Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 48 : Pergi Bersama Part 01


__ADS_3

Menikah merupakan kebahagiaan bagi setiap wanita. Tapi tidak bagi Ana ia tidak begitu antusias dan tidak mempersiapkan apa pun di pernikahannya kali ini selain mempersiapkan fisik dan mentalnya. Ana masih memiliki trauma dengan peernikahan ia takut pernikahannya akan gagal seperti dulu. Baginya pernikahan ini tidaklah penting selain karena ingin memenuhi permintaan ayahnya.


Ana masih terlihat begitu sibuk bekerja dan melakukan operasi untuk pasiennya. Ia masih bekerja di rumah sakit dan hanya akan meminta cuti satu hari. Ana tidak ingin mengatakan mengenai pernikahannya dengan Nico kepada siapa pun.


Sama halnya dengan Nico ia masih sibuk di perusahaannya. Seperti saat ini Nico tengah melakukan meeting dengan para kliennya membahas masalah perusahaannya yang ada di negara Jepang. Nico berharap setelah pernikahannya nanti Ia akan meresmikan perusahaannya yang ada di sana sembari mengajak Ana untuk berbulan madu di negara tersebut.


Malam hari tiba, Nico memutuskan untuk menjemput Ana sesuai dengan janjinya kepada Ana untuk menjemputnya dan bertemu dengan bu Ella untuk membahas mengenai pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.


Mobil Nico sudah sampai di rumah sakit tempat Ana bekerja. Nico sudah menunggu Ana di Loby rumah sakit. Akhirnya wanita yang ia tunggu sudah terlihat batang hidungnya. Ana terlihat berjalan bersama seorang dokter muda yang tampan, Ketampanannya masih jauh dari Nico. Ana begitu dekat dengan dokter itu. Ia bahkan tertawa lepas bersama dokter muda itu.


“Siapa laki-laki yang berani mendekati calon istriku? Aku benar-benar tidak suka melihatnya dekat dengan Ana.”


“Dia adalah dokter yang bekerja bersama nona Ana tuan, mereka tidak memiliki hubungan apapun selain sebagai rekan kerja, Saya sudah memastikan semuanya dan menyelidiki nona Ana selama ini." Jawab Aldo.


Terlihat raut wajah tidak suka dari Nico saat ada laki-laki lain yang dekat dengan Ana.


“Ka- Kau... apa yang kau lakukan di sini tuan Nico?” Tanya Ana dengan sedikit gugup. Tawa bahagianya sejak tadi sirna seketika di wajah cantiknya saat melihat pria yang ada di depannya saat ini.


“Tentu saja aku akan menjemput calon istriku, apa kau lupa kalau aku mengatakannya tadi pagi akan menjemputmu malam ini sayang.” Ucap Nico dengan tangannya sudah merangkul bahu Ana.


“Dokter Ana sebaiknya saya permisi.” Dokter muda yang bersama Ana terlihat takut saat Nico menatapnya dengan tatapan tajam.


Siapa yang tidak mengenal Nico Alexander pria yang kejam dan sangat ditakuti oleh siapa pun. Nico yang terkenal dengan kekuasaannya. Siapa yang berani mengganggu dan mengusiknya maka hidupnya akan berakhir di neraka yang diciptakan oleh Nico yang penuh dengan kesengsaraan.


“Aku tidak suka kau memanggilku seperti itu terutama di depan orang, aku tidak ingin orang lain tahu mengenai hubungan kita terutama di depan temanku.” Ucap Ana.


“Baiklah Ana, aku tidak akan melakukannya lagi, aku akan mengantarmu pulang dan bertemu ibu.”


Ana hanya bisa pasrah dan mengikuti Nico. Ana berjalan bersama Nico menuju mobil yang ada di parkirkan rumah sakit tersebut. Aldo membuka pintu untuk tuannya dan juga Ana.


“Silakan masuk nona Ana.” Ucap Aldo.


Ana masuk ke dalam mobil Nico dan mobil tersebut melaju meninggalkan rumah sakit tempat Ana bekerja.


“Apa kau sudah makam malam Ana?” Tanya Nico di tengah suasana yang begitu hening. Karena sejak tadi keduanya tidak bicara sama sekali. Ana hanya fokus menatap keluar jendela mobil melihat kerlap kerlip cahaya lampu yang begitu indah di malam hari.


“Aku tidak lapar dan tidak punya selera makan.” jawab Ana dengan ketus.


“Selera makanku jadi hilang saat melihat wajahmu.” Batin Ana.


“Aku tidak akan membiarkan calon istriku kelaparan, kau bisa sakit jika tidak makan malam ini, apa kau ingin makan sesuatu Ana, Kita bisa makan malam dulu sebelum pulang, sepertinya aku juga lapar.” Ucap Nico.


“Bisa tidak jangan memanggilku seperti itu.”


“Tadi kau mengatakannya kalau aku tidak boleh memanggilmu dengan panggilan seperti itu di depan orang atau teman-temanmu, itu artinya aku bisa memanggilmu dengan panggilan ‘calon istriku’ atau ‘sayang’ jika tidak ada orang lain bukan.” Nico terlihat tersenyum saat Ana terlihat kesal dengan ucapannya.


“Terserah denganmu saja tuan Nico.”

__ADS_1


“Berdebat dengan laki-laki ini hanya akan membuatku semakin kesal.” Gumam Ana. Yang masih sempat di dengarkan oleh Nico.


“Kau semakin cantik Ana saat terlihat kesal, aku benar-benar ingin memeluknya dan mencium bibir mungilnya yang begitu menggoda.” Batin Nico.


Perjalanan untuk sampai di tujuan mereka terasa begitu lama bagi Ana. Aldo yang sejak tadi fokus menyetir mobil sesekali melirik melihat Ana dan tuannya. Aldo tersenyum saat melihat wajah kesal Ana dan wajah bahagia dari tuannya melalui kaca dhasboard mobil.


“Apa mereka akan bahagia setelah menikah nanti? Melihat mereka berdebat seperti ini rasanya mereka akan sulit untuk akur. Tuan Nico yang terkenal dengan harga diri yang begitu tinggi dan tidak mau menyatakan perasaannya kepada Nona Ana dan juga nona Ana yang terlihat begitu kesal saat melihat wajah tuan. Aku tidak bisa membayangkan pernikahan mereka akan seperti apa nantinya.” Batin Aldo menerawang jauh ke depan membayangkan pernikahan tuannya.


Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, mobil Nico berhenti di sebuah restoran elit di kota itu.


"Selamat datang tuan Nico, Silakan ikut dengan kami di ruangan yang disediakan khusus untuk Anda." Pelayan menunduk hormat dan mengantar Nico ke ruangan khusus bagi pemilik restoran elit itu.


Restoran tempat mereka akan makam malam adalah restoran milik keluarga Alexander.


"Kau mau makan apa Ana? kau bisa makan apa pun yang kau sukai? Tanya Nico.


"Baiklah tuan Nico aku akan membuatmu kesal malam ini, kau sudah membutku kesal sejak tadi dan saatnya balas dendam." Batin Ana.


"Aku ingin memesan setiap menu yang ada di daftar buku menu ini dan tambahkan porsinya untuk setiap menu dua porsi, dan aku juga ingin memesan setiap minuman yang ada didaftar menu ini dan jangan lupa dua porsi untuk setiap pesananku."


"Baik nona." Ucap pelayan wanita yang sudah berdiri sejak tadi menunggu pesanan dari Nico dan juga Ana.


Gleeekkkk.


Nico hanya menelan ludahnya mendengar Ana memesan makanan yang diluar orang normal pada umumnya.


"Tentu saja aku tidak keberatan sayang, kau bisa menghabiskan semuanya, sepertinya kau sangat lapar yah." Nico menatap tajam Ana dengan seringai licik di bibirnya.


"Apa kau ingin balas dendam denganku sayang? mari kita lihat apa kau bisa melakukannya." Batin Nico.


Hening...


Suasana menjadi hening saat keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Akhirnya makanan yang di pesan oleh Ana datang.


Gleeeekkk..


Ana hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah melihat makanan yang memenuhi meja dengan begitu banyak. Perutnya yang tadi lapar seketika menjadi kenyang.


"Makanlah Ana kau pasti sangat lapar, Kau bisa menghabiskannya, aku hanya akan makan ini saja." Nico mengambil piring yang berisi stek daging sapi.


"Apa kau ingin membuatku gendut di hari pernikahan kita dengan menyuruhku menghabiskan makan yang begitu banyak ini tuan Nico?" Wajah Ana sudah merah padam menatap Nico yang hanya tersenyum menatapnya.


"Bukankah tadi kau sangat lapar sayang sehingga memesan makan yang begitu banyak." Ucap Nico.


"Kau akan menghabiskannya semuanya, kau juga bisa menyuruh asistenmu itu untuk makan, sepertinya dia juga sangat lapar." Aldo yang sejak tadi berdiri di dekat tuannya hanya bisa pasrah dan terkena imbasnya.

__ADS_1


Makam malam berakhir dengan Aldo yang harus bersusah payah memakan makanan yang Ana pesan. Walau Nico tidak mempermasahkan mengenai total yang harus ia bayar apalagi restoran itu miliknya dan ia tidak harus mengeluarkan uang sedikit pun untuk membanyar makanan mereka malam ini.


Dan di sinilah mereka berada di sebuah panti asuhan dengan beberapa bungkus makanan yang mereka bawah dan juga beberapa mainan dan pakaian untuk anak-anak panti asuhan.


Aldo sudah menyuruh pelayan untuk membungkus makanan yang Ana pesan. Bisa-bisa perut mereka meledak jika harus menghabiskan semua yang Ana pesan.


Ana terlihat begitu bahagia berbaur dengan anak-anak yang terlihat menggemaskan. Bermain bersama anak-anak di panti asuhan benar-benar bisa membuat mood Ana menjadi lebih baik.


Nico sejak tadi melirik Ana sekilas melihat wajah bahagia dan senyuman yang tak pernah surut di wajah cantik Ana membuat hati Nico bahagia bagai bunga yang bermekaran.


"Aku mencintaimu Ana, kau akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak, Terima kasih ayah ibu sudah menjodohkanku dengan wanita sebaik Ana." Batin Nico.


"Terima kasih tuan sudah berbagi dengan Anak-anak di panti ini, mereka begitu bahagia dengan kehadiran Tuan." Ucap ibu pengurus panti Asuhan itu membuyarkan lamunan Nico.


"Sama-Sama bu aku dan calon istriku akan sering kesini melihat anak-anak di panti ini." Ucap Nico lembut.


"Semoga pernikahan kalian lancar dan selalu berbahagia." Ucap ibu panti dengan tulus.


"Terima kasih bu."


Setelah berbagi dengan anak-anak di panti asuhan itu Nico dan Ana memutuskan untuk pulang. Nico mengantar Ana untuk bertemu dengan calon ibu mertuanya. Akhirnya mobil mereka sampai dirumah Ana. Nico dan Ana masuk dan menemui bu Ella.


"Kalian sudah yakin dengan keputusan kalian untuk menikah?" Tanya bu Ella yang sudah duduk di depan keduanya.


"Kami sudah memutusknnya bu, Tiga hari lagi kami akan menikah, aku mohon ibu merestui pernikahan kami." Ucap Nico.


"Aku sudah setuju dengan pernikahan ini bu. pernikahan kami hanya akan diadakan dengan sederhana dan tertutup, aku harap ibu setuju dengan keputusanku." Ana ikut berbicara.


"Ibu selalu mendukung keputusanmu apa pun itu Nak."


"Tolong jaga putri ibu dan jangan sakiti dia apa pun yang terjadi." Permintaan bu Ella kepada Nico yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.


"Aku berjanji akan selalu menjaga dan melindungi Ana bu, aku tidak akan menyakitinya." Ucap Nico.


Janji yang Nico ucapkan untuk menjaga Ana di depan bu Ella akan selamanya Ana ingat. Janji untuk menjaga dan melindungi Ana dan tidak akan menyakitinya lagi.


"Aku akan selalu mengingat janjimu tuan Nico." Batin Ana.


Berrsambunggg.....


Maaf kalau di dalam novel ini masih banyak Typonya, Komentar dan saran kalian sangat author butuhkan untuk menjadikan novel author lebih baik lagi selama komentar kalian positif.


Terima kasih author ucapin buat yang masih setia di novelku ini. Semoga kalian selalu sehat.


Mari saling menghargai.


🙏🙏😊😊

__ADS_1


__ADS_2