Dokter Or Disk Jokey

Dokter Or Disk Jokey
Yayasan Dream School


__ADS_3

Pemala menatap Luis dengan tatapan yang sangat kesal.


"Kau dengar itu," ucap Pamela.


"Ada alasanku mengajak mimpinan pergi menghirup udara yang segar, dia juga menggunakan pakaian yang tidak mudah di ketahui banyak orang," jelas Pamela sekali lagi.


Luis tidak bisa berkata apapun, ia mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Pamela.


"Apa Carpal Tunnel Syndrome itu berbahaya?" tanya Luis.


"Kita akan lakukan pemeriksaan penunjang, untuk mengetahui kondisi CTS yang di alami pimpinan," jawab Dokter Luis.


Perdebatan di ruang makan itu akhirnya selesai juga, Pamela pamit undur diri. Karena waktu sudah menunjukan pukul 19.00 malam, Pamela langsung bersiap untuk menemui Bu Susi yang menjadi kepala kesiswaan sekolah dasar yang ada di dekat rumah Nek Marlin.


Dengan terburu-buru, Pamela langsung melajukan mobilnya, menuju rumah Bu Susi.


"Permisi," ucap Pamela, ia sudah berada di rumah Bu Susi.


Bu Susi pun membukakan pintunya, ia tersenyum menlihat kedatangan Pamela seorang diri.


"Silahkan masuk," sahut Bu Susi.


"Bagaimana? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Susi.


"Maaf sebelumnya, saya terlambat datang karena dari pagi ada urusan yang sangat mendesak," jawab Pamela.


"Begini Bu, saya ingin mendaftarkan adik saya sekolah dasar di Yayasan Dream School, tapi usianya sudah 10 tahun, apakah masih bisa melanjut langsung ke kelas yang sesuai umur atau harus mengulang dari awal?" tanya Pamela.


Bu susi sambil menerima lembaran berkas tentang Kety, yang sudah diurus secara cepat oleh Pamela, berkat bantuan Kevin.


Bu Susi membaca sejenak, semua daftar riwayat Kety.


"Bisa Mbak Pamela, ini kan harusnya dia masuk kelas 5, tapi dia akan menjalani ujian smester susulan, jika nilainya melebihim rata-rata, maka ia langsung mengikuti ajaran baru kelas 5, jika nilainya di bawah rata-rata, maka dia harus ikut kelas 4, begitulah peraturan yang ada di Yayasan Dream School," jawab Bu Susi.


Pamela menyetujui kesepakatan itu, ia langsung pamit, meninggalkan Bu Susi, dan langsung melajukan mobilnya menjadi dari rumah Bu Susi.


Di dalam perjalanan, Pamela langsung melaju dengan kecepatan tinggi untuk sampai ke toko gramedia yang untungnya masib buka.


"Maaf Mbak mau tanya, tutup sampai jam berapa?" tanya Pamela.

__ADS_1


"Kami tutup jam 22.00 malam Kakak, ada yang bisa kami bantu?" tanya penjaga toko.


"Carikan aku buku anak sekolah dasar, dia sekolah di Yayasan Dream School, siapa tahu ada buku khususnya," pinta Pamela.


"Tentu ada Kak, karena sekolahan itu tempatnya para juara, mari kami carikan buku yang memang khusus," sahut penjaga toko.


Pamela di antar oleh penjaga toko, ia membeli semua buku yang di perlukan untuk Kety, dengan rasa sayangnya, Pamela pun melihat kotak pensil, buku tulis dan juga sekolah, ia membeli semuanya, dan langsung melakukan transaksi.


Beberapa kantong paperbag masuk ke dalam bagasi mobilnya, ia langsung melaju dengan kecepatan sedang, merasa perutnya lapar, Pamela melihat ada martabak kesukaannya, ia langsung membeli martabak itu.


Sampai di rumah, Pamela teriak dari luar, membuat Kety yang sedang mendengar cerita Nenek langsung keluar rumah.


"Kak Pamela! Ada apa?" tanya Kety.


"Kamu harus lihat, apa yang Kakak belikan untukmu," jawab Pamela.


Pamela langsung membuka bagai mobilnya, ia memperlihatkan barang yang ia beli untuk Kety, begitu terkejutnya Kety melihat buku dan beberapa alat sekolah yang tertumpuk di bagai mobil milik Pamela.


"Kakak! Kamu membelikanku semua ini?" tanya Kety dengan wajah yang sangat terkejut.


Pamela menganggukan kepalanya, membuat Kety langsung memeluk Pamela. Terlihat di wajah Kety, ia sangat bahagia dan beruntung bertemu dengan Pamela.


"Nenek aku pulang," ucap Pamela.


"Kau membawa apa?" tanya Nek Marlin.


"Aku membawa martabak keju di tabur kismis," jawab Pamela.


Nek Marlin melihat beberapa barang belanjaan yang di bawa Kety, membuat Nek Marlin langsung menatap Pamela.


"Apa tabunganmu cukup untuk menyekolahkan Kety?" tanya Nek Marlin.


"Tentu, aku menjadi Dokter pribadi Pak Hanji, jadi uangku akan terus mengalir seperti derasnya air sungai," jawab Pamela.


Nek Marlin akhirnya merasa lega, dengan jawaban dari Pamela.


"Kety, Kakak sengaja merubah nama mu menjadi Kety Deviana, nama belakangmu sama dengan namaku, alasan Kakak merubah semuanya tanpa seizinmu karena Kakak tidak mau kamu dianggao asing oleh teman sekolahmu nanti, yang mereka tahu adalah kamu adik kandungku, sepakat ya," jelas Pamela.


Pamela menunjukan jari kelingkingnya, membuat Kety langsung membalas menunjukan jari kelingkingnya.

__ADS_1


"Terimakasih Kak, kau sangat baik, aku tak tahu harus membalas dengan cara apa?" ucap Kety langsung memurungkan wajahnya.


"Ya tentu, kamu harus membalas semuanya dengan kamu takun belajar dan wujudkan mimpi yang pernah kau impikan, itu sudah cukup bagi Kakak," kata Pamela dengan senyum di wajahnya.


Sekali lagi Kety memeluk Pamela dengan pelukan yang penuh arti, ia sangat beruntung mendapat keluarga baru. Ini seperti jawaban dari doanya yang selalu meminta untuk di perlakukan layaknya manusia oleh sang pencipta.


"Kety, besok kamu harus ikut ujian smester langsung, jika nilaimu di atas rata-rata, kamu bisa naik kelas 5, tapi ... jika nilaimu di bawah rata-rata kamu akan star dari kelas 4, pikirkan baik semuanya. Dan semua buku ini Kakak bekikan khusus untukmu, belajar lah, besok pukul 13.00 siang, kita akan kesekolahan," jelas Pamela.


"Kamu mendaftarkan dia sekolah di mana?" tanya Nek Marlin.


"Aku mendaftarkan di Yayasan Dream School, Nek," jawab Pamela.


Seketika Nek Marlin langsung melebarkan matanya, ia sangat terkejut dengan Pamela yang sangat nekat memasukan Kety untuk sekolah ke sekolahan para juara, bukan hanya biayanya yang cukup mahal, di sana juga sekolah yang anti pembulian, setiap siswa siswi didik secara sopan untuk menghargai dengan sesama. Toleransi sekolahan itu sangat diacungkan jempol, maka dari itu. Tidak semua orang bisa masuk ke dalam Yayasa Dream School.


"Nenek bangga padamu," ujar Nek Marlin.


"Apapun akan aku lakukan untuk kebahagiaan kalian, kalian adalah separuh nyawaku," ucap Pamela.


Suasana sedih itu, dipecahkan oleh Pamela yang langsung menyuruh Kety masuk ke dalam kamarnya untuk belajar, tetapi ia melihat ada keganjalan terlihat dari sorot matanya.


"Apa kamu senang?" tanya Pamela.


Seketika Kety menangis sesenggukan, membuat Pamela bingung.


"Ada apa? Katakanlah," tanya Pamela.


"Aku mengingat temanku yang di bunuh oleh penjahat itu, harusnya dia juga merasakan apa yang saat ini aku rasakan," jawab Kety mulai meneteskan air matanya.


Pamela melihat ada trauma di mata Kety, ia langsung menenangkan Kety.


"Dengarkan aku, temanmu bukanlah teman yang biasa, ia mampu merelakan nyawanya untuk menyelamatkanmu, itu artinya kamu harus membuatnya bangga, jangan bersedih sepert ini. Nanti dia akan ikut bersedih, apa kau yakin dia sudah meninggal dunia? Bagaimana jika dia masih hidup? Kakak tidak akan diam saja Kety, pesan Kakak hanya satu, raihlah mimpimu, buatlah orang bangga denganmu, urusan temanmu, biar nanti Kakak yang koordinasi dengan kepolisian," jelas Pamela.


"Jangan khawatirkan semuanya, percayalah. Semuanya akan baik-baik saja," sambungnya.


Kety sudah merasa tenang, ia langsung masuk ke dalam kamar dan mulai membuka buku pelajaran yang sudah di beli oleh Pamela.


"Hallo, besok kita bertemu."


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2