Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 07: Duka yang Mendalam part 2


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang cukup mewah di rumah sakit, seorang laki-laki paruh baya masih memajamkan mata dengan bantuan alat medis, wajahnya terlihat pucat pasih tak ada tanda kehidupan. Ia adalah pak Bagaskara ayah Ariana. Setiap hari bu Ella dan putrinya selalu duduk di samping ranjang rumah sakit tempat Pak Bagaskara di rawat. Bu Ella berharap agar suaminya suatu saat akan membuka matanya dan kembali berkumpul bersama mereka. Ariana juga selalu setia menemani dan merawat ayahnya. Ia berharap agar ayahnya segera sadar. Seorang dokter masuk ke ruangan pak Bagaskara untuk memeriksa kondisi pasien. Dokter itu mulai memeriksa ayah Ariana.


“Bagaimana keadaan ayah saya dokter.” Tanya Ariana kepada dokter wanita paruh baya itu.


“Begini bu, pasien harus segera di operasi, kondisi paru-parunya semakin memburuk, jika dibiarkan akan membahayakan nyawanya.” Jawab dokter itu.


“Lakukan yang terbaik untuk ayah saya dokter.”


“Baiklah bu, hari ini kami akan melakukan operasi kepada pasien, sebaiknya keluarga pasien segera melunasi biaya administrasi rumah sakit.”


“Baiklah lah dokter, saya akan melunasi biaya administrasi.”


“Bu, aku akan keruangan administrasi untuk menyelesaikan masalah administrasi rumah sakit.” Ucap Ariana kepada ibunya.


“Baiklah nak.” Jawab bu Ella.


Ariana keluar dari ruangan rumah sakit tempat ayahnya dirawat dan segera ke ruangan administrasi rumah sakit.


“Permisi Suster, saya Ariana putri pak Bagaskara yang di rawat di ruangan vip rumah sakit no 12, saya ingin menyelesaikan administrasi rumah sakit dan juga biaya operasi ayah saya. Totalnya berapa yah suster.” Ariana bertanya kepada suster yang bertugas mengurus biaya administrasi rumah sakit.


“Totalnya sekitar 100 juta bu dengan biaya operasinya.” Jawab suster itu.


Deggg… deggg… jantung Ariana berpacu dengan cepat.


“Suster saya akan kembali sebentar lagi.”


Ariana segera beralalu dari ruangan tersebut. Ia ingin bertemu dengan ibunya untuk membahas masalah biaya rumah sakit. Ariana segera masuk ke ruangan ayahnya untuk membicarakan mengenai biaya rumah sakit kepada ibunya. Bu Ella yang melihat putrinya datang segera bertanya.


“Bagaimana nak, apa biaya operasi ayahmu sudah dibayar?” tanya Bu Ella kepada putrinya.


“Ada yang ingin Ariana bicarakan.”


“Ada apa nak.”


“Maafkan Ariana bu, Ariana tidak bisa membayar biaya rumah sakit ayah yang jumlahnya 100 juta, Ariana tidak punya uang sebanyak itu bu, apa yang harus kita lakukan bu, hikss.. hikss…” tangis Ariana.


“Sebaiknya kita gadaikan sertifikat rumah untuk membayar biaya rumah sakit ayahmu, apa kamu setuju Nak?” tanya Bu Ella kepada putrinya.


“Ariana setuju bu, yang terpenting adalah kesehatan ayah.” Jawab Ariana.

__ADS_1


Ariana segera keluar dari rumah sakit dan memesan taksi online untuk kembali ke rumah. Beberapa menit kemudian, Ariana tiba di rumah dan langsung mengambil sertifikat rumah menuju tempat penggadaian dan mengambil beberapa uang di tabungannya untuk menutupi kekurangan uang operasi ayahnya. Setelah uang yang dibutuhkan terkumpul, Ariana segera kerumah sakit untuk melunasi biaya rumah sakit ayahnya. Ariana menuju ruangan administarasi rumah sakit dan melunasi biaya operasi dan perawatan ayahnya.


Pak Bagaskara di bawah masuk ke dalam ruangan UGD untuk melakukan operasi. Di ruangan operasi suster dan para dokter bersiap untuk melakukan operasi. Ariana dan bu Ella menunggu di luar ruangan UGD berharap agar orang yang sangat disayanginya bisa selamat.


Deggg… Degggg… jantung Ariana berdetak dengan kencang, wajah Ariana dan Bu Ella terlihat cemas dan hanya bisa berharap tidak terjadi hal yang buruk.


Hampir 2 jam lamanya Ariana dan bu Ella menunggu dan akhirnya dokter keluar dari ruangan itu. Ariana segera menghampiri dokter wanita itu.


“Bagaimana kondisi ayah saya dokter.” Dengan wajah cemas, Ariana bertanya kepada dokter.


“Maafff bu… Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi,.. Tuhan berkehendak lain, pasien tidak dapat diselamatkan, pasien sudah meninggal dunia.” Jawab dokter itu dengan wajah yang terlihat sedih.


“Tidaaaakkkk, itu tidak mungkin dokter, Hiksss…Hikksss…” tangis Ariana pecah mengisi kesunyian di ruangan itu, Ariana duduk terkulai lemah di lantai dengan air mata yang tak hentinya mengalir di pipi mulusnya. Sementara bu Ella terlihat diam dan tak berapa lama, ia terjatuh di lantai rumah sakit dan tak sadarkan diri.


Ariana yang melihat kondisi ibunya mulai panik dan menyuruh suster untuk membawa ibunya ke ruangan perawatan, dokter mulai memeriksa bu Ella. Tak berapa lama kemudian bu Ella sadarkan diri dan mulai menangis memanggil suaminya.


“Masss… kenapa kamu tega meninggalkan aku dan putrimu, aku tidak bisa hidup tanpamu Mass, aku mohon kembalilah, Hikksss…Hikssss.” Tangis bu Ella pecah.


“Ibu, Ariana mohon jangan menangis bu, ini sudah takdir dari Tuhan, kita harus kuat dan ikhlas menerimah kepergian ayah, biarkan ayah tenang di alam sana.” Ariana mencoba menenangkan ibunya yang sejak tadi menangis. Ia pun ikut menangis dan memeluk ibunya menyalurkan kekuatan kepada ibunya dan dirinya.


Hari ini adalah hari terakhir Ariana bertemu ayahnya. Kedua wanita itu masuk ke ruangan UGD dan melihat wajah orang yang dicintainya untuk terakhir kalinya. Ia mengurus jenasah ayahnya untuk di bawah pulang dan segera dimakamkan. Jenazah pak Bagaskara tiba di rumah dan para tetangga mulai berdatangan untuk mengucapkan turut berduka cita.


“Sayang ayo kita pulang, ayahmu sudah tenang Nak.” Bu Ella merangkul putrinya yang masih terduduk lemah. Ari mata Ariana tak hentinya menetes. Ia berusaha kuat menerimah takdir hidupnya.


“Baiklah bu.”


Akhirnya Ariana dan bu Ella kembali ke rumah mereka.


*********


Sementara di tempat lain, seorang pria tengah berduka. Ia menatap foto dan meneteskan air matanya. Ia adalah Nico Alexander yang juga merasakan duka yang mendalam kehilangan kedua orang tua yang sangat dicintainya. Setiap tahun, ia kan memperingati hari kematian kedua orang tuanya dengan mengunjungi makam ayah dan ibunya, berkunjung ke panti asuhan, memberikan bonus untuk para karyawan dan membantu orang-orang yang membutuhkan. Ia berharap agar di hari kematian kedua orang tuanya, semua orang ikut mendoakan orang tuanya agar tenang di alam sana.


“Tuan, sebaiknya kita berangkat sekarang?” Aldo berbicara kepada Nico.


“Aku akan berangkat sendiri, kau tidak perlu ikut denganku.” Nico meminta asistenya untuk tidak ikut bersama denganya.


Setiap memperingati hari kematian kedua orang tuanya, Nico selalu datang sendiri ke makam kedua orang tuanya. Ia tidak ingin agar orang-orang melihatnya menangis. Ia selalu terlihat kuat dan tegar kepada setiap orang yang dekat denganya. Tetap saja, ia adalah manusia yang mempunyai perasaan sakit di hatinya.


Nico menuju ke makam ayahnya dengan mengendarai mobinya tanpa pengawal dan asisten bersamanya. Setelah sampai, ia langsung menuju makam kedua orang tuanya yang berdampingan.

__ADS_1


“Ayah, ibu.. aku sangat merindukanmu, aku tidak akan membiarkan orang yang sudah melenyapkan ayah dan ibu hidup dengan tenang, aku akan mencari dan memberinya pelajaran, aku akan menyiksanya hingga ia melenyapkan dirinya sendiri.” Batin Nico dengan tangan yang menggenggam tanah makan orang tuanya, tanpa terasa air matanya mengalir, ia tidak mampu menahanya, perasaanya begitu sedih. 


Setelah sampai di rumah, Nico masuk dan segera menuju kamar orang tuanya, ia ingin merasakan kehadiran kedua orang tua yang sangat dirindukanya. Ia membuka pintu kamar dan masuk ke dalam kamar. Walau kedua orang tuanya sudah meninggal, Nico selalu menyuruh pelayan untuk membersihkan kamar orang tuanya, karena ia akan tidur di kamar tersebut pada saat hari kematian orang tuanya. Ia ingin mengenang dan mengingat wajah orang yang sudah melahirkanya. Ia memandangi foto kedua orang tuanya yang berada di dinding kamar dengan ukuran yang cukup besar. Nico kemudian membuka barang-barang orang tuanya, ia menemukan sebuah foto ayahnya dengan dua orang pria, ia juga menemukan sebuah surat dan berbagai dokumen lainya yang berada di dalam laci.


Ia membuka dokumen itu membaca setiap isi dokumen. Ia tersenyum dan menelfon seseorang..


Dokumen apa yang ditemukan oleh Nico, apakah ia sudah menemukan petunjuk yang akan membawanya pada pelaku pembunuhan orang tuanya. Siapa orang yang ada di dalam foto itu. Dapatkah ia membuka tabir misteri pembunuh orang tuanya?


Jangan lupa Like, Vote dan Komen.


Author penulis baru, Mohon dukunganya yah..


Terimah Kasih.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2