
Semua orang tidak berani mengatakan kondisi Pimpinan Hanji yang sebenarnya, kondisi dimana tidak lagi bisa stabil. Membuat para Dokter hanya terdiam, tetapi tidak dengan Pamela. Ia mencoba mengatakan kondisi Pimpinan yang sebenarnya, kepada Luis.
Tidak mampu mengatakannya langsung, Pamela mengajak Luis untuk masuk ke dalam ruangan rekam medik.
Didalam hanya ada Pamela dan Luis, setelah mereka memasuki ruang rekam medik. Pamela langsung menyalakan layar monitor dan menayangkan semua anggota tubuh Pimpinan Hanji.
"Para Dokter, tidam berani untuk mengatakan yang sebenarnya, tapi aku disini sebagai seorang Dokter, harus mengatakan yang sebenarnya. Jika kondisi Pimpinan Hanji sedang tidak baik," ucap Pamela.
Luis terdiam, menatap layar yang menunjukan organ tubuh, Pimpinan Hanji.
Pamela satu persatu, menjelaskan kondisi Pimpinan yang sangat menyayat hati Luis.
Luis tak sanggup mendengarkan semuanya yang dijelaskan oleh Pamela.
"Hentikan!" perintah Luis.
Seketika, Pamela berhenti sambil menatap Luis yang mulai tidak fokus.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu denganmu?" tanyanya, dengan panik.
"Hentikan! Apa kau tidak mendengarku!" seru Luis, membuat Pamela langsung terdiam.
Cukup lama, mereka saling diam.
Akhirnya Luis pun angkat bicara.
"Apa tidak ada harapan lagi, untuk Kakekku sembuh," tanyanya dengan nada suara yang menahan tangis.
"Kemungkinannya hanya 30%, dari kasus sebelumnya. Tidak ada yang berhasil bertahan sampai satu bulan," jawab Pamela dengan berat hati.
"Apa kau Tuhan yang bisa mengukur nasib manusia! Beraninya kau mengatakan jika Kakek tidak bisa bertahan selama satu bulan! Apa itu lelucon bagimu!" seru Luis, air matanya menetes tanpa ia sadari.
Pamela merasa bersalah, karena mengatakan semuanya dengan jujur. Ia menatap mata Luis yang sendu, membuatnya ikut bersedih. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Luis.
"Ini takdir Tuan, kau harus menerima semua dengan lapang dada," ucap Pamela.
__ADS_1
"Kau dengan muda, mengajarkanku untung lapang dada! Apa kau tahu. Hanya Kakek yang ku punya! Kenapa kau tega mengatakan jika dia akan pergi meninggalkanku secepat itu," ucap Luis.
"Ada aku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian, percayalah," sahut Pamela, membuat Luis menatapnya dengan rasa benci.
"Apa kau merasa bersalah, karena sudah mengatakan semua itu? Aku tidak butuh kasihanmu," ucap Luis.
"Tuan, dengarkan aku! Aku pun tidak tega, untuk mengatakan semuanya, tapi ... anda harus tahu, kondisi Pimpinan dan jangan pernah merasa sendiri, karena banyak orang yang sangat menyayangimu," jelas Pamela.
"Mereka sayang denganku, karena kasian padaku. Termasuk kau!" kesal Luis.
Pamela hanya terdiam, ia memaklumi Luis yang emosinya sedang tidak stabil. Ia merasa jika Luis sanvat terpukul dengan kondisi Kakek yang sebenarnya.
Luis langsung pergi dari ruang medik itu meninggalkan Pamela seorang diri.
Pamela menatap kepergian Luis.
Luis berjalan dengan cepat, ia mencari leberadaan Pak Adit. Saat melihat Pak Adit sedang menerima telpon dari seseorang, ia pun langsung mendekat dan berdiri disampingnya.
Pak Adit yang menyadari, jika Luis berada di samping, membuatnya langsung mengakhiri telpon itu.
"Maaf, ada apa Tuan muda?" tanyanya sambil menundukan kepalanya.
Mereka berdua sudah berada di kantin rumah sakit, disana terlihat sangat sepi. Karena memang tidak ada yang boleh masuk ke kantin.
Luis duduk menatap Pak Adit.
"Ada Kakek pernah mengatakan sesuatu?" tanya Luis dengan wajah yang sangat serius.
Pak Adit, tanpa menjawab apapun. Ia langsung menyodorkan sebuah Ipad dan memberikannya kepada Luis.
"Semuanya ada di ipad ini Tuan muda," jawab Pak Adit.
Dengan tangan yang bergetar, Luis memegang ipad itu dan menyalakannya.
Luis melihat senyuman Pimpinan Hanji yang terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
Senyuman itu membuat air mata Luis menetes deras.
"Hai ... bagaimana kabarmu? Kakek harap, kau akan melihat video ini saat Kakek sudah beristirahat dengan tenang, apa kau tahu wahai cucuku? Setiap hari aku selalu menghawatirkanmu, melihatmu tertidur aku pun bisa meneteskan air mata tanpa sebab. Tapi kali ini Kakek tidak akan pernah melihatmu kesepian, karena kau sudah menikah dengan kekasihmu. Kakek yakin kalian saling mencintai, tapi kalian masih malu-malu, he ... he ... he, hati Kakek sangat lega. Tugas Kakek sudah selesai, waktunya Kakek pulang."
Pesan dari Kakek, membuat air mata Luis semakin deras membasi pipinya.
Lelaki yang tak pernah menangis, didepan siapapun. Tetapi kali ini Luis melakukan semua yang tidak pernah sama sekali ia lakukan. Luis menangis dihadapan Pak Adit, ia terlihat sangat terpukul setelah mendengar pesan dari sang Kakek.
Pak Adit, hanya terdiam menatap Luis yang menangis hingga sesenggukan.
Kemudian, Pak Adit memberikan sebuah kotak kecil yang sangat unik. Membuat Luis berhenti mrnangis.
"Apa ini?" tanya, dengan suara yang serak.
"Bukalah, Tuan," jawab Pak Adit.
Luis membuka kotak kecil itu, ia sangat terkejut saat melihat isi dari kotak itu.
Ternyata isi dalam kotak itu adalah, selembar foto Luis bersama sang Kakek saat Luis masih kecil. Dan ada dua gelang yang terbuat dari kerajinan tangan yang sempat dibeli Kakek Hanji saat pergi ke Arab Saudi.
"Pakaikan gelang ini pada anakmu nanti, berjanjilah pada Kakek, jika kau harud hidup bahagia tanpa Kakek. Kakek menyayangimu."
Pesan dari Kakek.
Tangisan Luis semakin pecah, membuat Pak Adit, mengusap punggung Luis.
Dari kejauhan, Pamela melihat Luis dengan kotak hitam yang tidak terlihat isinya. Membuatnya merasa penasaran.
"Kenapa dia terlihat begitu sedih?" gumamnya.
Mendapat notification dari group rumah sakit, Pamela langsung pergi meninggalkan kantin itu.
Begitu juga Pak Adit, Luis dan para penjaganya pun mendapat notification dari rumah sakit. Mereka terlihat sangat panik dan langsung bergegas untuk pergi meninggalkan kantin.
Semua orang berjalan menuju ruangan VIP, terlihat beberapa Dokter dan Perawat yang terlibat didalam operasi Pimpinan Hanji pun, berjalan menuju ruang VIP.
__ADS_1
Mereka semua, terlihat sangat panik. Luis dengan wajah seriusnya berjalan mempercepat langkahnya. Sedangkan Pamela berlarian kecil agar segera sampai di ruang VIP.
Bersambung ....