
Flashback On
Malam peristiwa pembunuhan ayah Aldwin di Negara London..
Aldwin dan Rey asistennya mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh agar anak buah Nico tidak menangkapnya. Namun naas mobil yang Aldwin tumpangi ditembak oleh anak buah Nico dari arah belakang dan membuat mobil tersebut oleng dan masuk ke dalam jurang. Disaat yang bersamaan Aldwin berhasil melompat dan keluar dari mobil yang akan meluncur masuk ke dalam jurang. tapi sayang Rey asitennya tidak bisa ia selamatkan dan asistenya itu meninggal dalam peristiwa tersebut.
Beruntung Aldwin berhasil melompat dan berguling ia berpegang di tepi jurang agar tidak terjatuh. Ia menatap dasar jurang saat mobil yang berisi Rey asistennya meledak dan ia begitu terpukul saat tidak bisa menyelamatkan asistennya itu.
Anak buah Nico yang melihat kejadian itu mengira Aldwin sudah meninggal saat mereka melihat mobil Aldwin meledak di dasar jurang. Anak buah Nico akhirnya kembali dan melaporkan kepada bos mereka bahwa Aldwin sudah meninggal malam itu.
Aldwin yang masih berpegang di tepi jurang berusaha naik ke atas saat melihat anak buah Nico sudah pergi. Aldwin pingsan dan tubuhnya mengalami luka yang cukup parah dan darah mengalir di kepalanya yang terbentur bebatuan saat melompat.
Saat pagi hari tiba...
Aldwin belum juga sadarkan diri. Beruntung seorang pria yang sedang berjalan di tengah hutan melihatnya sedang terbaring pingsan di tepi jurang.
Pria asing yang kebetulan sedang berada di hutan sedang berjalan-jalan menikmati sunset di dekat tebing ia melihat sosok pria sedang terbaring pingsan dengan luka yang cukup parah.
Pria itu mendekat dan membantu Aldwin. Ia memutuskan untuk membawa Aldwin ke luar dari hutan dan membawanya ke rumah sakit. Kondisi Aldwin cukup parah dan ia harus dilarikan kerumah sakit secepatnya untuk menyelamatkan nyawanya.
Pria asing itu membantu Aldwin dengan memapah tubuhnya. Ia berhasil membawa Aldwin keluar dari hutan dan Pria itu segera membawa Aldwin masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan hutan menuju rumah sakit.
Setelah menempuh perjalan yang cukup lama. akhirnya mobil itu sampai di rumah sakit. Aldwin segera dilarikan ke ruangan ICU untuk segera dioperasi.
Pria asing itu bahkan membayar biaya rumah sakit Aldwin dan menunggu sampai dokter selesai melakukan operasi kepada Aldwin.
"Bagaimana keadaanya dokter." Tanya pria itu saat dokter keluar dari ruangan operasi.
"Saat ini pasien mengalami koma dan kedua kakinya mengalami patah tulang. Ia akan cacat dan bisa pulih dalam waktu cukup lama. Beruntung nyawanya masih bisa diselamatkan walau pasien dipastikan akan koma dan kami tidak tahu kapan pasien akan sadar kembali." Ucap dokter wanita yang menangani Aldwin.
"Apa dokter bisa menjaga pasien? saya bukan keluarga pasien dok, saya menemukanya sedang terluka di tepi jurang sepertinya ada yang ingin membunuhnya, Saya tidak bisa menjaga pasien saya harus segera pergi dok. Tidak ada identitas apa pun saat saya menemukannya. Saya tidak tahu harus menghubungi keluarganya." Ucap pria yang menolong Aldwin.
"Saya akan menyuruh suster untuk menjaga dan merawat pasien, anda tenang saja." Ucap dokter itu.
"Terima kasih dokter." Pria asing yang membawa Aldwin pun meninggalkan Aldwin di rumah sakit. Ia pikir keluarga Aldwin akan mencarinya.
Ia takut dan terlihat bingung. Ia tidak ingin berurusan dengan siapapun yang bisa membahayakan hidupunya. Ia lebih memilih pergi dan meninggalkan Aldwin setelah membawanya ke rumah sakit.
Di saat yang bersamaan Ana juga saat itu sedang koma akibat terkena luka tembak.
Beberapa minggu berlalu Aldwin belum juga sadar dari koma. Anak buah yang ditugaskan untuk mencari Aldwin belum menemukan keberadaannya.
Sementara itu, ibu Aldwin memutuskan untuk meninggalkan Negara London. Ia memutuskan untuk ke Jerman tinggal bersama putri angkatnya. Ia tidak kuat harus tinggal di Negara itu seorang diri. Ia tidak punya siapa pun lagi suaminya sudah meninggal dan putranya juga menghilang entah ke mana. Kondisi ibu Aldwin juga sakit-sakitan sejak Andrew suaminya meninggal dunia.
Sudah beberapa minggu ini Aldwin masih berada di rumah sakit dalam keadaan koma.
"Kasian sekali pria itu. dia sedang koma tapi tidak ada yang menjenguknya. Sudah beberapa hari ini tidak ada yang menemuinya, keluarganya tidak mencarinya." Ucap suster yang bertugas menjaga dan merawat Aldwin.
Saat ini para suster sedang berkumpul di kantin rumah sakit menikmati waktu istirahat dan makan siang sembari mengobrol bersama.
Rea yang kebetulan juga ikut makan siang di kantin itu cukup penasaran mendengar cerita dari para suster yang sedang berkumpul di salah satu meja di dekatnya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"Tanya Rea yang juga ikut duduk di meja para suster itu.
"Dokter Rea!!!! Kami hanya sedang bicara mengenai pasien pria yang beberapa hari ini berada di rumah sakit. Kasian sekali pasien itu lukanya cukup parah dan saat ini ia sedang koma. tapi beberapa hari ini tidak ada satupun keluarga yang menjenguknya. Hari itu pasien diantar oleh pria asing. Menurut cerita kalau pria yang mengantarnya menemukan pria itu sedang terbaring di tepi jurang. Kondisinya cukup parah sepertinya ada yang ingin membunuhnya." Terang salah satu suster tersebut.
__ADS_1
"Apa aku boleh melihat pasien itu?" Tanya Rea. Ia penasaran dan tiba-tiba mengingat sosok Aldwin.
"Dokter bisa ikut denganku, setelah makan siang aku akan keruangan pria itu untuk memeriksanya." Ucap suster yang merawat Aldwin.
"Baik suster."
Akhirnya waktu istirah usai. Rea dan suster itu menuju ruangan Aldwin.
Cekleeekkk...
Pintu ruangan Aldwin terbuka masuklah suster diikuti oleh dokter Rea.
Degggggg...
Jantung Rea berpacu kencang matanya bahkan membulat sempurna saat ia melihat wajah pria yang terbaring lemah di rancang rumah sakit. Wajah pria itu begitu ia kenal. Ia adalah Aldwin pria yang sudah menghilang dan bahkan dikira sudah meninggal.
Rea mendekat dan melihat wajah Adlwin dengan jelas.
"Apa yang sudah terjadi dengan pasien suster?" Tanya Rea.
"Pasien mengalami koma dan kedua kakinya lumpuh." Jawab suster.
Degggg...
Rea begitu terkejut mengetahui bahwa Aldwin mengalami kelumpuhan. Rea memegang tangan Aldwin dan menggenggamnya erat.
"Aku mengenal pasien ini suster, Dia adalah sahabatku, aku tidak menyangka ternyata ia masih hidup, Mulai saat ini aku yang akan mengurusnya. Suster boleh pergi." Ucap Rea.
"Apa yang terjadi Aldwin? Cepatlah sadar dan temui Ana. Saat ini ia juga sedang koma, kalian memang ditakdirkan bersama bahkan disaat salah satu diantara kalian terluka maka satunya lagi akan mengalami luka yang sama." Aku harap kau dan Ana bisa sadar dan bersama kembali." Ucap Rea memandang wajah pucat Aldwin.
Aldwin kembali sadar dari koma. Ia mencari Ana berharap Ana ada disampingnya sedang menjaganya. Saat ia membuka mata ia ingin melihat wajah wanita yang sangat dicintainya itu. Namun, ia tidak melihat Ana saat ia sadar.
"Ana." Ucap Aldwin lirih.
"Aldwin kau sudah sadar. Aku akan memanggil dokter." Ucap Ana.
"An-Ana, di mana Ana? Apa Ana baik-baik saja?" Tanya Aldwin.
"Tenanglah Aldwin, Ana baik-baik saja. Dia akan menemuimu." Bohong Rea agar Aldwin tenang dan tidak shock saat tahu Ana juga sedang koma.
Akhirnya dokter yang menangani Aldwin datang dan memeriksa kondisinya.
"Kenapa kakiku tidak bisa digerakkan dokter? Apa yang terjadi?" Tanya Aldwin.
"Dengan berat hati kami harus menyampaikan tentang kondisi Anda. Saat ini kedua kaki Anda sedang lumpuh akibat benturan yang anda alami membuat tulang kaki anda patah, Anda masih bisa sembuh seperti dulu dengan melakukan terapi dan perawatan yang tepat." Jawab dokter itu..
Bagai disambar petir di siang hari mendengar jawaban dari dokter itu. Jantung Aldwin terasa ingin copot. Darahnya berdesir dan ia terlihat begitu prustasi dan shock..
"Tiddddakkkkk dok, aku tidak mau cacat seumur hidup, aku mohon lakukan sesuatu untuk menyembuhkan kakiku, aku tidak mau cacat. Aku ingin berjalan seperti dulu." Lirih Aldwin.
Rea memeluk Aldwin berusa menenangkannya.
"Tenanglah Win." Ucap Rea mengusap lembut punggung Aldwin.
"Berjanjilah kau tidak akan mengatakan kepada Ana tentang kondisiku, jangan memberitahu siapa pun mengenai kondisiku, aku tidak ingin Ana menjauh saat melihatku yang sudah cacat seperti ini." Lirih Aldwin menggenggam tangan Rea.
__ADS_1
Rea mengangguk dan berjanji akan menuruti keinginan Aldwin.
Satu bulan kemudian Aldwin bisa keluar dari rumah sakit. Disaat yang bersamaan Ana juga sudah sadar dan kembali ke apartemennya.
Aldwin memutuskan untuk meninggalkan negara London. Ia ingin melakukan perawatan di rumah sakit milik keluarganya yang ada di Indonesia. Rea memutuskan untuk mengantar Aldwin ke Indonesia. Sebelum meninggalkan Negara London Aldwin ingin melihat Ana memastika bahwa Ana baik-baik saja.
Ia melihat Ana yang saat itu sedang menikmati udara malam di negara London. Melihat Ana dari kejauhan yang sedang duduk di salah satu restoran yang terletak di dekat sungai Thames. Tempat dulu Aldwin dan Ana makam malam romantis.
Saat melihat Ana baik-baik saja. Akhirnya Aldwin memutuskan untuk kembali ke Indonesia bersama Rea dan saat ini ia sedang berada di rumah sakit milik keluarganya.
"Berjanjilah Rea jangan pernah mengatakan semua ini kepada Ana, Biarkan Ana menganggapku sudah meninggal, aku ingin Ana bahagia, kami tidak akan pernah bertemu lagi, aku dan Ana mungkin tidak di takdirkan bersama, aku tidak ingin membuatnya menderita dengan hidup bersamaku laki-laki yang sudah cacat sepertiku."
"Berjanjilah Rea!!! kau tidak akan mengatakan keberadaanku kepada siapa pun termasuk kepada ibuku, aku tidak ingin membuatnya semakin menderita dengan kondisiku seperti ini, aku akan menemui ibu dan juga Ana di saat kondisiku sudah pulih kembali."
"Aku janji tidak akan mengatakannya Aldwin. Cepatlah sembuh agar kalian bisa berkumpul bersama lagi." Rea memeluk Aldwin sebelum Rea kembali ke London.
"Terima kasih Rea, kau sudah begitu banyak membantuku, maaf selama ini aku menyusahkanmu." Lirih Aldwin.
"Aku akan selaku ada dan membantumu Aldwin. Aku bahagia bisa membantumu, apa pun yang terjadi aku adalah sahabatmu dan juga Ana, aku tidak akan meninggalkan kalian, aku menyanyangimu dan juga Ana." Ucap Rea lembut.
Setelah berpamitan dengan Aldwin dan memastikan bahwa Aldwin mendapatkan perawatan terbaik. Akhirnya Rea memutuskan untuk kembali ke London setelah mengantarkan Aldwin kembali ke Indonesia.
Flashback Off
Dan saat ini Aldwin sedang menjalani perawatan untuk pemulihan ke dua kakinya. Ana setiap saat selalu menemani Aldwin. Walau Aldwin selalu mengusirnya dan tidak ingin melihat Ana berada di ruangannya. Namun Ana tidak akan menyerah begitu saja. Ia ingin membantu Aldwin melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya.
Seperti pagi ini Ana sengaja datang lebih awal. Ia sudah memasak makanan kesukaan Aldwin. Saat Ana masuk ke dalam ruangan. Ia melihat Aldwin sedang tertidur pulas. Ia mendekat dan duduk di samping ranjang Aldwin.
"Aku tidak akan menjauhimu Win, apa pun yang terjadi, aku akan selamanya mencintaimu dan membuatmu mengingatku dan kenangan indah kita." Ana menggenggan tangan Aldwin dan menciumnya. Ia mengusap rambut Aldwin lembut dan meninggalkan ciuman di kening Aldwin.
"Cepatlah sembuh Win, aku ingin melihatmu seperti dulu, selalu tersenyum dan berbicara lembut denganku, Maafkan aku, aku juga begitu mencintaimu Win, tapi kenapa kita tidak bisa bersama selalu saja ada rintangan dalam hubungan kita, aku ingin hidup bersamamu membangun keluarga kecil dan menua bersama seperti janjimu dulu Win, aku masih mengingatnya, aku harap kau benar-benar tidak melupakanku. Aku ingin hidup bahagia denganmu Win. Aku begitu lelah dengan semua yang sudah terjadi." Air mata Ana lolos begitu saja.
Ia menatap wajah tampan Aldwin yang sedang tertidur dengan begitu damai. Hati Ana begitu bahagia masih bisa menatap wajah tampan Aldwin. Laki-laki yang sangat dicintainya.
Aldwin tiba-tiba terbangun saat merasakan seseorang menggenggam tangannya dengan erat. Ia membuka pelan matanya dan melihat di sampingnya Ana yang juga sedang tertidur. Ia melihat Ana menautkan jarinya di jari Aldwin.
Aldwin mengusap lembut rambut Ana.
"Maafkan aku Ana." Lirih Aldwin.
"Apa aku egois jika tetap mengharapkanmu mencintaiku dan memintamu untuk menikah denganku dengan kondisiku yang sudah cacat? aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa sembuh atau tidak? Apa kau masih mau menerima kekuranganku, kau berhak untuk bahagia Ana." Batin Aldwin.
Ana tiba-tiba bangun saat merasakan Aldwin melepaskan genggaman tangannya.
"Aldwin kau sudah bangun, makanlah dulu, kau pasti laparkan, aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu." Ana membuka kotak makan yang ia bawah.
"Aku tidak lapar, apa dokter tidak punya pekerjaan lain? aku sudah mengatakan aku tidak mengenal anda dokter, jadi berhentilah bersikap baik padaku." Ucap Aldwin dengan dinginnya.
"Maaafkan Aku Win, aku hanya ingin membantumu dan beri aku kesempatan untuk membuatmu mengingatku lagi, aku tidak akan menyerah meski kau menyuruhku pergi." Ana menatap wajah Aldwin dengan tatapan sendu.
"Berhentilah berjuang Ana, jangan membuatku semakin merasa bersalah, menjauhlah dari hidupku, aku melakukan ini agar kau bisa bahagia." Batin Aldwin.
"Aku akan tetap berjuang untuk membuatmu mengingatku kembali, aku yakin kau masih mencintaiku Win, aku akan sabar menunggu saat kau bisa mengingatku kembali dan aku yakin kau bisa kembali pulih seperti dulu, aku tidak peduli kau cacat atau tidak, aku tetaplah mencintaimu." Batin Ana.
Bersambung....
__ADS_1
Like, Vote dan Komentar