
Setelah mendapat izin dari Nico, Aldo memutuskan untuk berangkat ke London bersama sang pujaan hati. Rea juga sudah menceritakan mengenai hubungannya dengan Aldo dan tentu saja Ana mendukung hubungan mereka dan merasa sangat bahagia dengan keputusan Rea untuk menerima Aldo.
“Aku turut senang dengan hubunganmu, selamat Rea sebentar lagi kau akan menikah dengan Aldo, Dia laki-laki yang baik, aku mendukungmu sepenuhnya.” Ucap Ana.
“Terima kasih Ana, kau memang sahabat terbaikku, jangan lupa jaga kondisimu selama aku tidak ada.?” Ucap Rea memberi perintah.
“Pergilah, jangan Khawatir aku akan baik-baik saja.” Ana dan Rea saling berpelukan sebelum Rea berangkat ke London.
Sementara itu, Aldo sedang berpamitan dengan Nico.
“Pergilah, semoga semuanya berjalan lancar, sampaikan salamku untuk paman dan bibi.” Ucap Nico memeluk Aldo yang sudah Ia anggap adik.
“Terima kasih tuan.” Ucap Aldo.
“Apa perlu aku menemanimu bertemu paman dan bibi.” Tawar Nico.
“Terima kasih tuan, saya akan menyelesaikan masalahku dengan ayah.”
Setelah berpamitan Aldo dan Rea berangkat ke London menggunakan jet pribadi milik keluarga Alexander. Kurang lebih 12 jam waktu yang akan di tempuh oleh Rea dan Aldo untuk tiba ke Negara London.
“Semoga mereka bisa bersama.” Ucap Ana yang sedang menatap punggung Rea dan Aldo yang sedang berjalan menuju Jet pribadi Nico. Ana dan Nico mengantar ke dua orang yang sangat mereka sayangi.
Setelah mengantarkan mereka, Ana memilih istirahat sementara Nico pergi bekerja menyelesaikan beberapa urusan di perusahaan barunya.
****
Menjelang sore hari, Cuaca di negara Jepang sedang memasuki musim dingin terlihat dari salju yang turun. Ana sedang menikmati coklat panas kesukaannya sambil menunggu kedatangan suaminya. Merasa bosan Ana memutuskan untuk memasak makan malam. Ana sedang berada di dapur Ia membuka kulkas dan melihat bahan-bahan makanan yang ada.
“Apa nyonya ingin makan sesuatu? biar bibi buatkan untuk nyonya.”
“Ah bibi membuatku kaget saja, aku ingin memasak makan malam untuk suamiku, Bibi bisa mengerjakan hal lain saja.” Ucap Ana.
“Baik nyonya.” Pelayan itu meninggalkan Ana seorang diri di dapur. Ana memang lebih suka memasak dan membuat makanan sendiri dan tak ingin dibantu oleh siapa pun.
Ana memakai apron dan mencoba mengeluarkan bahan makan dari kulkas. Ia menatap setiap bahan makanan yang ada di depannya sambil berkata. “Aku akan membuat Sup miso, ini sangat cocok sekali untuk musim dingin.” Gumam Ana.
Sup miso biasanya disajikan sebagai makanan pembuka. Makanan ini berisi dashi atau bumbu yang biasa digunakan untuk membuat kaldu ikan, miso dan tahu. Miso sendiri merupakan produk bumbu khas Jepang yang dibuat dari kacang kedelai yang telah difermentasikan.
Ana terlihat sedang menikmati pekerjaannya membuat makan malam sampai-sampai Ana tidak menyadari keberadaan seseorang.
“Hmmm”
“Apa sudah pulang sayang?” Tanya Ana sambil menoleh ke arah sumber suara. Dan saat Ia berbalik tangannya tanpa sengaja menjatuhkan piring yang Ia pegang saking terkejutnya dengan orang yang berdiri di depannya saat itu.
Tanpa sengaja pecahan beling itu melukai kakinya. Ana tidak merasakan sakit sama sekali. Ana berjalan ke arah laki-laki paruh baya yang sedang menatapnya tajam sambil berkata.
“Pa-paman.” Ucap Ana terbata.
“Hemmm.” Reynad hanya berdehem dan menatap dingin Ana.
“Silakan duduk paman.” Ucap Ana ramah mempersilahkan paman suaminya untuk duduk di meja yang ada di dekat dapur sambil bertanya.” Paman Ingin minum apa?”
Reynad menarik kursi dan duduk.
“Tidak perlu basa-basi lagi, Kau tahu tujuanku datang ke sini kan.”
“Ada maksud paman?” Tanya Ana. Ia duduk di depan Reynad yang sejak tadi menatap Ana dengan Aura dingin penuh kebencian.
Apa yang Nico sukai dari wanita ini? Batin Reynad.
__ADS_1
“Bercerailah dengan Nico setelah kau melahirkan, aku akan menjamin hidupmu dengan satu syarat kau harus meninggalkan Nico, apa kau pikir pantas bersamanya, kau hanya tak lebih dari anak seorang penghianat, jangan berharap aku akan menerimamu sebagai istri keponakanku.” Hina Reynad.
Degggg....
Deggg.....
Irama jantung Ana berdetak tak beraturan. Kata-kata Reynad sungguh menyakitinya. Ingin rasanya Ana menangis mendengar permintaan paman Suaminya itu yang sangat menyakitkan hati.
Ana hanya bisa mengepal dan saling meremas jari-jari tangannya di bawah meja. Kata-kata yang keluar dari mulut Reynad benar-benar menyakitinya. Ia tahu paman suaminya itu tidak akan pernah merestui dan menerimanya sekuat apa pun Ana berusaha Ia tetaplah tak layak menjadi istri Nico di mata Reynad.
“Apa paman tega memisahkan seorang anak dari orang tuanya? anak yang ada di dalam kandunganku ini tak berdosa paman, apa pantas Ia merasakan penderitaan terpisah dengan salah satu orang tuanya? Aku mohon jangan memintaku untuk berpisah dari suamiku, aku sangat mencintainya, jangan halangi hubungan kami paman, biarkan kami hidup bahagia dan aku mohon lupakan masa lalu, aku juga sama menderitanya dengan paman dan Nico yang harus kehilangan orang tua karena dendam masa lalu.” Ucap Ana lembut.
“Aku tidak peduli dengan penderitaanmu, kau pikir aku akan mudah memaafkan dan melupakan ayahmu yang seorang penghianat itu, Aku akan mencari ibu dan istri untuk Nico yang bisa menggantikan posisimu di hati Nico yang sudah aku anggap sebagai putraku, yang perlu kau lakukan hanya meninggalkan Nico setelah anak yang ada di dalam kandunganmu itu lahir.” Perintah Reynad tanpa peduli dengan Ana yang terlihat sangat terluka dengan setiap kata yang keluar dari mulut laki-laki paruh baya itu.
“Maafkan aku paman, aku tidak akan memenuhi permintaan paman, aku tidak akan meninggalkan suamiku hanya karena paman yang menyuruhku, aku akan pergi jika suamiku yang menginginkan aku pergi dari hidupnya, aku akan tetap berjuang mempertahankan rumah tanggaku, maafkan aku paman.” Ucap Ana tegas. Ia tak ingin lagi menjadi lemah di hadapan siapa pun. Sejauh ini Ia selalu bisa menghadapi sesulit apa pun masalah itu Ana selalu kaut dan tidak akan mudah menyerah.
“Sekarang kau benar-benar sudah berani melawanku, kau berhasil merusak hubunganku dengan keponakanku sendiri, kau sudah berhasil mempengaruhi pikiran Nico untuk melawanku, kau memang tidak pantas bersamanya, kau pikir kau akan menyerah dan merestuimu, jangan mimpi kamu, lihatlah apa yang bisa aku lakukan untuk menyingkirkanmu dari hidup Nico.” Bentak Reynad penuh ancaman dengan kemarahan memuncak sampai ke ubun-ubunnya.
“Ambil ini dan pergi dari hidup Nico, kau hanya menikah dengannya karena ingin memanfaatkan dan menguasai semua miliknya, kau tak lebih dari sekedar perempuan murahan.” Hina Reynad sambil melemparkan cek yang bernilai 1 Triliun.
“Cukup... sudah cukup paman menghinaku, Apa pun yang aku katakan dan aku lakukan paman hanya akan menganggap semuanya salah, aku rasa paman tidaklah pantas menjadi seorang paman untuk Nico, apa paman pikir sikap paman seperti ini akan membuat Nico bahagia paman salah, Seharusnya paman memikirkan perasaan keponakan paman jika paman benar-benar menyayanginya.” Ucap Ana menahan tangisnya.
“Kau benar-benar kurang ajar.” Bentak Reynad marah.
Ana berdiri dari duduknya dan menundukkan kepala tanda hormat sambil berkata “Maafkan aku paman, Permisi.” Ana meninggalkan paman Reynad yang terlihat sangat marah dengan ke dua tangannya yang mengepal kuat.
Ana berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Sambil berjalan Ana menitikkan air matanya. Kata-kata Reynad benar-benar menyakiti hatinya. Sesekali Ana menyeka air matanya yang sejak tadi tak bisa berhenti keluar dari dua bola matanya. Sekuat apa pun Ana menghadapi kebencian Reynad paman suaminya itu. Namun, hatinya tetaplah rapuh dengan kata-kata yang sungguh menusuk sanubarinya.
Reynad masih duduk di kursinya sambil mengepalkan kuat ke dua tangannya yang ada di atas meja. Ia menatap punggung Ana yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya sambil bergumam. “Kau pikir kau sudah menang, kau yang memintaku untuk melakukan cara ini, lihatlah nanti apa yang akan aku lakukan untuk memisahkanmu.”
Ana masuk ke dalam kamar sembari terduduk lemah di kasur empuknya itu. “Kenapa ini harus terjadi? Kenapa paman tidak bisa menerimaku? Ini sangat menyakitkan, Hiksss.... Hiksss...” Isak tangis Ana terdengar menyayat hati. Air matanya luruh dengan nafas yang terasa sesak. Dadanya terasa sakit. Ia memukul-mukul dadanya yang terasa sakit itu. Udara di ruangan itu serasa sesak dan tak bisa lagi bisa membuatnya bernapas.
Emosinya yang memang sedang tidak stabil karena kehamilannya membuat Ana mudah menangis dan bersedih. Ia tak menyangka bahwa paman Nico adalah orang yang sangat menentang hubungannya dan bahkan berniat memisahkannya.
Ana sudah melalui banyak hal yang menyakitkan selama kehamilannya ini. Ia harus kehilangan ibu yang sangat menyayanginya dan sekarang Ia juga harus menghadapi kebencian Reynad paman suaminya.
“Ayah, ibu.. kenapa aku harus mengalami semua ini? rasanya sakit saat paman menyuruhku untuk bercerai, apa yang harus aku lakukan? aku merindukan kalian.” Lirih Ana.
Tiba-tiba ponselnya berdering dan menampilkan nama yang tertera di layar ponselnya itu. “My Love Husband” Ana mengusap sisa air matanya dan mencoba untuk tersenyum. Ia tidak ingin Nico mendengar suaranya yang sedang menangis. Ia mengangkat panggilan dari suaminya itu.
“Apa yang sedang kau kerjakan sayang?” Tanya Nico
“Aku hanya sedang menunggumu, pulanglah lebih awal, aku merindukanmu sayang.” Jawab Ana.
“Aku akan kembali secepatnya sayang, aku sangat merindukanmu.” Ucap Nico
“Istirahatlah dan tunggu aku kembali, jangan terlalu lelah, apa kau ingin makan sesuatu, aku akan membelikannya untukmu.” Tanya Nico.
“Hmmmmm, Tidak, aku sedang tidak ingin apa pun, Pulanglah lebih awal aku akan menunggumu untuk makan malam bersama.”
“Tentu saja sayang, aku tutup telefonnya dan tunggulah aku kembali.” Sambungan telefon pun berakhir. Nico kembali fokus dengan dokumen yang ada di depannya itu.
Nico terlihat tengah sibuk dengan berkas-berkas yang harus Ia tanda tangani dan mengurus beberapa hal di perusahaan barunya itu. Ia akan bekerja sama dengan perusahaan yang bergerak di bidang desain grafis. Sore hari Nico akan bertemu langsung dengan pemilik perusahaan yang akan menjalin kerja sama dengan perusahaannya. Aldo yang seharusnya mengurus masalah kerja sama itu sedang tidak bisa karena Ia kembali ke London bersama Rea.
“Tuan pemilik perusahaan desain grafis ingin bertemu anda langsung.” Ucap sekretaris Nico.
“Biarkan dia masuk.”
“Baik tuan.”
__ADS_1
Seorang wanita cantik berjalan dengan anggun, Ia mengenakan pakaian yang begitu Seksi dan menggoda. Rok yang begitu pendek menampilkan kaki jenjang panjang dan paha putih mulusnya. Dadanya yang terlihat berisi menyembul dengan kemeja ketat yang menampilkan lekuk tubuhnya.
Takkk... takkk....
Suara langkah kaki dengan highells tinggi. Ia berjalan ke arah Nico yang terlihat tidak menoleh menatapnya karena sedang fokus membaca beberapa dokumen di tangannya.
“Selamat sore tuan Nico.” Sapa Clara Abraham
Yah gadis itu adalah Clara yang akan menjalin kerja sama dengan perusahaan Nico.
“Kau.” Ucap Nico terkejut dengan wanita yang berdiri di depannya sambil mengulurkan tangannya.
“Selamat sore tuan Nico, kami dari perusahaan Abraham Grup yang akan menjalin kerja sama dengan perusahaan tuan Nico.” Ucap Clara mengulurkan tangannya. Nico menerima uluran tangan Clara dan berjabat tangan.
“Duduklah.”
Clara duduk di depan Nico dengan menyilangkan kaki jenjangnya memperlihatkan paha putih mulusnya. Ia menyerahkan dokumen kerja sama yang akan Ia tawarkan. Nico bahkan tak tertarik sedikit pun dengan penampilan menggoda wanita yang ada di depannya.
“Sekretarisku akan mengurus masalah kontrak kerja sama ini, saya harap anda bisa profesional dan jangan membuatku kecewa, apa paman yang menyuruhmu untuk bekerja sama dengan perusahaanku?" Tanya Nico dengan aura dingin dan mengintimidasi.
Deggg.....
Jantung Clara tiba-tiba berdetak tak karuan, wajahnya seketika memucat dan sedikit gugup sambil berkata.
“Ayah dan tuan Reynad mengenal dengan baik.” Ucap Clara.
“Baiklah, aku akan menemui tuan Abraham lain kali, kau bisa pergi sekarang.” Ucap Nico.
Apa dia mengusirku? Kenapa laki-laki ini tidak tertarik denganku, apa aku kurang menggoda dengan penampilanku ini? Batin Clara.
“Baiklah tuan Nico, saya permisi.” Ucap Clara sedikit menunduk mrnampilkan belahan dadanya yang sengaja Ia perlihatkan dengan sengaja melepaskan beberapa kancing kemejanya.
“Hmmm.” Nico bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah Clara. Gadis itu sangat geram dengan sikap Nico yang tak peduli dan tak tertarik dengannya. Nico bahkan bersikap acuh dengan kehadiran makhluk penggoda itu.
Clara berjalan ke arah pintu dan tiba-tiba.
Bugggg.....
Tubuh Clara terjatuh di lantai dan Ia berteriak mencoba mengalihkan perhatian Nico yang masih menatap dokumen.
“Auwwww.” Rintih Clara menahan sakit di kakinya. Ia sengaja menjatuhkan diri di depan Nico untuk menarik perhatiannya.
“Kakiku sakit sekali, sepertinya terkilir.” Ucap Clara sengaja memperbesar nada suaranya agar terdengar oleh Nico.
Nico yang sejak tadi fokus dengan dokumen itu sedikit teralihkah dengan suara rintihan Clara yang terlihat memegang pergelangan kakinya.
Nico menghampiri Clara sambil bertanya. “Ada apa?”
“Kakiku terkilir, ini sakit sekali, apa kau bisa membantuku?” Pinta Clara.
Nico terlihat terdiam sejenak dengan tatapan dingin menatap gadis yang sedang terduduk di lantai ruangannya dengan wajah yang sengaja menahan sakit memegang pergelangan kakinya.
Berssambung....
Like, Vote dan Komentar
__ADS_1