
Ariana merasa kecewa dengan sikap Aldwin yang tidak jujur tentang perjodohannya dengan Rea sahabat dekat Ana. Namun, Ana tetap kuat dan tidak akan membenci Aldwin dan juga Rea. Ana sudah pasrah dengan takdir hidupnya. Ia percaya bahwa semua yang terjadi sudah menjadi rencana indah Tuhan untuknya. Ia menjalani hidup ini bagai air yang mengalir hingga takdir akan menuntunnya menuju kebahagiaan hidup yang selama ini ia inginkan.
Ariana memutuskan untuk tetap fokus bekerja di rumah sakit merawat pasiennya. Ia tidak ingin larut dalam kesedihan.
Saat ini Ana sudah berada di rumah sakit. Ia terlihat sibuk memeriksa beberapa pasien penderita sakit jantung.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan kepada pasiennya.
Cekklekk....
Pintu ruangan Ariana terbuka.
Tiba-tiba seorang suster masuk dan menghampiri Ana.
“Permisi Dokter Velin, sebaiknya dokter segera ke ruangan kepala rumah sakit, pak Bryan ingin bertemu dengan dokter.” Ucap suster tersebut.
“Baik suster.” Ariana dan suster tersebut ke luar dari ruangan. Ariana segera menuju ruangan kepala rumah sakit.
Saat ini ia sedang berdiri di depan ruangan Bryan kepala rumah sakit tempatnya bekerja.
Deggggg...
Jantung Ariana berdetak kencang. Ia ingat saat ia dulu bekerja di rumah sakit dan tiba-tiba ia di panggil ke ruangan kepala rumah sakit dan dipecat begitu saja.
Ariana takut ia akan di pecat untuk kedua kalinya. Sepeti yang terjadi dulu. Namun, ia mencoba untuk tetap tenang dan percaya bahwa apa pun yang terjadi semua sudah menjadi takdir hidupnya.
Cekkleeekk (pintu ruangan Bryan terbuka)
“Permisi Dok.” Ucap Ana dengan ramah.
“Silakan duduk dokter Velin.” Bryan tersenyum manis kepada Ana.
“Ada apa dokter memanggilku.” Tanya Ariana.
“Dokter Velin ada yang ingin saya bicarakan dengan dokter. Hari ini kami mendapat pasien khusus penderita jantung yang hanya ingin dokter yang menanganinya. Dia sudah tahu kemampuan dokter Velin karena itu dia ingin dokter merawatnya secara khusus. Pasien ini tidak ingin dirawat di rumah sakit karena dia tidak suka dengan bau obat-obatan di rumah sakit. Pasien tersebut hanya ingin dirawat di Mansionya. Dia sudah membayar mahal untuk dokter pribadinya. Dan dia hanya menginginkan dokter Velin untuk merawatnya. Apa dokter Velin bersedia menjadi dokter pribadi Tuan Zidan.” Terang Bryan panjang lebar.
Pasien khusus yang sudah membayar mahal untuk menyewa dokter pribadi tersebut bernama Tuan Zidan.
Ariana terlihat berpikir sejenak untuk menerima tawaran pekerjaan tambahan yang dikatakan oleh Bryan.
“Maaf dok, Lalu bagaimana dengan pekerjaan saya di rumah sakit ini?” Tanya Ariana dengan ragu.
Di satu sisi ia masih ingin bekerja di rumah sakit tersebut dan di sisi lain ia juga ingin menerima tawaran menjadi dokter pribadi yang akan mendapatkan tambahan uang lebih banyak.
Ariana memang saat ini butuh uang lebih banyak. Ia tidak ingin bergantung dengan fasilitas yang diberikan Aldwin. Ia ingin menyewa apartemen sendiri dari uang yang ia hasilkan.
“Dokter Velin anda tidak perlu khawatir. Dokter masih bisa bekerja di rumah sakit ini. Dokter bisa memeriksa tuan Zidan setelah dokter selasai bekerja di rumah sakit ini. Dokter bisa datang ke mansion tuan Zidan untuk memeriksa keadaanya malam hari, kalau dokter bersedia datanglah besok malam ke mansion Tuan Zidan untuk memeriksa kondisinya.”
“Baik lah dok, saya bersedia.” Ucap Ariana. Ia memutuskan tidak ada salahnya menjadi dokter pribadi. Ia akan menerima tawaran tersebut.
“Ini adalah data pasien dan juga alamat Mansionya. Dokter mulai bekerja sebagai dokter pribadi tuan Zidan besok malam. Saya yakin dokter pasti bisa. Tetap semangat dokter Velin.” Ucap Bryan dengan senyuman manisnya. Bryan memberikan beberapa dokumen yang berisi data diri dari pasien tersebut.
“Saya sudah mengirim sejumlah uang ke rekening dokter sebagai bonus untuk dokter Velin.” Ucap Bryan lagi
“Terima kasih Dokter, kalau begitu saya permisi.” Ariana segera ke luar dari ruangan Bryan.
Setelah memutuskan untuk menerima pekerjaan tambahan itu. Ariana kembali ke ruangannya dan bersiap untuk kembali karena waktunya bekerja sudah selesai. Dokter juga butuh istirahat kan.
Ariana sudah berada di Loby rumah sakit. Tiba-tiba ia melihat seorang pria yang tidak asing baginya sedang duduk di kursi tunggu. Ia terlihat lebih segar dan tampan dari sebelumnya. Yah siapa lagi kalau bukan Aldwin.
Aldwin tersenyum manis saat melihat Ariana berjalan ke arahnya.
“Aku akan mengantarmu pulang.” Aldwin menggandeng tangan Ana dan membawanya masuk ke dalam mobil mewah miliknya.
“Ana maafkan aku.” Ucap Aldwin lembut.
Ariana hanya diam saja dengan mata yang memandang keluar jendela mobil.
“Apa kau lapar?” Tanya Aldwin lagi.
“Hmmmm.”
Akhirnya mobil Aldwin berhenti di Restoran X. Alwin segera masuk dan memesan beberapa makanan lezat di restoran tersebut.
“Ana aku ingin menjelaskan semuanya, aku dan Rea tidak ada hubungan apa pun, malam itu aku mabuk di club malam dan Rea ternyata mengikutiku dan dia yang membawaku ke apartemen miliknya. Aku tidak melakukan apa pun dengan Rea malam itu. Percayalah Ana, aku masih mencintaimu dan tidak akan menghianatimu.” Aldwin menggenggam tangan Ana. Ia ingin agar Ana tidak salah paham terhadapnya.
“Aku tahu semuanya Aldwin, aku hanya ingin kau jujur tentang perjodohan kalian, kenapa kau tidak mengatakannya Win, apa karena aku kau menolak perjodohan yang sudah direncanakan oleh Ayahmu.” Ariana terlihat berani dan tetap tenang walau ia sendiri sangat kecewa dan terluka.
__ADS_1
Degggg.....
Jantung Aldwin berdetak kencang.
“Kau tahu semuanya Ana, katakan siapa yang sudah memberitahumu, apa Ayah yang mengatakannya?” Tanya Aldwin.
“Aku tahu dari siapa itu tidak penting Win, aku hanya ingin kau bahagia dengan Rea. Dia lebih baik dari aku, kita tidak akan pernah bisa bersama, aku tidak ingin orang tuamu membencimu hanya karena aku, hubungan kita hanya sampai di sini, aku ingin kau hidup bahagia dan itu bukan denganku, maafkan aku Aldwin.” Kristal bening jatuh di pelupuk mata Ana.
Ia berusaha untuk tegar walau hatinya juga sangat hancur. Ia juga masih mencintai Aldwin. Tapi Ana sadar dan cukup tahu diri kalau keluarga Aldwin sangat membencinya. Mencintai bukan berarti harus memiliki. Ia hanya ingin melihat Aldwin hidup bahagia.
Ana percaya bahwa semua ini sudah menjadi takdir hidupnya. Dengan memutuskan hubungannya dengan Aldwin adalah jalan terbaik untuk mereka berdua.
Deggg...
Jantung Aldwin bagai berhenti berdetak mendengar permintaan Ana. Darah Adwin berdesir.
Uhukkkkk..... uhukkkkk.....
Aldwin terbatuk saat mendengar perkataan Ana.
Aldwin yang tengah menikmati makanan lezat tiba-tiba rasa makan tersebut terasa hambar.
“Ana aku minta maaf sayang, Aku tidak ingin menyakitimu Ana karena itu aku dan Rea memutuskan untuk merahasiakan masalah ini darimu, percayalah Ana aku dan Rea sangat menyayangimu. Aku mohon jangan memutuskan hubungan kita, aku sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu, beri aku kesempatan sekali lagi, aku akan membuatmu bahagia.” Ucap Aldwin dengan penuh harap.
Ia tidak ingin kehilangan Ana untuk ke dua kalinya. Ia sangat mencintai Ana dan akan melakukan apa pun untuk bisa memilikinya.
“Katakan apa ayahku yang memberitahu tentang ini.” Tanya Aldwin.
Ana hanya diam saja. Ia tidak mengatakan iya atau pun tidak. Ana hanya mengangguk saja. Dan Aldwin sudah tahu bahwa ayahnya tidak akan pernah merestui hubungannya dengan Ana.
“Siaaallllll, apa ayah tahu tentang identitas aslimu?” Tanya Aldwin lagi.
Ariana hanya mengangguk dengan wajah yang sedih.
“Aldwin aku sudah lelah dengan hubungan ini, aku hanya ingin bahagia dan melihatmu bahagia. Dan kebahagiaan itu adalah dengan berpisah, maafkan aku Aldwin, jadilah anak yang berbakti, ayahmu sangat menyayangimu, aku ingin kau memenuhi permintaan ayahmu. Aku bukan wanita yang pantas menjadi istrimu, mulai saat ini jangan pernah menemuiku lagi.” Ariana pergi begitu saja meninggalkan Aldwin yang masih duduk mematung.
Ana berlari dengan Air mata yang tak hentinya mengalir di pipinya. Rasa sakit, kecewa dan hancur yang Ana rasakan. Dadanya terasa begitu sesak. Ia sulit untuk bernafas. Waktu terasa berhenti berputar. Ia berjalan dengan lemah. Ke dua kakinya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Ia duduk di tepi jalanan kota London dengan air mata yang terus saja mengalir. Ana memutuskan untuk kembali ke apartemenya.
“Ana tunggu.” Aldwin mengejar Ariana. Namun, ia terlambat. Ana sudah naik taksi menuju apartemen miliknya.
Dengan cepat Aldwin segera masuk ke dalam mobil miliknya dan bersiap untuk mengajar taksi yang ditumpangi Ana.
Ponsel Aldwin berdering.
“Tu-tuan mansion tuan besar di serang dan mereka membawa tuan besar dan nyonya. Sebaiknya tuan segera kembali ke mansion.” Ucap suara di seberang sana yang terdengar gugup.
“Siaaaalllllll.” Tangan Aldwin mengepal dan ia mematikan sambungan telepon itu begitu saja.
Ia melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan penuh memecah jalan kota London.
“Sheeettttt...”
Tangan Aldwin memukul-mukul stir mobilnya.
Masalahnya sungguh berat. Malam ini Ana meminta putus, Mansionya di serang dan orang tuanya juga diculik. Benar-benar masalah yang berat untuk Aldwin.
Sementara itu, Ana masih berada di dalam taksi ia ingin kembali ke apartemen miliknya.
“Tuhan kenapa aku tidak bisa bahagia, aku juga ingin bahagia seperti yang lain? Ayah ibu aku merindukan kalian, kenapa ini begitu berat, aku lelah ayah ibu.” Batin Ana.
Air matanya luruh begitu saja. Ia pikir setelah lepas dari Nico laki-laki kejam itu. Ia akan bahagia dengan Aldwin pria yang dicintai oleh Ana. Namun, tidak ada yang tahu rencana Tuhan. Kenyataannya Ana tidak bisa bersama dengan Aldwin sampai kapan pun. Orang tua Aldwin begitu membenci Ana dan sudah menjodohkan Aldwin dengan wanita lain yaitu sahabat Ana sendiri
Setelah sampai Ana segera turun dan masuk ke dalam apartemennya. Namun, saat sampai di loby apartemen. Terlihat Rea sedang duduk menunggunya. Ia datang untuk menemui Ana tapi Ana sedang keluar jadi Rea memutuskan untuk menunggu di loby apartemen Ana.
“Rea kau di sini.” Ucap Ana yang menghampiri Rea.
“Ana, ada yang ingin aku katakan, apa kau punya waktu?.”
“sebaiknya kita bicara di dalam apartemen saja.” Ajak Ana.
“Tidak kita bicara di restoran dekat apartemen ini.”
“Baiklah.”
Rea dan Ana memutuskan untuk bicara di restoran tersebut. Dan sampailah mereka di restoran letaknya tidak jauh dari apartemen Ana.
Rea memesan minuman kesukaan keduanya yaitu coklat panas. Minuman yang cocok untuk udara malam hari yang dingin di kota London.
__ADS_1
“Ana maaf mengenai kejadian pagi tadi, aku tahu kau salah paham denganku dan juga Aldwin, aku dan Aldwin tidak melakukan apa pun Ana, aku hanya membantu Aldwin dan membawanya ke apartemenku, maaf aku seharusnya menelefonmu dan memberitahumu tentang Aldwin yang mabuk malam itu.” Ucap Rea dengan raut wajah menyesal. Ia tidak ingin persahabatannya rusak hanya karena kesalahpahaman.
“Aku sudah memaafkanmu Rea, aku percaya kau sahabat yang baik, aku hanya ingin kau jujur tentang perjodohanmu dengan Aldwin.” Ana berbicara lembut dengan menggenggam tangan Rea. Ia tidak akan bisa membenci sahabatnya yang sudah begitu baik dan sangat menyayanginya.
Degggg...
Jantung Rea berdetak kencang.
“Ana kau tahu tentang masalah perjodohanku dengan Aldwin. Maaf Ana aku merahasiakan ini darimu, aku hanya ingin kau tidak terluka”
“Apa kau mencintai Aldwin dan mau menerima perjodohan ini, aku hanya ingin Aldwin bahagia dengan wanita yang lebih baik dariku. Rea aku tahu kau juga mencintai Aldwin.”
“Tapi Ana, kau tahu aku dan Aldwin hanya berteman, Aldwin tidak akan pernah mencintaiku karena dia hanya mencintaimu.”
“Siapa yang mengatakan tentang masalah ini Ana?” Tanya Rea.
“Aku tahu semua ini dari pak Andrew ayah Aldwin. Dia begitu membenciku dan ingin agar aku menjauh dari Aldwin. Aku sudah lelah dengan semua ini Rea, aku juga ingin bahagia dan melihat orang yang aku cintai bahagia meski tidak bersama denganku, hiksssss...... hiksssss..” Ana menangis dalam pelukan Rea sahabatnya.
Rea memeluk Ana dan mengusap punggung sahabatnya dengan lembut.
“Ana aku juga begitu mencintai Aldwin tapi aku tahu Aldwin hanya mencintaimu, aku hanya ingin kalian bahagia dan hidup bersama.” Batin Rea.
###
Di sebuah markas besar yang berada di pusat kota London. Terlihat dua orang berusia paruh baya turun dari mobil Van berwarna hitam dengan kondisi tangan terikat dan menggunakan penutup wajah. Ia dipaksa masuk ke dalam markas tersebut.
“Tuan kami sudah membawa orang yang tuan cari.” Ucap pengawal tersebut.
“Bawa dia ke ruangan bawah tanah, pastikan dia tetap hidup sampai hari pembalasanku tiba.” Ucap laki-laki dengan tubuh kekar yang memegang samurai di tangan kananya. Ia baru saja olahraga malam dengan samurai kesayangannya itu.
Yah orang itu adalah Nico Alexander.
“ Baik tuan.” Anak buah Nico membawa dua orang tersebut masuk ke dalam ruangan bawah tanah yang gelap.
“Sebentar lagi dendamku akan terbalaskan, aku akan membuat permainan untukmu Aldwin dan Ariana. Aku akan memberimu kejutan manis yang tidak akan pernah kalian lupakan.” Gumam Nico dengan seringai tipis di bibirnya.
“Pastikan besok malam rencana kita akan berhasil. Dan dendamku akan segera terbalaskan.”
“Baik Tuan, semua sudah sesuai dengan rencana kita tuan, tinggal menunggu mangsa kita masuk ke dalam perangkapTuan.” Ucap Aldo asisten Nico.
Apa yang akan terjadi dengan Aldwin dan Ariana yah..????
Penasaran
Tetap baca novel aku yah kakak.
Maafin Author yang jarang Up soalnya lagi sibuk banget..
Author mohon dukungannya dong.
Biar semangat.
LIKE, VOTE DAN KOMENTARNYA.
Terima Kasih buat para Readers yang masih setia baca novelku.
🙏🙏😊
__ADS_1