Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Kekesalan Pamela


__ADS_3

Penuh kepanikan, Pamela menghentikan mobilnya di depan gedung sekolahan tempat Kety. Terlihat gedung itu sangat sepi, hanya disinari lampu penerangan saja.


"Dimana mereka?" tanya Pamela.


Pamela berjalan mencari disetiap sudut, kebetulan saat Pamela menghubungi Nek Marlin, ponselnya berada di kamarnya, ia tidak menyadari jika Pamela menelpon.


Pamela mencari kesana kemari, sampai ia kelelahan. Tak lama ada seorang satpam yang sedari tadi memperhatikan Pamela, membuatnya langsung bertanya.


"Permisi Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya Satpam.


Dengan wajah yang lesuh dan penampilan yang sangat berantakan, Pamela menatap Satpam itu.


"Apa Bapak, melihat dua anak sekolah. Laki-laki dan perempuan keluar dari sekolahan ini?" tanya Pamela.


"Tadi saya sempat melihat anak perempuan dan Laki-laki sedang duduk di taman dan ada yang menjemputnya, lalu mereka naik mobil mewah bersama, sayaa pikir mereka adalah keluarga," jawab Satpam.


Pamela sangat panik, ia takut jika Kety dan Bagas diculik oleh orang suruhan mafia Rozak.


"Apa Bapak, tahu siapa yang menjemputnya. Minimal ciri-cirinya?" tanya pamela.


"Saya hanya memperhatikan pria itu memakai stelan jas dan kacamata hitam, itu saja Nona," jawab Satpam.


Pamela langsung tertuju pada Luis, hanya dia dan Kevin yang tahu tentang Kety dan Bagas. Tapi jika Kevin tidak mungkin menjemput Kety dan Bagas menggunakan kacamata hitam dan mobil mewah.


Pamela memberitahu kepada satpam, foto Luis. Kemudian ... Satpam itu mengangguk jika pria yang dia lihat adalah Luis.


Pamela langsung berpamitan kepada Pak Satpam dan pergi melajukan mobilnya menuju rumah.


Saat dirumah Pamela dengan badan yang sangat lelah dan penampilan yang berantakan. Ia melihat Luis sedang berbincang hangat dengan Nek Marlin.


"Beraninya kau menjemput mereka tanpa memberitahuku! Apa kau tau aku hampir gila!" seru Pamela.


Pamela mengejar Luis, tapi Luis langsung berusaha mengindarinya.


Mereka kejar-kejaran, membuat Nek Marlin merasa pusing.


"Astaga anak ini seperti tom and jerry," ucap Nek Marlin.


"Jangan lari! Dasar brandal keparat!" teriak Pamela.


"Siapa yang berandal, kau seharusnya berterima kasih denganku. Malah mengejarku, kau pikir aku ini buronan?" tanya Luis sambil berlari menghindari Pamela.


"Bodo amat, kau membuatku seperti orang gila, saat aku di sekolahan mencari keberadaan Kety," jawab Pamela.


'Ngeri juga dia, kalo lagi marah,' gumam Luis.


Karena merasa lelah, Pamela akhirnya masuk ke dalam rumah dan langsung membersihkan dirinya.


"Astaga, aku hampir saja tertangkap," ucap Luis.


"Duduk lah, tenangkan dirimu. Harusnya kau memberitahu dia jika akan menjemput Kety, dia takut jika penculikan itu masih ada," jelas Nek Marlin.


"Iya Nek, aku yang salah. Tapi Nenek tenang saja, markas pernculikan itu sudah dibrantas Nek dan semuanya akan aman," ucap Luis.

__ADS_1


"Syukurlah kalo begitu," ucap Nek Marlin.


Pamela yang sedang membersihkan diri dengan perasaan yang masih kesal dengan Luis, ia langsung mengganti pakaian dan mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Merasa setengah kering, Pamela keluar dari kamar menggunakan kaos dan celana panjang, dengan rambut terurai setengah kering, membuatnya terlihat cantik natural.


"Nenek masak apa? Aku lapar," tanya Pamela.


"Nenek masak, ceker mercon kesukaanmu, ajak Luis makan juga," jawab Nek Marlin.


Pamela melirik Luis yang duduk menatapnya.


'Kenapa dia malah tidak pulang sih, aku tidak mau berbicara dengannya, dia menyebalkan,' kesal Pamela dalam hati.


"Ayok, Nak Luis. Kita makan bersama," ajak Nek Marlin.


"Iya Nek, aku sudah makan, Nenek saja sama Pamela. Sepertinya aku harus pulang," ucap Luis.


"Iya, ini sudah malam. Sana pulang," sahut Pamela.


"Pamela, jangan begitu. Lembutlah sedikit dengan calon mu," ucap Nek Marlin.


'Mulai dibahas lagi, plis ... jangan katakan jika dia calonku, ini hanya sandiwara Nenek,' batin Pamela.


"Ayok, makan dulu, apa kau tidak kasihan dengan Nenek yang masak untuk makan malam kalian?" tanya Nek Marlin.


Merasa tidak enak hati, Luis akhirnya duduk dimeja makan.


"Apa Kety dan Bagas sudah makan Nek?" tanya Pamela.


"Aku rasa, semua ini ada maksudnya? Apa maksudmu baik dengan adik-adikku. Hah!" lirik Pamela menatap tajam Luis.


Luis memainkan mata, membuat Pamela justru malah bingung dengan tingkah Luis.


Pamela pun ikut memainkan matanya, entah mereka sedang mengatakan apa, meraka hanya berbicara menggunakan sorot matanya, yang terlihat penuh dengan emosi.


"Kalian ini kenapa, apa keberadaan Nenek ini mengganggu?" tanya Nek Marlin.


"Tidak!"


Jawaban itu terdengar sangat kompak, membuat Nek Marlin merasa terkejut dan memilih untuk meninggalkan meja makan.


"Tiba-tiba perut Nenek sakit, Nenek harus kekamar mandi," ucap Nenek Marlin berbohong.


Nek Marlin langsung pergi meninggalkan ruang makan, membiarkan Luis dan Pamela berdua.


Diruang makan, hanya tersisa Luis dan Pamela. Mereka saling menatap kesal.


"Kau!" seru mereka berdua.


"Apa!'


"Kenapa kau kemari tanpa memberitahuku?" hah!" tanya Pamela.

__ADS_1


"Suka-suka aku lah," jawab Luis.


"Kau menyebalkan!" seru Pamela.


"Kau juga menyebalkan, kau tidak tahu terima kasih denganku. Dasar menyebalkan," gerutu Luis.


"Apa kau bilang? Menyebalkan?" tanya Pamela.


"Iya! Kau sangat menyebalkan dari dugaanku," jawab Luis.


"Beraninya kau mengatakan semua itu didepan ku! Rasain ini ya," kesal Pamela.


Pamela menyuapin Luis dengan tangannya, sambel ceker mercon ke dalam mulutnya, membuat Luis kepedesan.


Saat Pamela akan menyuapi Luis sambel kecer mercon, dengan cepat Luis langsung menepis dan memegang erat tangan Pamela.


Membuat Pamela meringis kesakitan.


"Lepaskan aku, ini sakit," ucap Pamela.


Luis menatap Pamela seakan memciumnya, membuat Pamela merasa panik.


"Mau apa kamu?" tanya Pamela.


Luis tersenyum licik, melihat Pamela yang mulai panik.


Semakin mendekat, Pamela pun akhirnya memejamkan matanya. Ia sudah tidak bisa memberontak lagi, karena tenaga Luis jauh lebih kuat dari padanya.


Ponsel Luis, tiba-tiba berdering. Membuatnya langsung melepaskan Pamela.


Pamela pun langsung membuka matanya, melihat Luis sedang menerima telpon dari seseorang.


'Aku harus kabur,' gumamnya.


Setelah menerima telepon dari seseorang, Luis akhirnya pamit.


"Aku harus pergi, ingat! Urusan kita belom selesai," ucap Lusi.


Luis berjalan keluar rumah Pamela, ia dengan cepat langsung masuk ke dalam mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi.


Melihat Luis sudah pergi menjauh, membuat Pamela langsung mengumpat.


"Beraninya dengan perempuan, awas kau ya, akan ku pukul seperti ini sampai mampus," ucap Pamela menggerakan tubuhnya, seolah akan memukul lawannya.


Nek Marlin yang melihat Pamela seperti sedang duduk dan menggerakan tubuh seolah akan berantem, membuatnya merasa heran.


"Kau ini sedang apa?" tanya Nek Marlin.


Pamela menoleh. " Eh Nenek, ini lagi peregangan otot," jawab Pamela.


"Sudah masuk, istirahatlah, besok kau harus bekerja lagi," perintah Nenek.


"Baik Nek," ucap Pamela.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2