Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Dipercepat.


__ADS_3

Luis langsung menemui Jemi.


"Bagaimana? Apa kau sudah mencari tahu semua tentang Pamela?" tanya Luis.


"Ternyata dia putri dari Pak Bramasta, seorang pembisnis di dunia kosmetik dan ibunya pemilik salah satu brand lokal tas yang sudah manca negara. Saya rasa dia bukan orang biasa Tuan, tapi ...," jawab Jemi.


"Tapi apa?" tanya Luis.


"Nona Pamela meninggalkan rumahnya sejak usianya 16 tahun, dia meninggalkan rumah karena alasana tertentu. Itu alasannya dia selalu menutupi identitasnya, karena takut membuat karir orang tuanya akan hancur," jawab Jemi.


"Tapi dia mampu kuliah kedokteran, jika dia keluar dari rumah, tidak mungkin dia membiayai hidupnya sendiri? Apa itu masuk akal?" tanya Luis.


Jemi mencari tahu lebih lagi.


"Dia mendapat beasiswa Tuan dan sudah aktiv bekerja di gedung Ziny Music, sebagai Dj yang mengelola musik," jelas Jemi.


'Dia memang hebat, mampu bangkit tanpa bantuan siapapun,' gumam Luis.


Luis sangat kagum dengan perjalanan karir Pamela, ia menganggap Pamela wanita yang hebat.


"Itu artinya aku tidak salah menikahinya," ucap Luis.


"Maaf Tuan, apa anda menikahinya karena suatu alasan?" tanya Jemi.


"Kakek memintaku terus untuk menikah dan aku tidak mungkin menikahi Farah, dari dulu pun Kakek tidak menyetujuinya. Karena aku bingung, aku melihat Pamela dekat dengan Kakek dan kebetulan Kakek menyukainya, jadi kuputuskan aku akan menikahinya," jawab Luis.


"Bagaimana dengan Farah, Tuan. Apa anda masih berhubungan dengannya?" tanya Jemi.


"Sudah satu tahun, aku tidak pernah lagi tahu kabarnya dan hubungan kami sudah selesai sejak dua tahun lalu," jawab Luis.


"Itu artinya, anda memag jomblo dan apakah Nona Pamela jomblo?" tanya Jemi.


"Kenapa kau mengatakan jomblo seolah mengejekku. Hah!" jawab Luis.


"Maksud saya, Tuan saat ini kan sedang kosong tidak memiliki ke kasih, takutnya Nona Pamela memiliki pasangan, jadi apa tidak bahaya Tuan?" tanya Jemi.


Luis langsung membayangkan, saat berjalan di taman, ia melihat Pamela dengan kekasihnya sedang berjalan dan bercumbu mesra.


"Beraninya kau memegang calon istriku!" teriak Luis.


"Siapa kau! Beraninya mengatakan jika kau calon suaminya!" seru kekasih Pamela.


"Sudah diam! Kalian sama-sama menyebalkan," sahut Pamela.


"Jadi kau mengenalnya? Sekarang, kau memilih aku atau dia?" tanya Kekasih Pamela.

__ADS_1


Pamela menatap Luis dan menatap kekasihnya, kerena bingung, ia berdoa didepan dua pria tampan itu dan Doanya adalah.


"Tuhan. Aku harus pilih yang mana? Apa boleh aku menikahi keduanya?" tanya Pamela.


Kekasih Pamela dan Luis, terkejut mendengar doa Pamela. Membuatnya saling menatap satu sama lain.


. . . .


Lamunan itu buyar.


Luis seketika langsung tersadarkan dengan suara dering ponselnya.


Luis: "Ada apa Pak?"


Pak Adit: "Anda diminta Pimpinan Hanji untuk menemuinya sekarang Tuan."


Mendapat perintah dari Pak Adit, Luis langsung keluar dari kantornya dan pergi menemui Kakek Hanji.


"Ada apa?" tanya Luis.


"Pimpinan meminta anda menemui taman," jawab Pak Adit.


Luis berjalan menemui Pimpinan Hanji yang sedang duduk menatap bunga-bunga yang sangat indah.


"Ada apa Kek?" tanya Luis.


"Apa!" seru Luis.


"Apa Kakek bercanda?" tanya Luis.


Pimpinan Hanji tersenyum, ia memutar kursi rodanya menatap Luis.


"Lebih cepat lebih baik," jawab Pimpinan Hanji.


"Itu terlalu cepat Kek. Aku bahkan belom mengenal keluarganya, jadi ku pikir ini sangat terburu-buru, memangnya ada apa? Kakek tiba-tiba memajukan pernikahan ini? Ada apa Kek?" tanya Luis.


"Kakek ingin melihatmu menikah sebelum Kakek pergi Haji," jawab Pimpinan Hanji.


"Kakek!" panggil Luis.


"Jangan khawatirkan Kakek, Kakek hanya ingin kau bahagia dengan Pamela. Kakek yakin kalian akan saling mencintai satu sama lain," jelas Pimpinan Hanji.


Luis tiba-tiba memeluk Pimpinan Hanji, memuat Pimpinan Hanji merasa tenang, karena ini pertama kalinya Luis memeluknya. Sejak Luis menginjak dewasa, ia tidak pernah berbincang hangat seperti ini, karena mereka semua disibukan oleh pekerjaan.


Tak terasa air mata Luis menetes, membasahi jawahnya yang tampan.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah meninggalkan Kakek, sampai kapanpun," ucap Luis.


.


.


.


.


Dokter Boy, sedang memeriksa pasien dengan riwayat tertusuk besi, keadaan pasien itu mulai stabil.


"Apa Dokter Pamela datang ke rumah sakit lagi?" tanya Dokter Boy.


"Belom Dok, aku rasa dia lupa membawa baju dan pulang dengan baju medis," jawab Perawat Weni.


"Baiklah," ucap Dokter Boy.


Ditempat Lain.


Pamela merasa lapar kembali, ia melihat dapur hamya ada mie instan, membuatnya memesan ayam goreng panas.


Pamela sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi, bersama Nek Marlin.


"Nenek mau ayam goreng panas?" tanya Pamela.


"Apa kau tidak kenyang, makan sambel ceker mercon begitu banyak?" tanya kembali Nek Marlin.


Pamela menggelengkan kepalanya.


"Nenekkan tahu, kalo aku seharian hanya makan sekali dan tadi aku mengoprasi pasien selama 4 jam, itu sangat melelahkan Nek," jawab Pamela.


"Kau saja yang pesan, Nenel sedang diet. Nenek harus menjaga kebugaran tubuh Nenek," ucap Nek Marlin.


"Memangnya ada pria yang Nenek suka?" tanya Pamela.


"Tidak, Nenek hanya ingin hidup sehat," jawab Nek Marlin.


Pamela hanya menganggukan kepalanya, ia tetap memesan ayam goreng panas dengan es susu milo.


Sedang asik memakan ayam goreng panas, Pamela mendapat telpon dari Luis. Membuatnya sangay terkejut.


"Apa!"


"Minggu depan!"

__ADS_1


"Apa kau sudah gila!"


Bersambung....


__ADS_2