyampaikan permintaan yang cukup mengejutkan.


"Hemmmmm, apa kau menyukainya? Tanya balik Nico.


"Jika aku bilang "Iya" apa kau akan merestuiku?" Ucap Aldwin dengan singkat dan padat.


"Aku tidak akan melarangmu mendekati adikku dengan satu syarat jangan berpikir untuk menyakitinya, jika itu terjadi aku sendiri yang akan memenggal kepalamu, kau paham." Ancam Nico dengan tatapan tajamnya.


"Hahahhaahha, kau benar-benar menyeramkan, aku tidak akan berani menyakiti adikmu itu tuan Alexander, aku sungguh sangat mencintainya." Aldwin mengambil gelas berisi air dan meminumnya hingga tandas. Mendengar ucapan Nico membuat tenggorokannya tercekat.


"Sayang, kenapa bicara seperti itu?" Tanya Ana. Ia mencubit gemas lengan suaminya yang selalu saja membuat seseorang takut dengan ucapannya yang menyeramkan.


"awwww.... sayang, kenapa mencubitku? Aku hanya ingin melindungi adikku, apa salahnya?" Jawab Nico dengan mengelus lengannya yang terasa perih.


Aldwin menatap jengah Nico dan Ana yang terlihat sangat romantis.


Aku benar-benar tidak ingin mempunya adik ipar sepertimu, menyebalkan sekali, mantan kekasih istriku akan jadi adik iparku. Batin Nico.


"Terserah kau saja, kau bisa mendekatinya, berusahalah lebih keras untuk merebut hatinya."Ucap Nico akhirnya memberi izin tanpa harus mengelurkan ancaman menyeramkan.


"Apa tidak ada lagi yang kau inginkan?" Tanya Nico


"Tentu saja tidak ada lagi, kau sudah memberikan semua yang aku inginkan tuan Alexander, terima kasih untuk semuanya." Aldwin dan Nico saling berpelukan dan mereka memutuskan untuk kembali pulang.


Aldwin akan kembali ke apartemennya yang dulu dan akan mengurus perusahannya. Ia sudah memutuskan untuk berhenti dari dunia kelamnya dan hanya akan fokus mengurus perusahaan dan Ia memiliki impian menikah dan membina kehidupan rumah tangga yang bahagia bersama istri dan anak-anaknya kelak.


FLASHBACK OFF

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2