Dokter Cantik Dan Mafia Kejam

Dokter Cantik Dan Mafia Kejam
Episode 31 : Pembalasan Dendam Part 01


__ADS_3

Aldwin tiba di Mansionya yang  terlihat begitu berantakan. Dengan beberapa pengawal yang terluka. Ia segera menghampiri Rey yang sedang membantu anak buahnya yang terluka cuku parah ketika melawan anak biah Nico yang jumlahnya sangat banyak. Rey juga terluka di beberapa bagian tubuhnya hanya lukanya tidak terlalu parah.


Nico dan anak buahnya menyerang mansion orang tua Aldwin dengan tiba-tiba sehingga Rey dan para pengawal tidak menduga mendapat serangan dari musuhnya.


“Katakan apa yang sudah terjadi? Siapa yang berani menyerang mansionku dan menculik ayah dan ibuku.” Tanya Aldwin kepada Rey asistennya.


Terlihat raut wajah Aldwin yang menahan kesal dan amarah.


“Kami sudah mendapat informasi bahwa yang menyerang mansion dan menculik tuan dan nyonya besar adalah Nico Alexander mafia The King.” Ucap Rey menyampaikan informasi yang diketahuinya.


Braaakkkk.


Tangan Aldwin mengepal dan memukul meja. Membuat Rey dan beberapa anak buahnya terkejut. Ini pertama kalinya ia terlihat sangat marah.


“Sialll, beraninya dia menculik orang tuaku.” Ucap Aldwin dengan tatapan tajamnya.


“Kerahkan semua anak buah kita untuk menyerang markas Nico, aku akan menyelamatkan ayah dan ibu, aku tidak akan membiarkan Nico hidup, dia akan mati ditanganku.” Perintah Aldwin. Dengan kedua tangannya yang mengepal siap menghajar musuhnya.


“Baik tuan.” Jawab Rey.


Aldwin memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Ia mengacak rambutnya prustasi dengan masalah yang menimpanya. Ia baru saja putus dengan wanita yang sangat dicintainya dan sekarang orang tuanya juga harus diculik oleh musuhnya. Aldwin bahkan tidak punya waktu untuk menghubungi Ariana dan hanya fokus melakukan persiapan untuk menyerang musuhnya.


“Maafkan aku Ana, aku pasti akan menemuimu, Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dariku.” Batin Aldwin.


Aldwin terlihat begitu kacau.


Aldwin segera menuju markasnya bersama Rey asistennya. Mereka akan menyusun rencana untuk membunuh Nico dan membebaskan orang tua Aldwin


 


##


Sementara itu, Di sebuah rumah sakit..


Ana yang baru saja selesai memeriksa pasiennya ia segera bersiap untuk menemui pasien khusus.


Malam ini Ana bersiap untuk memulai pekerjaan baru yaitu menjadi dokter pribadi tuan Zidan. Malam ini ia akan datang ke mansion tuan Zidan sesuai dengan permintaannya.


Ia sudah membaca data diri dan riwayat penyakit dari tuan Zidan.


Ia sudah setuju menjadi dokter pribadi tuan Zidan. Ia tidak tahu tentang siapa sebenarnya pasien khusus tersebut. Ana pernah mencari data diri tuan Zidan melalui internet. Namun, tak ada data yang didapatnya. Sepertinya pasiennya kali ini benar-benar misterius.


Saat ini Ana sudah berada di dalam taksi bersiap menuju mansion tuan Zidan sesuai dengan alamat yang tertera di data dirinya.


“Tuhan, semoga tidak terjadi hal yang buruk.” Batin Ariana.


Entah mengapa ia merasa curiga dan punya firasat buruk tentang tuan Zidan. Ia juga begitu penasaran dengan salah satu pasiennya itu. Ia hanya melihat foto pria yang tertera di data diri yang diberikan oleh Bryan.


Sepanjang perjalanan Ariana terlihat termenung. Ia masih memikirkan Aldwin pria yang sulit untuk ia lupakan. Namun, sulit juga untuk bersama dengan Aldwin selalu saja ada rintangan dalam hubungan mereka.


Ana berusaha untuk melupakan Aldwin. Ia hanya ingin fokus bekerja dan akan kembali ke Indonesia bertemu dengan bu Ella ibunya.


Ia ingin mengajak ibunya tinggal di London bersamanya. Setelah Ana sukses dan membeli apartemen sendiri. Karena saat ini ia masih tinggal di apartemen yang diberikan oleh Aldwin.


Ana terlihat melamun memikirkan nasib percintaannya dengan Aldwin yang harus berakhir dengan cara seperti ini. Ia tidak pernah membayangkan akan berpisah dari Aldwin.


“Maafkan aku Aldwin, aku harap setelah ini kau akan menemukan kebahagiaanmu, aku yakin kau pasti bisa melupakan aku dan menemukan wanita yang lebih baik dariku.” Batin Ana.


Beberapa menit kemudian, ia sampai di alamat yang di maksud. Ana turun dari taksi dan melihat mansion besar uang terlihat sangat megah dari luar.


Beberapa pengawal berdiri di depan gerbang dan membuka gerbang tersebut.


Ana yang memakai jas kebesarannya berwarna putih dan tas hitam yang berisi peralatan medis yang ada ditangannya.


“Selamat datang dokter Velin, tuan sudah menunggu dokter sejak tadi, mari saya antar dokter masuk ke dalam mansion.” ucap salah satu pengawal yang terlihat memakai jaz. Mungkin Ia adalah asisten dari tuan Zidan pikir Ana.


“Terima kasih pak.” Ujar Ana.


Akhirnya Ana masuk ke dalam mansion milik tuan Zidan.


Ana melihat takjub mansion yang begitu luas terdiri dari lima lantai. Di dalam mansion itu ada lift khusus untuk naik dan turun. Dekorasi yang bernuansa American Clasic dengan warna serba putih menambah kesan mewah mansion tersebut.

__ADS_1


“Mari dokter! Silakan ikut dengan saya! tuan Zidan sudah menunggu dokter di kamarnya.” Ucap pria itu lagi.


Ana mengikuti langkah kaki pria tersebut menuju lift untuk naik ke lantai empat. Lantai tempat kamar tuan Zidan berada.


Tinggg...


Lift terbuka dan di sini lah Ana berada di lantai empat mansion itu.


Cekleekkk....


Pintu kamar tuan Zidan terbuka.


“Silakan masuk dokter! tuan Zidan ada di dalam kamar, saya permisi dokter.” Ucap pria itu dan ia berlalu meninggalkan Ana yang masih berdiri di ambang pintu.


Degggggg.....


Jantungnya berdetak kencang. Entah mengapa sejak tadi ia merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia curiga dengan pasien yang menurutnya cukup misterius itu.


Ana memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar tuan Zidan. Saat ia berada di dalam kamar tersebut. Terlihat kamar yang begitu sunyi dan tidak ada siapa-siapa di dalam kamar tersebut.


Tiba-tiba saja lampu kamar itu padam dan membuat nyali Ana semakin menciut.


“Ada apa ini? Kenapa lampunya padama?” gumam  Ana.


Ia terlihat takut dengan kondisi kamar yang gelap dan kamar yang begitu sunyi.


Ana ingin membuka pintu kamar tersebut.


Cekleeeekk..... ceklekkkkk.. 


Ana memegang gagang pintu kamar tersebut. Ia berusaha untuk membuka pintu itu tapi sayang pintu tersebut terkunci dari luar.


“Tuan, tolong buka pintunya.” Pinta Ana.


Hampir satu jam Ana berada di dalam kamar tersebut. Ia duduk di lantai dingin kamar itu. Air matanya kembali menetes. Saat ini Ana begitu takut. Tangannya bergetar berusaha untuk membuka pintu  kamar yang sekarang ia tempati. Ia ingin segera keluar dari mansion tersebut.


Beberapa menit kemudian, lampu kamar itu kembali hidup dan Ana bangkit dari lantai tempatnya duduk terkulai lemah.


Pintu kamar tersebut terbuka dan masuklah seorang pria dengan setelan Jaz berwarna hitam.


Deegggggg.......


Jaantung Ariana berdetak kencang. Ia merasa jantungnya akan melompat keluar dari tempatnya karena begitu terkejut.


Darahnya berdesir dan ke dua bola matanya membulat sempurna. Ia terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya. Ke dua kakinya tidak lagi mampu menopang tubuhnya dan ia kembali duduk terkulai di lantai kamar itu.


“Selamat datang dokter Velin di mansionku ini.” Ucap pria kekar itu yang tak lain adalah Nico Alexander.


Tangan Ana bergetar dan ia berusaha bangkit walau kedua kakinya bergetar. Ia menjatuhkan tas hitam berisi peralatan medis begitu saja ke lantai.


Ana terlihat gugup dan ia menutupinya dengan tersenyum manis dan berusaha untuk tetap tenang. Dia tidak mungkin mengenalku pikir Ana.


“Tetap tenang Ana jangan gugup, jangan sampai dia mengenalimu.” Batin Ana berusaha untuk berpikir baik.


“Sebaiknya saya memeriksa keadaan tuan Zidan.” Ucap Ana dengan tenang.


“Hahahahahha, dokter Velin maksud saya dokter ARIANA, kau pikir aku tidak mengenalmu, kau tidak usah berpura-pura tidak mengenalku, kau pikir penampilanmu itu bisa menipuku HAH.” Bentak Nico.


Degggggg....


Jantung Ana kembali berdetak kencang. Ia ingin pergi sejauh mungkin dari laki -laki kejam yang ada di depannya saat ini


Nico menyentuh pipi Ana dan ia mencengkeram rahang Ariana membuatnya menahan sakit. Ana menepis tangan Nico dengan kasar.


“Mau apa kau? lepaskan aku, biarkan aku pergi jangan menganggukku lagi, aku tidak ada urusan apa pun denganmu.” Ujar Ana dengan berani.


Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Nico laki-laki kejam itu. Walau sebenarnya tangannya bergetar dan ia berusaha untuk tetap berani.


Ana melangkah ingin keluar dari kamar itu. Namun, Nico menarik lengan Ariana dan menghempaskannya di atas kasur miliknya.


“Hahahaha.” Tawa Nico pecah mengisi ruangan itu.

__ADS_1


Ia puas melihat umpannya masuk ke dalam perangkapnya.


Ariana berusaha untuk bangkit dari tempat tidur. Ia mengambil apa pun yang ada di kamar itu dan melemparnya ke wajah Nico. Namun, Nico berhasil menghindar dan tidak mengenainya.


“Jangan mendekat.” Lirih Ana dengan tangannya memegang vaz bunga dan bersiap melemparkan ke arah Nico.


“Berani sekali kau membuat kamarku berantakan seperti ini, aku tidak akan melepaskanmu, malam ini kau akan melayaniku lagi Sayang.” Ucap Nico dengan senyum di bibirnya.


“Tidak jangan mendekat.”


Braakkk 


Vas bunga itu pecah dan berserakan di lantai.


Nico segera menarik Ariana dan menghempaskannya di atas kasur kingsize milik Nico.


Dengan cepat Nico menindih tubuh Ariana dan mengungkungnya. Hanya dengan satu tangan Nico ia memegang kedua tangan Ariana dan meletakannya dia atas kepala Ana.


“Kau sudah berani kabur dariku, jangan pernah pikir bisa lepas dariku dengan mudah, aku akan mencarimu meski kau lari ke ujung dunia sekalipun.” Ujar Nico dengan tatapan tajam.


“Lepaskan Aku, jangan menyentuhku.” Lirih Ana.


Ia berusaha lepas dari kungkungan Nico tapi tenaganya kalah dengan tubuh Nico yang begitu kekar.


Nico me*** mat habis bibir tipis Ariana yang begitu candu baginya.


Ana kembali meneteskan air matanya. Kali ini ia tidak bisa menghindar dari Nico. Dan malam itu Nico kembali menyiksa Ana dengan melakukan penyatuan dengan Ana.


Ana tak sadarkan diri. Setelah Nico menyiksanya dan memperlakukan Ariana dengan kasar.


“Malam ini aku puas melihatmu menderita, kau sudah berani kabur dan jangan pikir kau akan lepas dariku, aku akan menyiksamu dan membuatmu menyesal mengenalku.”


Nico menatap wajah pucat Ariana yang sudah tak sadarkan diri.


Ia menatap setial sudut kamar yang terlihat begitu berantakan. kamar itu terlihat bagai kapal pecah. Ariana melemparkan semua isi kamar Nico dan membuatnya hancur berserakan di lantai kamar miliknya.


"Huffff, ternyata kau sudah berani melawanku." Nico membuang nafasnya dengan kasar.


Ia menatap Araian sekilas sebelum kelauar dari kamar miliknya.


Nico keluar meninggalkan Ana yang masih pingsan di dalam kamarnya. Nico meninggalkan Mansionya dan menuju markasnya. Ia sudah memerintahkan anak buahnya untuk menjaga dan mengawasi Ana agar tidak kabur darinya.


Bersambung......


 


Like, Vote dan Komen.


 


🙏🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2