
Saat salah satu Dokter yang berjaga di UGD berkelahi dengan pasien yang di rawatnya, di situlah ruang UGD terlihat sangat kacau.
Dokter Zen yang baru saja sampai di ruang UGD melihat Dokter Anton akan memukul salah satu pasien, membuatnya langsung mendekat dan memegang tangan Dokter Anton.
Dokter Anton merasa tangannya ada yang menahannya, ia langsung menoleh.
"Sial! Siapa yang ..." ucap Dokter Anton, belom ia melanjutkan ucapannya, melihat Dokter Zen, seketika langsung terdiam dan mengurungkan niatnya untuk melawan.
"Ada apa ini?" tanya Dokter Zen.
"Kau Dokter yang bertanggung jawab di ruangan ini?" tanya Pasien.
"Ku dengar kau memukul Dokter kami, apa itu benar?" tanya ulang Dokter Zen.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku," jawab Pasien.
Dokter Zen tersenyum, terlalu lama ia meladeni pasien itu, kesabarannya pun hampir habis.
"Apa kesalahan yang di lakukan Dokter kami?" tanya Dokter Zen.
"Dia menjahit lukaku tanpa obat bius, aku merasa kesakitan," jawab Pasien.
Dokter Zen langsung menoleh ke arah Dokter Anton, Dokter Anton langsung terdiam, ia menatap tempat lain untuk menghirauan pandangan Dokter Zen.
"Apa itu benar, Dokter Anton!" panggil Dokter Zen.
"Aku menggunakan obat bius semprot, bukankah itu sama saja," sahut Dokter Anton.
Dokter Zen langsung memeriksa kondisi luka pasien yang ternyata lukanya cukup dalam, membuat Dokter Zen langsung menyuruh perawat untuk menyiapkan alat heacting (jahit), tanpa rasa sakit Dokter Zen menjahit luka pasien dengan rapih.
Selesai melakukan tugasnya, Dokter Zen langsung pamit dan meminta maaf, ia menjelaskan sedikit tentang jenis menjahit luka. Pasienpun menerima penjelasan yang di berikan Dokter Zen.
Dokter Zen langsung memanggil Dokter Anton, untuk masuk ke dalam ruangannya.
Di dalam ruangan Dokter Anton.
"Apa kau tahu kesalahanmu apa?" tanya Dokter Zen.
Dokter Anton diam tidak menjawab apapun.
"Kau tahu, fungsinya bius semprot untuk apa? Aku rasa kau pasti tahu, tapi mengapa kau melakukan semua itu. Pasien datang dengan luka yang cukup dalam hampir 2 senti meter, apa ketika menggunakan etil bisa mengurangi rasa sakit? Coba kau pikirkan baik-baik, kau kali ini melakukan kesalah yang menurutku cukup fatal, belajarlah untuk menjadi Dokter yang lebih bertanggung jawab," ucap Dokter Zen.
Tidak melakukan perdebatan dengan Dokter Anton, Dokter Zen langsung keluar dari ruangannya, ia langsung memeriksa setiap rekam medik yang sudah menumpuk di meja perawat.
Pamela tidak menyadarj ada keributan kecil, karena dirinya sangat kelelahan, hingga tertidur di samping ranjang Nek Marlin.
__ADS_1
Tangan Nek Marlin pun bergerak, membuat Pamela langsung terbangun, samar-samar ia menatap Nek marlin.
"Nenek!" panggil Pamela.
Pergerakan yang di lakukan Nek Marlin secara perlahan, membuatnya mulai membuka matanya. Berulang kali Nek Marlin mengercapkan matanya, untuk memastikan tempat yang saat ini ia tempati.
Matanya melirik ke arah samping, ternyata ada Pamela.
"Cung, Nenek dimana?" tanya Nek Marlin dengan nada lemah.
"Nenek di rumah sakit, Pamela menemukan Nenek dalam kondisi pingsan, tapi sekarang Nenek sudah ditangani Dokter, kata Dokter Nenek hanya kelelahan saja, jadi cukup istirahat," jawab Pamela.
Nek Marlin masih terdiam, ia menatap Pamela dan memegang tangannya, seolah takut kehilangan Pamela.
"Nenek ada apa?" tanya Pamela.
"Nenek kangen," jawab Nek Marlin, membuat Pamela langsung memeluk Nek Marlin.
"Maafkan Pamela ya Nek, akhir ini Pamela sangat sibuk, jadi tidak sempat berkunjung kerumah Nenek," ucap Pamela.
"Tidak apa-apa, Nenek sangat memgerti dirimu, kau harus sehat. Jaga dirimu baik-biak ya," pesan Nek Marlin.
"Iya Nenek," ucap Pamela tersenyum.
Suasana UGD sudah mulai hening, Pamela tidak mengetahui jika ada keributan kecil yang bikin heboh.
Nek Marlin pun merasa tidak betah berada di rumah sakit, ia merengek kepada Pamela untuk meminta pulang.
"Bisakah kau bilang pada Dokter untuk mengizinkan Nenek pulang?" tanya Nek Marlin.
"Dokter bilang besok, memangnya ada apa Nek," jawab Pamela dengan wajah yang sangat bingung.
"Segera panggil Dokter, katakan padanya aku tidak betah berada di rumah sakit, di sini sangat mengerikan," ucap Nek Marlin.
Pamela langsung memanggil Dokter Zen, tak lama Dokter Zen pun datang menemui Pamela.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Dokter Zen.
"Nenekku ingin pulang, apa Dokter bisa memberi surat ijin pulang," jawab Pamela.
"Kenapa pulang, bukankah kondisi Nenek harus di pantau satu malam saja," bujuk Dokter Zen.
"Hais ... kau ini pria yang gagah, bisanya kau mengatakan itu. Aku sudah sangat muak dengan aroma rumah sakit, jadi cepatlah izinkan aku pulang, aku ingin istirahat dengan tenang," ucap Nek Marlin.
Tidak ada yang berani melawan Nek Marlin, jika sudah berdebat dengan siapapun, ia sangat pandai berbohong jika tidak menyukai tempatnya.
__ADS_1
Dokter Zen langsung memberi surat izin pulang, Pamela langsung mengurus administrasi, saat Pamela melewati ranjang paling ujung, ia memperhatikan seorang pria dewasa yang tertidur dengan ke adaan pucat.
Dengan penuh penasaran Pamela langsung bertanya pada perawat sedang melintas melewati ranjang itu.
"Maaf sus? Apa pria yang ada di ranjang paling ujung itu pasien?" tanya Pamela.
"Benar Dokter Pamela, dia pasien kami yang belom lama datang, memangnya ada apa," jawab Perawat Amel.
"Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres," ucap Pamela.
Pamela melangkahkan kakinya menuju ranjang itu, setiap langkahnya membuat rasa penasarannya semakin tinggi, saat ia akan memeriksa denyut nadi pasien. Tiba-tiba, langkah terhenti karena Dokter Anton ada di samping Dokter Pamela.
"Mau apa kau dengan pasienku?" tanya Dokter Anton.
"Cobalah, periksa kembali pasienmu, aku rasa ada yang tidak beres," jawab Pamela.
"Oh, jadi kau ingin di katakan pahlawan kesiangan! Begitu. Sayang sekali, saat ini tidak ada yang mempercayaimu sebagai seorang Dokter, ha ... ha," ejek Dokter Anton.
Pamela menatap Anton dengan tatapan dingin, ia merasa sangat kesal kepada Doktee Anton.
"Jika dia pasienmu, kau akan di salahkan," ucap Pamela, menerobos Dokter Anton.
Pamela langsung berjalan menuju ranjang itu, ia melihat bibir pasien mulai membiru dan Pamela langsung memeriksa denyut nadinya.
Matanya seketika menatap Dokter Anton yang berdiri di samping Pamela.
"Dasar bodoh!" seru Pamela.
Pamela langsung memencet tombol merah.
"Siapkan alat pacu jantung, pasien mengalami henti jangung!" perintah Pamela.
Perawat yang tiba-tiba datang, langsung terdiam. Ia tidak mengambilkan apa yang di suruh oleh Pamela, sedangkan Pamela berteriak untuk segera meminta bantuan kepada siapapun yang ada di sekitarnya.
Saat pamela melakukan RJP, ia melihat Dokter Anton hanya terdiam saja, tidak menolongnya, membuat Pamela semakin kesal.
"Dasar kau bodoh! Bantu aku bukankah dia pasienmu!" seru Pamela.
"Kau tidak di perbolehkan menyuruh siapapun di sini, kau bukan lagi karyawan rumah sakit sini, menyingkirlah!" seru Dokter Anton.
Pamela merasa sangat geram dengan Dokter Anton, rasanya ia ingin menampar Dokter Anton, tetapi ia masih bis menahan amarahnya.
Pamela berhenti melakukan RJP, dan menyuruh perawat memanggil Dokter Zen.
"Ada apa?"
__ADS_1
BERSAMBUNG...