
Tingkah ajudan itu membuat Pamela merasa heran, ia langsung menatapnya.
"Ada apa yang lucu?" tanyanya.
"Tidak Nona," jawab ajudan.
Pamela kembali menatap kedua pria yang berada di balik tembok kaca itu. Ia langsung teringat jika harus pulang.
"Aku harus pulang," ucap Pamela.
"Baiklah, hati-hati Nona," ucap Pak Adit mengantarkan Pamela sampai pintu depan.
"Saya harap Pimpinan bisa membantu saya," ucap Pamela.
"Boleh saya meminta nomor kontak anda," tanya Pak Adit.
Pamela langsung memberi nomor ponselnya kepada Pak Adit. Kemudian, ia pergi meninggalkan rumah Pimpinan Hanji.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, di dalam perjalanan, ia mendapatkan pesan singkan dari Citra.
"Jangan lupa, malam ini."
Pesan itu langsung dibaca oleh Pamela, dengan senyum dibibirnya, ia langsung melajukam mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tak lupa Pamela membawa buah tangan, makanan kesukaan Citra. Sampai di rumah orang tua Pamela, ia langsung masuk ke dalam.
Pamela terlihat sangat kaget, dengan hiasan dirumahnyam seolah akan ada pesta meriah nanti malam.
"Ada apa ini?" tanya Pamela.
"Apa Kakak lupa, kalo nanti malam Papa sama Mama, merayakan hari jadinya," jawab Citra, sambil menerima buah tangan dari Pamela.
"Wah, enak sekali ini," lirih Citra.
"Kapan acaranya?" tanya Pamela.
Pamela melihat Citra sedang memperhatikan moci yang dipegangnya, membuatnya tak mendengar yang dikatakan Pamela.
"Dasar, budak kecil," umpat Pamela.
"Citra!" panggil Pamela.
"Apa Kak?" tanya Citra.
"Oh iya, acaranya nanti malam jam 9, Kakak harus ada di sini," jawab Citra.
Pamela hanya menganggukan kepalanya, ia langsung masuk kedalam kamarnya yang sudah lama tidak ia tiduri. Semua letak yang ada di kamar itu tidak berubah sedikitpun.
"Semuanya masih sama seperti yang dulu," ucap Pamela.
Pamela membayangkan saat ia menginjak dewasa, di mana Bramasta selalu mengekangnya untuk menjadi apa yang dia inginkan, membuat Pamela memutuskan untuk pergi.
"Jika kamu pergi, Papa tidak akan membiayaimu, semua kartu Papa sita," ancam Bramasta.
Pamela menatap Bramasta dengan tatapan yang sendu, air matanya menetes begitu deras.
"Jika itu mau Papa, aku akan pergi," ucap Pamela.
"Pamela! Kamu ini ngomong apa? Kamu gak bakal hidup tanpa kami, jadi jangan mengambil keputusan yang sangat konyol ini," marah Sherlin.
"Kalian semua jahat!" seru Pamela.
__ADS_1
Bramasta tidak bisa menahan emosinya, ia langsung menampar pipi Pamela, membuatnya langsung tersungkur kelantai, tamparan itu sangat keras membuat bibir Pamela berdarah.
Rasa sakit yang Pamela rasakan sampai sekaeang pun masih terasa.
bayangan itu langsung tersadaekan, membuat Pamela langsung ke kamar mandi, ia menatap wajahnya dengan tatapan yang sendu sambil menyentuh dadanya yang tiba-tiba sakit.
Pamela langsung memejamkan matanya sejenak, tak lama suara Citra terdengar nyaring memanggil namanya.
Citra langsung masuk ke dalam kamar kakaknya, tetapi ia tidak menemukannya.
"Kemana perginya Kak ..." ucap Pamela belom sempat melanjutkan ucapanya, membuatnya langsung terdiam, melihat Pamela keluar dari kamar mandi.
"Kakak!" panggil Citra.
"Ada apa?" tanya Pamela.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin bertanya, Kakak mau pakain gaun apa?" jawab Citra.
"Apa ya?" ucap Citra.
"Kayakanya Kakak, pakai baju yang ada di lemari aja," sambungnya.
"Memangnya masih ada yang muat?" tanya Citra.
"Entahlah," jawab Pamela.
Citra langsung menatap Pamela, begitu juga Pamela menatap Citra, tatapan itu seolah memberi ide untuk melakukan sesuatu. Tanpa berpikir panjang, Pamela langsung menganggukan kepalanya.
"Ayok," ajak Pamela.
Citra tersenyum dan langsung menerima, ajakan dari Pamela.
Mereka berdua pergi meninggalkan rumah tanpa di ketahui siapapun.
Kesedihan Pamela langsung terobati oleh Citra, ia seolah melupakan kejadian yang sempat membuatnya mengingat masa lalu yang sangat menyakitkan.
Sampailah di salon elit milik desainer terkenal, Pamela langsung memarkirkan mobilnya, mereka berdua masuk ke dalam salon itu, lamgsung di sambut hangat oleh semua karyawan yang bekerja di sana.
Mereka semua mengetahui, jika Pamela seorang Disk Jokey yang terkenal, tetapi hal itu tidak di ketahui oleh Sherin dan Bramasta.
Pamela sengaja, di beri sebutan Peimel oleh Kevin, jadi mereka semua mengenal Pamela dengan sebutan Peimel.
"Ada Peimel," ucap salah satu karyawan itu.
Mereka semua sempat menatap Pamela dengan tatapan yang sangat kagum.
"Ternyata dia lebih cantik melihat aslinya."
Gumam para karyawan salon itu.
"Ada yang bisa kami bantu Nona?" tanya Manager salon.
"Aku dan adikku ingin spa seluruh tubuh, karena kami akan pergi kepesta," jawab Pamela.
"Baiklah Nona, mari masuk ke dalam ruang B," ajak Maneger salon.
Pamela menghabiskan waktunya untuk merawat diri bersama Citra sampai waktu menunjukan malam hari,mereka masih di catok.
"Kak! Ini sudah jam 20.00," ucap Citra.
"Santailah, kita kan tuan rumah," kata Pamela.
__ADS_1
Mereka berdua terlihat sangat cantik, Pamela mengenakan pakaian mewah yang sengaja dia beli untuk menghadiri hari jadi orang tuanya.
Selesai merias di salon langganannya, waktunya Pamela membayar semua tagihan yang sudah dirinci.
Mereka berdua keluar dengan pakaian dan gaya rambut baru, Pamela sengaja merubah penampilan, agar ia di kenal sebagai Pamela bukan sebagai Peimel.
Panampilannya terlihat seperti putri dari keluarga bangsawan.
Mobil Pamela langsung pergi meninggalkan salon itu, saat Pamela sudah menjauh, sebagian karyawan itu mulai bergosip.
"Aku menyesal, tidak meminta foto dengannya."
"Astaga, aku sangat beruntung meluluri tubuhnya."
"Ternyata wajah mirip artis korea."
Mereka bergumam setelah Pamela sudah pergi meninggalkan salon itu.
Sampailah, Pamela di rumah orang tuanya, ia langsung keluar dari dalam mobil bersama Citra.
Mereka langsung masuk ke dalam pesta yang sudah didatangi banyak orang.
Sebagian orang yang menyadari Pamela datang, langsung menatapnya dengan tatapan yang sangat kagum, mereka melihat Pamela yang berjalan menunju meja yang sudah di sediakan, terlihat sangat anggun, sampai Sherlin sang ibu hampir tidak mengenalinya.
"Siapa yang bersamamu?" tanya Sherlin.
"Apa ibu lupa? Dia Kak Pamela," jawab Citra.
Sherlin menatapnya, ia langsung tersenyum karena melihat penampilan Pamela yang jauh dari biasanya.
"Mama hampir tidak mengenalimu," ucap Sherlin.
"Bukankah memang, tidak mau mengenalikukan," sahut Pamela menatap sekitaran pesta.
"Apa maksudmu? Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu, kan Mama sudah meminta maaf," kata Sherlin.
Pamela hanya terdiam, ia duduk di kursi VIP, tak sengaja di sampingnya, ada seorang yang dia kenal.
Dia adalah Rozak, si mafia yang tega menjual organ tubuh manusia ke luar negri.
"Hai Nona, apa sebelumnya kita pernah bertemu?" sapa Rozak, dengan gaya genitnya.
Pamela menoleh, ia langsung menatap tajam Rozak, Pamela langsung teringat saat Rozak ada di markas itu, seketika tangannya mengepal serasa ingin memukulnya langsung.
Pamela berusaha tersenyum.
"Aku rasa anda salah orang," sahut Pamela.
"Aku rasa begitu, apa boleh aku mengetahui namamu Nona?" tanya Rozak.
"Sepertinya bukan waktu yang tepat untuk saling berkenalan," jawab Pamela.
"Kau benar juga," ucap Rozak.
"Kau menengal pemilik Skincare yang saat ini sedang menjadi trend dunia?" tanya Pamela.
"Tentu, aku pun menjadi rekan kerja Pak Bramasta, dan kini kami membuka cabang di luar kota," jawab Rozak.
'Rupanya, dia bekerja sama dengan orang tuaku, aku harus segera bertindak,' batin Pamela.
Acara sedang berlangsung, Pamela langsung mengirim pesan kepada Kevin.
__ADS_1
"Aku menemukan orangya."
BERSAMBUNG....