
Sherlin terdiam mendengar semua yang di katakan Pamela.
"Apa Mama menekan Citra untuk masuk ke dalam Universitas yang bergengsi?" tanya Pamela.
"Dia harus belajar lebih giat lagi, kemampuannya sangat jauh berbeda denganmu, makanya Mama menyuruhnya untuk terus belajar," jawab Sherlin.
Pamela menatap Sherlin dengan tatapan yang sangat kesal Ibunya.
"Apa Mama tahu, apa akibatnya jika Mama terus menekannya untuk belajar di luar kemampuannya?" tanya Pamela.
"Kenapa nada bicaramu seolah menyalakan Mama? Apa Mama salah melakukan yang terbaik untuk Citra? Mama hanya ingin dia di banggakan oleh Ayahmu," jawab Sherlin.
Pamela menghelakan napanya.
"Kalian hampir membunuhnya, apa kalian tahu, tekanan yang kalian berikan bisa membuatnya jatuh sakit, bahkan bisa membuatnya depresi karena ketidak mampuan otaknya menerima semuanya," tanya Pamela.
Sherlin terdiam.
"Apa maksudmu," jawab Sherlin.
Pamela tersenyum sengit, ia sangat muak dengan peraturan yang membuatnya nekat kabur dari rumah, dan saat ini peraturan itu di terapkan kepada adiknya.
"Citra hampir saja mengalami serangan jantung, akibat tekanan darah yang sangat rendah, trombosit yang menurun dtastis, hemoglobin yang di bawab normal, membuatnya hampir tidak sadarkan diri. Hal ini terlihat sepele tetapi bisa membunuhnya secara perlahan," jelaa Pamela menatap tajam Sherlin.
Wajah sherlin seketika berubah menjadi sangat terkejut, ia terlihat syok mendengar semua yang di katakan Pamela.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Sherlin.
"Keadaan sangat lemah, dia harus di rawat disini, biarkan aku yang menjaganya," jawab Pamela.
Mata Sherlin mulai di penuhi dengan genabgan air mata, ia tidak sanggup untuk menahannya lagi, air mata itu terjatu membasahi pipinya.
Sherlin pergi dari hadapan Pamela, ia masuk ke dalam untuk memastikan keadaan Citra. Melihat Citra yang sedang tertidur pulas membuatnya langsung duduk di sampingnya.
Sherlin memegang tangan Citra yang terasa sangat dingin, ia menangi sesenggukan, seperti menyesali perbuatannya selama ini.
Pamela masuk ke dalam, ia mantau Citra dari kejauhan.
"Sayang, maafkan Mama, kamu pasti sangat menderita karena harus menuruti semua kemauan Mama, Mama pikir semua ini demi kebaikanmu, tetapi Mama salah," ucap Sherlin memegang tangan Citra.
.
.
.
__ADS_1
.
Bramasta langsung menghubungi orang kepercayaanya untuk menghentikan berita yang terus beredar, ia mengeluarkan banyak uang untuk menutup kasus itu agar tidak terus menerus beredar di sosial media.
Permainan mereka sangat rapih, sampai detik ini, tidak ada yang mengetahui jika Pamela putri seorang pengusaha terkaya yang memiliki top brand di dunia kecantikan.
"Sudah kamu urus semuanya?" tanya Bramasta.
"Sudah Tuan, besok, berita itu tidak akan beredar lagi," jawab Pak Ikhsan.
Bramasta kembali duduk di kursi kebesarannya, ua terlihat sangat lelah, ia berusaha memejamkan matanya sejenak. Tetapi suara dering ponsel terus mengganggunya, sampai akhinrya ia harus memeriksa ponselnya.
Bramasta mendapat pesan dari Sherlin, untuk segera ke Rumah Sakit Redom.
Bramasta langsung menatap ponselnya dengan seksama, ia langsung menelpon sang istri.
Suata dering ponsel.
Sherlin: "Iya hallo."
Bramasta: "Siapa yang sakit?"
Sherlin menjelaskan sekilas tentang kondisi Citra yang mulai melemah, membuat Bramasta langsung bangkit dari duduknya dan menutup telpon.
Bramasta berjalan keluar kantornya di ikuti asistennya. Ia langsung masuk ke dalam mobil.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
Di dalam perjalanan, ia memikirkan keadaan Citra yang sangat tiba-tiba drop dan di bawa ke rumah sakit. Sampai akhirnya mobil Bramasta sampai di Rumah Sakit.
Bramasta berjalan dengan cepat, seketika langkahnya terhenti melihat Pamela yang berdiri dari kejauhan.
"Ada apa dengan adikmu?" tanya Bramasta.
Pamela pun menoleh ke arah Bramasta, ia hanya terdiam dan kembali menatap Citra.
Salah satu perawat melakukan observasi, ia merasakan tekanan darah pasiem semakin melemah, membuat Perawat Weni langsung memanggil Dokter Boy.
Pamela langsung mendekati Citra, ia dengan sikap memeriksa konjungtiva, seklera mata melihat semuanya tidak normal, membuat Pamela langsung meminta kantung darah.
Dokter Boy langsung menatap Pamela yang terlihat sangat panik dengan kondisi adiknya.
"Minggirlah, kau bukan Dokter di sini," perintah Dokter Boy.
Pamela merasa telah ceroboh, membuatnya langsung mundur.
__ADS_1
Pamela melihat Dokter Boy yang memeriksa kondisi pasien, ia memerintahkan perawat untuk menyiapkan satu kantung darah.
"Siapkan satu kantong darah dan infus dua jalur lalu guyur," perintah Dokter Boy.
Salah satu perawat sedang mengambil kantong darah di ruangan yang cukuo jauh dari UGD, nenunggu kurang lebiha 3 menit, tiba-tiba pasien mengalami serangan jantung, semua alat yang terpasang langsung berbunyi, menandakan pasien mengalami masa kritis.
Dokter Boy langsung melakukan resusitasi jantung paru, sedangkan Pamela tidak bisa berdiam diri karena melihat san adik sangat membutuhkannya, ia menyuruh perawat membawakan alat paju jantung.
"Berhenti Dok, kita periksa iramanya," ucap Pamela.
Dokter Boy berhenti melakukan RJP, merasa belom ada denyut kembali, Pamela meminta untuk mengambil alih posisi Dokter Boy. Ia melakukan RJS sampai akhirnya denyut nadi itu kembali, dan alat monitor yang terpasang di tubuh Citra kembali hidup.
Dengan napasnya yang sangat tersengal-sengal, Pamela mengucapan syukur karena Citra masih bisa di selamatkan.
"Tindakanmu sangat bagus, kau cepat dalam menangani kondisi yang darurat ini, apa kau seorang Dokter?" tanya Dokter Boy.
Pamela mentap Dokter Boy, dan menatap kedua orang tuanya, dengan keringat yang membasahi keningnya.
Pamela langsung menganggukan kepalanya.
"Iya Dok, saya seorang Dokter," jawab Pamela.
"Kondisi pasien sangat lemah, sewaktu dia bisa mengalami serangan jantung, bahkan bisa mengalami stroke atau gagal ginjal, sebelom tekanam darahnya naik dan hemoglobinya naik, pasien akan terus-terusan mengalami hal tersebut, kita membutuhkan tiga kantong darah untuk pasien," jelas Dokter Boy.
"Ambil saja darahku Dok, kami golongan darahnya sama," ucap Pamela.
Sherlin dan Bramasta hanya terdiam melihat kepanikan Pamela dan keberaniannya mendonorkan darahnya untuk sang adit.
Salah satu perawat memanggil Pamela untuk melakukan tranfusi darah. Pamela menatap kedua orang tuanya yang hanya berdiri di ruang tunggu, Pamela mendekatinya.
"Jaga Citra, aku aku pergi sebentar," pinta Pamela.
Bramasta dan Sherlin hanya terdiam, ia seperti tidak berguna sebagai orang tua, golongan darah mereka pun sama, tetapi Bramasta sebagai Ayah kandung hanya terdiam tidak bertindak apapun. Membuat Pamela akhirnya mendonorkan darahnya.
"Apa kamu tidak kasian dengan Pamela? Kenapa bukan kamu yang mendonorkan darah untuk Citra, apa kamu tidak ingin anak kita sembuh?" ucap Sherlin, mulai berlinangan air mata.
Bramasta hanya terdiam, ia terus memandangi kondisi Citra yang terbaring lemah.
Pamela berjalan meninggalkan ruang UGD, ia berjalan dengan Perawat Weni menuju ruang pengambilan darah.
Sampailah di ruangan itu, Pamela di periksa tanda-tanda vitalnya dan merasa kondisinya normal, perawt yang berjaga langsung menusuk jarum ke vena Pamela.
Pamela yang memaksakan diri untuk mendonorkam tiga kantong darah akhirnya selesai, ia terlihat sangat lemas dan matamya kunang-kunang, membuatnya beristirahat sejenak.
"Sus, bisa aku minta tablet penambah darah," pinta Pamela.
__ADS_1
BERSAMBUNG....