Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Kemarahan Luis


__ADS_3

Luis akhirnya terbangun, karena mendapati ponselnya yang terus berdering. Membuatnya langsung meraba-raba, mencari keberadaan ponselnya.


Luis : "Ada apa?"


Mendapati berita yang tidak enak. Luis yang merasa masih mengantuk pun akhrinya melebarkan matanya dan langsung bangun.


Luis : "Baiklah, aku akan segera kesana."


Luis menutup telpon itu dan mencari keberadaan Pamela, ia langsung menatap sofa karena melihat bekas makanan yang berserakan diatas meja.


"Jadi semalam aku tidak bermimpi? Aku mencium bau ramen ini? Astaga ... dia wanita yang jorok," ucap Luis.


Pamela masih memejamkan matanya, tiba-tiba langsung terbangun saat Luis menepuk tangannya di telinga Pamela.


Pamela merasa kaget dan langsung bangun, jantungnya berdetak tak menentu, membuatnya terdiam.


Luis yang melihat Pamela merasa kaget, langsung tertawa. Karena baginya tingkah Pamela sangat lucu.


"Kau!" seru Pamela.


"Lihatlah wajahmu seperti marmut, apa kau kaget?" tanyaku.


"Kenapa kau membangunkanku seperti ini! Hah! Bagaimana jika aku terkena serangan jantung, akan aku tuntut kau sampai akhirat," jawab Pamela.


"Kita harus pergi sekarang, Kakek masuk ICU," ucap Luis.


"Apa! Dari mana kau tahu?" tanya Pamela.


"Pak Adit menelponku, sekarang dia ada dirumah sakit," jawab Luis.


Mereka berdua bergegas siap-siap keluar dari hotel dan langsung pergi menuju rumah sakit.


Di dalam perjalanan, Pamela menatap Luis yang sedang menyetir dengan serius.


Samapailah mereka di Rumah Sakit Radom Medika, Pamela dan Luis langsung menuju ruang ICU, di mana sudah ada Pak Adit dan Dokter Boy.


"Bagaimana kondisi Kakek?" tanya Luis dengan sangat khawatir.


"Paru-parunya membengkak, kanker hati sudah menyebar sampai ke paru-paru. Kondisi Pimpinan semakin lemah, aku rasa kita tidak bisa melakukan apapun selain memasang alat-alat medis saja," jawab Dokter Boy.

__ADS_1


"Ada yang Dokter katakan? Apa Dokter akan mengatakan jika Kakekku akan tiada?" tanya Luis.


Dokter Boy yang melihat amarah Luis hanya terdiam, ia langsung berjalan menuju meja ruangannya. Pamela menggenggam tangan Luis dan mengukuti Dokter Boy.


Di dalam ruangan, Dokter Boy menjelaskam secara detail. Ia langsung memperlihatkan hasil USG Abdomen kepada Luis dan juga Pamela.


Melihat kondisi organ dalam milik Pimpinan yang sudah terinfeksi oleh kanker, membuat Pamela langsung menutup mulutnya. Ia sangat terkejut, melihat semua yang ada di depan matanya.


"Kenapa sel kankernya sangat cepat menyedar? Bukankan waktu itu kita sudah memotong penyumbatannya Dok," tanya Pamela.


Dokter Boy, kembali menjelaskan alasannya kenapa kanker sangat cepat menyebar begitu saja.


"Ini sangat sulit, jika dilakukan operasi," ucap Pamela.


"Kau benar, operasi bukan jalan terbaik. Semoga saja, Pimpinan bisa siuman terlebih dahulu," ucap Dokter Boy.


Pamela menatap Luis yang mulai berkaca-kaca, ia merasa sangat iba dengan kondisi yang dialami Luis. Tanpa disadari, Pamela menggenggam tanganya Luis dengan erat.


"Berdoalah, semoga Kakek segera siuman," ucap Pamela.


Luis seperti mendapat energi baru, ketika hatinya yang sedang kalut.


Sambil menunggu sang Kakek diruang VIP, Pamela meletakan makanan diatas meja.


"Apa Kakek akan bangun?" tanya Luis.


"Aku yakin, Kakek akan bangun. Jadi sekarang makanlah dulu," jawab Pamela.


Merasa perutnya pun keroncongan, Luis akhirnya makan dengan lahap.


Mereka memutuskan untuk bermalam di rumah sakit, begitu juga dengan Pamela. Ia pergi meninggalkan Luis yang sedang menunggu Kakek.


Pamela menemui Doktee Boy.


"Apa yang menyebabkan Pimpinan belom sadarkan diri, Dok?" tanya Pamela.


"Apa kau tahu, sebagian fungsi saraf sensorik milik Pimpinan sudah banyak yang tidak berfungsi, itu penyebab utama Pimpinan tak kunjung sadarkan diri," jawab Dokter Boy.


"Apa yang harus kita lakukan Dok?" tanya Pamela.

__ADS_1


"Kita akan terus memantau kondisi urinenya, jika keluarnya urine masih normal, kondisi pasien masih aman, tetapi jika kondisi urine keruh, Pasien tidak akan tertolong dan akan mengalami lumpuh batang otak," jawab Dokter Boy.


Pamela terdiam.


'Apa ini alasan Pimpinan menyuruh Luis untuk segera menikah, apa dia akan meninggalkannya selamanya? Aku bahkan tidak tega melihat wajah sedih Luis,' guman Pamela.


Pamela membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan VIP.


"Darimana kau?" tanya Luis.


"Aku baru saja, menemui Dokter Boy, menanyakan kondisi Pimpinan," jawab Pamela.


Pamela mendekati ranjang Pimpinan Hanji, ia melihat wajah Pimpinan yang terlihat sangat cepat, tiba-tiba Pimpinan mengalami gagal jantung. Dengan cepat Pamela langsung memencet tombol darurat.


Dokter Boy dan jajarannya dengan cepat datang menuju ruang VIP, ia melihat Pamela sedang melakukan sesusitasi jantung paru, untungnya detak jantung itu kembali dengan cepat. Membuat Pamela kelelahan dan langsung meminjam setetoskop milik Dokter Boy.


"Pimpinan akan terus mengalami gagal jantung, ini sangat berbahaya," ucap Dokter Boy.


"Apa tidak ada cara lain, untuk membangunkan Kakekku?" tanya Luis.


"Sejauh ini, kami belom bisa melakukan apapun Tuan muda," jawab Dokter Boy.


"Apa gunanya kalian menjadi seorang Dokter! Kalian mampu menyelamatkan banyak jiwa, tapi kenapa tidak dengan kakekku!" seru Luis.


Mendengar amarah Luis, Pamela langsung mendekatinya.


"Tahan amarahmu, ini bukan masalah kita sebagai team medis tidak bisa melakukan yang terbaik, tapi kondisi Pimpinan yang tidak mungkin untuk dilakukan operasi," jelas Pamela.


"Jadi kau menyalahkan Kakekku?" tanya Luis.


Pamela berusaha, menjelaskan sejelas-jelasnya kepada Luis. Tetapi melihat amarah Luis yang sedang meninggat, justru malah memperkeruh suasana.


Luis keluar dari ruang VIP dan langsung berbicara dengan Pak Adit.


"Carikan Dokter terbaik untuk Kakekku," perintah Luis.


"Tapi, Tuan muda," ucap Pak Adit.


Luis menoleh, dengan tatapan yang sangat tajam membuat Pak Adit langsung menundukan kepalanya.

__ADS_1


"Apa yang membuat kalian semua berfikir bahwa Kakekku akan mati. Hah!" tanyanya dengan nada bicara yang sangat tinggi.


Bersambung...


__ADS_2