
Preman itu tampak panik dan terus menghubungi bosnya, tetapi tidak mendapat jawaban apapun. Membuatnya semakin kesal.
"Sial!" umpat Preman.
"Segera bawa pasien ke ruang operasi," perintah Pamela.
Pamela menyuruh pesawat Rere untuk membawa pasien anak langsung ke ruang operasi.
Pamela sesekali memperhatikan gerak-gerik preman itu yang terlihat panik.
"Apa kalian melihat Dokter Boy?" tanya Pamela.
"Kurasa Dokter Boy sedang melakukan operasi," jawab Perawat Aldi.
Pamela menganggukan kepalanya, ia langsung menelpon pihak berwajib, tanpa sepengetahuan yang lain. Saat Pamela akan memencet tombol, tiba-tiba telpon iti terlepas dari telinganya, membuat Pamela langsung menoleh.
"Kau, ada apa?" tanya Pamela, dengan wajah yang seketika pucat.
"Kau akan menelpon polisi?" jawab Dokter Morgan.
Pamela terpaksa menganggukan kepalanya.
"Untuk apa?" tanya Dokter Morgan.
"Apa kau tidak curiga, jika dia itu menculik semua anak yang sedang terluka itu," jawab Pamela dengan berbisik di telinga Dokter Morgan.
"Benarkah, aku tidak melihat ada yang mencurigakan," ucap Dokter Morgan.
'Bagaimana aku menjelaskan pada Dokter Morgan,' gumam Pamela.
Preman itu tiba-tiba menemui Pamela dan Dokter Morgan yang sedang berdiri di meja perawat.
"Saya minta, semua anak didik saya dipulangkan sekarang juga," pinta Preman.
"Apa! Apa aku tidak salah dengar. Kau tidak melihat mereka semua sedang dirawat oleh perawat yang berjaga, ada dua orang yang sedang dioperasi, apa kau tidak tahu itu?" tanya Pamela.
"Aku bisa di marahi oleh bosku, pokoknya aku minta sekarang juga hentikan operasi itu dan akan aku bawa semua anak-anak didikku," paksa Preman.
"Ku rasa bosmu itu bos yang aneh, mereka itu sedang terluka karena bencana, dimana hati nuranimu, bisa-bisanya akan membawa mereka semua dalam ke adaan yang sedang terluka. Hah!" kesal Pamela mulai meninggikan suaranya.
"Kenapa kau marah padaku! Apa aku salah jika membawa anak didikku pergi dari rumah sakit sialan ini," marah Preman.
Pamela terdiam menatap tajam preman itu, membuat Dokter Morgan mulai ketar-ketir melihat Pamela terdiam seperti sedang mengumpulkan tenaganya untuk melawan preman itu.
"Tenangkan dirimu," ucap Dokter Morgan, mengelus pundak Pamela.
__ADS_1
"Saya Dokter di sini, saya berhak mengizinkan pasien untuk di rawat atai tidak, pasien dalam keadaan terluka, jika di pulangkan paksa akan mendapat pidana, aku rasa anda harus saya laporkan pada pihak yang berwajib," ucap Pamela.
"Apa kau mengamcamku? Hah," tanya preman.
Pamela tersenyum kesal menatap preman itu.
"Kau bisa membedakan antara memberitahu dengan mengancam, para wali belom mengetahui kondisi pasien, bagaimama bisa kau dengan enaknya akan membawa semua anak untuk meninggalkan rumah sakit ini, di mana akal sehatmu," jelas Pamela.
Preman itu sudah tidak bisa mengelak lagi, ia telah kehabisan kata-kata, akhirnya preman itu mengalah dan kembali ke ranjangnya.
"Haduh, badanku sakit semua. Dasar Dokter tidak punya perasaan, bisa-bisanya dia tidak memberiku obat penghilang rasa nyeri," oceh preman.
Pamela langsung mendekati perawat Aldi. " Kau berikan tramadol ampul lalu drip, jika sudah di berikan obat itu, berikan lagi setelah 12 jam," perintah Pamela.
"Baik Dok," ucap Perawar Aldi.
Pamela mendekati ranjang pasien anak yang mulai sadarkan diri. Pamela di ikuti Dokter Morgan langsung memeriksa kondisi pasien.
Pasien itu terlihat sangat ketakutan, ada trauma di sorot matanya saat mulai membuka matanya.
"Jangan pukuli aku, aku takut," rengek pasien itu.
Pamela langsung menatap Dokter Morgan dan kembali memeriksa pasien anak.
"Kau akan aman disini, aku Dokter yang akan merawatmu sampai sembuh," ucap Pamela.
"Tentu, aku akan mengobati kalian sampai sembuh," jawab Pamela.
"Apa pria jahat itu ada disini?" tanya Pasien anak itu.
"Pria siapa yang kamu maksudkan? Apa dia ada di ruangan ini," jawab Pamela.
Pasien anak itu melihat, diujung ranjang yang berlawanan ada preman yang sedang sibuk menelpon bosnya.
Seketika pasien anak itu merasa ketakutan saat melihat preman itu sedang sibuk menelpon, Pamela langsung mengerti apa yang di rasakan anak itu.
"Aku rasa ada yang tidak beres," ucap Pamela.
Pamela mengedipkan mata dengan Morgan, membuat Morgan merasa bingung dan sedikit kegeeran.
"Ada apa? Apa kau sedang menggodaku?" tanya Dokter Morgan.
"Apa maksudmu, aku memintamu untuk menjaga setiap pintu maksud dan pintu keluar rumah sakit ini, aku sangat curiga dengannya," bisik Pamela.
Dokter Morgan langsung menghubungi penjaga keamanan rumah sakit agar di perketat lagi.
__ADS_1
Semua petugas keamanan rumah sakit mulai siaga di setiap pintu masuk dan keluar rumah sakit. Membuat banyak pengunjung mulai di periksa oleh petugas keamanan.
Dokter Boy yang baru saja menyelesaikan operasinya, langsung mendapat kabar dari Perawat Aldi.
"Dok, gawat! Dokter Pamela mencuriga ada preman yang melakukan perdagangan anak di rawat di rumah sakit kita," ucap Perawat Aldi.
Dokter Boy, langsung berjalan menuju ruang UGD, ia melihat setiap pintu akses masuk dan keluar rumah sakit sedang di jaga ketat oleh petugas keamanan.
Dokter Boy mencari keberadaan Pamela, dan akhirnya ia melihat Pamela sedang berdiri di salah satu ranjang pasien anak.
"Ada apa?" tanya Dokter Boy.
Pamela menoleh ke arah sumber suara. Setelah mendapatkan banyak informasi, Pamela langsung menuju meja perawat dan menelpon kantor perlindungan anak.
Selesai berbincang, Pamela langsung menatap Dokter Boy dan menceritakan semua yang sedang terjadi, membuat Dokter Boy langsung berkata.
"Tindakanmu benar, kita harus segera menelpon pihak yang berwajib untuk berjaga-jaga dan orang tua korban," pinta Dokter Boy.
Pamela dan Dokter Morgan menganggukan kepalanya.
Luis, sengaja mengadakan pertemuan dengan Rozak sehingga membuat Rozak tidak mengetahui jika ponselnya terus berdering. Ponsel Rozak sudah di sadap oleh bodyguard Luis.
Mereka terlihat sedang membahas bisnis yang sangat penting, Luis merasa sangat percaya dengan Rozak membuatnya tertawa lepas.
Berbeda dengan preman yang menjadi anak buahnya yang sedang panik, ia memikirkan bagaimana caranya membawa kabur anak-anak dari rumah sakit, tetapi kondisinya pun tidak memungkinkan untuk berlari.
"Dimana si Bos? Kenapa tidak mengangkat telponku," kesal preman.
Preman itu akhirnya menelpon asisten Rozak, tetapi tidak mendapat jawaban. Mereka seperti hilang bak ditelan bumi.
Pamela masih memperhatikan gerak-gerik preman itu, tak lama salah satu keluar dari korban yang mengalami luka bakar itu, akhirnya bisa di hubungi dan akan datang ke rumah sakit dalam waktu 30 menit.
Pamela terus mencari informasi tentang orang tua korban yang mengalami luka-luka ringan.
Akhirnya keluarga mereka semua bisa dihubungi dan beramai-ramai datang kerumah sakit untuk menjenguk anaknya yang hilang berhari-hari.
Suara tangisan diruang UGD itu terlihat sangat berisik, membuat para orang tua juga merasa sangat berterima kasih dengan staf rumah sakit yang merawat anak-anaknya.
Dokter Boy, akhirnya turun tangan untuk menjelaskan seluruh kejadian yang korban alami.
"Di mana pelakunya, akan ku pukul menggunakan pisau tajam, astaga mereka sangat jahat sekali."
"Para orang tua korban, diharapkan tenang, pihak yang berwajib sudah mengamankan rumah sakit dan akan segera menemukan pelaku aslinya," jelas Dokter Boy.
"Jangan biarkan dia lari!"
__ADS_1
BERSAMBUNG....