Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Ancaman menikah


__ADS_3

Ketika Pamela ingin memejamkan matanya kembali, ia masih merasa sangat ngantuk. Tapi ... ponselnya berdering membuatnya gagal untuk memejamkan matanya, Pamela berpura-pura untuk mengabaikan suara itu, tetapi tetap tidak bisa, suara itu masih terus berdering.


Karena merasa kesal, akhinrya Pamela langsung meraih ponsel itu tanpa melihat siapa nama yang menelponnya.


Pamela: "Hallo! Ada apa menelponku, aku masih memgantuk, apa tidak bisa nanti saja!"


Luis: "Beraninya kau memarahiku!"


Pamela terdiam, ia langsung mengingat suara yang barusan dia dengar adalah suara Luis.


Pamela: "Aku tidak memarahimu, aku hanya memberitahu mu jika aku masih mengantuk, kau menelponku terlalu pagi."


Luis: "Kau ini sedang mengingau ya? Ini sudah jam 9 pagi, apanya yang kepagian?"


Pamela langsung menatap jam dinding, membuatnya langsung mengusap wajahnya dengan kasar.


Pamela: "Ada apa menelponku?"


Luis: " Kita harus bertemu, kakek memintaku untuk menjemputmu, katakan dimana aku harus menjemputmu."


Pamela terdiam, seketika dia membelalakan matanya dengan lebar.


'Dia akan menjemputku, astaga aku tidak membawa baju ganti, bagaimana ini?' gumam Pamela dalam hati.


Kebingungannya, menimbulkan suara yang cukup berisik, membuat Kevin pun terbangun.


"Ada apa? Kenapa kau sangat berisik?" tanya Kevin.


"Bagaimana aku tidak berisik, Luis akan menjemputku, aku tidak membawa pakai ganti dan lihat wajahku sangat berantakan. Dia menanyakan alamatku dimana?" jawab Pamela.


"Lalu ... apa kau memberitahu alamatmu?" tanya Kevin.


"Aku belom memberitahunya, aku langsung mematikan telponnya dengan alasan aku akan bersiap-siap, aduuh bagaimana ini?" jawab Pamela.


"Kau suruh saja, adikmu untuk kemari, bukankah dia adq jadwal untuk bermain musik," ucap Kevin.


Pamela langsung menatap Kevin dengan penuh kegembiraan.


"Kau benar juga," kata Pamela.


Pamela langsung menghubungi Citra, untuk membawakan pakaiannya dan segera datang ke gedung Ziny Music.


Citra langsung membawa pesanan Pamela dan segera pergi ke gedung Ziny Music.


Cepat kilat, Citra sampai digedung dan langsung masuk menuju ruangan Kevin, disana ia melihat Pamela sedang duduk.


"Kakak!" panggil Citra.

__ADS_1


"Akhirnya kau datang, mana bajuku," kata Pamela.


Citra memberikan paperbag kepada Pamela.


"Apa Kakak semalam tidur disini? Bersama pria itu?" tanya Citra.


"Kau jangan berfikir yang aneh-aneh, dia itu sudah Kakak anggap sebagai abang kandung Kakak, berkat dia Kakak bisa menjadi seorang Dj," jawab Pamela.


Pamela langsung mandi dan mengganti pakaiannya.


Citra duduk di sofa dan memperhatikan ruangan Kevin.


"Apa Kakak menyukai boneka babi?" tanya Citra.


"Bagaimana kau tahu," jawab Kevin.


"Aku melihat foto di atas meja," ucap Citra menunjuk foto Kevin bersama babi.


"Oh, ini bukan boneka, tapi memang babi. Dulu aku datang keperternakannya, jadi aku mengambil foto bersama salah satu babi itu," jelas Kevin.


Citra mengangguk.


"Ada apa memangnya?" tanya Kevin.


"Kalian mirip," jawab Citra.


Citra hanya diam saja, ia langsung keluar ruangan Kevin dan membiarkan Kevin marah-marah.


Pamela yang sudah mandi dan mengganti pakaian, merasa heran dengan Kevin yang terus-terusan marah.


"Ada apa? Kenapa kamu marah-marah?" tanya Pamela.


"Adikmu mengatakan jika aku mirip dengan foto ini," jawab kesal Kevin.


Kevin menunjukan fotonya bersama dengan babi.


Pamela yang melihat foto itu, langsung tertawa. Membuat Kevin semakin kesal.


Tiba-tiba suara ponsel Pamela berdering, ia langsung mengangkatnya.


Pamela: "Hallo."


Luis: "keluar!"


Pamela terkejut dengan ucapan Luis, telpon itu langsung di matikan.


Pamela langsung menatap jendela, ia melihat mobil mewah sudah terparkir di depan gedung Ziny Music.

__ADS_1


"Astaga, bagaimana dia tahu aku ada di gedung ini? Aku belom memberitahu alamatku?" gumam Pamela.


Pamela langsung cepat-cepat keluar dan menemui Luis.


Dengan pakaian yang sangat casual, Pamela keluar, rambutnya terurai dengan indah.


"Kau, bagaimana menemuiku disini?" tanya Pamela.


"Masuklah dulu," jawab Luis.


Pamela akhirnya masuk ke dalam mobil mewah milik Luis, mobil itu langsung melaju dengan kecepatan sedang.


Pamela terus menatao heran Luis.


"Jangan menatapku seperti itu, aku takut jika kau nanti jatuh hati," goda Luis.


"Jih, mana mungkin aku menyukaimu," kata Pamela.


Luis hanya terdiam.


"Kita akan kemana?" tanya Pamela.


"Menemui Kakekku," jawab Luis.


"Apa yang akan kamu katakan pada Kakekmu?" tanya Pamela.


"Aku akan mengatakan, jika aku akan menikahimu," jawab Luis dengan santai.


"Apa!" seru Pamela dengan wajah yang sangat kaget.


"Pernikahan itu sakral dan aku tidak mau tidak kita tidak saling mencintai," ucap Pamela.


"Apa kau akan menghianati Pimpinan Hanji? Dia sudah membantumu untuk memberantas perdagangan anak dan menyelamatkan mereka semua, apa ini balasamu kepadanya?" tanya Luis.


Pertanyaan itu membuat Pamela tak bisa mengatakan apapun. Ia terjerat dalam kondisi yang sangat rumit.


'Kenapa harus menikah dengannya, aku bahkan tidak mencintainya. Aku harus bagaimana ini?' gumam Pamela dalam hati.


Sampai di rumah Pimpinan Hanji.


Suara langkah kaki terdengar memasuki rumah mewah yang memiliki banyak pelayan itu.


"Bagaimana kabarmu?"


"Kakek sangat senang akhirnya kalian akan segera ..."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2